Nilai Ekonomi


[REPOST DARI TULISAN SEORANG TETEH]

Nilai Ekonomi

by: Frikza Etsia Paramadina

Semenjak meyakinkan dan memantapkan diri untuk tidak -dulu- berkerja kantoran, ada satu pertanyaan yang menyeruak :p di dalam hati saya, tentang nilai ekonomi seorang wanita rumah tangga. Tepatnya, tentang nilai ekonomi saya. saya belum bergairah dalam dunia bisnis, meski, alhamdulillah saat ini saya masih bergabung dalam satu proyek penelitian pemerintah daerah. tapi, kalau dibandingkan dengan raupan subsidi rakyat yang saya terima selama kuliah, tentu tidak sebanding 😦

Saya menghibur diri, dan memang itu yang menjadi salah satu pijakan saya mengambil keputusan ini, bahwa dengannya, insyaAllah saya bisa totalitas dalam membersamai pertumbuhan ahmad. saya bisa support penuh suami saya dalam aktivitas2nya. dan insyaAllah, suatu saat nanti (kapan?) akan cukup bernilai ekonomi, tentu, insyaAllah. saya pernah baca tulisan seorang teteh, katanya, dengan ia memutuskan berhenti bekerja, suaminya jadi lebih semangat menjemput rezeki dan tenang ketika meninggalkan rumah 😀 nah, statement tersebut, jika ditambah keberhasilan membesarkan anak, tentu suatu saat nanti akan menjadi keputusan yang bernilai untuk negara -rakyat- yang sudah membantu subsidi biaya kuliah saya.

tapi, alhamdulillaah, hari ini… tring tring tring… saya menemukan sesuatu yang sangat membuat saya antusias! tentang nilai ekonomi wanita :p bahwa saya juga bisa membela negara saya, membantu mengurangi beban apbn, apbd… dengan menjalani peran sebagai ibu dan istri yang baik dan benar.

bagaimana?

jadi tadi ceritanya saya habis ikut rapat analisis pembangunan Jabar dengan 3 dari 10 pakar yang harusnya hadir. ini sudah rapat ketiga. pakar dari aspek sosial menceritakan mengenai kasus human trafficking yang makin merajalela di Indonesia. permasalahan yang menyangkut multidimensi dan multiinstansi…, dari hulu hingga hilir. ribet deh pokonya. tapi, tentu, di ppkn juga kita belajar *dansayasungguhbarumudeng… bahwa semua permasalahan dapat diselesaikan dan dicegah dari unit terkecil, setelah diri sendiri, yaitu, keluarga. kasus human trafficking (ht) yang bisa -dan telah- menghilangkan nyawa, kehormatan itu, mayoritas tentu berawal dari ketidaktahuan keluarga. baik tentang proses rekrutmen pekerjaan, sampai mengenai ht itu sendiri. dan dari hal tersebutlah, muncul masalah yang cukup membuat pusing, sampai jengkel para pemangku kebijakan. bukan sekedar karena proses penyelesaiannya yang menjelimet. tapi cost yang harus dikeluarkan juga besar. bayangkan mengenai pemulangan tki, tkw, hingga yang pulang, sudah berada dalam peti jenazah. belum lagi jika ktp yang diberikan palsu… sampai diceritakan, peti jenazah itu ada yang keliling pulau… 😦 berapa biaya yang pemerintah keluarkan untuk permasalahan ini?

nah, andaikan 10 saja keluarga bisa menjaga anggotanya dari hal demikian, berapa penghematan yang bisa dilakukan pemerintah?

itu kasus yang mungkin -semoga- jauh dari isu sekitar kita ya…

kemudian diskusi berlanjut pada aspek sumber daya air dan infrastruktur lingkungan…sebenarnya banyak yang dibahas di sini, tapi saya berpikir lagi, peran kecilnya saja seorang wanita di sini… bahwa ada satu kampung atau daerah yang belum teraliri listrik. pln tidak mau masuk karena konsumennya tidak cukup memenuhi biaya pemasangan…nah, warga di sana bisa memenuhi lsitrik daerahnya sendiri dengan sumber daya yang ada… siapa yang bisa memberikan pemahaman tersebut? memberikan kepekaan untuk memulai tersebut? para ibu. kalau yang ini, saya ingat kisahnya ibu septi, yang anak2nya super itu T_T mereka peduli sekali pada lingkungan… salah satu anaknya, ketika flu, lap kainnya habis dan harus menggantinya dengan tisu, mereka bawa2 isu global warming sgala… bisa menarik isu pribadi pada isu global…

