Ketika fajar tak lagi menemani..


Fajar itu, segalanya berubah. Kini titelku tak lagi hanya sebagai seorang istri dari lelaki shalih, tetapi juga sebagai seorang wanita yang nantinya akan dipanggil dengan panggilan istimewa, ‘Ummi’. Ah, aku tak pernah menyangka akan secepat ini. Apalagi dengan kondisiku yang masih terlalu muda untuk ukuran seorang ibu. Walaupun aku hanya tinggal menyelesaikan skripsiku saja. Tapi aku beruntung sekali, memiliki seorang suami yang mampu memahami kondisiku saat ini, juga senantisa mendukungku dalam keadaan apapun.

Kutatap dalam-dalam wajah bersinar malaikat kecilku. Kusentuh hidungnya yang mancung seperti Abinya. Wajahnya bersih dan memancarkan cahaya keteduhan. Kulitnya putih dan matanya besar. Kukira, ia akan memiliki lesung di pipinya. Dan aku yakin, ia pasti akan menjadi wanita cantik ketika dewasa nanti.

Tak terasa air mataku menetes dan jatuh di atas bibirnya yang kecil. Segera mulutnya terbuka sedikit dan memberi respon atas itu. Ah ya Allah, kuharap ia menjadi seorang akhwat yang shalihah nantinya, yang mampu melanjutkan perjuanganku.

Terdengar suara pintu kamar terbuka. Segera aku menengok ke arahnya. Azzam pulang dari shalat shubuh di mushalla. Ia memang selalu mengusahakan untuk shalat shubuh di mushalla atau masjid, menurutku ia menjadikan itu sebagai amalan unggulannya.

Kutatap wajahnya yang terlihat lelah. Ya, sejak semalam ia tidak tidur, menemaniku yang sempat tak sadarkan diri selama beberapa jam pasca persalinan. Aku memang lemah. Cepat sekali kelelahan. Apalagi aku sempat memaksakan diri untuk berpuasa sehari kemarin, padahal Azzam sudah melarangku dengan alasan bahwa aku akan segera melahirkan. Dan ternyata, tepat saat azan isya’ kontraksi perutku berawal. Dan akhirnya, aku melahirkan setelah melalui beberapa tahap persalinan. Karena tak kuat, beberapa menit setelah aku mengeluarkan bayi kecilku, aku tak sadarkan diri.

Ia mendekat. Mata kami saling bertemu. Tersenyum satu sama lain. Lalu ia mencium keningku. Lama sekali. Seperti mengalirkan energi positif kepadaku.

Tak terasa air mataku mengalir untuk yang kedua kalinya. Membentuk parit kecil di wajahku. Ah, aku sungguh mencintainya. Sangat mencintainya.

“Kau lapar? Ingin kubuatkan Okayu?” tanyanya lembut.

“Tidak perlu. Kau saja. Saat aku terbangun semalam, aku melihatmu tilawah hingga bibirmu pucat. Aku yakin kau belum makan. Benarkah?” jawabku yakin.

“Tetapi kau butuh asupan pagi ini. Kalau aku, itu tak penting. Masalahnya adalah, sehari kemarin kau memaksakan diri untuk berpuasa sunnah, padahal sudah kularang. Aku buatkan ya? Dan kau harus makan J”

“Baiklah jika itu tidak memberatkanmu. Asalkan nanti kau juga makan ya J” jawabku lirih.

Ia tersenyum, lalu pergi.

Aku menatap punggungnya yang kekar. Seorang lelaki lulusan Teknik Perminyakan ITB itu memang sangat tangguh. Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu aku sedang menghadiri konferensi ikatan mahasiswa muslim Indonesia yang tinggal di negeri sakura ini. Aku melihatnya sedang mengangkat logistik yang dibutuhkan untuk konferensi tersebut. Saat itulah pertama kalinya aku kagum padanya. Kekagumanku bertambah saat aku tahu bahwa ia adalah ketua komunitas mahasiswa muslim Indonesia di Jepang. Namun saat itu kubiarkan Allah dan diriku yang tahu tentang rasaku..

Ia dua tahun lebih tua di atasku. Kedewasaannya, kesalihannya, kebijaksanaannya dalam memimpin, sikap ramahnya dalam bertutur sangat menginspirasiku. Aku tak menyangka aku bisa menikah dengan seorang lelaki yang luar biasa seperti dirinya. Lebih tepatnya, aku tak menyangka ia meminta pada murabbiyahku untuk menjalankan ta’aruf denganku. Setelah meminta pertimbangan kepada keluarga di Jakarta, ayah dan ibu mengizinkan untuk melanjutkan proses ta’aruf. Akhirnya kamipun menikah di dua negeri, di Indonesia dan di Jepang.

