Menjadi Muslimah Prestatif: Sebuah ikhtiar meraih gelar Radhiyallahu ’Anh


Allah menciptakan perempuan dan melebihkannya atas laki-laki tentu memiliki tujuan yang besar. Tidak semata-mata hanya menunjukkan kuasa-Nya, tetapi terdapat visi besar Allah di sana, sebuah visi yang akan mengantar perempuan menyandang gelar kemuliaan di sisi-Nya.

Jika kita mencoba flashback ke masa jahiliyah, di mana manusia mencapai kondisi paling bobrok selama berlangsungnya siklus kehidupan ini, kita akan melihat betapa perempuan di masa itu berada pada level yang paling hina. Mereka dikubur hidup-hidup, disia-siakan, ditelantarkan, bahkan tak diinginkan kehadirannya di dunia. Lalu apa yang terjadi saat Islam datang? Allah meninggikan derajat perempuan di sisi-Nya. Bahkan di salah satu hadist Rasulullah, Allah menempatkan surga di bawah telapak kaki seorang perempuan, yang dengan meraih ridhanya, Allah menjanjikan ridha atasnya.

Seorang perempuan dalam pandangan Islam memiliki posisi yang mulia dan terhormat. Islam sering membahas pandangannya tentang seorang perempuan dari sisi kemuslimahannya; seperti dalam hal kewajibannya menutup aurat, menundukkan pandangan; atau sunnatullah lahiriyahnya seperti mengandung, melahirkan, menyusui, dan sebagainya yang merupakan tuntutan spesifik untuk setiap perempuan. Islam juga tak jarang membahas perempuan sebagai manusia yang tidak berbeda dari laki-laki, seperti dalam kewajiban shalat, zakat, haji, berakhlak mulia, amar ma’ruf nahi munkar, dakwah kepada Islam, dan sebagainya. Kedua pandangan ini sama-sama bertujuan mengarahkan perempuan secara individual sebagai manusia mulia dan secara kolektif bersama laki-laki menjadi bagian dari tatanan keluarga dan masyarakat yang harmonis. Keduanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki tanggungjawab yang sama dalam menentukan maju mundurnya sebuah masyarakat.

Shahabiyah-shahabiyah di zaman Rasulullah telah lebih dulu menyadari betapa Allah mengangkat derajat perempuan sebegitu mulianya. Saat mereka menyadari hal itu, mereka bergegas membuat rencana-rencana besar untuk berkarya di kehidupan ini. Melalui optimalisasi potensi yang Allah anugerahkan untuk setiap diri mereka, sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Mereka terus berusaha meningkatkan kapasitas penghambaan mereka pada Allah melalui cara-cara yang khas, tetapi memiliki tujuan yang sama; meraih gelar Radhiyallahu ‘anha atas setiap pijakan kaki mereka di dunia.

Al- Qur’an menggambarkan bahwa muslimah memiliki hak untuk dapat berpacu menggapai beragam kemandirian. Kemandirian dalam bidang politik, kemandirian ekonomi, kemandirian di dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi, kemandirian dalam menyerukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, kemandirian dalam belajar serta beragam kemandirian lain. Dari kemandirian-kemandirian itulah diharapkan mampu mencetak kader muslimah yang produktif dan progressif di bidangnya masing masing.

Gambaran ideal yang sedemikian tersebut diatas mungkin tidak akan ditemukan di dalam kitab-kitab suci lain. Tidaklah mengherankan jika pada zaman Rasulullah ditemukan sejumlah perempuan yang luar biasa. Mereka merefleksikan beragam kemandirian yang idealnya mampu dicapai oleh para muslimah. Aturan islam bukanlah pagar betis yang menghalangi perempuan untuk memiliki prestasi setara bahkan lebih dari kaum laki-laki. Sejarah mencatat Khadijah adalah seorang entrepreneur wanita yang tangguh dan disegani di zamannya. ‘Aisyah adalah cendekiawati yang cerdas dan mumpuni, penghafal ribuan hadist, serta tempat belajar para sahabat setelah Rasulullah wafat. Ummu Sulaim, seorang da’i wanita yang dakwahnya menggelora. Asma binti Yazid juga tercatat sebagai seorang orator sekaligus diplomator yang hebat. Sumayyah, istri Yasir, syahidah pertama yang meninggal dunia setelah disiksa oleh orang-orang kafir quraisy karena mempertahankan aqidahnya.

