Daurah Mar’atus Shalihah part 1


Lewat tulisan ini, ingin mencoba berbagi pengalaman mengikuti sebuah daurah yang sangat luar biasa. Walapun di waktu yang bersamaan banyak agenda yang berbenturan, tapi akhirnya memilih untuk ikut acara ini.. 🙂

Ahad kemarin, tepatnya tanggal 29 April 2012, aku diberi kesempatan oleh Allah untuk mengikuti Daurah Mar’atus Shalihah. Sebuah pelatihan kemuslimahan yang diadakan oleh jaringan muslimah Bandung Raya di STT Telkom. Kisah ini bermula dari SMS seorang kepala Annisaa GAMAIS ITB 2011 yang mengatakan bahwa aku ditunjuk untuk menjadi perwakilan Annisaa GAMAIS ITB di acara ini. Sebenernya agak bingung juga, kenapa harus shabrina? Tapi ternyata, ada hal-hal yang mungkin tidak perlu kita pertanyakan di awal. Cukup dijalani saja terlebih dahulu, dan kemudian kita akan menemukan banyak hikmah dalam keberjalanannya.. and finally, aku merasa sangat beruntung berada di sana. Sungguh sebuah takdir yang indah.. ^^

Awalnya, cukup kaget juga. Aku baru dikonfirmasi ulang H-2 acaranya, sekitar hari jum’at malam. Yang berat adalah: tugasnya banyak banget dan harus dikebut dalam waktu 1 hari.. huks

Salah satu tugas yang diberikan adalah baca buku keakhwatan 1 dan 2 karya Cahyadi Takariawan. Karena nggak punya bukunya, dan keterbatasan waktu juga, akhirnya untuk backupnya aku memutuskan untuk baca buku yang lain.. Seluruh peserta juga diarahkan untuk membuat CV. Alhamdulillah udah sering buat CV, jadi punya default formatnya deh 😀

Hari H, seperti biasa, dateng telat karena nyasar -.-” dibawa muter-muter sama abang angkotnya, huks. Tapi akhirnya tetep bisa sampai tempat dengan selamat.. :p

Sungguh kesempatan yang sangat jarang untuk bisa berkumpul dengan muslimah-muslimah terbaik se-Bandung Raya. Saling mengenal satu sama lain, memperluas jaringan, berbagi pengalaman, dan yang terpenting adalah banyak belajar dari kisah-kisah mereka.. hmm, unik2 juga ternyata 🙂

Yang paling membuat menarik dari acara ini adalah materi dari Teh Devi, sesosok akhwat yang menyelesaikan studi S1nya UPI, studi S2nya di ITB dan berhasil menyandang gelar Doktornya di STT Telkom. Menurutku, Teh Devi adalah sesosok akhwat yang sangat menginspirasi karena kecerdasan akalnya. Tsaqafahnya sangat luas,, dan menurutku, beliau memiliki skill komunikasi yang baik, terlihat dari cara beliau memaparkan materi dengan jelas dan lugas 🙂

Beliau diberi kesempatan untuk menyampaikan sebuah materi tentang “Peran Muslimah dalam Membangun Peradaban”. Tapi menurutku yang beliau sampaikan lebih ke arah urgensi da’wah kemuslimahan. Mungkin karena telat juga, jadi banyak materi yang terlewat..

Pada intinya, beliau menyampaikan betapa peran, posisi dan potensi muslimah dapat menjadi investasi yang sangat besar dalam da’wah ini. Bayangkan saja jika muslimah tidak turut serta dalam gerakan-gerakan da’wah, mungkin da’wah ini akan sangat kaku dan monoton. Contohnya ketika dalam suatu wajihah da’wah peran muslimah ditiadakan, lalu siapakah yang akan berfikir secara mendetail tentang keberjalanan organisasinya selama periode tertentu? Karena fitrahnya, perempuan itu lebih bisa berfikir secara mendetail, mempertimbangkan banyak hal, dan berfikir lebih jauh daripada laki-laki.

