Sepotong Episode Kisah Kehidupanku


Suatu saat, ia pernah bertanya, “Teteh tau kan kalau berdagang itu sunnah Rasul? Makanya ibu senang menjalani bisnis, karena menurut ibu, sunnah rasul inilah yang mampu menjadi amal unggulan ibu di hadapan Allah kelak.. Dan ibu sangat bersyukur dengan kondisi ibu yang seperti ini, karena menurut ibu, inilah cara Allah dalam mencintai ibu dan keluarga.”

—————————————————#########————————————————-

Aku bersyukur. Entah kenapa, aku rasa Allah benar-benar Maha Baik. Baiiik sekali. Hingga terkadang, aku merasa bahwa persembahanku, ibadah-ibadahku, tidak ada apa-apanya di hadapan-Nya.

Ya, aku bersyukur. Ketika kusadari betapa indahnya skenario hidup yang Ia gariskan untukku. Aku mengenal sebuah keluarga kecil yang luar biasa saat aku harus meninggalkan keluargaku di Jakarta, karena tuntutan tempat kuliahku yang jauh dari rumah. Keluarga kecil dengan segala kesederhanaannya. Rumah yang menurutku tak layak untuk ditempati keluarga kecil itu. Lampu depan yang tidak menyala, ruang makan yang sempit, kamar mandi yang hanya ada satu, juga yang membuatku miris adalah: rumah itu sudah menunggak pembayarannya hingga 2 bulan. Ya Allah, rasanya ingin menangis ketika harus mengetahuinya.

Entah mengapa, aku merasa ini suatu hal yang sangat perlu disyukuri. Ketika Allah memperkenalkanku dengan dunia yang jauh berbeda denganku. Ia gariskan hidupku untuk bertemu dengan orang-orang yang mampu membuatku semakin bersyukur pada-Nya. Meski aku ditakdirkan menjadi mahasiswa di sebuah institut yang kata banyak orang, “materialistis”. Padahal mereka tidak tahu apa-apa tentang itu.

Aku jadi teringat saat pertemuan perdana kami. Sungguh, menurutku hal itu tidaklah terlalu berkesan. Hanya sederhana. Aku sebagai mahasiswa yang berniat mengirimkan pakaian kotorku ke sebuah laundry yang pemiliknya adalah sesosok muslimah luar biasa. Namun segala sesuatunya berjalan begitu indah. Mungkin karena aku memiliki tipe kepribadian yang melankolis, hingga aku mampu berbicara dengan hati pada tipe kepribadian orang seperti apapun. Karena aku bisa mengenali dengan cepat bagaimana karakter orang lain.

Aku mengenalnya, mengenal keluarganya. Mengenal sesosok ibu yang sangat tegar mengurusi 4 orang anaknya. Ia sudah bercerai dengan suaminya, sehingga segala sesuatunya diurus olehnya seorang diri. Seorang ibu yang memiliki semangat juang yang begitu luar biasa. Berbisnis adalah pilihan terakhirnya, karena menurutnya, jalan inilah yang mampu menjadi jawaban atas persoalan keuangan keluarganya. Suatu saat, ia pernah bercerita, “Teteh tau kan kalau berdagang itu sunnah Rasul? Makanya ibu senang menjalani bisnis, karena menurut ibu, sunnah rasul inilah yang mampu menjadi amal unggulan ibu di hadapan Allah kelak. Dan ibu sangat bersyukur dengan kondisi ibu yang seperti ini, karena menuut ibu, inilah cara Allah dalam mencintai ibu dan keluarga.” Tidakkah tergetir hati kita saat mendengar ucapannya? Ah, begitu istimewanya ia, hal-hal yang sederhana bisa menjadi sesuatu yang luar biasa baginya.

