Kurva Keta’atan


tidak bisa dipungkiri memang, hidup di negeri dengan penduduk minoritas muslim dalam jangka waktu yang cukup lama itu memang berat. mau beli makanan di supermarket, harus ngecek komposisinya, browsing sana sini, bahkan perlu nelpon ke produsennya untuk memastikan bahwa produk mereka tidak mengandung bahan yang berasal dari babi, sake, alkohol, dan segala sesuatu yang haram. karena saya di jepang, nambahlah satu pe-er saya: harus temenan dengan berbagai kanji bahan makanan karena hampir semuanya ditulis dalam kanji. kalau tidak bisa membaca kanji, bagaimana bisa tau itu terbuat dari apa. berat memang, tapi menyenangkan.

belum lagi tentang transportasi. kereta, atau kalo di jepang, kita menyebutnya densha. hampir semua petunjuk yang ada di stasiun dan di dalam kereta, dituliskan dalam kanji. tapi untungnya orang jepang masih menghargai si Byrhtferth (saya nggak tau gimana bacanya), ilmuan (yang katanya) berhasil menemukan huruf alphabet yang kita gunakan sampai saat ini. karena mereka masih menuliskan romaji di bawah tulisan kanjinya, ini cukup membantu. walaupun line kereta di jepang, terutama Tokyo, ribetnya bikin pengen nangis.

saya bersyukur, 4 bulan saya belajar bahasa jepang dan mengkaji kanji (saya bilang mengkaji karena kanji bukan hanya tentang menulis dan membaca, tapi juga tentang memaknai *apasihshab), belajar budaya dan pendidikan jepang, interaksi dengan teman2 satu lab dalam bahasa jepang, benar-benar cukup mengakselerasi saya untuk menguasai bahasanya. kalau kata sensei saya, alhamdulillah saya termasuk yang cukup cepat mempelajari bahasa jepang. (nah loh, jangan2 karena kebanyakan nonton anime dan drama, haha)

saya bisa bilang, kemampuan bahasa jepang saya saat ini sudah cukup bisa diandalkan untuk survive di negeri sakura ini. yaaah, ini semua tentunya karena saya “bekerja keras” untuk bisa menguasai bahasanya. karena faktor suka bahasanya juga sih.

saya senang, beberapa teman seperjuangan saya di AA class, atau kami biasa menyebutnya shinkansen class (kenapa shinkansen? karena kelas percepatan), ada yang kemampuannya sama dengan saya, belum jago2 banget, tapi bisa percakapan sehari-hari dan paham. tenang saja, gini2 saya masih menggunakan english sebagai bahasa komunikasi utama, walaupun temen saya ada yang bilang, “shab, ini jepang, ngomongnya pake bahasa jepang dong.” *haha mas, pengennya gitu, tapi saya belum jago -_-*

tapi ada aja teman satu kelas saya yang bahkan komunikasi dalam bahasa inggris itu sulit. mereka lebih suka berkomunikasi dalam bahasa jepang. nah ini dia ribetnya. kadang, kalo lagi kumpul2, saya suka jadi translator otomatis. harus bisa mentranslate dari english ke japanese, dan sebaliknya. kadang kalau lagi ngegossip bareng yang jago bahasa inggrisnya, tiba2 temen “yang lebih jago ngomong pake bahasa jepang” manggil, terus nanya sesuatu atau apalah, saya otomatis jawab pake bahasa inggris waktu itu. tapi kemudian saya menyadari kalau dia nggak bisa bahasa inggris dan saya harus menceritakan ulang dari awal dalam bahasa jepang. oh, kebayang nggak sih ribetnya? mana saya belum bisa istilah-istilah bahasa jepang tingkat tinggi -_-

oke, sebenernya yang ingin ceritakan bukan tentang kanji atau belibetnya komunikasi. *fokus, shab* tapi tentang sesuatu yang saya rasakan beberapa hari terakhir. sesuatu yang sempat membuat saya merenung cukup lama. *apa sih shab, mendramatisir banget deh*

4 bulan saya di sini, saya menyadari suatu hal, bahwa ternyata benar, probabilitas keimanan menurun bagi orang yang tinggal di negeri dengan penduduk minoritas muslim itu lebih besar, sesholih atau sholihah apapun orang tersebut.

