Mengapa harus Kanazawa University?


Setelah di postingan sebelumnya saya membahas tentang Mengapa Memilih untuk Exchange? dan Mengapa memilih Jepang?, maka di postingan kali ini saya akan mencoba membahas tentang mengapa saya memilih Kanazawa University. Sebenarnya tidak bisa dikatakan secara eksplisit kalau universitas tujuan saya di Jepang untuk mengikuti exchange adalah Kanazawa University, tapi tentunya melalui berbagai proses yang panjang  sehingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kesempatan ini.

Bermula dari kunjungan iseng ke website International Relation Office ITB, kemudian menemukan beberapa universitas di Jepang yang membuka kesempatan untuk exchange, di antaranya Tokyo Institute of Technology, Hiroshima University, dan Tohoku University. Kanazawa University? Waktu itu emang nggak ada, hehe. Penasaran kan kenapa pada akhirnya saya malah dapet Kanazawa University (Kindai)?  Makanya, ikutin terus ceritanya 😀 eh tapi klo udah waktunya sholat, mending wudhu dulu, terus sholat ya ^^ postingannya ga bakal hilang kok hihi

Nah, jadi ceritanya, waktu itu saya baca-baca deskripsi tiap program yang ditawarkan oleh masing2 universitas. Jatuhlah pilihan saya pada Tokyo Institute of Technology :3 Kenapa? Karena dilihat dari deskripsi programnya, selain pertukaran budaya, saya juga bisa mendapatkan research experience dengan melakukan riset di salah satu lab di sana, di bawah bimbingan professor. Jadi di sini saya berniat mengambil pengalaman penelitian di lab yang alat-alatnya terbilang advanced. Tapi sebetulnya alasan utama saya waktu itu karena gengsi sih, hehe. Program yang saya minati saat itu adalah Young Scientist Exchange Program (YSEP).

Saya coba jelasin dulu ya syarat dan prosedur untuk daftar student exchange dari ITB. Perlu diperhatikan kalau setiap universitas punya kebijakan masing-masing untuk menyeleksi mahasiswanya yang bisa ikut student exchange. Syarat dan prosedur yang akan saya jelaskan disini hanya berlaku di ITB. Untuk universitas lainnya, mangga ditanyakan ke IRO masing-masing.

Nah, sepengetahuan saya sampai saat ini, biasanya kalau exchange program itu ada di universitas yang memang secara khusus punya hubungan kerjasama dengan universitas di luar negeri. Jadi konteksnya memang sudah ada MoU antara dua universitas tersebut.

Kalau di ITB, beberapa syarat yang harus dipenuhi si mahasiswa sebelum mengajukan diri untuk mengikuti program exchange adalah (sumber website IRO):

1. Pengaju telah menyelesaikan tahun ketiga studinya.

Artinya si pengaju saat mengikuti program exchange sudah memasuki semester ketujuh. Nah, disini saya rasa ITB cukup bagus dalam membuat syarat ini. Karena tak jarang saat mengikuti exchange, si mahasiswa juga menjalankan riset dibawah supervisi professor tertentu di univ tujuannya. Kesempatan ini bisa diambil oleh si mahasiswa sebagai tugas akhir sarjananya. Bahkan, si mahasiswa juga bisa publish paper bersama dengan pembimbing risetnya. Jadi sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui lah ya 😀 Disini juga bisa menjadi langkah awal si mahasiswa untuk meniti masa depannya kalau ingin melanjutkan studi masternya.

2. Curriculum vitae (CV).

Nah, CV ini sangat berpengaruh di seleksi internal ITB. Kenapa? Karena mahasiswa yang berminat untuk mengikuti exchange cukup banyak di ITB. Sebenernya pada saat seleksi di univ tujuannya CV ini nggak terlalu berpengaruh, tapi karena seleksi di ITB cukup.. emm, jadi ya penting sih. Jadi buat kamu2 yang berniat untuk exchange, dari sekarang mulai dipoles2 CV nya biar bagus dan enak dilihat hehe

3. TOEFL min 550/iBT min 100/IELTS min 6.5

Ini dia nih yang sering banget dilupain mahasiswa kebanyakan. Kalo butuh, baru disiapin. itupun mepet2 banget nyiapinnya, wkwkwk. Intinya sih untuk mendapatkan hasil yg maksimal ya memang persiapannya harus jauh2 hari 😀 jadi langsung gerak aja lah ya sekarang.

Oiya, btw si score dari english proficiency test ini penting banget banget banget. Ngaruhnya sampai ke tahap seleksi ke univ yang bersangkutan lho.

