What a Wonderful Trip: Turkey \^^/



2 Juni 2011 lalu, Alhamdulillah aku bersama 3 orang adikku diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati perjalanan ke luar negeri. Nikmat tak terkira yang Allah berikan pada kami. Sungguh, perjalanan selama 14 hari membuat kami semakin dekat dengan-Nya. Teringat firman-Nya yang agung dalam surat  Al-Ankabut ayat 20.

“Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi [Allah membangkitkan manusia sesudah mati kelak di akhirat]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-‘Ankabut [29] 20).

Berjalan di bumi Allah, merenungi setiap kekuasan-Nya, adalah dua hal yang bisa membuat kita semakin cinta. Memahami hakikat penciptaan semesta dan mendalami setiap pantulan kasih-Nya. Sungguh ya Rabb,, nikmat-Mu yang manakah yang akan kudustai (lagi)?

Awal keberangkatan dari rumah, kami berpamitan dengan keluarga besar, sebab kami akan berpisah dalam kurun waktu yang lama dan jarak yang jauh. Ribuan kilometer dari negeri kami, Indonesia. Tangis karena tak kuat menahan perpisahan menjadi awal perjalanan kami. Abi sempat meliput video saat kami berdoa bersama di halaman rumah. Kerinduan memuncak pada rumah Allah bercampur bersama sejuta rasa..

Akhirnya, kami berangkat dari rumah tepat ba’da maghrib. Rombongan keluarga mengantarkan kepergian kami ke bandara.

Sesampai di bandara, kami bertemu dengan keluarga lainnya yang akan berangkat bersama kami. Setelah berbincang -bincang dan mengobrol banyak hal, kami kenal satu sama lain.

Kurang lebih pukul 11 malam, kami harus berpisah dengan keluarga di departure gate. Adik kecilku tak mampu menahan tangis, kelenjar air mataku pun ikut mensekresikan zatnya. Memeluk ummi penuh cinta, melihat senyum semangat abi yang senantiasa mengalirkan kekuatan. Sungguh, aku pun tak mampu menahan gejolak rasa dalam dada..

Tepat pukul 01.00 am kami take off dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Doha menggunakan Qatar Airways. Di perjalanan, segala bentuk dzikir terucap melalui lisanku, merenungi kekuasaan Allah yang memberikanku kesempatan untuk menjejaki belahan bumi-Nya yang lain..

Pukul 06.00 pagi waktu setempat, kami tiba di Doha. Hanya transit untuk bersih-bersih dan mencuci muka. Berkeliling sebentar di bandara, bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara.

Kusempatkan untuk menunaikan shalat dhuha dan tilawah beberapa halaman sebelum kami harus take off ke Istanbul, Turkey. Ingin bercerita sedikit tentang sejarah kami yang akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri Muhammad Al Fatih. Awalnya, abi hanya menawarkan kami untuk melakukan umroh di liburan semester kami. Tetapi karena keterlambatan visa kami, akhirnya abi mencari agen umroh lain. Dan ternyata, yang tersisa adalah paket umroh+negara Turki.

Akhirnya, susah payah dalam mengurus visa, bolak-balik Jakarta-Bandung 3 kali seminggu karena banyak amanah da’wah yang harus diselesaikan, peluh yang dikeluarkan ketika harus memperjuangkan banyak hal, berbuah kebahagiaan untuk berangkat mendekatkan diri kami pada Sang Pemilik Jiwa di sana..

Kuceritakan tentang kisah perjalanan ukhuwwah kami di Turki. Sungguh, saat tiba di Turki, perasaan kagum muncul di hati kami. Turki, negara beribu masjid yang sangat indah. Yeah, Istanbul is beautiful. Begitu candaan kami di sana. Kami berkunjung ke berbagai tempat bersejarah. Masjid Abu Ayyub Al-Anshari, Blue Mosque, Ayya Sophia, Kerajaan Ottoman I dan II, Grand Bazaar, dan beberapa restaurant yang menjual makanan khas Turki.