Suara tangisan bayi mungilku membuatku tersadar dari pengembaraan masa laluku. Segera aku mengelus-elus kepalanya dan memberinya ASI.

“Cup-cup, sholihat.. Sabar ya nak..”

Ya Allah, betapa aku tak percaya segalanya dipermudah oleh-Mu. Aku pernah bercita-cita untuk melanjutkan studi S-1ku di luar negeri, hingga akhirnya aku berkesempatan untuk kuliah di jurusan Mikrobiologi, Tokyo University di Jepang dengan full scholarship. Namun satu hal, aku tak pernah bermimpi untuk menikah secepat itu..

“Tangisannya sudah reda. Ia sudah kembali tertidur, dik..” suara Azzam membuatku menoleh ke arahnya.

Aku tersenyum. Kulihat ia sibuk dengan Okayunya di dapur. Sepertinya sebentar lagi akan jadi.

Kutengok ke arah jendela kamar rumah sakit. Matahari sudah mulai muncul di ufuk timur. Keindahannya ditemani bunga sakura yang bermekaran di taman rumah sakit. Inilah yang kuimpikan sejak kecil saat tinggal di Indonesia. Bisa melihat sakura lebih dekat, melihatnya bermekaran, dan menikmati keindahannya.

Saat ini memang sedang musim semi. Aku sangat suka musim semi. Karenanya, aku hendak memberi nama malaikat kecilku ini, ‘Harumi Nur Aisyah’. Kuharap ia bisa menjadi cahaya di musim semi seperti Aisyah, istri Rasulullah SAW.

“Dik, Okayunya sudah siap..” ucapnya sambil membawa semangkuk bubur.

“Subhanallah.. ini pasti nikmat sekali..wanginya saja harum..terima kasih kak J” Ucapku seraya tersenyum.

“Aku suapkan ya dik..”

Aku tersenyum mengangguk.

“Bagaimana rasanya dik? Enak tidak?” tanyanya begitu suapan pertama telah habis di  mulutku.

“Enak sekali, Kak. Ini sangat lezat..” jawabku mantap.

“Alhamdulillah..”

Aku kembali tersenyum. Rasanya ingin sekali menangis kembali. Namun, akan sangat terlihat betapa melankolisnya diriku. Suapan demi suapanpun masuk ke mulutku, hingga semangkuk okayu habis dilahapku.

Aku menoleh ke arah jendela kamar rumah sakit. Indah sekali musim semi kali ini. warna-warni bunga seolah menyambut kedatangan bayi mungilku ke dunia ini. Aku jadi ingat, kejadian dua tahun silam, saat aku menemani murabbiyahku menjalankan proses persalinan anak pertamanya. Aku setipe dengan murabbiyahku, kami sama-sama lemah. Namun bedanya, saat itu beliau benar-benar tak kuat hingga harus disesar. Ketika itu, jepang juga sedang musim semi. Dan sayangnya, beliau tak bisa ditemani suaminya, karena sedang tugas ke Jerman. Tetapi satu hari setelahnya, suaminya kembali ke jepang.

Aku merasa beruntung sekali, kini Azzam menemaniku di rumah sakit. Walaupun aku tahu, amanahnya sangat banyak di luar sana. Setahuku, ia sangat sibuk. Namun aku tak tahu  bagaimana ia me-manage segala aktivitasnya. Belum mengenai proyek yang ia jalani bersama dosen dan rekan mahasiswa S-2nya, atau bagaimana dia menjalankan amanahnya sebagai direktur perusahaan ayahnya di Jepang. Ya, ayahnya memang seorang businessman yang berkembang. Dan ayahnya menularkannya padanya. Terakhir, yang aku tahu ia mengalihkan amanahnya sebagai ketua KMMI untuk sementara ke Farhan, teman dekatnya yang menjadi perantara kami saat menjalani proses ta’aruf. Aku yakin, ia pasti benar-benar meluangkan waktunya untukku.

Sudah hampir lima hari aku lalui hari-hariku di rumah sakit. Banyak orang yang datang menengokku dan mellihat anakku. Dari mulai rekan kerja maupun teman dekat Azzam, teman dekatku, Afra, hingga murabbiyahku dan murabbi Azzam. Mereka datang menjenguk dengan berbagai macam respon melihat bayi mungilku, dan dengan membawa beberapa hadiah kecil untuk Harumi. Sampai aku tak tahu bagaimana mengangkut semua barang-barang ini.

