undefined feelings (2)


ingin berhenti sejenak

menata ulang diri, menghimpun yang terserak

mengejar sisi-sisi yang tertinggal

mengumpulkan semangat yang sempat memudar

 

ingin berhenti untuk beberapa saat

me-recover jiwa dengan segala kealfaannya

memunculkan kembali sensitivitas hati

agar ia lebih peka pada keburukan

supaya ia lebih cenderung pada kebaikan

 

ingin berhenti untuk beberapa waktu

bertanya pada hati tentang apa yang terjadi

merenungi kembali hakikat penciptaan diri

mensyukuri setiap nikmat yang Ia beri

mencoba menelaah hikmah dari setiap skenario yang Ia gariskan

 

ah, aku rindu..

saat aku begitu dekat

menangis di setiap malam-malam kerinduan

menyampaikan resah, gelisah, dan segala risau hati

menyatu bersama khauf dan raja’ yang tak terbendung

membuat diri merasa lemah dan hina di hadapan-Nya

 

aku rindu..

saat Ia begitu dekat

memelukku dengan erat kala kegelisahan melanda

mnyelimutiku dengan keindahan dzikir yang menenangkan

mencukupkanku dengan kehadiran-Nya

melingkupiku dengan cinta kasih-Nya tanpa batas

 

aku sungguh rindu..

saat lisan ini berat ucapannya

saat jiwa ini tenang karena-Nya

saat jemari ini mengukir sketsa terindah di atas kanvas-kanvas putih

saat hati ini sepenuhnya disibukkan dengan mencintai-Nya

saat pikiran ini dipenuhi dengan apa-apa yang bisa menjadikan diri terbaik di hadapan-Nya

 

aku rindu..

rindu yang tak terbendung

rindu yang tak berpenghujung

rindu yang tak terdefinisi adanya

 

namun mengapa? aku tak menemukan muaranya..

apa karena hati yang mengerak? sebab ia terlalu lama jauh dari-Nya

atau karena jiwa yang mengering? sebab ia terlalu lama tak dibasahi oleh dzikir-dzikir harian?

seperti ada sekat antara aku dan Dia

 

mengapa seperti ini?

jiwa rasanya sendiri

tak ada yang membakar saat ghirah meredup

tak ada yang merangkul saat jiwa ini jatuh tersungkur

 

pernahkah merasa seperti ini?

saat kau kesal pada dirimu sendiri

ingin mendekat tapi tak bisa

ingin menggapai-Nya tapi tak mampu

hingga kau menemukan dirimu menangis karena ketidakberdayaanmu..

 

ah ya Allah, sepertinya imanku memang sedang pada titik minimumnya. tapi kuharap, ini adalah titik balik minimum kurva parabolanya. karena sejatinya, ia kan mengantar diri pada penghambaan eksponensial tanpa batas yang melejit tinggi..

 

#saat aku merasa nikmat kedekatan dengan-Nya lebih berharga dari apapun yang ada di dunia..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s