Februari itu, special :)


Februari itu spesial.

Bagi saya, februari selalu istimewa.

Di bulan ini, sesosok laki-laki yang darinya saya mengambil banyak inspirasi, terlahir ke dunia. Tahun ini, ia memasuki usianya yang ke-45. Berbagai kisah kehidupan telah diukir olehnya, dan telah menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk saya.

Hari ini, tepatnya 18 Februari, adalah hari ulang tahunnya, sesosok laki-laki yang banyak mempengaruhi kehidupan saya sampai saat ini. Sesosok laki-laki terdekat yang paling saya cintai sampai detik ini.

Abi, begitu saya biasa memanggilnya. Laki-laki hebat itu, telah berhasil membuat saya selalu melihat masa depan. Ia pemimpi, juga mengetahui setiap step untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Abi, tentu bukan berasal dari keluarga yang serba ada, yang kata orang, keluarga mapan. Tapi jauh dari itu semua. Rumah kecil, berpenghuni 7 orang, dengan pekerjaan ayahnya (kakek saya) yang banyak, tapi panggilan. Mengantar batubata, mengurus sawah di ladang, dan lain sebagainya. Ia harus membantu kakek saya bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Karenanya, ia tak punya banyak waktu untuk belajar. Ketika ada kesempatan belajar, ia akan manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Tidak akan melewatkannya begitu saja.

Abi pernah bercerita. Kehidupan masa kecilnya tak seindah kami, yang ketika menginginkan barang kesukaan, tinggal membujuk orang tua untuk dibelikan. Pun dengan nikmatnya bersekolah, yang padahal hak bagi setiap anak bangsa. Abi bilang, ia tak punya buku. Modalnya hanya meminjam dari teman sekelasnya. Jika musim ujian tiba, ia akan meminjam dari jauh-jauh hari untuk kemudian menghafalnya sampai mengelotok di otak. Jadi, saat malam keesokannya ujian, ia mengingat-ingat kembali apa yang telah dihafalnya.

Itulah kenapa abi sering memprotes kami yang belajar hingga larut malam sampai lupa istirahat. “Kenapa besok ujian bukannya istirahat? Kan itu semua udah pernah dipelajarin di kelas, seharusnya tinggal review.”

Abi, ia istimewa karena kecerdasannya. Logika berfikirnya keren. Bahkan saya pernah ‘garuk-garuk kepala’ karena soal fisika yang saya kerjakan berjam-jam dan nggak ketemu hasilnya, bisa diselesaikan olehnya hanya dalam beberapa detik.

Kecerdasannya pula yang mengantarkan ia untuk melanjutkan sekolah di STAN, Jakarta. Melanjutkan sekolah di STAN? Mungkin bisa dikatakan bukan impiannya. Ini lebih karena tuntutan dan tanggung jawab keluarga. Ia anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak pertamanya, kuli bangunan yang hanya dipanggil sewaktu-waktu kalau butuh. Kakak keduanya, perempuan, yang sengaja putus sekolah hanya sampai SD demi kelanjutan sekolah adik-adiknya. Dua tahun lalu, beliau diambil oleh Allah karena penyakit stroke. Luar biasanya, waktu meninggalnya beliau bertepatan dengan hadirnya hampir seluruh keluarga besar di jawa, beberapa hari setelah ‘Idul fitri. Saya ingat malam sebelum bude meninggal. Abi menelpon sahabatnya yang merupakan dokter spesialis di Indonesia. Dokter bilang, bude tidak ada harapan lagi untuk hidup, karena saat itu bude hidup karena bantuan alat saja. Saya yang mendapat cerita abi menangis di telpon, tidak bisa membayangkan betapa sedihnya abi saat itu.

Abi, ia istimewa karena ketegarannya. Ia selalu terlihat tegar. Jiwanya lapang. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun. Keluhnya, mungkin hanya Allah yang tahu. Saya kerap kali memergoki abi bangun tengah malam untuk sholat lail di ruang tengah.  Itu amalan unggulannya.

Melanjutkan cerita tentang keluarganya. Adiknya dua, perempuan semua. Saya memanggil mereka ‘Amah’. Abi berhasil ‘mencelupkan’ kedua amah saya ini. Sosok kakak yang sangat mengayomi adik-adiknya.

