Great Training: Feel Lucky to be there :)


Sedikit bercerita tentang pengalaman berharga hari sabtu kemarin. Aku merasa Allah telah memilihku untuk hadir di sana. Kesempatan yang sangat luar biasa menurutku. Hingga aku merasa bahwa rahmat Allah itu benar-benar ada dan terasa. Ketika kita dapat mengambil hikmah dari setiap takdir yang Ia tetapkan, dari setiap jalan hidup yang Ia gariskan..

Kesempatan itu datang saat SMS masuk sekitar pukul 13.04 hari jum’at kemarin. Intinya, SMS dari pengirim itu mengundang si penerima untuk menjadi delegasi dalam sebuah acara training di Jakarta. Mungkin kesan pertama si penerima saat membaca SMS itu adalah hal biasa, hanya sekedar ajakan untuk menghadiri sebuah training yang dari judulnya saja sudah membosankan. Training For Learners: Belajar Islam. Kurang lebih seperti itulah bunyinya.

Namun entah kenapa, Allah membuat kecenderungan di hatiku untuk bertanya lebih jauh tentang acara ini. Mengusahakan semuanya. Bahkan aku mengundur waktu mentoring adik-adik binaanku hanya sekedar untuk mengikuti acara ini. Mungkin salah juga, tapi aku mendapatkan banyak hal yang sangat open-minded dan men-charge ruhiyahku secara optimal.

Akhirnya, aku bulatkan azzamku untuk hadir. Dengan mempertaruhkan beberapa amanah da’wah di hari itu. Saat tiba di tempat berkumpul, aku tak menyangka, karena ternyata, undangan ini ditujukan tidak hanya untuk pengurus unit salman yang aku ikuti. Tetapi aku bertemu dengan orang-orang yang memang aktif dalam da’wah di unit salman ITB.

Kemudian, kami berangkat pukul 06.30 dengan bus. Sejujurnya, aku tak menyangka bahwa kami akan difasilitasi dengan sebaik itu. Bus yang menurutku lebih dari cukup. Dan aku (lagi-lagi) merasa bahwa Allah sangat sayang padaku.

Sesampai di Jakarta, kami disambut dengan ayat al-quran yang memang sedang dibacakan oleh seorang Qari’ yang luar biasa. Awal yang baik untuk acara yang baik. Entah mengapa, hatiku sangat tergetar saat itu. Getaran yang lebih dahsyat dari getaran-getaran sebelumnya. Kau tahu kenapa? Karena ayat yang dibacakan adalah.. “Innamal mu’minuunalladziina idzaa dzukirallahu wajilat quluubuhum, wa idzaa tuliyat ‘alaihim aayaatuhu zaadathum iimaana, wa ‘alaa Rabbihim yatawakkaluun..Ulaaaika humul mu’minuuna HAQQA, lahum DAROJAATUN ‘INDA RABBIHIM wa MAGHFIRATUN wa AJRUN KARIIM..” (QS: Al-Anfal:2-3) Ya, sesungguhnya, orang-orang yang benar-benar beriman itu adalah yang jika dibacakan ayat-ayat-Nya, bergetarlah hati mereka..

Betapa menjadi sentuhan yang luar biasa di awal acara tersebut. Melembutkan hati yang mungkin telah lama mengeras. Membasahi jiwa yang mungkin telah lama kering dari nama-Nya..

Acara tersebut dimulai dengan introduksi dari masing-masing pembicara. Ada Pak Ichwan Ishak yang merupakan penulis buku “Belajar Islam” sekaligus trainer di acara tersebut. Ust. Bachtiar, seorang lulusan master program di Madinah University. Pak Ahmad Kalla, yang merupakan lulusan Fisika Teknik ITB, seorang akademisi sekaligus pengusaha yang professional. Juga tak kalah luar biasanya, Kak Syahna, seorang perempuan hebat yang pernah menjadi presiden KM ITB periode 2008-2009 (saat aku memegang amanah sebagai kordinator akhwat ROHIS di SMA, hehe nggak penting :p).

Lalu masing-masing pembicara mengutarakan tanggapan dan komentarnya terhadap buku Belajar Islam karya pak Ichwan. Hingga muncul diskusi-diskusi menarik yang menggugah pikiran dan hati.

Saat diskusi kemarin, aku mendapatkan banyak ilmu dari pembicara-pembicara hebat itu. Pembahasan yang luar biasa. Dimulai dari bagaimana seorang muslim mampu memaknai ibadah-ibadah yang dilakukannya agar menyerap pada kalbu dan ruh terdalam. Kita mungkin sedari kecil dididik dan diajarkan untuk bagaimana kita menjalankan perintah Allah secara fisik. Kita shalat 5 waktu, kemudian berpuasa saat bulan Ramadhan. Tapi apakah sampai sekarang kita masih merasakan bahwa ibadah-ibadah yang kita lakukan hanya sebatas pemenuhan atas sebuah kewajiban sebagai hamba? Ya, itulah yang perlu kita renungi. Bahwa Rasulullah butuh waktu 13 tahun untuk menjelaskan dan meyakinkan kaum quraisy untuk memaknai beriman kepada Allah. Kemudian barulah turun ayat-ayat yang berhubungan dengan ibadah saat di madinah. Inilah esensinya kita memaknai ibadah yang kita lakukan bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban, tetapi ibadah yang kita lakukan adalah sebuah kebutuhan ruh yang fitrahnya dimiliki oleh setiap insan.