Ya, tentu tidak sedikit para muslimah pada masa Rasulullah yang menorehkan prestasi gemilangnya hingga mereka menempati posisi mulia di sisi Allah. Mereka terdidik dengan pemahaman yang benar tentang Islam. Kehidupan mereka dapat memberikan gambaran yang jelas bagaimana seharusnya seorang muslimah berpikir dan bersikap, sehingga mampu menyandang gelar prestatif sebagai umat terbaik (khairu ummah). Mereka mampu mensinergiskan keseluruhan peran dan fungsi yang telah Allah bebankan atas mereka, baik sebagai seorang hamba Allah, sebagai istri dan ibu, maupun sebagai anggota masyarakat. Keimanannya kapada Allah-lah menjadikan mereka siap menerima ketentuan apapun yang telah Allah berikan, tanpa memperhitungkan lagi nilai-nilai manfaat dan kebenaran relatif yang muncul dari akal dan hawa nafsu mereka. Mereka melakukan amar ma’ruf nahi munkar tanpa ada keraguan sedikitpun. Mereka yakin bahwa kemulian, kesuksesan, dan prestasi tertinggi adalah di hadapan Allah. Mereka secara terbuka dapat membuktikan bahwa umat Islam (laki-laki dan perempuan) adalah umat terbaik (khairu ummah) yang dilahirkan untuk manusia. Karena peran mereka pula-lah Islam mampu mengukir sejarah kegemilangannya hampir lebih dari 10 abad.

Bagaimana dengan muslimah kontemporer yang menunjukkan ikhtiarnya meraih gelar radhiyallahu ‘anh dengan prestasi-prestasi gemilangnya? Marilah sejenak menengok seraya mengacungkan jempol untuk para muslimah produktif ini. Bunda marwah Daud Ibrahim, peraih gelar Doktor di Washington University, U.S dengan predikat distinction. Dahlia Mogahed, karena kepiawainya dalam berorganisasi, ia menjadi satu-satunya perempuan muslimah berjilbab yang diangkat bekerja di Gedung Putih AS. Professor Samira Ibrahim, dengan jilbab besarnya, tak menghalangi dia menjadi Duta International Organisasi Kesehatan Dunia. Professor Dr. Bina Shaheen, ia menjadi salah satu pendiri Organisasai Ilmuwan Wanita Dunia. Saamena Shah, seorang muslimah yang berkarir dalam kegiatan Workshop on Machine Learning Canada, sebuah bengkel kerja berskala Internasional di Kanada. Ia mengembangkan inovasi algoritma dalam proses belajar kognitif melalui komputerisasi. Prestasinya mengembangkan Global Optimizer telah diakui dunia Internasional. Anousheh Ansary, muslimah ini mengorbit ke angkasa raya bersama Soyuz–MA 9 dari Baikonur Cosmodrome. Subhanallah, sungguh prestasi yang sangat bernilai di mata Allah.

Ya. Mereka itulah bukti  kasat mata bahwa muslimah tetap memiliki kesempatan untuk beraktivitas dengan segudang prestasi dan produktivitas. Begitulah seharusnya muslimah mengukir sejarah kehidupannya. Sejarah terbaik yang takkan sirna oleh waktu dan takkan lapuk oleh musim dan peristiwa. Potongan-potongan episode kehidupan yang akan mengantar diri muslimah menyandang gelar Radhiyallahu ‘anh saat perjumpaan dengan-Nya di surga. Sebuah tangung jawab personal yang hendaknya tertanam dalam diri setiap pribadi muslimah.

Pernahkah membayangkan? Bagaimana jika suatu saat nanti, petinggi-petinggi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), sebuah organisasi berskala internasional, berisikan perempuan-perempuan muda berkerudung panjang dengan pakaian tertutup rapat, kemudian mereka berbicara di hadapan seluruh manusia di dunia tentang kebejatan yang dilakukan Israel atas rakyat Palestina? Tentang anak-anak kecil tak berdosa yang dibunuh dengan semena-mena oleh zionis Israel. Juga tentang ibu-ibu yang melahirkan anak-anaknya dalam keadaan tak semestinya. Seharusnya, kita sebagai perempuan (yang memiliki perasaan lebih sensitif), bisa merasakan kepedihan mendalam yang dirasakan rakyat palestina.