Setelah satu minggu, akhirnya dokter mengizinkanku untuk pulang. Walaupun sebelumnya Azzam menyuruhku untuk tetap di rumah sakit. Alasannya sangat sederhana, khawatir jika terjadi apa-apa di kemudian hari katanya. Ah, dia memang terlalu khawatir dengan kondisiku, padahal dokter sudah dengan mantap mengizinkanku untuk pulang.

Sesampai di rumah, aku kelelahan, setelah harus mendiamkan tangis anakku selama perjalanan di mobil. Azzam menggendongnya, aku dibantu oba masuk ke dalam rumah. Sekarang harumi sudah berumur 1 minggu. Lucu sekali melihat Azzam menggendongnya sambil mengajaknya bercanda hingga tertidur. Setelah itu ia menidurkannya di kamar.

Azzam duduk di sebelahku di kursi ruang tamu. Memegang lembut tanganku, mengelus perlahan, lalu mendekatkan mulutnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu.

“Esok keluarga dari Indonesia akan kesini. Jadi kita harus bersiap-siap untuk menyambut mereka J” Ucapnya berbisik.

Aku menoleh ke arahnya.

“Benarkah?” tanyaku kaget.

“Ya, tentu saja J” jawabnya sambil mengangguk mantap.

Betapa bahagianya aku mendengar kabar darinya. Aku bertekad takkan membiarkan moment esok hari terlewat begitu saja. Karena ini kesempatan yang sangat jarang sekali. Terakhir aku bertemu dengan mereka adalah saat Paman Arman menikah, itupun kami yang mengunjungi mereka di Indonesia.

“Baiklah, hari ini aku akan menyusun konsep untuk menyambut mereka. Ah, senangnya, esok pasti akan bahagia, Insya Allah J” ucapku sambil tersenyum ke arahnya.

“Dik, maafkan aku, aku tak bisa membantumu. Siang ini aku harus ke kanrishoku. Karena ada meeting mendadak yang sangat penting. Diizinkan ya? J” tanyanya kepadaku.

“Ya, tidak apa-apa. Aku mengerti tentang kesibukanmu. Kau sudah menemaniku selama beberapa hari di rumah sakit. Aku yakin banyak pekerjaan yang menunggumu di kantor.” Jawabku menyenangkan hatinya.

“Terima kasih, Dik. Bagaimana jika nanti malam kita belanja bersama saja? Aku jemput kau setelah maghrib ya.” Tanyanya kembali.

“Ya, baiklah. Tetapi jika kau terlalu sibuk, biar nanti oba saja yang belanja untuk esok hari. Yang terpenting, selesaikan dulu amanahmu ya J” jawabku meyakinkannya.

Ia mengangguk. Lalu pergi.

————————————————————–

            Malam ini aku sibuk sekali. Sudah lebih dari 1 jam Harumi tidak berhenti menangis. aku sudah mengajaknya bermain namun ia tak jua berhenti. Bahkan Oba sudah berkali-kali mengajaknya bercanda. Yang membuatku resah adalah, Azzam belum kembali dari kantor, sementara jam sudah menunjukkan puukul 23.30 malam.

“Ya Allah…” lirihku.

“Fujin, mengapa pucat sekali? Sepertinya fujin butuh beristirahat sejenak. Oba buatkan riyu ya?” tanya Oba kepadaku sambil mencoba membaca kondisiku.

“Tidak apa2 Oba, aku hanya khawatir. Harumi tak berhenti menangis sejak sejam yang lalu. Azzam pun belum kembali dari kantor, padahal hari sudah larut.” Jawabku lirih.

“Tenang saja fujin, tidak usah panik. Saya yakin tuan baik-baik saja. Saya buatkan riyu untuk fujin dulu.” Ucap Oba.

“Arigato gozaimasu, Oba.”

Aku masih sibuk menggendong Harumi sementara Oba membuatkanku riyu. Kubisikkan beberapa ayat al-quran di telinga Harumi. Beberapa menit kemudian, ia tertidur. Ah, Al-quran memang Assyifa, yang dapat menyembuhkan segala kesedihan maupun kekhawatiran.

Tin..Tin..

Beberapa menit setelah aku menidurkan Harumi di kasur, suara klakson mobil Azzam terdengar. Aku bergegas mengambil jilbabku, lalu beranjak keluar untuk membuka pintu.

Kulihat jam dinding di rumah saat tiba di ruang tengah. Pukul 23.50. Saat tiba di pintu, aku melihat  wajahnya yang lesu. Pakaiannya sudah tak berbentuk. Dengan segera kucium tangannya.

