Man Shabara Zhafira


Malam ini bukanlah malam yang pertama. Ini sudah malam yang ke 24 baginya. Sama sekali tak ada perubahan. Ia masih saja duduk di pojok kamarnya dengan melipat kaki dan meletakan dagunya di atas lutut. Ya Allah, sejak kejadian itu, ia seperti hilang harapan. Seperti  tak ada semangat untuk menjalani kehidupan…

Aku tahu, bukanlah hal yang mudah jika kita ditinggal oleh orang yang sangat kita cintai, apalagi orang tersebut adalah orang yang sangat dekat dengan kita. “

“Assalamu’alaikuuum!” suara salam dari balik pintu mengagetkanku yg sedari tadi mengamati Azzam di kamarnya.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah.. sebentar ya.” jawabku sambil bergegas membukakan pintu.

“Masya Allah, Mbak. Aku udah salam sepuluh kali lho, ngeliat Mbak dari jendela masih sibuk bengong di tembok deket kulkas. Masya Allah Mbak, Mbak…” ucap Zahra sedikit kesal.

Aku hanya tersenyum, namun dengan sedikit terpaksa.

“Kenapa sih mbak? Azzam lagi? Ya Allah Mbak, kan aku udah bilang, mendingan bawa dia ke psikiater aja deh. Bahaya mbak, mbaknya juga kan yang repot jadinya… Hhhh,“ ucap Zahra sedikit mengomel sambil memasuki rumah. Setelah menutup pintu, aku bersegera membuntutinya dari belakang

“Ya Allah Azzam, kamu sadar dong Zam! Masa mau begini terus siiih… “ kata Zahra sambil mengoyang-goyangkan bahu Azam.

“Hey Zam, ayo sadar…“ lanjut Zahra.

“Masya Allah Ra, jangan digituin dong Azzamnya. Kasian dianya, baru lima tahun juga. Masya Allah!” ucapku dengan tegas sambil menepis tangan Zahra.

“Sayang, kamu nggak kenapa-kenapa kan? Maafin Mbak Zahra ya sayang..” ucapku sambil mengelus kepala Azzam.

“Kamu sih Ra..kasian dianya jadi nangis…” lanjutku sedikit memarahi Zahra.

“Ah, nggak tau ah Mbak. Aku bingung deh sama Mbak, nggak mau repot tapi diem aja. Nggak ngerti deh aku maunya Mbak gimana!” ucapnya berlalu begitu saja.

“Masya Allah Zah, bukan itu maksud Mbak..”

“Nggak tau ah, nggak mau denger!” ucapnya seraya menutup pintu dengan keras.

Ah Ya Allah, jika ditanya masih kuatkah aku mengatasi semua masalah ini, jujur jawabanku adalah aku tak sanggup. Jika bukan karena Allah dan Rasul-Mu, mungkin aku tak berniat untuk melanjutkan hidup..

Allahuakbar.. Allahuakbar.. Azan isya sudah terdengar. Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Kusempatkan untuk menengok Zahra di kamar.

“Assalamu’alaikum Zah..” ucapku seraya membuka pintu kamar.

“Masya Allah zah, kamu kenapa sayang?” tanyaku kaget sambil menghapus menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

“Kamu menangis gara-gara Mbak ya? Maafin Mbak ya sayang..bukan maksud Mbak untuk marahin kamu tadi..” lanjutku dengan perasaan bersalah.

Ia menggelengkan kepalanya.

“Lalu kenapa Zah? Apa kamu sakit? Yang mana yang sakit? Nanti Mbak bawa kamu ke dokter ya..”

Ia menggelengkan kepalanya lagi.

“Lalu kenapa Zah?” tanyaku lagi.

Ia menunjukkan sebuah bingkai foto yang terdapat foto keluarga kami. Di sana tertera tulisan: 25 Mei 2009.

“Aku rindu mereka, Mbak..” ucapnya sambil menunjuk foto ayah dan ibu di foto tersebut.

Suasana begitu hening untuk beberapa saat. Tak terasa air mataku mengalir. Membuat parit-parit kecil di kedua pipiku. Ya, aku teringat mereka. Mereka yang pernah mengisi hari-hariku selama 21 tahun. Mereka yang selalu mencipta tawa dan bahagia di sela-sela kesedihanku. Menjadi pelipur lara ketika duka melanda, menjadi motivator ketika semangat mulai padam, atau sekadar memberi perhatian kecil di tengah kesibukan mereka.

Aku merindukan mereka..

Merindu Ayah yang selalu membuat kami tertawa dari lelucon-lelucon sederhana yang ia ciptakan. Merindu ibu yang senantiasa memijat punggung kami ketika pulang sekolah setelah seharian penuh beraktivitas di luar rumah. Atau ketika kami sekeluarga berkumpul sejenak saling berbagi cerita tentang hal-hal menarik yang kami alami seharian.

Ah ya Allah, katakan padaku, siapa yang senang ditinggal oleh orang yang mereka cintai?

“Mbak, inget nggak waktu kita pergi ke Taman Safari? Waktu itu Ibu nyesel banget pas diajak Mbak untuk naik Niagara. Terus Ibu bilang gini, ‘Masya Allah Nay, kamu tuh bohongin Ibu ya? Katanya seru, ini mah bikin Ibu jantungan. Astaghfirullah..’” ucap Zahra seraya tertawa kecil di tengah kesedihannya.

Aku hanya tersenyum.

“Aku kangen Ibu, Mbak..”

“Zah, siapa sih yang nggak kangen sama orang tuanya kalu ditinggal pergi? Nggak ada, Zah.. Tapi Allah tahu kita mampu melewati ini.. Allah tahu kita bisa..” ucapku meyakinkan Zahra.