Saya akui, keluarga abi, adalah keluarga yang cerdas. Pakde saya, kuli bangunan yang sangat bisa diandalkan. Rumah saya saat ini, beliau yang berperan sebagai kontraktornya. Almarhumah bude saya, meski hanya lulusan SD, tapi beliau sangat cerdas dalam manajemen rumah tangga. Ia bisa menghandle berbagai pekerjaan rumah tangga dalam satu waktu. Setiap kami mudik ke jawa, kami selalu dibuatkan berbagai masakan khas sana. Ia jago memasak. Amah-amah saya, bisa dibilang amah-amah gaul. Saya paling senang ngobrol sama mereka tentang masa depan. Mereka punya kontribusi nyata dalam pendidikan anak-anak. Saya akui, mereka hebat.

Tentang pendidikan, Abi melanjutkan studi S1 nya di STAN. Ini semua karena tuntutan keluarganya. Awalnya, melalui seleksi perguruan tinggi nasional, atau sekarang kita menyebutnya SMBPTN, abi diterima di jurusan mesin universitas diponegoro. Itu cita-citanya yang sebenarnya. Karena kecerdasannya dalam ilmu fisika, ia selalu mendapati peringkat pertama di kelasnya, bersaing dengan teman-temannya di kelas lain untuk memperebutkan juara umum. Namun ia tak seberuntung mereka yang meraih cita-cita yang diinginkannya sejak awal. Karena tak punya uang, abi harus berjuang menembus tes sekolah yang biaya pendidikannya ditanggung negara. Meski padahal sudah memilih universitas yang dekat dengan rumah, ia tak sanggup melanjutkan di sana.

Akhirnya, dengan bekal uang secukupnya, ia merantau ke jakarta untuk menjemput masa depan. Mengikuti ujian masuk STAN bersama sahabatnya. Menaiki bus dengan harga paling murah, menumpang di rumah orang, meminjam baju, dan tentunya meminjam uang untuk hidup di jakarta beberapa hari. Subhanallah, Allah menunjukkan jalan. Ia diterima dan bisa melanjutkan sekolah di sana. Di sana pulalah ia mulai mengenal tarbiyah. Tarbiyah yang mengantar dirinya menjadi pribadi yang luar biasa sampai saat ini.

Setelah abi wisuda D3 nya, ia dipertemukan dengan ummi oleh guru ngajinya. Proses yang sangat indah. Bahkan, pada saat abi berkunjung ke rumah ummi sendirian dengan hanya berbekal buah-buahan, ummi sedang mengisi ‘lingkaran’ di kota lain. Pernikahan sederhana yang jauh dari kata megah. Bahkan kamar pengantin pun hanya berisi kasur tua yang sudah hampir rapuh.

Setahun menikah, saya terlahir ke dunia. Mulai saat itu, sayalah bukti kerja keras dan perjuangannya. Sayalah hasil konkret ikhtiar dan doa-doanya. Sayalah catatan sejarah yang ia buat bersama ummi.

Setelah abi lulus D3 STAN, abi langsung ditempatkan untuk bekerja di kantor perpajakan di jakarta. Namun, disebabkan rasa takutnya pada Allah karena kondisi lingkungan kerjanya, ia resign bersama empat orang sahabat dekatnya untuk merintis perusahaan baru. Abi bilang, “Ini juga semata-mata untuk bisa berpenghasilan lebih banyak, Abi cemburu dengan mereka yang punya banyak uang, sehingga bisa berinfaq lebih banyak untuk da’wah.”

Akhirnya, meskipun resign dari pekerjaannya dikenakan denda sekitar 50 juta rupiah, ia tetap bersikeras dan optimis bahwa ada jalan bagi mereka yang setiap aktivitasnya di-drive oleh hal-hal yang baik.