“Masya Allah, mengapa baru pulang, Oniisan? Dan mengapa wajahmu begitu pucat? Apa yang terjadi sampai kau pulang begitu larut?” tanyaku sambil menyentuh wajahnya yang pucat.

Ia tak menjawab.

“Baiklah, ayo kita duduk di dalam. Tenangkan dirimu ya sayang..” ucapku lembut, meredam kepanikanku dalam hati.

Aku membawakan tasnya sambil menggandengnya masuk ke dalam rumah. Kami duduk di sofa ruang tengah.

“Apa yang terjadi sayang? Ceritakan ya, jangan dipendam sendiri. Berbagilah denganku..” kataku sambil mengelus tangannya.

Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. Menghela nafas panjang. Lalu mengambil sesuatu dari tasnya dan menunjukkannya padaku.

ZENBU NO SHAKKIN KAISHA NO SHAZAKA

Ya, daftar hutang perusahaan yang Azzam kelola. Aku menatap wajahnya sebentar. Kemudian melanjutkan kembali.

2.000.000 Yen. Angka yang tidak sedikit. Sangat miris sekali.

Aku menatap wajahnya kembali. Sangat pucat dan lesu. Hingga senyum tak sedikitpun terukir di wajahnya.

Tak terasa air mataku mengalir. Sedih Robb, aku lemas melihatnya..

Kupeluk ia erat-erat. Aku tak sanggup melihat wajahnya yang pilu. Ya Allah, hageshiku..

“Dik, maafkan aku. Aku belum bisa menjalankan amanah ayah dengan maksimal. Aku terlalu sombong sebagai hamba, tak bersabar dan tak bersyukur. Sungguh begitu dha’ifnya aku..” ucapnya lemah.

“Masya Allah, mengapa kau meminta maaf padaku? Kau tak salah. Ini kehendakNya. Ia ingin mengajarkan kita banyak hal. Mungkin kita tak bisa melihatnya sekarang..tapi nanti. Aku yakin, akan ada banyak hikmah yang bertebaran di hadapan kita. Kita pasti mampu melewati ini, kak..insyAllah. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Bukankah itu janjiNya?” ucapku lembut sambil menahan tangis.

“Ya, namun bagaimana jika ayah bertanya tentang ini? Aku tak sanggup menceritakan pada ayah..”ucapnya khawatir

“Kak, bukankah orang-orang beriman itu akan selalu diuji? Dan aku yakin kakak mampu melewati ini. Aku akan terus mensupport kakak, kita selesaikan masalah ini bersama-sama ya.” Ucapku mencoba menenangkan Azzam.

Kami sama-sama terdiam. Sangat lama. Aku menahan tangisku, mencoba menenangkan diriku.

Setelah beberapa menit, aku memutuskan untuk beranjak ke kamar. Aku biarkan Azzam sendiri di ruang tengah. Aku yakin ia butuh menyendiri untuk beberapa saat. Dengan segera, aku mengambil air wudhu, lalu duduk di pinggir kasur untuk membaca Al-Quran. Kuhayati setiap ayat yang kubaca. Kuresapi setiap potongan firmanNya. Sesekali berhenti mengusap air mata yang terjatuh di pipi.

“Ya Allah, kuatkan kami. Sesungguhnya kami hanya hamba-hambaMu yang lemah. Tak sedikitpun ada kekuatan selain dari-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sumber kekuatan kami..” doaku seraya memeluk erat mushafku.

Setelah menyelesaikan beberapa halaman Al-Quran, aku memutuskan untuk merebah jiwa dan ragaku. Aku lelah, aku ingin bercerita padaNya pagi nanti..

—————————————————-

            Mataku sembab, aku tak bisa melihat jelas. Kuraba sisi sebelah kanan kasur. Azzam tak ada. Aku khawatir ia tertidur di ruang tengah. Aku segera bangkit. Lalu kulihat jam dinding di kamar. Pukul 02.35. Sudah pagi.

Aku beranjak ke kamar mandi dan berwudhu.

Setelah berwudhu, aku memutuskan untuk menengok Azzam di ruang tengah. Ia tidak ada di sana. Aku khawatir, jantungku berdetak kencang. Di mana ia?

Aku bergegas mencarinya ke seluruh ruangan di rumah. Lalu kutemukan ia sedang menangis dalam shalatnya di ruang kerjanya.

Aku lemas, kusandarkan tubuhku ke tembok, kujatuhkan diri secara perlahan, lalu menangis untuk beberapa saat.

‘Ya Robb, kuatkan, kuatkan, dan kuatkan ia..’ lirihku dalam hati.