Ia hidup bersama empat orang anaknya. Mereka, keempat adik kecil itu sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Fikri, adik kecil yang kerap dipanggil ‘aa’ itu kini sedang bersekolah kelas 2 SMP. Ia sangat berbakat dalam bidang olahraga. Ia selalu diikutkan dalam kompetisi sepakbola tingkat SMP di sekolahnya. Namun sayangnya, ketika aku tahu bahwa ia sering terhambat untuk mengeksplor potensinya dalam bermain bola hanya karena sepatu bolanya yang kerap sekali rusak, hal itu membuatku merasa kesal. mungkin lebih tepatnya miris. Bagaimana bisa? Hanya karena tak mampu membeli sepatu bola yang bagus, ia harus terhambat untuk memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan padanya. Kaliah mungkin tau acara yang sedang heboh2nya saat ini. Ya, Sea Games. Ajang silaturahim negara se-ASEAN itu mengundangnya untuk mengisi dalam acara pembukaan perlombaan kategori boxer senin besok. Betapa aku terkagum-kagum saat mendengarnya. Ia juga aktif sekali di kegiatan OSIS di sekolahnya, menjadi bagian dari jajaran BPH inti OSIS. Ia selalu menaungi ketiga adiknya. Menyayangi mereka, mengajarkan hal2 baru pada mereka, dan suatu saat aku pernah mendapatinya memotivasi adik2nya. Sewaktu aku berkunjung, aku pernah melihatnya sedang mencuci piring di dapur. Betapa aku malu saat menyadari bahwa adik laki-lakiku pun yang berusia setara dengan anak-anak kelas 2 SMA, sering merasa enggan untuk melakukan hal seperti itu. Namun baginya, mungkin hal itu sebuah tuntutan. Tuntutan sebagai kakak dan terutama anak laki-laki pertama. Sungguh, aku selalu merasa ini hal sangat luar biasa. Aku malu, sangaat malu.

Bagaimana dengan ketiga adiknya? Aji, pria kecil itu selalu membuat ulah tiap kali aku berkunjung ke rumah. Namun ia sangat cerdas. Suatu saat ia pernah melukis diriku. Sangat mirip sekali denganku (ini menurutku). Ia berbakat menjadi seorang pelukis. Dan sayangnya, lagi-lagi, segala keterbatasan keuangan yang dimiliki keluarganya membuatnya tidak mampu berkembang.

Fatah, yang pada akhirnya selalu dipanggil ‘patah’-karena orang sunda memang tak bisa mengeja huruf F, aku hanya sempat bertemu dengannya sekali. Fatah lebih sering tinggal di rumah ayahnya. Jadi aku tidak tahu banyak tentang ia.

Lain lagi dengan Ama, perempuan kecil dengan suara cempreng itu selalu senang ketika aku berkunjung. Spontan ia memelukku ketika aku tiba-tiba membuka pintu rumah, sambil berteriak, “Teh Shabrinaaaaaa!” Betapa aku terlalu sering menahan tangisku saat kondisi tersebut memaksaku tersenyum. Mereka saja bisa tegar, bagaimana dengan aku?

Ama adalah gadis kecil yang cerdas. Aku lebih sering mendapatinya pulang mengaji saat aku bersilaturahim ke rumah. Lalu ia bercerita tentang banyak hal. Tentang hafalan alqurannya, tentang kemampuannya bisa menulis surat al fatihah, hingga keinginannya untuk bisa menari. “Ibu, aku mau bisa nari. Tadi pak Anja bilang, aku mau diikutin acara di RCTI. Yang nari-nari itu lho bu. Tapi katanya harus bayar sepuluh ribu dulu untuk biaya di awal.” begitu ceritanya ketika suatu saat aku sedang menjenguk ibu mereka yang sakit. Namun, hanya guratan sedih yang terlihat di wajah ibu. Bahkan untuk mengeluarkan uang sepuluh ribupun butuh pertimbangan yang sangat panjang.

Ya Allah, aku sedih. Aku bingung. Entahlah..mungkin semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Aku sudah berbuat apa untuk mereka? Sudahkah kehadiranku menjadi solusi atas kesulitan yang dilanda mereka? Atau kah aku hanya menjadi pribadi yang tak bisa berbuat apa-apa untuk mereka? Kesedihanku memuncak saat aku mengetahui bahwa rumah yang mereka tempati saat ini sudah menunggak pembayarannya hingga 2 bulan. “Tidak ada uang, teh. Kemarin aja, ama sama aji kan harus beli baju olahraga, tapi karena nggak ada uang, jadi cuma bisa beli satu. Ama jadi sering nggak dapat nilai tes olahraga karena nggak ada bajunya.”