4. Academic transcript.

Wow, klo soal IP biasanya mahasiswa langsung deh mencak2. Haha. tapi serius ini penting banget, apalagi klo negara tujuan kamu jepang. Kenapa? Karena jepang emang agak strik sama nilai IP. Buat Jepang, mahasiswa yang cerdas dan potensial itu ya yang IP nya gede.

Nah, dengan berbekal itu semua, kamu bisa mengajukan diri untuk mengikuti program student exchange.

Gimana prosedurnya?

Pertama2, pastinya kamu berdoa sama Allah. Minta petunjuk sama Allah, program mana yang layak untuk kamu.

Selanjutnya, kamu pilih negara tujuan sekaligus univ tujuan kamu. Ini tentunya mengacu pada website IRO ya, univ apa yang memang membuka admission untuk student exchange.

Selanjutnya, bawa semua arsip/dokumen persyaratan ke IRO. Nanti mbak Nia (mbak2 resepsionist nya ITB) akan nanya, “mau daftar program apa?” Nah, jawab aja kamu pengennya program apa. Waktu itu saya pilih YSEP nya TIT.

Terus, kita harus nunggu sekitar 2 minggu untuk seleksi berkas/dokumen. Waktu saya daftar untuk TIT, saya dapet kabar kalo yang mengumpulkan berkas sekitar 118 orang. #glek emang

Nah, setelah dua pekan, kalau kita lolos seleksi berkas, kita bakal ditelpon sama Mbak Nia untuk seleksi wawancara. Waktu itu dari 118 orang, yang lolos seleksi berkas ada 15 orang.

Nah, seleksi wawancara ini in English, dan kamu bakal ditanyain hal2 yang sederhana tapi ngagetin. Contohnya, waktu itu saya ditanya begini, “If your professor in Japan give you a chance to continue your master program in the university, but your parents want you to get married first, what would you do?” #eaaa saya kaget banget ini kenapa si ibu nanya hal ini :3 Ada lagi pertanyaan lainnya waktu zamannya kak Dita (SBM 2008, KUSEP 2011). Si Ibu nanya begini, “If your friends in Japan ask you about what you’re wearing now (read: Hijab), what will you say?” Intinya sih, siap2 dengan pertanyaan yang sifatnya principal.

Oiya, nanti kita juga bakal ditanyain tentang kemampuan bahasa negara yang bersangkutan. Misalnya saya kan mengajukan ke Jepang. Nah, si Ibu pewawancara nanya ke saya semacam, “Have you studied japanese before?” “Did you ever take japanese proficiency test?” “Can you speak japanese?”

Nah, waktu itu saya emang udah nebak bakal ditanyain tentang kemampuan bahasa jepang saya. Jadi saya sudah cukup matang mempersiapkan itu. Waktu itu saya jawab begini, “Yes, but only a little. Hajimamashite. Watashi wa shabrina desu. Indonesia kara kimashita. Boku wa Indonesia jin desu. Yoroshiku Onegaishimasu.”

Dan sekarang baru sadar kalo “boku wa” itu kebanyakan dipake sama otokono hito (anak cowok) -_-

Setelah seleksi wawancara, kita harus menunggu lagi sekitar 1 minggu  untuk mengetahui siapa aja yang lolos untuk lanjut ke tahapan selanjutnya.

Setelah satu minggu, saya  tidak mendapatkan kabar apapun dari pihak IRO ITB. Hal ini tentunya membuat saya merasa resah dan gelisah *apasih shab* Jadi saya segera menelpon mbak Nia untuk nanya hasil. Dan ternyataaa…saya gagal lanjut ke tahapan berikutnya. Haha sedih ya. Waktu itu saya berfikir “yasudah lah, memang harus ngurus kampus dulu sepertinya” wkwkwk.

Oiya, setelah di telisik, ternyata dari 16 orang yang diwawancara, yang diambil hanya 5 orang. Artinya, si 5 orang ini berhak mendapatkan formulir untuk diajukan sebagai calon mahasiswa yang akan mengikuti program student exchange dari ITB. Yang perlu dicatat adalah: baru calon, belum pasti diterima ya.

Nah, jadi 5 orang ini nantinya harus mengisi formulir, melampirkan hasil medical check up, dan menyiapkan seluruh dokumen/berkas yang akan dikirim secara kolektif ke univ yang bersangkutan (dalam hal ini TIT). Di univ yang bersangkutan, dokumen 5 orang tersebut akan berkompetisi dengan berbagai dokumen peserta lainnya dari universitas2 di dunia yang punya kerjasama khusus juga dengan univ tersebut. #eaaaa kebayang nggak sih seleksinya seketat apa haha

Intinya sih ya emang hidup itu penuh perjuangan ya.