Aku kembali ke kamar, kutengok Harumi yang tiba-tiba saja menangis. Kugendong ia, dan kucoba membuatnya berhenti menangis dengan membacakan ayat hafalanku.

Sudah hampir lima belas menit, namun tak jua berhenti. Hal yang tidak biasa..

“Harumi sholihat, cup cup ya sayang, udah yaa.. ummi belum shalat Tahajjud, nak. Udah nangisnya ya sayang..” ucapku perlahan sambil mengelus kepalanya.

Kuputuskan untuk duduk di sisi kasur. Memberinya asi. Untuk beberapa saat, berhenti menangis.

Tiba-tiba saja Azzam masuk ke kamar dan menanyakan Harumi padaku.

“Dik, ada apa? Mengapa harumi menangis?” tanyanya sambil duduk di sebelahku.

“Tidak apa-apa. Ia memang sedang rewel. Sejak pagi tadi dia menangis terus.” Jawabku.

“Sayang, maafkan abi. Abi tak bisa memenuhi hakmu untuk mendapat perhatian seharian ini. Maafkan abi..” ucapnya sambil mengelus kepalanya, lalu mencium keningnya.

Setelah beberapa menit, Harumi kembali tertidur. Kuletakkan ia di tempat tidurnya. Setelah itu aku beranjak untuk shalat, sementara Azzam melanjutkan aktivitasnya.

———————————————————————————————-

Adzan subuh pertanda berakhirnya fajar terdengar dari speaker laptopku. Hari ini akan segera dimulai. Kuharap ada beribu keajaiban yang Allah anugerahkan kepada kami.

Seperti biasa, kulihat Azzam beranjak ke mushalla dekat asrama mahasiswa Indonesia. Di sana memang sengaja dibangun mushalla kecil mengingat mayoritas mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang beragama Islam. Mukanya terlihat pucat, matanya sembab. Sejak setelah Harumi kuselesai menangis, ia tak mengajakku berbicara.

Kuputuskan untuk mandi lebih pagi untuk menyegarkan tubuhku. Mandi pagi saat musim semi memang sangat sejuk..

Setelah selesai shalat dan tilawah beberapa halaman di ruang shalat, kuputuskan untuk menengok keadaan Harumi. Namun tiba-tiba saja kepalaku pusing. Penat sekali. Semuanya terasa berputar. Sepertinya darah rendahku kambuh. Akhirnya aku mengurungkan niatku dan beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Saat hendak ke kamar, tiba-tiba Harumi menangis keras sekali. Dengan segera aku menengoknya. Aku kaget bukan main. Segala bentuk dzikir keluar dari lisanku secara spontan.

Ada banyak sekali darah di sekitar hidung Harumi. Aku takut ya Allah..aku sungguh takut..

Segera kuambil kain bersih, lalu kusiram dengan air hangat. Kubasuh kain tersebut untuk menghilangkan darah di sekitar hidungnya.

“Masya Allah sayang, kamu kenapa? Ummi takut terjadi apa-apa pada dirimu..” ucapku bergetar, hampir menangis.

“Obaaaaa, kemarilah, kemarilah! Aku takut sekali..” ucapku dengan keras.

“Iya nyonya, ada apa?” tanya oba panik.

“Lihatlah oba, aku ingin menangis..” jawabku lirih.

“Kita bawa ke rumah sakit saja nyonya.”

“Tapi Azzam belum pulang. Bagaimana jika kita tunggu dia saja?”

“Nyonya, sebaiknya sekarang saja. Saya khawatir terjadi apa-apa padanya.” Ucap oba menyarankan.k

“Baiklah, oba siapkan pakaian Harumi, aku siap-siap dahulu..”

————————————————————————————————-

“Nyonya, kita harus cepat, harumi menangis terus, sementara darahnya masih keluar melalui hidung.” sahut oba.

“Ya, sebentar.”

Aku mempercepat langkahku. Tiba-tiba terdengar suara telepon rumah berdering.

Kring kring, kring kring

Segera kuangkat teleponnya.

“Konichiwa. Dengan keluarga bapak Azzam?” suara dari penelpon seberang.

“Ya benar sekali, ini dengan siapa dan ada apa?” tanyaku heran.

“Gomennasai. Kami dari keisatsusho. Bapak Azzam baru saja mengalami kecelakaan. Beliau tertabrak oleh bus besar. Saat ini kondisinya sedang koma di Kagoi Shinryoushitsu. Mohon segera ada keluarga yang kesini. Arigatou.”

Aku terdiam cukup lama. Badanku tiba-tiba saja melemas. Kepalaku pusing sekali. Pandangaku kabur. Dan setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s