torehan tinta 12 Ramadhan


3 tahun sudah titel mahasiswa menemani hidupnya. 3 tahun yang penuh dengan gejolak rasa. 3 tahun masa pembuktian eksistensi diri di hadapan-Nya. 3 tahun masa kontribusi konkret pada ummat.

Ia merefleksi diri dalam kesendirian. Ditemani keheningan malam dan suara alam. Langit malam itu adalah langit ramadhan. Bulan terlihat hampir setengah bagiannya, mencoba menyapa seluruh penghuni langit dengan cahayanya yang indah.

Siapa sangka waktu bisa secepat itu? 3 tahun terlewat, dan banyak hal terjadi hingga hari ini.

Ia bersedih. Tak banyak yang bisa dilakukannya untuk ummat. Sebagian besar waktunya masih diperuntukkan untuk memikirkan dirinya sendiri. Masih sering memprioritaskan diri sendiri ketimbang ummat. Padahal, Rasulullah mengabdikan seluruh waktu semasa hidupnya untuk ummat yang dicintainya.

Ia bersedih. Menunduk dalam. Tak banyak yang ia lakukan untuk keluarganya. Kepentingan da’wah formal lebih banyak menyita hari-harinya. Rapat, koordinasi, dan berbagai agenda lainnya. Tak banyak ia berinteraksi dengan keluarganya. Tak banyak ia meluangkan waktunya untuk da’wah keluarga. Padahal, Allah telah lebih dulu berfirman bahwa utamakan keselamatan diri dan keluarga dari api neraka. Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaroo..

Ia bersedih. Semakin menunduk. Dadanya sesak. Tak banyak waktu yang ia gunakan untuk mempersiapkan keselamatan diri-Nya di akhirat kelak. Masih banyak waktu luang yang tersia-siakan, masih banyak aktivitas yang nilai kegunaannya rendah, tak banyak bekalan yang dipersiapkan.. Padahal, telah Allah sebutkan dalam firman-Nya, Wa tazawwaduu fainna khayru zaadittaqwa..

Ia bersedih. Semakin menunduk. Dadanya sesak. Satu persatu bulir air mata turun membasahi pipinya. Ia menyadari betapa lemah dirinya di hadapan Allah. Betapa kecil dirinya di hadapan Allah Yang Mahabesar.

Selalu begitu. Ada masa di mana dirinya begitu lemah. Manja dengan Allah. Ingin bercerita, memohon, dan meminta ampun di saat yang bersamaan. Dan ia selalu suka dengan perasaan seperti itu. Ia bisa saja berlama-lama dalam perasaan tak terdefinisi itu.

Ah ya Allah, ia begitu ingin memeluk-Mu, bertemu dengan wajah-Mu yang Agung. Bermanja-manja dengan Mu. Ia ingin meluapkan kerinduannya dengan surga, dengan hadiah yang menantinya di penghujung perjuangan.

———————————————–

torehan tinta di malam 12 Ramadhan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s