Kelompok Kecil yang Membangun Peradaban


Kisah ini bermula ketika aku diamanahkan untuk membina adik-adik kelas X SMA Negeri 14 Jakarta. Sebenarnya, ini bukan amanah biasa, karena ini merupakan tradisi yang diturunkan oleh petinggi-petinggi 14 sebelum aku.  Ya, menjadi seorang mentor bukanlah suatu hal yang mudah. Karena aku bertanggung jawab terhadap sepuluh orang adikku. Mereka semua memiliki karakter yang berbeda-beda dan aku dituntut untuk bisa memposisikan diriku di hadapan mereka semua. Menganalisis, mendekati, dan mencoba untuk memahami..

Aku jadi ingat, pertemuan pertama kami adalah saat acara MOSIS (Masa Orientasi Siswa Islam SMA N 14 Jakarta) di masjid Al-Huda, masjid sekolah kami. Pada acara tersebut, kami dituntut untuk memberikan first impression yang baik untuk adik-adik binaan kami. Bukan hal yang mudah memang, tetapi aku mencoba memberikan kesan terbaik kepada adik-adikku. Mencoba SKSD, bercerita hal-hal yang lucu (padahal aku rasa itu sangat garing), menciptakan games baru yang aku rasa itu sudah sangat biasa dan jadul. Tapi ternyata, mereka memberikan sambutan yang sangat baik terhadapku.

Hari demi hari kami lewati bersama. Aku semakin paham bagaimana karakter dan kepribadian mereka. Mereka sangat unik. Farah yang sangat pintar dan selalu berusaha aktif di setiap pertemuan mentoring, Rara yang sangat lembut dan selalu merasa nggak enak tiap kali tidak bisa ikut mentoring, Intan yang sangat akhwat dan kalem sekali, Ninis yang memiliki suara tilawah yang paling bagus di antara mereka dan bahkan ia sempat pergi umroh bersama keluarganya, Silvi yang sangat loyal dengan ekskul yang dia ikuti, Rahma dan Putri yang sangat menyukai hal-hal berbau Korea, juga Della dengan kehebohannya yang suka ikut nimbrung bersama mereka. Juga Ully yang sangat penasaran dan selalu ingin tahu tentang Islam. Ada lagi Dika, gadis yang menurutku memiliki pergaulan yang berbeda dengan teman-temannya yang lain.  Ia mengikuti ekskul Drum band yang kurasa minim ikhwah, dan berisi orang-orang yang tidak terlalu dekat dengan Islam.

Aku mencoba memahami setiap karakter mereka, mendekati dan menyampaikan segala sesuatunya dengan hati. Karena seseorang pernah mengatakan, “Jika kita ingin suatu hal yang kita sampaikan diterima oleh orang lain dengan hati, maka sampaikan hal itu dengan hati pula.” Aku selalu berusaha mengkondisikan setiap pertemuan kami santai namun bermakna. Aku mencoba memberikan mereka simulasi-simulasi kecil agar setiap materi Islam yang aku sampaikan dapat mudah diserap dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kami juga sempat menonton film “Charlie and The Chocolate Factory” bersama, atau sekedar pergi makan “Ice Cream Goreng” bersama di warung yang tak jauh dari sekolah kami. Aaah, indahnya masa-masa itu, kebersamaan yang tak dapat digantikan oleh apapun..

Aku seperti memiliki keluarga kecil, aku sebagai kakak yang bertanggung jawab terhadap sepuluh orang adikku. Semakin lama, mereka semakin percaya padaku. Banyak tanya, cerita, bahkan luapan kesedihan yang mereka curahkan di setiap pertemuan-pertemuan singkat kami. Tangis bersama, tawa bersama, bahkan semangat menggebu-gebu bersama ketika suatu saat aku menyampaikan sebuah materi kecil yang bertemakan “Saatnya pemuda Islam berprestasi”. Kala itu, aku menugaskan mereka untuk membuat catatan harapan mereka sebanyak 100 buah di atas selembar karton yang besar. Dan aku sangat terkesan sekali melihat cita-cita dan harapan mereka..

Di antara sekian banyak kebahagian yang aku rasakan bersama mereka, ada satu hal yang menjadi hikmah terbesar ketika aku menjadi seorang mentor. Ibadahku, motivasi belajarku, mutaba’ah yaumiyahku meningkat drastis saat aku memegang amanah tersebut. Ya, mereka adalah tadzkirahku. Pengingat ketika aku mulai futur dalam ibadah, atau motivator ketika semangatku dalam belajar mulai padam. Aku mencintai mereka. Karena aku bisa banyak belajar dari mereka. Mereka yang tadinya kupikir bisa menjadi beban dalam menuntut ilmu di sekolah, tetapi justru bisa menjadi bahan bakar semangatku.

Ah, aku jadi ingat, saat pertemuan pertama kami, kesanku adalah : Sepertinya akan susah membina gadis-gadis seperti mereka. Bayangkan saja, dari sepuluh orang yang menjadi menteeku, hanya Farah, Intan dan Rara yang berjilbab. Dan aku sempat merasa putus asa untuk membina mereka..

Namun tahukah kau? Kini mereka sudah banyak berubah. Della yang dahulu sangat pecicilan dan tidak bisa diam, kini ia sudah berjilbab. Ia seringkali melibatkan dirinya di setiap kepanitiaan acara ROHIS. Rahma yang dulu sangat pendiam, kini ia juga sudah berjilbab, ia semakin mantap untuk menunjukkan prestasinya di bidang akademik. Farah yang dulu penuh tanya dan aktif, kini ia ditempatkan di OSIS sebagi sekretaris I. Rara yang sangat kritis dan lembut, diamanahkan sebagai pengurus inti MPK (Majelis Perwakilan Kelas). Intan menjadi orang yang sangat berpengaruh di ekskulnya. Ully yang tak kalah sibuknya dibandingkan teman-temannya yang lain, ia yang pertama kali memakai jilbab selain tiga adik yang telah kusebut, kini ia juga turut berjuang dalam menegakkan da’wah di 14. Ninis yang sangat loyal dengan ekskulnya dan selalu mencoba untuk menjadi aktivis itu kini diamanahkan menjadi ketua ekskul Jurnalistik Sekolah. Silvi, yang kini juga sudah berjilbab, ia menjadi sesosok perempuan yang sangat manis. Dika, Putri.. aku tak tahu cerita tentang mereka. Yang kuharap, semoga Allah suatu saat bisa memberi mereka hidayah untuk merasakan indahnya Islam…

Ya, semua itu karena cinta. Karena cinta yang tumbuh di setiap pertemuan-pertemuan kingkat kami. Karena cinta yang mengalir di setiap ucapan yang kusampaikan pada mereka. Karena cinta yang mengakar kuat di antara kami..dan yang pasti, karena kecintaanku pada Rabbku Yang Maha Agung..

Teruntuk adik-adik mentorku yang pernah mengisi hari-hariku ketika di SMA..

Jika bukan karena cinta, mungkin aku tak mau

Jika bukan karena kasih, mungkin aku tak bersedia

Jika bukan karena sayang, mungkin sudah kutangguhkan

Tetapi semua itu semata-mata karena cinta, kasih, dan sayang pada Rabbku

Sehingga untuk pembuktiannya, aku butuh kalian di setiap langkahku

Agar dengan itu semua, aku bisa bertemu dengan Rabbku Yang Satu..

Shabrina Nida Al Husna, 27 Juni 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s