“Iya mbak, Zahra juga tahu. Tapi kadang Zahra suka inget sama Ibu dan Ayah.. Zahra kangen, Mbak..”

“Mbak juga kangen, Zah. Tapi dunia ini hanya persinggahan. Setiap makhluk pasti akan kembali pada Rabb-Nya. Dan kita pun nanti akan mengalaminya.. Jadi, tugas kita sekarang adalah berdoa agar suatu saat kita dipertemukan kembali dengan ayah dan ibu di surga..”

“Iya Mbak, Zahra insya Allah paham..”

“Ya udah, sekarang kita sholat yuk, udah azan isya dari tadi nih..”

“Iya Mbak..”

Akhirnya, kami pun shalat berjama’ah dengan khusyu’, dan berharap bersama agar kami dapat dikumpulkan kembali di surga-Nya..

———————————————————————————————————————

Fajar memang waktu yang tepat untuk bermuhasabah, setelah mengadu pada Allah dengan segala kerendahan hati di shalat lailku. Kini aku merasa lebih lega. Shalat malam memang bisa menjadi charger efektif untuk membangkitkan semangat dalam menjalani aktivitas keseharian kita..

Embun, kaulah gutasi dari rangkaian metabolisme cinta

Menyambut makhluk dengan sapa yang nyata

Memadukan segala rasa tanpa kata

 

Daun, biarkan embun jatuh dari pangkalmu

Agar sejuknya dapat mendinginkan hati yang keras

Agar setiap tetesnya melembabkan jiwa yang panas

 

Angin, temani embun dalam berkelana

Tuk basahi hati yang jauh dari nama-Nya

Membangkitkan ruh yang sempat terjaga

Agar dapat hidup bersama sejuta asa

 

Ya Rabb, izinkan mereka tuk temani fajarku

Agar aku tak terpuruk pada apa yang sudah lalu

Dan senantiasa mengharap pertemuan dengan Engkau Yang Satu

“Mbak, sedang apa? Shalat subuh berjama’ah yuk, sudah azan..” ucap Zahra tiba-tiba

“Iya zah, ayuk..”

———————————————————————————————————————

“Azzam sholih, makan dulu yuk sayang.. biar Azzam nggak sakit.. Ya sayang ya?” tanyaku sambil menyodorkan sesendok nasi ke arah mulutnya.

Ia menggeleng sambil menutup mulutnya. Menolak suapanku.

“Azzam, makan dulu ya sayang, nanti kita main bola di lapangan deket sekolah..tapi makan dulu ya sayang..” rayuku dengan lembut.

“Hmm!” desahnya kesal.

“Ya udah, nasinya Mbak taruh di meja ya. Mbak mau nganter Mbak Zahra dulu ya ke sekolah..” ucapku seraya meninggalkan kamarnya.

“Kenapa Mbak? Pasti kayak gitu lagi. Biarin lah Mbak, ujung-ujungnya pasti dimakan kok Mbak..” ucap Zahra spontan. “Ayo berangkat, mbak..” lanjutnya.

Setelah mengunci seluruh pintu rumah, aku bergegas mengantar Zahra ke sekolah dengan satu-satunya motor yang kami punya.

Ah, semuanya sudah tak ada. Hanya motor ini yang tersisa setelah Ayah dan Ibu pergi. Rumah yang kami tempati sekarang bukanlah rumah yang Ayah dan Ibu tinggalkan untuk kami, tetapi kami mengontrak dari hasil jerih payahku bekerja sehari-hari.

Dulu kami termasuk keluarga yang sangat mapan. Rumah besar, pekarangan luas, garasi yang muat  oleh mobil ayah dan ibu, juga dua motor matic milik aku dan Zahra.

Ayah dan Ibu kecelakaan saat hendak menemui clientnya di Jogja. Saat itu, ibu menemani ayah karena kondisi fisik ayah sedang kurang sehat. Kabarnya, saat itu mobil ayah ditabrak oleh rekan kerjanya yang tak suka dengannya.

Ya, di saat yang sama, ayah menyembunyikan masalah perusahaannya yang sedang mengalami krisis keuangan pada kami. Ia tak memberi tahu sedikit pun tentang masalah yang menjadi indikasi gulung tikarnya perusahaan ayah. Mungkin, ayah hendak menjaga perasaan kami saat itu. Tiga hari setelah kematian ayah dan ibu, banyak rekan kerja ayah yang mengunjungi rumah kami. Mereka menyita satu per satu barang peninggalan ayah. Aku sudah berdebat dengan mengeluarkan semua argumentasiku. Namun tak ada yang berhasil. Alhamdulillahnya, ssat itu motorku sedang dipinjam oleh bibiku, sehingga mereka tak sempat membawa motorku pergi. Aku bilang bahwa motorku sudah rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Aku tak berbohong, karena kebetulan sekali, saat aku mengunjungi rumah bibi, ternyata ban motorku bocor. Sehingga harus ditambal. Ah, beruntungnya aku saat itu. Jika aku tak mampu berkata-kata, mungkin kami sudah tidak punya apa-apa sekarang, dan tak tahu harus tinggal di mana.

Akhirnya saat itu kuputuskan untuk menukar motorku dengan motor yang lebih jelek. Ya, motorku yang sekarang ini. tujuannya adalah agar aku tidak dicurigai oleh orang yang pernah berniat untuk mengabil motorku. Selain itu, sisa uangnya digunakan sebagai modal awal untuk membuka usaha. Alhamdulillah aku dan Zahra masih punya tabungan yang cukup untuk melanjutkan studi. Untuk sementara waktu, kami akhirnya tinggal di rumah bibi.

To be continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s