Untuk memaknai ibadah-ibadah kita sebagai sebuah kebutuhan, tentunya kita harus meyakini bahwa ada suatu zat yang merupakan tumpuan segala harap dan doa kita. Percaya, bukan berarti beriman. Percaya itu adalah kata yang pasif. Tak ada follow up yang pasti ketika kita mempercayai suatu hal. Beriman berarti kita yakin sepenuhnya, dan bersandar pada suatu hal yang kita imani. Sebagai contoh, saat kita mempercayai bahwa seorang dokter dapat menjadi washilah datangnya kesembuhan bagi seorang pasien. Ya, kita tahu bahwa dokter bekerja memang untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit. Maka itu percaya, tetapi kita tidak bisa bersandar, karena kita tahu, bahwa Allah-lah yang memberi kesembuhan. Allah-lah yang mendatangkan syifaa’ pada sakit yang dirasakan oleh kita. Namun berbeda perlakuan kita pada Allah. Kita percaya bahwa Allah itu ada. Kehadirannya bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya pada surat Qaaf:16.

Beriman itu kata yang aktif. Tidak hanya percaya bahwa Allah itu ada. Tetapi kita yakin bahwa hanya Allah-lah yang dapat mendatangkan ketentraman di hati kita. Beriman itu membuat kita ingin terus meningkatkan keimanan kita. Dengan memaknai ibadah yang kita lakukan, dengan menggali hikmah sebanyak-banyaknya dari takdir yang Ia tetapkan..

Ya, disinilah urgensi dari meyakini bahwa Allah menjadi pusat dari segala. Saat kita menyadari bahwa kita memiliki ruh yang pada dasarnya adalah bagian dari Allah yang ditiupkan pada jasad kita saat kita berada di rahim. Allah adalah sumber kebaikan, maka seharusnya, kita menyadari bahwa ruh yang ditiupkan ke kita adalah sesuatu yang bisa membisikkan kebaikan pada diri kita.

Lalu, bagaimana dengan manusia yang memiliki perangai yang buruk? Pejabat-pejabat negeri ini yang tak bisa menahan dirinya untuk berbuat korupsi, mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak mereka? Itu karena mereka tidak menyadari bahwa mereka punya ruh. Memiliki sesuatu yang dapat menjadi sumper kebaikan bagi mereka.

Pada dasarnya, setiap insan memiliki 4 komponen yang menjadi bekal dalam berkelana di dunia. Ruhnya, yang telah mengikat janji dengan Rabbnya bahwa ia mengaku Allah-lah Pencipta mereka, dan mereka bersaksi atas itu. Saat Allah bertanya, “Alastu birabbikum?”, mereka menjawab dengan tegas, “Qaaluu balaa syahidna.” Bukankah ketika kita sudah berjanji kita harus mampu mempertanggung jawabkan janji kita? Namun banyak manusia yang terlupa akan hal ini..

Lalu Allah mengkaruniai jasad, qalb (hati), dan akal. Inilah yang setiap insan berbeda. Jasad kita tak ada yang sama. Bahkan semirip apapun 2 orang yang kembar, sidik jarinya pun tak pernah sama. Jasad adalah bekal yang Allah anugerahkan pada kita untuk melakukan ibadah pada-Nya. Kita juga dikaruniai hati. Kita tentu tahu bahwa tidak semua orang memiliki hati yang baik di dunia ini. Ada yang senang menyimpan rasa dendam, namun di sisi lain ada yang sangat mudah empati terhadap orang lain. Namun disinilah bedanya, orang-orang yang mampu mengenal ruhnya, dan menyadari bahwa ruhnya bersumber dari Allah. Ruh yang membutuhkan sesutu untuk bersandar, ruh yang selalu membuat kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang baik. Ketika kita tak mampu menyadari adanya ruh, maka lihatlah firman-Nya dalam surah al-Baqarah:6, “Allah telah mengunci mata-hati dan pendengaran mereka, serta penglihatan mereka ditutup..”

Ketika kita berbicara tentang hati, kita mungkin pernah mendengar hadist Rasulullah SAW yang kurang lebih bunyinya seperti ini: “Ketahuilah, bahwa di dalam diri seorang manusia itu ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh bagian dari dirinya. Dan apabila ia buruk, maka buruklah seluruh bagian dari dirinya.” Kau tahu apa itu? Ya, “Alaa wa hiyal qalb..” Ketahuilah, bahwa sesungguhnya itu adalah hati..