Selain itu, kita sebagai perempuan seharusnya menyadari betul bahwa kita memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Pepatah mengatakan bahwa seorang ibu membutuhkan waktu 20 tahun untuk mendidik anaknya, sedangkan seorang wanita hanya butuh waktu 20 menit untuk menghancurkan dirinya dan ummat. Dari pepatah tersebut, kita dapat melihat betapa da’wah kemuslimahan adalah sebuah keniscayaan. Dengan da’wah kemuslimahan, setidaknya kita bisa mengurangi presentase yang kedua. Lebih baik lagi, kita bisa mencitrakan betapa mulianya perempuan dalam pandangan Islam.

Jika ditinjau lebih dalam, sebetulnya pepatah tadi bisa kita kaitkan dengan kecenderungan setiap manusia, yaitu apakah ia lebih suka pada kebaikan atau pada keburukan. Dan ternyata, yang lebih sedap dipandang mata, dan yang lebih menggiurkan, biasanya adalah hal-hal yang buruk. Oleh karenanya, kita hanya butuh waktu sebentar untuk menghancurkan diri kita sendiri ketimbang memperbaiki diri kita. Tapi mungkin tidak berlaku secara umum..

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini juga, dan jika kita berfikir lebih mendalam, mungkin kita akan merasa sangat miris saat mengetahui bahwa sepertinya entropi dunia semakin tinggi. (Aduh shaaab, kenapa harus ada termodinamika sih? –” Oke lanjut.) Ya, kekacauan mungkin lebih tepatnya. Aduh, sebenernya agak berat juga bilangnya. Tapi kalian pasti paham apa maksudnya.

Dan.. tahukah kalian? Seorang ibu mewariskan 75% sifat keshalihannya pada anaknya. Hmm, ternyata.. kita (wanita) memiliki potensi 3 kali lipat lebih besar dari pada laki-laki untuk mewariskan gen keshalihan kepada keturunan kita. Mengapa? Mungkin ini bukan penelitian yang sudah dilakukan bertahun-tahun, tapi jika kita berfikir secara logika, kita akan mendapati bahwa seorang ibu adalah mudarrisah (guru) pertama bagi anaknya. Dari hasil didikannya-lah akan terlahir generasi-generasi terbaik. Namun, dari hasil didikannya jugalah akan lahir generasi-generasi yang buruk.

Seorang ibu, dibanding ayah, akan lebih banyak berinteraksi dengan anaknya. Sebab tugas ibu secara fitrahnya memang melahirkan generasi-generasi terbaik yang akan berada di garda terdepan dalam membangun peradaban dunia! Melalui apa? Melalui pendidikan yang komprehensif dan terarah. Tentu dengan cara-cara yang sesuai dengan syari’at Islam.. 🙂

Seperti Musa, yang terlahir sebagai pemuda yang sesuai dengan fitrahnya. Sebab ia dididik oleh seorang Asiah yang menjaga kefitrahan dirinya sebagai wanita. Ia menyadari betul peran dan posisinya untuk mencetak generasi-generasi terbaik.

Betapa muslimah sangat berharga. Ia adalah perhiasan terindah, baik di dunia dan di akhirat kelak.. kemuliaannya mengalahkan emas seberapa karatpun. Kedudukannya di mata Allah sangat tinggi, yang membuat para bidadari surga cemburu padanya..

Oke, kini kita akan berbicara lebih berat dan terstruktur. Bagaimana Islam menggambarkan secara jelas peran muslimah dalam da’wah ini.

Yang pertama adalah daurut ta’sis, yaitu bagaimana seorang muslimah harus mampu menjaga hal-hal yang bersifat fundamental dan mendasar. Ya. Di sini kita dituntut untuk menjaga fitrah kita. Mengingat kembali tugas kita dalam da’wah ini. Setiap kita adalah penting, maka jangan pernah berfikir bahwa ketidakhadiran kita di jalan ini tidak akan berefek apapun. Boleh saja berfikir bahwa masih ada orang lain yang terlibat dan ikut serta, tetapi prasangka yang baik namun tidak pada tempat yang tepat bisa menghancurkan diri kita sendiri.