Sesampai kami di Turki, kami langsung pergi ke restaurant untuk makan siang. Di sana pertama kalinya kami menyantap makanan khas Turki, yaitu kebab Turki. Rasanya tidak terlalu enak, masih lebih mantap masakan Indonesia. Rempah-rempahnya tidak terlalu terasa. Hanya unggul di tampilannya saja. Yang warna-warni itu salad Turki, sausnya bukan mayonaise, tapi minyak zaitun (Kebayang kan rasanyaa? hehe)

Izinkan aku bercerita tentang masing-masing dari tempat bersejarah yang kami kunjungi. Masjid Abu Ayyub Al-Anshari, sebuah masjid yang sengaja dibangun saat Rasulullah berkunjung ke Turki. Saat itu Rasulullah memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempatnya bermukim. Suatu bentuk kemuliaan bagi Abu Ayyub pada masa itu, karena banyak yang menawarkannya dengan senang hati untuk disinggahi oleh Rasulullah. Namun Abu Ayyub-lah yang terpilih.. Ya, di sana kami bertemu dengan anak-anak Turki yang sedang memakai seragam kerajaan. Ada yang memakai pakaian pangeran, putri, ratu, bahkan prajurit kerajaan sekalipun. Ternyata, saat kami mencoba berbincang-bincang dengan orang-orang Turki (of course in english), saat itu sedang ada acara sunnatan massal di sana. Budaya di Turki mengajarkan, setelah dilakukan sunatan, diselenggarakan upacara seperti di  kerajaan. Anak-anak yang di-sunat akan memakai baju seperti pangeran sebagai simbol bahwa mereka sudah semakin dewasa dan terangkat derajatnya. Aku sempat berfoto dengan salah satu anak kecil disana yang telah melakukan sunat.

Setelah itu, kami sempat berbincang-bincang dengan muslimah-muslimah Turki, bertukar e-mail dan berfoto bersama. Mereka senang sekali saat mereka tahu kami berasal dari Indonesia. Dari perbincangan tersebut aku menyadari satu hal, bahwa ternyata orang turki itu bahasa inggrisnya  tidak terlalu bagus. Mereka sulit sekali berbicara dalam bahasa inggris, sampai perlu diterjemahkan dalam bahasa isyarat.

Pulang dari Masjid Abu Ayyub, kami menyempatkan diri untuk membeli ice cream khas Turki. Ice cream Turki sangat unik, teksturnya yang kental dan padat membuatnya tidak jatuh saat cup-nya dibalik. Warna-warni rasanya membuat yang memakannya merasa bahagia. Di sana kami sempat dibuat bahan candaan oleh si penjual ice cream, sampai-sampai banyak orang yang menonton kami. Oiya, kesan pertamaku saat makan ice cream Turki adalah: Delicious! Really an amazing taste ^^

Pulang dari sana kami langsung menuju hotel tempat kami menginap. Terlihat sederhana dari luar, namun ternyata arsitektur kamar hotelnya sangat istimewa. Aku dan adik perempuanku satu kamar, dan kedua adik laki-lakiku di kamar yang lain. Malamnya kami lebih banyak berbincang-bincang di kamar, makan malam di hotel, dan bercanda bersama.

Keesokan harinya, kami bersiap-siap menuju kerajaan Ottoman. Di sana kami berkelana dari luar gerbang sampai ke kerajaan paling terdalam. Kerajaan ini sangat panjang dan memiliki banyak sekat yang hanya bisa dimasuki oleh segolongan orang tertentu pada zamannya. Gerbang pertama adalah gerbang yang bisa dimasuki oleh masyarakat luas. Gerbang kedua hanya boleh dimasuki oleh prajurit dan pembantu kerajaan. Sementara gerbang ketiga hanya boleh dimasuki oleh keluarga kerajaan.

