RCDC: An Overview


Sebuah gambaran tentang Research and Community Development Center MITI-Mahasiswa.

Dalam era globalisasi yang penuh persaingan ini, kekuatan ekonomi dari suatu negara sebenarnya berakar dari kemampuan penguasaan teknologi dan inovasi yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Untuk mendorong akselerasi kemakmuran suatu bangsa, maka kekuatan iptek dan inovasi perlu ditempatkan sebagai penggerak utama kekuatan ekonomi.

Dalam rangka mewujudkan kemandirian dan kemajuan ekonomi di Indonesia, maka perlu didukung oleh adanya suatu kemampuan dalam mengembangkan potensi domestik, yaitu: melalui pengembangan  perekonomian yang didukung oleh penguasaan dan penerapan teknologi, selain itu juga perlu diikuti oleh adanya peningkatan produktivitas, kreativitas, dan kemampuan inovasi sumberdaya manusia, pengembangan kelembagaan ekonomi yang efisien diikuti dengan menerapkan praktik-praktik terbaik dan prinsip-prinsip good governance, serta penjaminan ketersediaan kebutuhan dasar dalam negeri.

Menurut data statistik pada tahun 2008[1], jumlah penduduk miskin tercatat berjumlah 34,96 juta jiwa (15,42%) dan pada tahun 2009 (Maret 2009) tingkat kemiskinan di Indonesia turun menjadi 31,53 juta jiwa atau sekitar 14,15%. Jumlah penduduk miskin di desa menunjukkan lebih dominan yaitu sekitar 63,5% dan di kota sekitar 36,5%.

Selanjutnya untuk mempercepat proses pengentasan kemiskinan, di samping usaha-usaha pemerintah yang telah dilakukan, diperlukan pula program-program implementasi teknologi dalam kerangka community development yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan (pro-poor technology). Program ini dapat dilaksanakan melalui program-program difusi dan atau transfer teknologi khususnya untuk usaha kecil dan menengah, serta penguatan institusi intermediasi.

Pemuda dengan dipelopori mahasiswa, harus dapat mengambil peran penting dalam perkembangan iptek di masa mendatang. Dalam pembangunan iptek, terdapat beberapa kelemahan yang perlu diatasi dalam pembangunan Iptek di Indonesia. Kelemahan tersebut berpangkal dari penghasil teknologi, pengguna teknologi dan persoalan intermediasi diantara keduanya. Oleh karena itu, kekerabatan erat antar Academisian, Businness, and Goverment (ABGtriple-helix) harus terus diupayakan dalam mengembangkan Iptek di Indonesia  (Sulawatti, 2008).

MITI-Mahasiswa merupakan salah satu inspirator terkemuka dalam pembangunan iptek di kalangan pemuda Indonesia. MITI-Mahasiswa yang menjadi organisasi pemuda berbasis iptek di Indonesia mempunyai peranan vital dalam menstimulus, menginisiasi kreativitas, membina generasi muda berbasis iptek, menyelaraskan antar elemen keilmuan nasional, dan menjadi pelopor gerakan penguatan iptek di kalangan pemuda untuk turut serta mendorong percepatan pembangunan nasional.

MITI-Mahasiswa menyadari dan melihat bahwa pemuda dan mahasiswa mempunyai karakter kuat sehingga dapat digunakan sebagai energi penggerak pembangunan. Menurut MITI-Mahasiswa, pemuda dan mahasiswa memiliki idealisme, semangat tinggi, dan mampu berpikir bebas. Bila tiga karakter tersebut digunakan untuk menemukan persoalan nyata, melandasi aktivitas, inovasi, dan kreativitas, niscaya peran pemuda dan mahasiswa akan menjadi lebih nyata dan bermakna. Peranan penting pemuda tersebut perlu dibingkai dalam sebuah aktivitas yang lebih intens dan fokus pada disiplin ilmu yang ditekuni dengan tetap memperhatikan permasalahan yang timbul serta kebutuhan nyata masyarakat. Disini MITI-Mahasiswa hadir untuk menjembatani problem intermediasi teknologi antara penghasil teknologi dan pengguna teknologi dalam hal ini masyarakat.

Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut, maka MITI-Mahasiswa membentuk sebuah unit kerja khusus yang bernama Research and Community Development Center atau disingkat RCDC yang mulai dirintis oleh pengurus Departemen Riset dan Comdev MITI-Mahasiswa di Yogyakarta pada akhir tahun 2010. Dan akhirnya disahkan sebagai unit kerja khusus kerjasama antara Departemen Riset Interdisipliner (RI) dan Pendayagunaan Iptek (PI) MITI-Mahasiswa pada saat raker MITI-Mahasiswa di Bandung awal tahun 2011. Potensi mahasiswa sebagai bagian dari kaum akademisi harus dimanfaatkan perannya untuk kesejahteraan masyarakat. Potensi mahasiswa khususnya dalam bidang riset merupakan kombinasi yang menjanjikan bagi pengembangan iptek dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Namun demikian, untuk menciptakan kondisi ini diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan kebijakan pendukung yang dapat dijadikan acuan. Dibentuknya RCDC bertujuan untuk memberikan arahan kepada mahasiswa agar dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dalam bentuk aplikasi riset teknologi tepat guna di masyarakat. Pencapaian tujuan tersebut dilakukan secara bertahap dimulai dari menumbuhkan kecintaan terhadap riset di kalangan mahasiswa, menumbuhkan kesamaan cara pandang tentang riset dan aplikasi riset, inovasi riset yang terarah, dan komunikasi yang intens antara para periset mahasiswa (dalam bentuk diskusi kluster riset) hingga pada aplikasi hasil riset di masyarakat (dalam bentuk community develompement).

RCDC diharapkan dapat menjadi wadah untuk menghaplikasikan kegiatan comdev berbasis riset mahasiswa di masyarakat. Kegiatan tersebut dimulai dari perintisan dan pembentukan kluster riset mahasiswa. Selanjutnya kluster riset ini diarahkan dan dibimbing untuk melakukan research by need, yakni riset yang dilakukan berdasar pada kebutuhan masyarakat, untuk menjawab problem masyarakat dan mengotimalkan potensi lokal di suatu wilayah dimana kluster riset itu berada. Hasil riset lebih lanjut diaplikasikan dalam sebuah kegiatan community development yang terorganisir di bawah monitoring dan evaluasi RCDC MITI-Mahasiswa.

Secara struktural RCDC MITI-Mahasiswa terbagi menjadi dua komponen, yakni RCDC-Pusat dan RCDC Wilayah. RCDC Pusat terdiri dari perwakilan pengurus MITI-Mahasiswa dari Departemen RI dan PI. RCDC Pusat bertugas untuk melakukan monitoring dan supervisi terhadap RCDC Wilayah yang beranggotakan pengurus MITI-Mahasiswa dan perwakilan mahasiswa dari kampus mitra MITI-Mahasiswa. Di awal tahun 2011, RCDC sudah terbentuk di wilayah Jateng-DIY fokus di sub wilayah Yogya, Solo, dan Semarang; Jabajakal (Jawa Barat, Jakarta, dan Kalimantan) dan fokus di Bandung dan Depok; Jabalnusra (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara) dan focus di Malang dan Surabaya; serta Sumatera.

Tugas dan peran RCDC di wilayah adalah mengakselerasi kampus dalam mengembangkan kultur riset di kampus mitra MITI-Mahasiswa, membentuk dan mengelola kluster-kluster riset mahasiswa dan menjembatani aplikasikan hasil-hasil riset mahasiswa di masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan beberapa kegiatan yakni: workshop riset, training riset dan community development, pembentukan dan pendampingan kluster riset, inisiasi desa inovasi, serta menjembatani berbagai pihak (periset dan penyedia dana) dalam aplikasi comdev berbasis riset mahasiswa di masyarakat.


[1] Data dikutip oleh Adhita Sri Prabakusuma dari Lampiran II Keputusan Menristek RI Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tanggal 30 April 2010 tentang Arahan Riset Nasional 2010-2014.

 

Tulisan ini diambil dari:

http://mitimahasiswa.com/2011/11/07/rcdc-an-overview/

semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s