pada awalnya, saya memungkiri. “aaaah, nggak kok, insya Allah. sama aja godaannya. semuanya kan tergantung sama kitanya aja gimana menjaga pergaulan. selama kita menjaga hubungan baik dengan Allah, insya Allah kita akan terjaga dari hal-hal negatif.”

tapi ternyata, realita memang tak semudah teori. lebih tepatnya, merealisasikan lebih sulit dari pada sekedar berbicara.

saya teringat firman Allah dalam surat Al Kahfi ayat 28,

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru kepada Tuhannya di waktu pagi dan petang hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang yang telah Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaan mereka itu melampaui batas.”

di dalam ayat tersebut, Allah menitikberatkan pentingnya menjaga hubungan persahabatan dengan orang-orang sholih. yaitu pada pernyataan “Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru kepada Tuhannya di waktu pagi dan petang hari dengan mengharap keridhoan-Nya…” Dalam potongan ayat tersebut, Rasulullah dan setiap orang yang beriman, diminta untuk senantiasa bersabar di atas jalan kebenaran bersama-sama. Di ayat tersebut, Ia mengingatkan kita untuk selalu mendekat dan berkumpul bersama orang-orang sholih, yakni mereka yang senantiasa mengingat Allah.

disinilah poinnya. mengapa Allah menitik beratkan hal ini? sampai kemudian Ia mengatakan “..Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang yang telah Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaan mereka itu melampaui batas..

jawabannya adalah.. karena memang, kedekatan dengan orang-orang sholih, dapat menurunkan angka probabilitas turunnya keimanan seseorang. *haha bingung ya. coba diresapi dulu*

ah iya kah? oh iya tentu saja! menjaga hubungan dengan orang2 sholih seperti memiliki alarm otomatis yang siap berbunyi ketika kita hendak mendekati keburukan/dosa. karena setiap tindak tanduk yang dilakukan orang-orang sholih insya Allah dapat menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa berada dalam aktivitas kebaikan, dan dijauhkan dari segala bentuk keburukan.

lalu ketika berjauhan dengan mereka, jauh, dan kemudian semakin menjauh.. hati-hati, mungkin saja kita bisa tak sadar, kemudian terlelap, tertidur dan tak terbangun, meski hujan dan badai menerpa. *haha lebay*

ya benar. hati-hati, karena alarm nya sudah tak berbunyi lagi.

aaah..sejatinya, yang saya rasakan saat ini adalah: kerinduan saya yang memuncak pada saudara-saudara seperjuangan saya di Indonesia. kerinduan berkumpul, saling berbagi dan bercerita tentang aktivitas kebaikan, tentang benih-benih pahala yang kita tabur, tentang peluang bermunculannya ladang-ladang produktif yang lain. saya rindu. rindu serindu-rindunya T_T

sejatinya, saya menganalogikan kami sebagai sekumpulan petani yang mempunyai misi besar untuk menebar benih kebaikan sebanyak-banyaknya, demi kemaslahatan banyak orang. setiap dari kami, memiliki ladangnya masing-masing. besar-kecilnya, susah-gampang pengelolaannya, semua bergantung kapasitas kita masing-masing. semua sudah ditetapkan-Nya. tetapi yaaa, semakin tinggi ilmunya tentang perladangan, maka semakin luas dan semakin sulit pengelolaannya.

setiap dari kami, punya misi-misi khusus yang menjadi breakdown dari misi besar kami. ada indikator dan nilai ketercapaian dari produk ladangnya masing-masing. dan kami, para petani-petani itu, selalu menyempatkan diri untuk kongkow2, berkumpul, “nge-teh/ngopi” bersama, kemudian berbagi cerita tentang perkembangan ladangnya. jika ada masalah yang muncul, seperti pengairan, pemilihan benih/bibit, pengomposan, dan lain sebagainya, kami akan saling memberi saran dan solusi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. kami juga tidak lupa untuk terus mengevaluasi aktivitas harian perladangan, memperbaiki apa yang salah, mempertahankan dan terus mengembangkan apa yang baik.