Di kerajaan terdapat banyak sekali ruangan-ruangan yang unik. Ada ruangan tempat memotong mahkota prajurit laki-laki (parah ya). Tapi tujuannya adalah agar para prajurit tidak mengganggu istri-istri raja. Karena istri-istri raja sangat cantik-cantik dan menarik perhatian. Ada juga ruangan tempat raja melakukan konferensi dengan utusan-utusan dari kerajaan lain. Uniknya, ruangan ini dijaga ketat. Di bagian luarnya terdapat dua buah keran air yang berfungsi menyamarkan obrolan raja dengan rekan-rekannya. Prajurit yang menjaga ruangan itu konon katanya adalah prajurit yang tuli, agar tidak ada bocoran hal-hal penting yang dibicarakan saat rapat sang raja dan rekan2nya. Juga banyak ruangan unik  lainnya, termasuk ruangan tempat barang-barang peninggalan Rasulullah dan para sahabatnya. Ada pedang Umar yang sangat besar (serasi sekali dengan tubuhnya yang besar dan gagah), pedang Ustman yang memiliki 2 mata, pedang Rasulullah yg sangat sederhana dan terlihat cemerlang, jubah beliau yang besar, tongkat nabi Musa, juga beberapa barang lainnya yang sangat membuatku berdecak kagum. Di penghujung perjalanan menyusuri kerajaan, kami melihat selat Bosphorus dari kerajaan. Sungguh pemandangan yang begitu indah, membuat kami bertafakkur akan ayat-ayat kauniyah-Nya.. 🙂

Setelah dari sana, kami beranjak ke sebuah restaurant dan makan siang. Meskipun rasa makanannya tetap tidak terlalu enak, tapi yang namanya lapar ya dimakan saja, hehe. Setelah itu kami berkunjung ke sebuah toko yang menjual barang-barang khas Turki. Baju dan jaket yang di jual disana semuanya tebuat dari kulit asli. Tentu saja harganya sesuai dengan kualitasnya. Kami sempat membeli jaket kulit untuk abi yang harganya $630, tas untuk ummi seharga $180 dan tas untukku $120. Sungguh mahal, tapi ya mau bagaimana lagi.. :p

Sehabis makan siang, kami shalat ashar dan dzuhur di Blue Mosque. Berfoto di sana, dan sempat berkeliling di pasar dekat masjidnya. Blue Mosque memang unik. Arsitekturnya sangat bagus. Banyak lampu yang menghiasi ruangan. Seluruh lantainya dilapisi karpet yang sejuk. Tetapi ada satu hal yang membuatku bingung. Konon katanya dinamakan Blue Mosque karena dinding dalam masjidnya didominasi oleh warna biru, tapi menurutku warna biru tidak terlalu mendominasi ruangan masjid, bahkan hanya sebagian kecil.

Setelah dari sana, kami beranjak pulang ke hotel. Karena terlalu lelah, makan malam kami terlewat. Mungkin karena perbedaan waktu juga, jam 8 malam kami sudah merasa sangat ngantuk, rasanya seperti jam 10 malam.

Oiya, waktu shalat di Turki itu sangat berbeda dengan Indonesia. Adzan subuh pukul 4 pagi, adzan dzuhurnya pukul 2 siang, Asharnya pukul 5 sore, maghrib jam 8 malam, dan isya’nya jam 11 malam. Jadi disana benar-benar butuh perjuangan luar biasa untuk menjalankan puasa ramadhan. Karena harus menahan lapar dan haus dari sejak jam 4 pagi sampai jam 8 malam. Masya Allah yaaa.. >.<

Third day petualangan kami sangat luar biasa! Paginya kami ber-empat sempat mencoba naik train di sana. Rail train-nya menyatu dengan jalan raya. Kami sempat melihat-lihat indahnya susunan gedung di Istanbul. Sampai sekitar pukul 8 pagi kami berkunjung ke Ayya shofia. Ayya Shofia merupakan gedung yang unik. Aku paling suka saat berkunjung ke sana. Bangunan tersebut pernah menjadi gereja sebelum konstantinopel di runtuhkan oleh Muhammad Al Fatih. Kemudian diubah menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum. Di gerbangnya ada gambar-gambar yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut pernah menjadi gereja. Di bagian dalam gedungnya, persisnya di tempat sholat imam, atasnya ada bingkai tulisan Allah dan Muhammad, tapi di tengahnya ada gambar bunda maria sama Isa Al Masih. Agak aneh memang, tapi itulah yang membuatnya unik ^^ Oiya, di bagian atap gedungnya ada bingkai tulisan 4 sahabat Rasulullah; Abu Bakr, ‘Umar, Ustman dan ‘Ali. Tapi di antara 4 bingkai itu ada gambar 3 malaikat yang mungkin spesial bagi orang kristiani. Tapi aku tidak tahu persis seberapa spesialnya. hehe

