Korelasi Kausal


Postingan ini saya tulis secara khusus sebagai pengingat bagi diri saya sendiri tentang pentingnya sebuah amalan. Amalan yang sampai saat ini cukup berdampak pada aktivitas harian saya.

Dulu, saat saya masih di boarding school, saya sangat menikmati amalan ini. Tapi rasanya, semakin lama, kenikmatan untuk menjalankannya semakin terkikis. Tentu bukan karena amalannya yang salah, tapi karena something wrong with myself, exactly.

Mungkin kamu pernah mengikuti sebuah kegiatan yang diisi oleh beberapa pembicara. Di antara mereka, ada yang setiap perkataan dan nasihat-nasihatnya, bisa sangat menyentuh. Pun dengan tutur kata dan cara berbicaranya menunjukkan ketenangan.

Jujur saja, saya seringkali merasakan hal ini. Ketika seorang teteh, atau akang mengisi sebuah acara, kemudian kedudukan saya adalah sebagai pendengar. Saya merasa tersentuh dengan perkataannya. Jika sebuah motivasi, maka tergerak untuk bangkit. Jika sebuah teori, maka tergerak untuk mengaplikasikan. 

Ya, ternyata ada korelasi kausal antara sebuah amalan unggulan dengan efek nyatanya dalam kehidupan. Ini menarik. Korelasi ini Allah sampaikan melalui firman-Nya dalam surat Al-Muzzammil ayat 1-8.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), ( yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. Al-Muzzammil (73): 1-8)

Disini, melalui firman-Nya, Allah menyampaikan bahwa bangun di sepertiga malam, kemudian melakukan shalat lail, lalu membaca Alquran dengan perlahan, yaitu dengan memaknai kandungannya, maka Allah akan menurunkan Qawlan Tsaqiila kepadanya.

Apa itu Qawlan Tsaqiila?

Yaitu, ketika kamu sedang berbicara, kemudian kamu merasa tenang dan tenteram terhadap apa yang kamu tuturkan.

Mungkin kamu pernah merasakan hal ini. Suatu saat, kamu diundang sebagai pembicara di sebuah acara penyambutan mahasiswa baru adik2 tingkatmu. Pada saat kamu menyampaikan materi, kamu merasa bahwa sepertinya perkataan itu mengalir begitu saja dengan lembutnya. Perkataan-perkataan itu benar-benar tulus dari hati dan memang mendefinisikan keinginanmu untuk mengajak pada kebaikan. Ide-ide untuk menyampaikan konten materi keluar begitu saja, muncul dari otak, kemudian menyatu dengan keinginan tulus hati, dan terseret keluar bersama gelombang-gelombang suara. Pada saat itu, kamu merasa masuk dalam cerita-ceritamu atau analogi yang kamu sampaikan. Rasanya seperti ada yang menggerakkan mulut. Itulah Qawlan Tsaqiila.

Setelah selesai acara, beberapa peserta mungkin saja ada yang menghampirimu, lalu duduk manis di hadapanmu, kemudian berkata,

“Wah kakak, keren ya. Aku ingin belajar dari kakak. Aku juga ingin menjadi muslim (ah) yang prestatif.”

“Kak, aku juga ingin berkarya dengan caraku yang tentunya Allah suka.”

Pada saat itu, tak ada yang bisa mendefinisikan perasaanmu, termasuk dirimu sendiri. Hanya syukur yang terucap terus karena kesempatan menyampaikan kebaikan itu jatuh pada dirimu. Itulah Qawlan Tsaqiila.

Mungkin, kamu juga pernah merasakan hal ini. Ketika kamu menyiapkan tugas presentasi penting dari dosen. Saat itu kekhawatiran memuncak, tapi kemudian kamu kembalikan pada Allah di sepertiga malammu. Lalu rasanya saat itu kebersamaanmu dengan Allah tiada yang bisa menandingi. Keesokan harinya, saat datang waktu yang penting itu, semua mengalir dengan indahnya. Kamu bisa mendeskripsikan semuanya. Rasanya tenang! Semuanya clear. Kamu paham, dosenmu terlihat bersemangat terhadap apa yang kamu sampaikan, audiens terkesima, dan rasanya seluruh penghuni langit dan bumi mendukungmu. Karena pemaparanmu berasal dari-Nya langsung. Allah membuat berat perkataanmu, sehingga seluruh penghuni langit dan bumi tertuju padamu.

Saya rasa, itu Qawlan tsaqiila.

Atau, mungkin saja kamu pernah merasakan hal ini. Saat kamu mengisi agenda pekanan, kemudian adik-adik binaanmu tergerak untuk mengaplikasikan materi menjadi amalan-amalan nyata. Kamu berhasil mentransfer semangatmu kepada mereka. Kamu berhasil menggemakan azzam dan menggaungkan pahala. Maka pada saat itu, cobalah tengok ke belakang. Jika di sepertiga malam sebelum hari itu kamu menikmati kebersamaanmu dengan Allah, saya rasa itu korelasi kausal yang kau buat atas izin-Nya. Qawlan Tsaqiila.

Maka, apalagi yang kau ragukan?

Korelasi kausal itu ya harus kau buat. Karena tidak akan ada “sama dengan” tanpa “tambah”, “kurang”, “kali”, atau “bagi”!

.: Note for myself :.

Advertisements

5 thoughts on “Korelasi Kausal

    1. Iya sama2 jek 😀 saling mengingatkan dalam kebaikan yaa. Tulisan ini bener2 sbg pengingat buat diri ane sendiri jek >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s