Maka dengan modal hp butut dan jelek, abi dan teman-temannya mulai membangun network. Menjadi pembicara di sana-sini, mulai dipercaya menghandle kasus perpajakan di beberapa perusahaan. Lalu akhirnya, mereka bisa memiliki kantor sementara, meski hanya di sebuah mobil butut. Dari sana, mulailah bisa mengontrak rumah sederhana. Kemudian, karyawannya pun semakin banyak. Ia dan teman-temannya berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Sampai akhirnya, ia bisa menyewa gedung PP Plaza di kawasan Jakarta Timur. Sampai kemudian, di tahun 2013 kemarin, PT Multi Utama Consultindo memiliki gedungnya sendiri, dengan nama MUC building, yang berlokasi di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

MUC_Gedung-newMUC building, source: (http://bellacitra.blogspot.jp)

Berikut ini website terbarunya yang bisa dikunjungi 🙂 http://www.mucglobal.com/home

dan ini profil Abi saya 🙂 http://www.mucglobal.com/consultant/detail/8

Yang membuat saya amaze adalah, abi dan teman-temannya ini berhasil merintis perusahaan dengan nilai religi yang cukup kental. Mana ada perusahaan accounting layer II (saya juga nggak ngerti istilah ini), yang di mushala nya ada kajian dhuha setiap hari? Beberapa kali saya berkunjung ke kantor Abi, saya mendapati karyawan-karyawannya sholat dhuha di mushola. Dan yang lebih kerennya, setiap tahun, selau ada acara ifthar bersama kantor abi yang mengundang seluruh karyawan baik yang muslim atau non muslim. Rasanya seperti sudah terbangun rasa toleransi yang tinggi.

Adalah suatu keberuntungan bagi saya memiliki ayah seperti beliau. Jika ditanya, “siapa orang terdekat yang paling menginspirasi kamu?” maka dengan yakin saya akan menjawab, “Abi.”

Saya rasa, abi dan ummi adalah perfect match. Saya adalah penggabungan dari karakter mereka.

Ummi saya, orang yang sangat lembut dan penyayang. Perasaannya lebih dominan. Ia dekat dengan masyarakat. Binaannya, mulai dari anak-anak TK sampai nenek-nenek. Kalau Ramadhan, kami selalu berebut hari untuk ifthar jama’i di rumah, karena semua acara buka puasa dari mulai kelompok ngaji anak-anak sampai nenek-nenek ada semua. Makanya kalau saya diminta kesediaannya sama teman SMA saya untuk ngadain buka puasa di rumah, saya harus diskusi sama ummi kapan waktu yang tepat.

Ummi dan Abi, benar-benar perfect match. Abi hebat karena didukung ummi yang luar biasa. Ummi bisa terus berkarya karena abi, sebagai suami bisa mengembangkan potensi istrinya dengan sangat bijak.

Ummi pernah berkata pada saya, “Biasanya, kelahiran november itu cocok banget sama kelahiran februari. Ikhwan bulan februari itu pekerja keras dan visioner. Akhwat bulan november itu mandiri, penyayang, bersahabat, pintar bergaul.” Saya hanya bergumam, “Hmm gitu ya mi,” Sambil senyum-senyum. Saya kelahiran November sih ya hehe, makanya saya mulai berfikir aneh2 waktu itu. *astaghfirullah, jodoh di tangan Allah, shab*

Oiya, sejatinya, kalau secara umur, ummi lebih tua beberapa bulan dari abi. Ummi kelahiran November 1968, sedangkan Abi kelahiran Februari 1969. Tapi, sewaktu mau masuk SD, entah gimana ceritanya, tahun kelahiran abi diganti jadi 1968.

Ada orang yang bilang, anak perempuan itu, kalau ditanya ingin sosok pendamping seperti apa, biasanya mereka melakukan pendekatan ke ayahnya. Artinya, nggak akan jauh-jauh dari karakter ayahnya. Benarkah? Jika ya, maka mari bertanya pada diri kita sendiri, sudah sejauh apakah kita mengenal sosok ayah kita yang telah menjadi inspirasi bagi kita sampai saat ini? 🙂

Begitulah sepotong episode kehidupan Abi yang sangat menginspirasi saya. Masih banyak cerita-cerita inspiratif lainnya yang insya Allah akan saya share di lain waktu.

Intinya, februari itu spesial 🙂

Selain karena ada hari milad abi, juga karena ada hari milad adik saya yang bungsu, Hasna Nur Aisyah. Insya Allah saya cerita di postingan selanjutnya ya (^_^)

Baarakallahu fiikum Abi dan dek Hasna.. (^^)

IMG-20120218-00767Milad abi tahun 2012,  sehari setelah kelahiran Dek Hasna

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s