Pernahkah juga membayangkan? Kelak, di masa yang akan datang, Indonesia akan menjadi supplier professor-professor wanita muslimah terbanyak di dunia. Professor-professor hebat yang memiliki keunggulan di bidang keilmuannya masing-masing. Namanya seringkali disebut-sebut di berbagai buku kuliah. Penelitiannya tertera di berbagai jurnal ilmiah. Projectnya mencapai level internasional. Dan percayalah, ini bukan hanya mimpi. Suatu saat, Indonesia akan mencetak ilmuan-ilmuan islam yang siap mengabdikan dirinya untuk agama ini. Dengan bekal kapasitas keislaman yang tinggi, mereka mampu mengguncang dunia melalui karya-karya nyatanya, juga kontribusinya dalam rangka membangun peradaban dunia.

Lalu dengan itu semua, lahirlah berbagai implikasi positif yang dapat mengakselerasi kejayaan Islam di bumi ini. Da’wah menjadi lebih mudah, sebab subjek-subjeknya adalah orang-orang yang memiliki kapasitas dan peran strategis di kehidupan ini. Pada akhirnya, akan ada lebih banyak orang yang tershibghah dengan nilai-nilai keislaman, bahkan akan banyak bermunculan subjek-subjek da’wah lainnya yang menjadi garda terdepan dalam barisan da’wah.

Ah, itu semua takkan terwujud tanpa kita menyadarinya, lalu bergerak mewujudkannya. Goethe pernah berkata, “Mengetahui saja tidak cukup, kita harus menerapkannya; berkeinginan saja tidak cukup, kita harus bergerak. Jika mimpi adalah jiwanya, maka tindakan adalah raganya.”

Karenanya, kita sebagai muslimah hendaknya mulai menyadari akan setiap potensi diri kita. Kemudian segera bergerak membuat rencana-rencana perubahan untuk menunjukkan eksistensi diri kita sebagai hamba-Nya. Menjadi muslimah yang berpartisipasi aktif di berbagai kompetisi keilmuan yang berkorelasi dengan bidang studinya, menjadi muslimah yang senang berdiskusi dan melibatkan dirinya di berbagai konferensi berskala nasional maupun internasional, menjadi muslimah dengan segudang prestasi non akademiknya, menjadi muslimah dengan IPK 4 di setiap semesternya, atau menjadi muslimah dengan karya-karyanya yang nyata berbekas. Seperti menjadi penulis buku, menjadi entrepreneur yang professional, atau menjadi peneliti yang ahli di bidangnya. Ah, tentu saja masih banyak cara-cara lainnya yang dapat menjadi pilihan bagi setiap muslimah. Tidak sebatas dan sesempit itu. Hanya saja, setiap muslimah hendaknya dapat memastikan bahwa setiap pijakan kakinya di dunia adalah dalam rangka meraih gelar Radhiyallahu ‘anh.

Maka menjadi muslimah prestatif dapat menjadi sebuah pilihan bagi setiap muslimah untuk mencapai kemuliaan tertinggi di sisi Rabb-nya. Menjadi muslimah yang memiliki kapasitas tinggi, yang dengan karya nyata dan kontribusi terbaiknya, ia mampu menggetarkan dunia. Dan dengan hal itu pula, dapat mengantarkannya meraih gelar terbaik di hadapan Allah. Sebuah gelar yang akan mengalahkan gelar termulia yang pernah ada di dunia. Gelar yang senantiasa dirindukan oleh para muslimah di zaman manapun. Radhiyallahu ‘anh..

 “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

(QS.Al- Imran [3]: 110)

 Umat Islam yang unggul dan prestatif akan mampu memadukan dua kekuatan ikhtiar yang sungguh luar biasa. Tubuh dan pikiran digunakan seratus persen untuk ikhtiar, bersimbah peluh dan berkuah keringat. Dikerahkan segenap potensi yang telah dititipkan Allah demi teraihnya suatu prestasi tertinggi dan karya terbaik. Selain itu hati pun seratus persen digunakan untuk berikhtiar dengan sekuat tenaga untuk bertaqarrub dan mengejar pertolongan Allah, sehingga menjadi hamba yang ridha dan diridhaiNya. Itulah kunci menjadi muslim yang layak dibanggakan! (Aa Gym)

Ditulis dalam rangka mengikuti Annisaa Writing Competition 2012

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s