Biasanya, satu univ di jepang hanya menerima sekitar 2-3 orang mahasiswa ITB. Jadi dari 5 orang tadi, akan tersisihkan sekitar 2-3 orang juga 😦

Oke, mari kembali ke cerita saya. Setelah pengumuman itu, pastinya saya ngerasa down, tapi saya percaya, Allah punya rencana terbaik. Oiya, saya sempet nanya ke Mbak Nia kenapa saya nggak lolos YSEP. Oh ternyata.. eng ing eng.. alasannya adalah: karena waktu wawancara pas ditanya “What is your purpose to study abroad in TIT as an exchange student?” Jawaban saya lebih ke arah ingin mengeksplor budaya jepang, bukan ke risetnya. Padahal, YSEP itu lebih mengutamakan riset nya, bukan eksplorasi budaya jepangnya. Haha iya juga. Saya jadi teringat, waktu itu kurang lebih jawaban saya begini: “I want to explore more about Japan! I like to study about culture, I like Arashi’s songs (emang dah nggak serius banget yak mau exchange -_-), I like everything about Japan! I want to build a network with foreign students and get new experiences. And also, If I have a chance, I want to do some research related to my study field.” Nah, dari pernyataan saya, jelas banget kan kalau saya menjadikan riset sebagai alasan sampingan, bukan main reason saya. haha, fiuh~ ini karena nggak baca detail programnya -_-kkkk

Oke lanjut yuuk..

Nggak lama kemudian, tepatnya tiga hari setelah hari pengumuman itu, tiba-tiba saya dihubungi oleh Mbak Nia.

“Halo Shabrina, ini Nia dari IRO ITB. Ini ada tawaran untuk exchange ke Kanazawa University buat kamu. Kalau mau diambil, segera ke IRO ya. Ditunggu :)”

Waktu itu saya kaget banget, berasa dunia berhenti sejenak. *lebay banget shab*

Akhirnya, sepulang kuliah saya langsung menuju IRO ITB. Di sana saya dijelaskan tentang program yang ditawarkan oleh KU dan dikasih formulir yang harus diisi. Ternyata, untuk program KUSEP ini memang di closerec, tidak diposting di website IRO. Jadi dipilih tiga terbaik dari hasil seleksi TIT sebelumnya. Waktu dikasih tau itu sama mbak Nia, saya cuma “hmm, gitu ya.”

Nah, jadilah setelah itu saya ngurus ini itu. Super hectic sampai nangis. Sampai hampir putus asa ditengah jalan, padahal itu baru formulir yang akan dikirim ke Kanazawa University, masih calon, belum pasti. Kenapa? Iya, karena dari tahun-tahun sebelumnya, ternyata KU hanya menerima setidaknya 2 students dari ITB.

Saya nggak akan bercerita gimana susah sedih nya ngurus ini itu. Cukup saya dan Allah saja yang tau gimana rasanyaaa hehe. Yang perlu diketahui adalah: Bahwa ketika kamu mengatakan “Wah enak ya bisa A, B, C, D..” percayalah, bahwa itu semua tidak pernah datang dengan sendirinya. Tapi itu adalah bekas-bekas kerja keras dan pengorbanan di masa-masa sebelumnya..

Nah, sekarang saya sudah 3 bulan lebih nih di Kanazawa. Subhanallah, alhamdulillah.. rasanya campur aduk. Bersyukur penuh sama Allah! Ternyata Allah emang paling tahu tentang saya 😀 Saya merasa sangaaat beruntung karena Allah memilihkan Kanazawa untuk saya 🙂 Kenapa? Karena banyak hal positif dan pengalaman baru yang saya dapatkan disini 😀

Apa saja?

Mari disimak ya 🙂

1. Kampus yang dikelilingi hutan lestari.

Kondusif banget untuk studi dan riset, apalagi buat menambah hafalan alquran. Subhanallah, ini yang saya rasakan.

2. International Student Center KU sering mengadakan international gathering.

Ini cocok banget untuk kamu yang suka membangun relasi dengan foreign student 🙂 bisa bangun network lebih luas dan sharing riset dengan student dari negara lain.

3. Kantinnya menyediakan makanan halal.

Penting banget ini. Klo kepepet nggak ada waktu untuk masak, kamu bisa langsung makan di kantin 😀

4. Di dekat kanazawa university (300 meter dari kampus) sudah dibangun masjid dan sudah mulai aktif digunakan sejak oktober tahun 2013.

Luar biasa sekali, disini kita ada tasqif  (kajian wawasan) dengan ikhwah dari Mesir tiap hari ahad jam 12-ashar. Kegiatan ini dikelola oleh IMS (Ishikawa Muslim Society). Alhamdulillah juga dari PPIJ Ishikawa beberapa kali sering mengadakan mabit untuk membahas Fiqh.