Yang kedua adalah daurut tahsin, yaitu bagaiman kehadiran muslimah dapat memperindah opini da’wah. Ya, tahsin=memperbaiki. Tugas kita adalah memperbaiki setiap apa-apa yang rusak sesuai dengan batasan-batasan yang seharusnya, juga dengan cara-cara yang syar’i. Yang perlu diingat adalah, kita memperindah, tapi bukan hiasan. Sebab jika seorang muslimah tidak menggunakan bros (hiasan) pada jilbabnya, itu menjadi hal yang tidak apa-apa bukan? Tetapi, akan menjadi apa-apa jika dalam keberjalanan da’wah ini kita tidak memainkan peran kita sebagai muslimah..

Yang ketiga adalah daurut tarbawi, yaitu bagaimana muslimah berperan dalam setiap bentuk pembinaan. Membina adik-adik, teman, hingga masyarakat. Dan kelak, membina suami dan anak-anaknya. Seorang ulama pernah berkata, “Faaqidussyay’i laa yu’thii.” Bahwa orang yang tidak memiliki apa-apa tidak dapat memberikan apa-apa. Inilah pentingnya mengapa seorang wanita harus cerdas dan berkapasitas. Sebab ia dituntut untuk memberikan banyak hal pada lingkungan sekitarnya..

Yang keempat adalah daurut ta’nis, yaitu bagaimana peran legislasi dari seorang muslimah. Mungkin kita pernah tahu, bahwa Asma’ binti Abu Bakar adalah legislator para muslimah pada masanya. Bayangkan saja, ia yang dengan berani menyampaikan uneg-uneg para muslimah saat mereka menyadari bahwa laki-laki lebih bisa berinteraksi lebih banyak dengan Rasulullah jika dibandingkan dengan perempuan. Sampai akhirnya, Rasulullah menyediakan waktu khusus untuk para muslimah mengkaji hal-hal seputar kemuslimahan. Kemampuan nilah yang harus dimiliki oleh setiap muslimah. Bahwa kita adalah legislator, yaitu orang yang akan paling bisa mendengarkan, menyampaikan dan memfasilitasi aspirasi mad’u-mad’u terdekatnya.

Yang kelima adalah reposisi, yaitu bagaimana seorang perempuan dapat merubah peran, posisi, dan kedudukan. Sejujurnya shabrina nggak terlalu paham dengan peran yang ini, tetapi yang saya tangkap adalah bagaimana seorang muslimah memiliki hak untuk dimintai pendapatnya untuk mengubah suatu hal yang sudah ada sejak awal.

Menurutku, peran kelima tadi bukanlah peran yang terakhir. Karena masih banyak peran muslimah yang perlu kita temui dan sadari untuk membangun da’wah ini. Kita diciptakan sangat kompleks, maka tentu saja peran kita akan sangat kompleks dan besar.

Maka yang perlu kita lakukan mulai saat ini adalah menyadari betul tentang peran, posisi, dan potensi kita sebagai muslimah. Kemudian kita mengembangkannya, agar setiap kita memiliki kapasitas yang tinggi untuk mengemban amanah-amanah besar kita. Dan tentu saja, yang tidak kalah pentingnya adalah semua itu dilakukan dengan tetap menjaga ‘izzah (kehormatan) kita. Karena sejatinya, kemuliaan tertinggi seorang wanita adalah saat ia menyeru dengan ‘izzahnya..

Ah,, betapa muslimah sangat berharga. Itulah mengapa sejak dulu aku senang sekali berkutik dengan segala hal tentang muslimah.. Sejujurnya, aku sangat suka dengan da’wah kemuslimahan. Aku punya banyak mimpi yang besar tentang syi’ar muslimah. Aku ingin terus mencitrakan muslimah dengan hal-hal yang bisa melejitkan potensinya. Dengan karya-karya nyata dan kontribusi terbaiknya, hingga ia mampu memainkan perannya dalam membangun peradaban dunia.. ^^

 

 

Senin, 010512

Catatan pengikat ilmu 🙂

NB: dauroh ini akan ada sesi-sesi selanjutnya, makanya aku buat judulnya ada part 1. Insya Allah nanti akan di-share hikmah-hikmah yang aku dapat di setiap tahapannya.

Oiya, doakan juga yaa. Salah satu rangkaian acara dari dauroh ini ada Annisaa Contest. Semacam Miss Indonesia tapi untuk muslimah. Doakan saja semoga bisa sampai nasional, tingkat FSLDKN ^^

Advertisements

One thought on “Daurah Mar’atus Shalihah part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s