Antara cinta dan harapan


<Hasil nguprek2 catatan lama di laptop..semoga bermanfaat :)>

 

Aku pernah mendengar..

Bahwa cinta harum bukan karena ia puisi..

tapi karena ia adalah kata hati.

Bukan indah karena banyak kata yang menyanjungnya.

Tapi karena ia memancarkan pesona jiwa pemiliknya.

 

Maka jika suatu saat cinta kita usang, curigalah..

Mungkin jiwa kitalah yang gersang.

Karena cinta hanya cerminan dari jiwa.

Jika kita bercermin, lalu melihat wajah kita kusam..

Maka yang pertama kita usap adalah wajah kita.

Bukan menyerapahi cerminnya.

 

Jangan salahkan cinta jika ia tak lagi mempesona.

Tak lagi sehangat mentari. Tak lagi seharum bunga.

Mungkin kita lah yang kurang merawatnya.

Kurang menyiramnya dengan iman, tak sempat membenihkannya dengan kebaikan.

Pantas jika cinta tak lagi merekah ceria..

Jika hari-hari kita jauh dari ibadah dan taqwa..

 

Jika kata orang cinta itu buta. Maka sebenarnya cinta tak pernah buta. Ia hanya kehilangan cahayanya.

Cahaya yang seharusnya diberikan oleh pemiliknya.

Maka bukan karena cinta tak bisa melihat.

Tapi hanya karena kita membenamkannya ke dalam gelap.

 

Aku pun meyakini..

Bahwa Cinta bukanlah mimpi yang hanya membuncah angan..

Tapi ia adalah kekuatan harapan. Ia yang mendentingkan getar jiwa.

Lalu menguatkan langkah.. Mendekap cita2 kita.

Maka kita merasakan bahwa cinta itu deras menghujani hati..

Agar hati senantiasa hidup. Tak pernah meredup.

 

Semoga cinta kita memiliki harapan.

Tak hanya berujung pada perasaan dan angan.

Maka hendaknya cinta kita bermuara pada sebuah kebaikan yang Allah janjikan.

Pada jalan-jalan juangNya.. Lalu pada Jannah Nya..

 

Aku pun mencoba merenungi firmanNya:

“Qul in kuntum tuhibbunallah, Fattabi’uni..”

Mungkin kata “Fattabi’uni” disana tak perlu ada,

Jika memang cinta itu hanya untuk melahirkan angan.

 

Jika kita cinta Allah, maka “fattabi’uni” disana adalah konsekuensinya..

Kita harus mengikuti, mentaati, melaksanakan perintah Allah terlebih dahulu..

Barulah Allah pun akan mencintai kita.

Karena konsekuensi cinta adalah kata kerja

Dan kata kerja yang dimaksud adalah taqwa

Maka cinta hendaknya melahirkan kekuatan untuk menjadikan kita bertaqwa.

 

Allah pun melanjutkan dalam firmanNya :

“Yuhbibkumullah Wayaghfirlakum zunubakum”

“Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”

Ya, Setelah Allah memerintahkan pada kita untuk patuh..

Maka Allah pun menjanjikan kita dengan cinta dan ampunanNya.

Maka disana kita melihat bahwa cinta juga melahirkan harapan.

 

Semoga cinta kita tak hanya sekedar rasa

Tetapi juga melahirkan kekuatan dan harapan untuk dunia..

Advertisements

3 thoughts on “Antara cinta dan harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s