Kami sempat berfoto-foto disana, dan merekam beberapa adegan-adegan menarik kami di sana. Really an amazing trip! 🙂

Pulang dari sana, kami berlayar menyusuri selat bosphorus, menikmati keindahan benua Asia dan Eropa dengan kapal Ferry. Di kapal kami sempat meminum teh khas Turki dan memakan cemilan kecil sambil berbincang-bincang. Aku agak sedikit mual, karena memang selalu tidak tahan jika berlama-lama di laut lepas. Di kapal aku juga sempat mengobrol dengan pak dokter yang memang 1 rombongan perjalanan dengan kami. Ada 1 hal yang membuatku ingat sampai saat ini. Beliau berkata seperti ini, “Perempuan itu cocoknya jadi peneliti atau guru. Karena fitrahnya mereka memang di bidang itu. Jadi kamu seharusnya bersyukur karena masuk jurusan yang bisa mengeksplor fitrahmu untuk bergerak di bidang penelitian.” Aku jadi semakin semangat untuk berkarya!

Perjalanan kami yang panjang saat menyusuri selat Bosphorus membuatku bermuhasabah tentang banyak hal. Terutama tentang nikmat yang Ia berikan padaku hingga hari itu. Begitu besar karunia yang Allah berikan pada hamba-hamba-Nya. Hal itulah yang membuatku ingin terus berada di jalan ini, terus mencintai-Nya, dan menggapai ridha-Nya. Juga tentang Ilmu Allah yang sangat luas. Burung yang mencelupkan paruhnya ke dalam lautan itu membuatku menyadari betapa sedikitnya ilmu yang aku punya. Ya, kita seperti burung itu, yang hanya memiliki sedikit ilmu jika dibandingkan dengan ilmu Allah yang luas seperti air di lautan.

Setelah menepi, kami beranjak ke bus. Namun sebelumnya kusempatkan membeli beberapa kerang laut yang fresh. Kesanku pertama kali saat memakan itu: It’s so delicious! Sangat enak, apalagi dengan siraman jeruk lemon yang segar.. ^^

Kami makan siang di restaurant seafood di dekat selat Bosphorus. Di sana kami mencoba ikan panggang (tapi entah ikan apa) dengan saus asam-manis yang lezat. Ditemani lemon tea yang segar.. 🙂

Selanjutnya kami mengunjungi salah satu pertokoan yang menjual karpet khas Turki. Ya, Turki memang terkenal dengan karpetnya yang lentur, fleksibel, dan hand-made. Di sana kami ditunjukkan sketsa motif yang menarik. Kami juga sempat mengobrol dengan pemilik tokonya, diperlihatkan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan karpetnya. Saat diskusi harga, aku tercengang karena harga karpetnya mahal. Ada yang 1000 US dollar, sampai 5000 US dollar. Memang sebanding dengan kualitas dan lama pembuatannya. Ada yang sampai 2 tahun!

Setelah itu kami shalat dzuhur di masjid dekat pertokoan itu. Masjid yang besar dan bersejarah. Banyak sekali orang dari berbagai negara yang berkunjung kesana. Sangat crowded dan hectic yang pastinya.

Sepulang dari sana, kami berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di Turki. Grand Bazaar namanya. Di sana ketat sekali persaingan para penjualnya. Menurutku Grand Bazaar ini termasuk golongan pasar persaingan bebas, karena banyak penjual yang menjual barang yang sama. Di sana kami berbelanja banyak hal, dari mulai oleh-oleh khas Turki, hiasan keramik yang menggambarkan tempat-tempat bersejarah di Turki, sampai baju-baju unik asal Turki. Pengalaman yang menarik saat kami harus berkomunikasi dalam bahasa inggris. Namun asyiknya, kami bisa meng-improve kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. 🙂

Setelah selesai berbelanja banyak barang, kami pulang ke hotel. Dengan segala lelah dan letih, sehabis makan malam kami langsung tertidur.. 🙂

Esoknya, di hari ke empat petualangan kami di Turki, kami sempatkan untuk menunaikan shalat shubuh di masjid dekat hotel. Kemudian kami sempat membeli snack yang mungkin familiar bagi kalian. Lays, tau kan? Nah, tapi rasanya tetep aja beda.. walaupun di Indonesia ada, tapi Lays memang menyesuaikan dengan cita rasa negara yang menjadi pasar produknya.