Ya Allah..akhirnya aku putuskan untuk melakukan apa yang bisa kulakukan. Untuk mereka. Ya, untuk generasi cerdas seperti mereka. Mari kita flashback, mengingat kembali sesuatu yang sangat urgent dalam kehidupan. Kau tahu cita-citaku? Ya, aku ingin menjadi pengusaha yang professional dan sukses. Dan..mungkinkah ini pertanda bahwa Allah membuka jalanku? Aku tak mau menyi-nyiakan kesempatan ini. Akhirnya, kuputuskan untuk memulai bisnis. Aku mengajak ibu berbisnis denganku. Bekerja sama lebih tepatnya. Aku sebagai investor, sedangkan ibu menjalankan bisnisnya. Kami membuka usaha jualan kripik tempe dan kentang yang kemudian dipasarkan kepada anak-anak ITB yang tinggal jauh dari orang tuanya. Aku melihat ini sebagai peluang pasar. Karena biasanya, anak ITB yang tinggal di kosan merasa malas untuk membeli lauk di luar. Dan menurutku, produk kami bisa menjadi solusi atas masalah itu. Aku memulai segala sesuatunya dari awal. Merancang produk, mengestimasi biaya, membuat ekspektasi profit, menghitung BEP, dan banyak hal yang kulakukan. Ini menuntutku untuk memperdalam ilmu ekonomi. Alhamdulillahnya, aku dipermudah dengan amanahku sebagai sekretaris Sekolah Pengusaha Muda ITB, aku mendapatkan banyak hal dari sana. Meski aku hanya menjadi panitia, bukan peserta dari kegiatan itu, tapi aku juga mendapatkan banyak ilmu mengenai hal-hal yang berelasi dengan kewirausahaan. Tak hanya itu, sejak awal aku sudah berkecimpung di dunia kewirausahaan. Amanahku di tempat yang lain, yaitu menjadi tim social- entrepreneur Kabinet Kewirausahaan KM ITB semakin memudahkanku dalam meng-upgrade softskill-ku. Aku semakin sadar betapa scenario Allah sangat indah pada setiap insan..

Then, how do you feel? Do you feel happy or confused? Do you know what I’m feeling? I feel blessed =)

Betapa Allah memudahkan segalanya. Ketika kudapati segala sesuatunya saling berkorelasi positif, ada hikmah besar yang akhirnya dapat ditarik dari perjalanan hidupku. Bahwa setiap insan, memiliki cerita indahnya yang mampu membuatnya semakin mencintai-Nya. Itulah yang terjadi denganku. Dan kuharap, masing-masing dari kita juga dapat memaknai apa yang sudah Allah gariskan, apa yang telah Allah tetapkan. Hingga ketika kita merasa kecewa atau bersedih saat rencana kita tak bertemu dengan rencana-Nya, kita mampu berhusnudzon, bahwa ada cerita-cerita indah yang hendak ia tunjukkan di kemudian hari ketika kita mau berikhtiar dan bersungguh-sungguh menggapainya. Dengan merealisasikan cinta kita pada Allah sebagai kata kerja, dengan pengorbanan, dengan berlelah-lelah dalam berjuang, dengan senantisa menjadikan Allah orientasi dari segala bentuk amal yang kita lakukan.. Hingga Ia tak sekedar menghadiahkan kebahagiaan dunia atas segala rencana hidup kita, tetapi juga menghadiahkan kebahagiaan hakiki kelak di surga, mengizinkan kita melihat wajah-Nya yang Agung..

13 November 2011

Kamar kosan tercinta, saat Allah mengingatkanku akan urgensi bersyukur..

Advertisements

2 thoughts on “Sepotong Episode Kisah Kehidupanku

  1. Subhanalloh kak……………. tulisannya sungguh sangat menggugah hati ummi,
    sayang………….. memang harusnya kita banyak belajar dari berbagai kehidupan, berinteraksi dengan lingkungan dimana Alloh pertemukan kita dengan mereka, disanalah kita akan mendapatkan banyak pelajaran, pengalaman dan hal-hal lain yang bisa menginspirasi, memotivasi dan mengajak kita untuk salimg berbagi. Banyak cara Alloh untuk mengajarkan kepada kita arti sebuah kehidupan, kasih sayang, ketulusan, kepercayaan dan cinta……….tinggal apakah kita sadar atau tidak bahwa itu adalah skenario Alloh yang bukan hanya untuk kita renungi tapi juga kita syukuri………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s