Mungkin, seperti itulah cinta ♥


Sudah hampir 15 menit ia hanya sibuk mondar-mandir di dekat tempat tidurnya. Sesekali duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar handphonenya. Ada yang hendak ia lakukan, namun butuh keberanian luar biasa untuk melakukannya.

Ya, pengumuman beasiswanya sudah keluar tiga hari yang lalu. Ia diberi kesempatan untuk  melanjutkan studi masternya di negeri yang sangat diimpikannya. Negeri yang terkenal akan kemajuan teknologi dan pendidikannya. Negeri di mana tersebar berjuta pohon sakura yang sangat mempesona. Negeri Seribu Gempa yang justru paling handal dalam mengatasi bencana-bencana alam yang melandanya. Jepang, negeri tempatnya untuk menimba ilmu dan mengeksplor seluruh potensinya selama 2 tahun kelak.

Ia hampir tak bisa berkata ketika melihat sebuah notifikasi di emailnya. Akhirnya, segala bentuk perjuangannya berbuah manis juga. Meski kepahitan lebih sering ia rasakan di tengah perjalanannya dalam menggapai impian.

“Bagaimana ini? Aku ingin memberitahukan tentang ini, tapi sudah lama sekali aku tak berkomunikasi dengannya..” tanyanya pada diri sendiri.

Kemudian ia melanjutkan mondar-mandirnya di kamar itu. Diliputi rasa bersalah, gelisah yang tak berujung, sedih yang kian menambah, juga malu yang tak mampu didefinisikan dengan kata-kata.

Ya, akhirnya ia memutuskan untuk menekan tombol sent pada layar handphonenya. ‘Keputusan yang tepat, insya Allah! Lagian maksudku baik kok, aku hanya ingin memberitahukan tentang kepergianku nanti..’ lirihnya dalam hati.

Sms itu akhirnya terkirim juga. Isinya seperti ini:

Assalamu’alaikum wrwb

Bagaimana kabarmu? Maaf, sudah lama sekali tidak berkomunikasi denganmu. Kau pasti bingung tiba-tiba saja aku mengirim sepotong sms ini, ya kan?

Tapi melalui surat ini, aku hendak meminta maaf dan berterima kasih kepadamu. Atas apa yang pernah kita alami di masa lalu.

Aku ingin memberitahukanmu bahwa aku akan melanjutkan studi S-2 ku ke Jepang. Terima kasih atas doamu yang sempat mengiringi langkahku dulu.

Maaf atas segala khilaf yang sempat menoreh luka di hatimu.

Doakan aku ya.

 

Arisya Nur Husna

Ya, begitulah isi smsnya. Sepertinya ia tak mengharapkan balasan darinya. Sms itu memang bertujuan untuk sekedar memberitahukan, tidak lebih.

*********

Semilir angin pagi itu sangat sejuk. Diiringi kicau burung yang terlihat senang menyambut pagi. Juga lukisan langit yang begitu cerah. Ditemani matahari yang tetap bersinar menjalankan tugasnya. Begitu indah suasana pagi itu, semoga itu tak hanya sekedar klise.

Ya, pagi itu memang berbeda. Ia diliputi rasa malu yang sangat besar. Bahagia juga tentunya. Setelah semalam dua insan telah menyatakan isi hati masing-masing. Bagaimana tidak? Malam itu, dia-lah yang memulai semuanya. Di mulai dari.. ANA SUKA SAMA ANTUM! Dan berakhir dengan rasa malu, gelisah, dan rasa bersalah yang tak berujung..

Ah, kini ia menyesal. Ia tak tahu harus bagaimana ia beraktivitas  di sekolah nanti. Rasa malu itu kian bertambah ketika motornya melaju mendekati gerbang SMAnya. Ia tak tahu bagaimana ia harus menyapanya ketika bertatap muka dengannya. Ia sangat berharap segalanya akan baik-baik saja nanti.

“Hey Na, tumben banget dating pagi. Hehe. Eh jilbabmu mirih tuh,” sapa Raisha, teman sebangku Husna sejak kelas X itu.

Ia tak menghiraukan ucapannya. Ia sibuk mencari-cari sosok lelaki itu.

‘Di mana dia?’ tanyanya dalam hati.

“Eh Na, dirimu bengong ya? Haduh nih anak disapa malah bengong!” lanjut Raisha sambil menepuk bahu Husna.

“Aduh, sakit ih. Kenapa sih Sa?” tanyanya pada Raisha.

“Idih, aturan aku kali yang nanya. Kamu kenapa Na? Nyariin siapa sih? Dari tadi sibuk muter-muter ngeliat anak sekelas. Masih sepi Na, kamu kepagian, hehe”

“Kalo aku kepagian, terus kamu apa dong? Hehe” tanya Husna mencoba menetralisir keadaan.

Akhirnya mereka berdua sibuk mengobrol. Hingga sesosok lelaki masuk ke dalam kelas beberapa menit sebelum bel sekolah berbunyi. Ia bersama sekawanan teman laki-laki yang lain. Mereka tertawa bersama.

Kedua mata itu bertemu. Namun yang satunya segera menunduk malu. Yang lainnya tetap melanjutkan tertawanya bersama teman-temannya.

Saat pelajaran dimulai, mereka tak seperti biasanya. Mereka yang biasa sangat aktif dalam kegiatan pembelajaran, kini hanya diam tak berkata. Sesekali kedua mata itu bertemu, yang satu tersenyum, yang lainnya tertunduk malu.

“Ya, nanti tugasnya di kumpul ke Ardhian ya, seperti biasa. Ardhian, nanti kamu taruh di meja ibu ya,” ucap bu Farma, guru kimia di sekolah

“Iya bu,” jawab laki-laki itu.

“Baiklah, silahkan keluar.” Lanjut bu farma mengakhiri kegiatan belajar.

“Oiya, Husna, kamu bisa ikut ibu ke ruang guru?” tanya bu Farma seraya tersenyum kepadaku.

“Baik bu,” jawab Husna sambil membalas senyumnya.

“Aku ambil  sesuatu di tas dulu ya bu, ada yang ketinggalan.”

Ketika membalik, kedua mata itu bertemu kembali. Seperti biasa, yang satu tersenyum dan yang lainnya tertunduk malu. Yang satunya mendekat saat yang lainnya mengambil sesuatu di tas.

“Jangan berbicara di sini, sedang banyak orang. Yang semalam dilupakan saja. Seperti biasa saja ya.” ucap yang satunya sebelum yang lainnya bicara.

Yang lainnya masih juga tersenyum, dengan menjawab: “Ya, aku sayang kamu.”

Husna segera berlari mengejar Bu Farma yang sudah jauh berjalan.

 

To be continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s