Selesai sarapan, kami berangkat untuk mengunjungi kerajaan Ottoman II. Di sana kami benar-benar melihat seisi kerajaan. Dari mulai ruang tidur, ruang makan, sampai ruang keluarga tepat berkumpulnya keluarga besar kerajaan. Bahkan kamar mandi puteri raja pun kami melihatnya. Di penghujung perjalanan, lagi-lagi kami melihat laut. Namun ini berbeda. Laut Marmara. Mendengar kata Marmara mungkin kita teringat dengan kejadian perlawanan Israel di selat marmara sewaktu kapal mavi marmara dari Indonesia mencoba memberi bantuan untuk rakyat Palestina. Ya, merinding sekali jika mengingat kejadian tersebut..

Setelah berfoto-foto sangat lama, kami shalat dzuhur dan ashar di sebuah masjid yang tak jauh dari sana. Kemudian kami berbelanja di mall terbesar di Istanbul. Untuk pergi kesana kami harus menyebrangi selat Bosphorus. Kami melewati jembatan penghubung benua Asia dan Eropa. Sungguh luar biasa melihat keindahan Asia-Eropa dari atas sana. Really an amazing view!

Sesampai di sana, kami berbelanja oleh-oleh (lagi) untuk keluarga di Indonesia. Kami sempatkan juga mencicipi minuman khas Turki di sana. Tapi aku lupa nama minumannya. Hehe

Pulang dari sana, tadinya kami ingin mengunjungi Grand Bazaar lagi, tapi karena kebanyakan dari rombongan sudah lelah, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami harus segera packing karena esoknya kami harus check out pukul 11 dari hotel. Akhirnya, malam itu kami habiskan untuk saling bercerita satu sama lain di kamar dan menghubungi keluarga di Indonesia. Mengabarkan bahwa esoknya kami akan take off dari Istanbul ke Saudi Arabia..

Esoknya, setelah sarapan untuk yang terakhir di Turki (Eits, semoga suatu saat bisa pergi kesana lagi), kami sempat jalan-jalan sebentar mengunjungi toko perbelanjaan dekat hotel. Oiya, aku lupa bercerita. Karena saking banyaknya barang yang kami beli saat belanja, kami sampai harus beli koper lagi untuk menaruh barang-barang tersebut. Masya Allah yaa. Tapi itulah serunya, sangat berkesan!

Ya, akhirnya kami harus meninggalkan Istanbul. Tepat pukul 2 siang kami take off dari bandara Istanbul menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Pengalaman luar biasa bagi kami untuk bisa menyelusuri keindahan Turki. Salah satu negara yang berperan dalam pembangunan peradaban Islam. Penaklukan luar biasa yang dilakukan Muhammad Al Fatih, Qiyadah perang terbaik, dan jundi-jundi terbaik yang ia pimpin. Seperti yang Rasul sabdakan dalam hadistnya. Sungguh luar biasa!

Ada cerita-cerita indah dan menarik setelah ini. Ya, saat kami diberi kesempatan oleh Allah untuk menginjakkan kaki di negeri para nabi. Haru, sedih, bahagia, bercampur aduk menjadi satu saat kami tiba di sana. Tunggu kisah kami selanjutnya di What a Wonderful trip part 2: Saudi Arabia! Semoga bisa terus berbagi hikmah dan menginspirasi dunia.. ^________^


Senin, 21 November 2011

Shabrina Nida Al Husna

#buat teman2 yang mau lihat foto-foto lengkapnya, kunjungi link di bawah ini ya.. ^^

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.246983365314618.72013.100000088691347&type=1

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.247012265311728.72018.100000088691347&type=1

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.247024735310481.72022.100000088691347&type=1

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.247029171976704.72024.100000088691347&type=1

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.247038958642392.72026.100000088691347&type=1

Advertisements

2 thoughts on “What a Wonderful Trip: Turkey \^^/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s