setiap dari kami, wajib merekrut petani baru. tujuannya untuk regenerasi dan perluasan ladang. tapi tentu saja, ada tahapan-tahapan untuk bisa menjadi petani yang handal. maka kami juga memberi training untuk calon petani-petani baru itu. setiap dari kami tentunya mempunyai metode yang berbeda-beda. di sinilah kami juga saling berbagi. tentang kesulitan apa saja yang ditemukan saat memberikan training, saling bertukar ide mengenai metode yang tepat, dan sebagainya, sehingga kami dapat melahirkan petani-petani baru yang handal.

jika telah lahir petani-petani baru yang handal itu, kami akan bersama2 membuat “pesta” sebagai tanda rasa syukur kami, karena telah lahir orang-orang yang siap menebar kebaikan bersama-sama.

lalu, dalam menjalankan aktivitas perladangan, sama seperti daun pada pepohonan ketika diterpa angin kencang. ada yang kuat berpegangan pada rantingnya, ada pula yang tidak. ada diantaranya yang berguguran. saat kesulitan melanda, seperti krisis benih atau pengairan yang bermasalah, ada saja yang memilih berhenti dari aktivitas bertani. tetapi kami berusaha terus untuk mensupportnya, memberikan harapan2 masa depan tentang keuntungan apa yang akan kita dapatkan kelak.

kemudian, ada saja waktu untuk bersama-sama mengembalikan semangat bertani yang mulai hilang. ada saja waktu dimana kami saling memberi saran dan kritik untuk perbaikan kualitas dan kuantitas produk dari ladang kami. ada saja waktu dimana kami bisa saling bercerita, berbagi, dan meluapkan semua kesulitan. jika ada yang terlilit hutang, bermasalah dalam pengelolaan, semua saling mengingatkan. kami seperti persatuan petani yang berkolaborasi untuk mewujudkan mimpi2 kami menebar kebaikan pada banyak orang. *ah,lebay shab* #tapiserius

berada di antara mereka, seperti melebarkan jalan menuju surga. berada di antara mereka, seperti melihat cahaya Allah yang semakin dekat.

saya teringat kembali dengan hadist Rasululah, yang mungkin sudah tidak asing lagi didengar.

“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim)

juga hadist lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Daud.

“Rasulullah bersabda: “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”“. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah)

dan perkataan Imam Al Ghozali,

Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42)

ya,  persahabatan dengan orang2 yang sholih itu sangat penting. mengurangi titik2 balik minimum kurva keta’atan, memperbesar nilai gradien intensitas penghambaan menuju titik maksimum nilai ketaqwaan. tak perlu lah fokus pada titik (x,y) berapakah saya dan dia berada, yang penting adalah menjadikan ∆y setinggi-tingginya nilai, dan ∆x mencapai titik nol. agar gradien yang dihasilkan membentuk kurva keta’atan yang infinitif.. *ngaco*

pun saya menyadari, itulah juga mengapa, konsep menikah dalam Islam tidak hanya sebatas mencintai-dicintai. tetapi juga adanya back up keimanan dan ketaqwaan terhadap orang yang kita cintai. agar kurva percepatan itu semakin besar gradiennya, sampai y mencapai setinggi-tingginya nilai, dan x mencapai 0, sehingga ujungnya adalah kebahagiaan yang tak terdefinisi, surganya Allah. sejatinya, itu yang kamu inginkan kan?

ah teman2, saya rindu kalian. bagaimanapun, saya rindu dengan kalian. rindu bercengkrama, rindu shalat berjama’ah, rindu membaca alma’tsurat bersama di ruang tengah, rindu muraja’ah hafalan sepulang kuliah, dan berbagai aktivitas rahasia kita.

saya rindu kalian. saya rindu mengukir kurva itu bersama kalian. menentukan variable dan konstantanya, membentuk sebuah persamaan. membuatnya menjadi kurva istimewa yang tak akan pernah putus. kurva keta’atan..

 

Kanazawa, Japan

In the end of January 2014

Advertisements

4 thoughts on “Kurva Keta’atan

  1. assalamu’alikum,…ijinkan sy mengikuti catatan perjalanan ini..bagi sy sungguh menggugah seorang muslimat berada di negeri orang tp bisa mewarnai…dan tidak diwarnai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s