Catatan Hati Seorang Pejuang Da’wah


          Asetil Koenzim-A atau biasa disingkat Asetil KoA. Produk dari salah satu proses respirasi sel, Dekarboksilasi Oksidatif. Bagiku kata KoA sangatlah istimewa. Karena ketika guru biologiku menjelaskan ttg materi itu, saat itu pula teman2 di kelasku menyebut namaku. Ada sebuah perasaan bangga di hatiku. Krn teman2 mengingatku sebagai seorang KoA. Astaghfirullah..

Ya. Benar sekali. Kisah itu bermula ketika aku diamanahkan sebagai seorang koordinator akhwat Rohis 14 atau juga bisa disebut KoA Rohis 14. Kala itu, aku merasa seperti diletakkan beban yang berat di atas pundakku. Awalnya, aku sempat ingin mengundurkan diri dari amanah tsb..Tapi aku rasa itu takkan mungkin..

Terbayang begitu besarnya amanah yang akan kujalankan selama setahun. Mengkordinir seluruh akhwat 14. Tak hanya adik2 yang menjadi prioritas da’wah, tapi mulai dari teman2ku, kakak2ku, guru2ku bahkan pegawai sekolahku pun termasuk tanggung jawabku. Aku takut kelak aku tak mampu mempertanggungjawabkannya di akhirat. Di hadapan Allah nanti. Begitupun dengan kondisi akhlaqku yang mungkin belum bisa menjadi qudwah bagi masyarakat 14. Tapi…inilah skenario Allah. Melalui jalan inilah aku mengenal indahnya ukhuwwah. Indahnya perjuangan. Indahnya berkorban harta, jiwa bahkan waktu untuk Allah. Aku mengenal ini melalui berbagai kepanitiaan yang kulewati bersama teman-teman seperjuangan. Rasa sakit menahan lapar karena harus terus syuro demi menyukseskan sebuah acara, tangisan yang berkali2 membuat kelenjar air mata ini lelah memproduksi zat hasil sekresinya, begitupun dengan kelenjar sebasea yg juga kuwalahan ketika harus mengeluarkan banyak keringat krn terlalu lelah bergerak, entah karena mengurusi outbond saat SanLat atau menjaga keamanan peserta saat Tafakkur Alam, semuanya pernah kurasakan di jalan ini..jalan yang ni’matnya tak tergantikan oleh apapun, kecuali dengan syurga, wajah Allah dan RidhaNya yang Maha Agung..

Aku mungkin takkan membiarkan sel-sel otak di kepalaku ini melakukan regenerasi sel, karena aku khawatir, kenangan yg pernah tersimpan di dalamnya akan hilang satu per satu seiring berjalannya waktu.

Jika ditanya, apa yang sudah kuberikan untuk Islam di 14, mungkin aku takkan bisa menjawabnya dengan pasti. ‘Ala kulli hal, insya Allah aku sudah berusaha semaksimal mungkin mempergunakan potensiku untuk kemaslahatan da’wah di 14. Tapi mungkin tak sebesar perjuangan Rasulullah menjayakan Islam di bumiNya. Aku juga pernah malu karna ini. Merasa lelah di tengah jalan. Mungkin karna terlalu banyak batu kerikil yang kulewati. Karna aku pernah tak beralas kaki saat melangkah di jalan ini. Hingga anyir penuh darah, perih penuh luka. Tapi uluran tangan teman2 dan kasih sayang Allah lah yang akhirnya menarikku kembali ke jalan ini. Alhamdulillah…

Bersama teman2 FKDS, aku memulai sebuah perubahan. Pastinya, ke arah yang lebih baik. Salah satunya melalui acara OSIS. Aku sempat menjadi staff acara di sebuah event besar 14, SCOOTER. Alhamdulillah. Walaupun tak sesuai dengan apa yg diharapkan, tapi setidaknya kami sudah berusaha.  Itu dibuktikan dengan syuro hingga jam 8 malam untuk mengurusi acara itu. Hhh…

Adalagi sebelumnya, SCART. Acara kombinasi KBPL, KJDK dan PAKKS itu kembali menuntut kinerja FKDS. Walaupun aku tak terlibat langsung dalam kepanitiaan, tapi setidaknya sudah berhasil mewarnai acara itu dengan Keislaman. Seperti mengingatkan panitia untuk shalat ketika sudah waktunya. Bahkan aku sempat membuka stand untuk pemasukan acara Rohis..

Mungkin karena terlalu sibuk membenahi OSIS. Hingga akhirnya, acara Rohis agak sedikit terabaikan. Seperti Islamic Festival yang peminatnya sedikit, acara pembinaan yang kurang realisasi, kurangnya kordinasi dg pembina dan defisitnya dana acara2 rohis..Juga membuat kondisi ruhiyah beberapa pejuang 14 agak menurun. Termasuk aku salah satunya..