Ketika hati kita baik, maka baiklah jasad kita. Akan terpancar pesona yang mendatangkan ketenangan dari hati yang senantiasa tunduk pada-Nya. Hati yang merasa cukup dengan Allah, akan terpancar dari kezuhudannya dalam bersikap. Hati yang dekat dengan Allah, akan terlihat dari tutur katanya yang baik dan berbobot ketika ia berbicara..

Ya, hati dianugerahkan agar kita mampu merasa. Merasakan makna penghambaan yang dilakukan oleh jasad kita. Tak hanya formalitas belaka untuk menggugurkan kewajiban perintah-Nya, tetapi memaknai bahwa diri kita memang membutuhkan asupan ruhiyah..

Juga akal, anugerah yang membuat kita menjadi ciptaan yang paling sempurna. Kita diberikan oleh-Nya sebuah akal untuk berfikir. Berfikir itu sangat dekat dengan berdzikir. Betapa Allah seringkali menyebut kata “La’allakum ta’qiluun” atau “la’lallakum tatafakkarun” di akhir ayat-ayat-Nya. Di sini seharusnya kita menyadari bahwa kita memang dituntut untuk senantiasa berfikir akan keesaan-Nya. Tidak hanya pada ayat-ayat kauliyah-Nya, tetapi juga terhadap ayat-ayat kauniyah-Nya..

Jika kita telisik lebih dalam, ternyata orang jepang memang lebih islami dalam bersikap jika dibandingkan dengan kita sebagai orang Indonesia yang notabennya memang mayoritas penduduknya muslim. Namun lihatlah.. karena mereka mampu merenungi ayat-ayat kauniyah Allah, mereka menjadi manusia yang maju. Maju dari segi ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Karena mereka selalu berusaha merenungi ayat-ayat kauniyah-Nya. Sungguh terlalu memang. Kita seringkali terfokus pada apa yang Allah firmankan dalam Al-Quran. Padahal terdapat banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di sekeliling kita yang bisa menjadi bahan perenungan.

Teringat firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 190-191 tentang orang-orang yang termasuk ke dalam golongan Ulil Albab. Yaitu orang yang tidak hanya berfikir, tetapi ia juga berdzikir mensucikan nama-Nya. “Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathila, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannar..”

Bahwa tidak dapat disebut seeorang itu berakal ketika ia hanya berfikir tanpa berdzikir. Berfikir akan kesesaan Allah, kemudian berdzikir mensucikan nama-Nya..

Setiap orang tentu memiliki banyak cara untuk mencintai Allah. Seorang dokter yang dalam berinteraksi dengan pasien akan melihat betapa nikmat sehat itu sangat penting. Ketika ia mencoba menjalankan sebuah operasi pada seorang pasien, ia mungkin akan menemukan banyak keajaiban yang merupakan washilah Allah dalam menyembuhkan penyakit hamba-Nya. Atau seorang teknisi, dengan keterlibatannya dalam merekayasa sistem yang dibangunnya, ia bisa melihatnya dari sebuah proses betapa Allah mampu menggerakkan sistem tersebut. Atau seorang microbiologist yang ketika ia berkutik di dunia laboratorium, ia menemukan banyak hal yang sebelumnya belum pernah ia temukan secara kasat mata di dunia ini. Tentunya karena objek studinya adalah makhluk hidup yang ukurannya mikro, sehingga butuh alat berupa mikroskop untuk membantu melihatnya.

Ya, setiap orang tentu memiliki caranya masing-masing untuk merenungi kekuasaan Allah. Seorang Al-Jabar yang senang dengan matematika, hingga ia mampu menjadi seseorang yang expert dalam bidangnya. Itu karena ia mampu merenungi kekuasaan Allah melalui apa yang ia tekuni. Juga Ibnu Sina, yang kerap kita kena dengan Avicenna, ahli kedokteran yang sangat luar biasa dengan teori-teorinya mengenai dunia kedokteran..

Betapa kita akan menjadi sosok manusia yang sempurna ketika kita mampu meng-integrasikan seluruh komponen yang telah Allah berikan pada kita. Menyadari ruh yang ada dalam diri kita, kemudian mempergunakan jasad, hati, dan akal kita dengan sebaik-baiknya dalam rangka memenuhi penyadaran kita akan ruh yang bersumber dari Allah. Maka disana-lah sebenar-benarnya gelar “Khalifah fil ardh” tepat disandangkan bagi seorang manusia. Ketika ia mampu mensinergikan seluruh komponen dalam dirinya dalam rangka meningkatkan keimanan pada Allah. Bentuk rasa syukur yang tak terkira karena Ia telah ciptakan kita dengan kesempurnaan dari kehinaan..

Ahad, 20 Oktober 2011

Kontrakan tercinta, saat Allah membuatku semakin bersyukur atas skenario yang Ia gariskan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s