5. Ditiap gedung alhamdulillaaaah tersedia musholla yang nyaman bagi mahasiswa beragama Islam.

6. Summer, Fall, winter, spring..kapanpun musimnya, selalu indah pemandangannya. Ini serius!! Kanazawa memang selalu dirindukan :))

7. Dekat dengan pusat-pusat perbelanjaan (Hanya sekitar 10-15 menit naik sepeda)

8. Dibandingkan dengan Tokyo, polusi sedikit! Kondusif banget untuk menikmati jepang.

9. Biaya hidup jauh lebih murah dibandingkan Tokyo (jelas!)

10. Kanazawa terkenal dengan penghasil seafood yang segar dan enak. (serius salmonnya enak banget!)

11. Kental dengan budaya jepang. Pokoknya jepang banget deh! Kondusif buat mengenal jepang lebih dalam 🙂

12. Dan yang paling menarik, ada sekitar 50 orang lebih orang Indonesia disini. PPI Ishikawa emang TOP banget 🙂

Nah, sekedar share tentang pengalaman saya juga ya. Ini murni pendapat pribadi. Jadi jangan terpengaruh banget ya.

Saya sempet mengisi winter vacation saya di Tokyo selama seminggu. Di sana yang saya rasakan adalah: kehidupan manusianya terlihat stressful. Di mana-mana, baik di jalan, di kereta, di toko, orang-orangnya terlihat memikirkan banyak hal. Jidatnya mengkerut. Seperti lagi mikirin, “Aduh, besok saya dan keluarga makan apa ya?” atau “Uang bayaran apaato belum ada, saya harus ngapain ya?”

Ternyata ya begitulah. Kehidupan di Tokyo emang cukup berat. Klo kata orang jepang, “Taihen“. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa kasus bunuh diri di Tokyo itu udah biasa. Waktu itu saya sempet nanya ke temen saya yang sedang exchange di TIT.

Saya: “Da, kalo di Tokyo, densha (read: kereta) nya pernah delay nggak?”

Riedha: “Oh pernah, Shab. Sering malah.”

Saya: “Oh iya? Katanya kebanyakan karena gempa atau angin kenceng gitu ya?”

Riedha: “Itu iya juga sih, Shab. Tapi yang paling sering.. emm, tau nggak karena apa?”

Saya: “Eh, apa da?”

Riedha: “Haha, bunuh diri, Shab.”

Saya: Glek *telenludah* “Serius, da?”

Riedha: “Iya Shab. Jadi disini tuh bunuh diri udah biasa. Bahkan orang2 bukannya kasian malah kesel sama yang bunuh diri. Bikin susah orang. Bikin delay.”

Saya: “Wow serem juga ya.”

Nah, begitulah. Emang agak kontras kehidupan Tokyo dan Kanazawa. yang saya lihat dan rasakan, di Kanazawakehidupan orang-orangnya tenang dan damai. Orang2nya baik2 dan masih bisa dipercaya. Kalau di Tokyo, kata okaasan saya, “Kiotsukete ne. In Tokyo, you should beware with someone who cares about you.” Wow, sampe segitunya okaasan saya khawatir. Sampai saya ditelpon berkali2 waktu saya pergi ke Tokyo sendirian.

Tapi Tokyo emang the best banget buat jalan2 XD banyak yang bisa dieksplor dari Tokyo. Apalagi Odaiba! Ah, fix banget saya paling suka Odaiba 😀

Kesimpulan yang saya dapatkan dari perjalanan saya ke Tokyo adalah: Tokyo paling enak buat jalan2 aja, bukan buat tempat untuk stay dalam jangka waktu yang cukup lama.

Ini murni pendapat saya aja ya 🙂

Nah, mungkin segitu dulu aja ya pemaparan saya mengenai Mengapa harus Kanazawa University. Nanti kalo makin panjang, pasti makin males bacanya ya, hehe. Nah, jadi kalo jawabannya dipersingkat, kurang lebih adalah: karena Allahlah yang paling tahu tentang yang terbaik buat saya 🙂

 

Kanazawa, Japan

19 January 2014

DSCN1093

Advertisements

11 thoughts on “Mengapa harus Kanazawa University?

  1. assalamu alaikum kak shab, bagus banget deh ceriitanya, aku suka banget. semakin bertambah informasi yg aku dpat tentang kanazawa university. aku juga pngen ksna. hmm ad bnyak hal yg aku mau tnyain k kak shab, aku udah ambil alamat emailnya, mohon responnya yah kak shab cantik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s