Ya Allah..betapa mirisnya..aku mungkin baru menyadari itu. Apalagi jika ditambah debat seru di sela2 syuro. Hingga timbul perpecahan sesaat, namun berakhir dengan sebuah kata, ‘maaf’. Jadi ingin mengulang kembali apa yang sudah terjadi, lalu memperbaikinya. Tapi jujur, buatku itu sebuah kenangan pahit yang tak tega untuk menghapusnya.

Aku banyak belajar dari perjalanan hidupku. Terutama ketika di 14. Dengan banyaknya amanah yang kupikul, dari ROHIS, KIR hingga IKRAR, aku jadi semakin dewasa dalam menghadapi persoalan hidup. Karena ketika di organisasi, otakku selalu dipaksa untuk berfikir dalam keadaan apapun. Walau amanah2 yang kuemban tersebut terasa berat, mereka juga semakin menyadarkanku akan urgensinya muraqabatullah. Pendekatan pada Allah untuk memudahkan prosesi da’wah di 14. Waktu2 yang terkuras untuk da’wah juga mengajarkanku untuk me-manage waktu dengan sebaik-baiknya. Sedikit waktu untuk mengurusi akademikku justru terasa optimal. Karena aku selalu yakin terhadap firmanNya dlm surah Muhammad ayat 7. Innallaha Laa tukhliful Mii’aad..begitu kata Bu Erah. Janji Allah memang tak pernah ingkar..

Aku banyak mengalami keajaiban ketika menempuh jalan ini. Apalagi yang berhubungan dengan prestasi akademikku. Ketika sibuk2nya mengurusi Tafakkur Alam. Hingga tak ingat esok harinya 3 ulangan bertumpuk. Namun subhanallah, dengan waktu yg sedikit, sel-sel otak ini mudah sekali menyerap ilmu yang kupelajari. Dan lebih subhanallahnya lagi, hasilnya sangat memuaskan. Hingga aku merasa ingin semakin dekat dengan Allah..

Pernah juga suatu saat aku mengalami kejadian tak terduga. Saat aku sedang sibuk-sibuknya mengurusi acara-acara ROHIS, dan kebetulan sekali saat itu sedang masa-masanya Ujian Akhir Semester. Ketika banyak kalimat yang keluar dari mulut teman2ku, “Maaf ya Shab, aku nggak bisa ikut syuro, aku ada les,” yang lain mengatakan, “Afwan ya Shab, aku harus belajar buat ujian..” atau “Shab, aku nggak diizinin sama orang tua, soalnya aku harus focus belajar..” Saat itu pula di sisi yang lain, hatiku berkata, “Shab, fastabiqul khairaat, bukankah ini saatnya?!” Dengan semangat yang menggebu2, aku berkata dalam hati, “YA!!! Inilah bukti pengorbananku pada Allah!” Dan kau tahu? Nilai ujian2ku sangat memuaskan. Bahkan aku sempat tak percaya dengan apa yang Allah berikan. Ternyata, segalanya memang kehendakNya semata. Innallaha ‘ala kulli syay’in qadir..

Aaaah, begitu rindunya diri ini. Nikmat yang begitu indah ketika aku bisa terus berjuang di jalan ini, jalan yang tak tergantikan dengan apapun..

Ya. Itulah sekilas tentang sebagian dari album rekaman hidupku. Kini aku hendak melepaskan amanahku. Tepatnya, menyerahkan amanah besar ini kepada calon penggantiku yang kuharap bisa lebih baik dari diriku. Jum’at, 28 Agustus 2009. Akan kuserahkan pada yang Allah pilihkan. Insya Allah penerus perjuanganku adalah Hani Zahiyyah Suarsyaf. Walau begitu, aku tetap menyadari bahwa masa jihad formalku memang bisa berakhir..Tapi sesungguhnya masa jihad nonformalku takkan berakhir sampai disini..akan terus terjaga hingga nyawa ini dicabut oleh Pemiliknya..

Created By : Shabrina Nida Al-Husna

Advertisements

One thought on “Catatan Hati Seorang Pejuang Da’wah

  1. Baarakallaah…

    Kenangan jangan dihapus.. Allah berdialog dengan kita dalam surah Al-Hasyr ayat 18:
    “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri kalian melihat apa yang telah lalu (untuk pelajaran) bagi hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahawaspada terhadap apa yang kalian kerjakan.”

    ‘Ibrah dan hikmah patut kita ambil dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun.
    Semangat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s