atau tentang ketahanan pangan kita yang masih megap2… andai para ibu (saya 😦 )itu mengerti cara bercocok tanam yang baik, yang modern juga (minim lahan dan air) tentu dengan gerakan massif, ga harus impor2 pangan. he,,, itu sih agak utopis ya,, karena ada aspek politik internasional yang ga bisa dilepaskan. tapi, ya mungkin seengaknya ga separah sekarang… andai para ibu (saya) itu, memahami tentang pentingnya ketahanan pangan, tentu tidak akan merelakan suaminya menjual tanah dan sawah untuk mengojeg… mereka memanfaatkan ilmu mereka di bangku sekolah dan kuliah, untuk membangun pertanian dengan karakter teknologi. pertanian dan pengelolaan sda lainnya tidak lagi bergantung pada cuaca… dimulai dari proyek-proyek di lingkungan terkecil kita…

nah, pakar terakhir berbicara tentang pengembangan wilayah. secara nasional, pemerintah kita menetapkan daerah2 sebagai pusat kegiatan nasional, wilayah dan lokal untuk bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dan sosial daerah sekitarnya. mereka diharapkan dapat menarik investasi guna meningkatkan kondisi finansial dan kelayakan hidup masyarakat di daerahnya dan daerah sekitarnya. dan tentunya, local economic development tersebut, benar2 dapat berjalan sesuai harapan jika ownership nya adalah orang lokal juga… ya, lagi2 saya membayangkan bagaimana harusnya saya (wanita, istri, ibu) berperan di sini… andaikan… wanita itu memiliki gairah, insting bisnis… tentunya geliat perkembangan ekonomi rakyat akan tumbuh di tiap titik daerah di negeri pertiwi ini…

maka para wanita yang “menghabiskan” harinya tidak di luar rumah, tentu seharusnya memiliki energi lebih untuk berpikir tentang hal ini. membangun proyek2 ini. memberi keteladanan pada anak dan masyarakat. bergotong royong dengan suami untuk mengimplementasikan apa yang didapat di bangku sekolah dan kuliah, untuk peradaban yang lebih baik…

hwaa… sejenak saya langsung teringat mengenai kata2 motivasi yang selama ini hanya menjadi quote di diri saya, bahwa mau jadi wanita karir atau tidak, wanita itu harus berpendidikan tinggi. pendidikan tinggi mah wasilah kali ya,,, tujuannya, wanita harus cerdas… wawasan luas… T_T kalaupun ngga wawasan luas, jaringan luas… jadi ia bisa bertanya mengenai suatu hal yang ia belum kuasai pada orang lain. belum bisa bercocok tanam dengan karakter teknologi, bisa manfaatkan :p temennya yang ahli di bidang ini. belum bisa mengatur menu sehat untuk keluarga, bisa tanya temennya yang ahli gizi, belum ngerti cara mengajar sesuai psikologi anak, bisa tanya temannya yang psikolog dan kuliah di bidang pendidikan,,, daaan masih banyak lagii… sungguh ilmu kuliah kita ga sia2 jika ilmu tersebut kita internalisasikan dan implementasikan dalam kehidupan kita sebagai keluarga dan bagian dari masyarakat ini. sungguh, subsidi rakyat untuk biaya sekolah kita yang mahal itu tidak seberapa dibandingkan kemanfaatan yang akan kita berikan untuk mereka… meski kita (saya) -hanya- “berada di rumah saja”. inilah maqam yang sesungguhnya islam berikan untuk wanita. bukan saja menjadi pendamping suami dan anak. apalagi jadi produk2 atau objek2 eksploitasi orang2 jahat,,, jika kita benar2 memahami dan menghargai maqam ini, tentu banyak sekali kebermanfaatan yang bisa kita hasilkan dan tularkan. dan bukan kebermanfaatan yang ece2… its a huge goodness… level negara, level dunia, peradaban,,,

🙂 dan tentunya… sebagaimana pria yang dipasangkan dengan wanita,,,
malam dengan siang.
kebermanfaatan wanita di dunia, menjadi nyata jika dilengkapi dengan kebermanfaatannya di akhirat.

menjadi anak yang memahkotai orang tuanya dengan akrabnya ia dengan al quran,
menjadi istri yang menjaga suaminya dari api neraka dengan tawashou bil haqq wa shobr,
menjadi ibu, yang menjaga fitrah keislaman anaknya dengan totalitas dan kesungguhannya mendidik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s