A year in Japan: It’s a long story, indeed.


Melalui postingan ini, saya hendak bercerita tentang kisah perjalanan hidup saya selama setahun di Negeri Sakura. Namun kali ini saya hanya menekankan pada bagaimana saya mengisi hari-hari dengan beberapa host family saya di Jepang. Mereka memberi perhatian berlebih, menaungi, merangkul, bahkan sangat menjaga saya selama saya di Jepang. Salah satunya adalah keluarga kecil di Toyokawa yang statusnya sebetulnya host family, tapi kehadiran mereka layaknya seperti keluarga saya sendiri. Kebaikan-kebaikan dari keluarga kecil ini yang diberikan pada saya memang benar-benar tidak terhitung dan sulit didefinisikan. Keluarga kecil ini sejatinya belum sampai menjadi keluarga muslim, tetapi baru sampai pada tahap interest dengan segala hal tentang Islam. Bagi mereka, inklusivitas dari eksklusivitas Islamlah yang membuat Islam begitu istimewa. Nilai-nilai yang dibawa oleh Islam adalah nilai yang dekat dengan kehidupan. Saya jadi ingat, setiap kali saya berkunjung ke rumah host family saya di Toyokawa ini, saya tidak pernah lepas dari bercerita tentang keistimewaan Islam. Selalu saja ada hal yang bisa kita diskusikan. Baik saat lunch, dinner, atau bahkan saat hendak beranjak tidur, ada saja yang dibahas dan diceritakan. Saya selalu merasa semakin mencintai Islam saat saya menceritakan mereka tentang indahnya Islam. Ah ya Allah, saya sangaat berharap Allah mengkaruniai mereka hidayah-Nya, dan memberi kesempatan pada mereka untuk memeluk Islam sebelum kembali menghadap Sang Khaliq.

So, how this story begins?

Kisah ini bermula ketika enam orang mahasiswa berprestasi terbaik ITB tahun 2013 yang diberi kesempatan untuk menjadi delegasi annual event kerja sama Toyohashi University of Technology dan Institut Teknologi Bandung, yaitu di acara International Student Seminar 2013 (http://www.tut.ac.jp/english/news/201311/3166.html). Acara ini diadakan setiap tahun dengan tema yang berbeda dan di venue yang berbeda pula. Untuk tahun 2013 ini, tema yang diangkat adalah “Role of Engineers in Solving Environmental Problems“, tema yang sangat saya banget (?) sebagai environmental microbiologist 🙂 Dan di tahun ini, acara berlokasi di TUT yang terletak di Toyohashi, Aichi Perfecture, Japan. Selain itu, keistimewaannya juga, untuk tahun 2013 ini tidak hanya dua universitas saja yang menghadiri acara ini, tetapi juga dua universitas lainnya, yakni Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan Ho Chi Minh City University of Technology (HCMUT) Vietnam. Alhamdulillah, dikarenakan ini hadiah dari ITB, semuanya full-funded by JASSO Scholarship dan Lembaga Kemahasiswaan ITB.

1236326_10201944869124870_380664128_n

Gambar 1. Foto bersama ISS 2013 (Toyohashi, Japan)

Sebenarnya, sebelumnya saya pernah mengikuti kegiatan yang sama di tahun 2012 lalu. Namun di tahun 2012 tersebut, kegiatannya bertempat di ITB, yang mengangkat tema “Engaging Community Entrepreneurship Development” (http://iues2012.wordpress.com/), dan saat itu hanya kerja sama TUT dan ITB saja. Di tahun 2012 ini bisa dikatakan kecelakaan karena sebetulnya saya didorong oleh senior untuk ikut acara ini karena aktivitas saya yang berkorelasi dengan tema yang diangkat. Jadilah saya mengejar deadline paper yang selesai dalam waktu empat jam saja -_- haha baiklah, saya selalu begini memang.

528577_4478621051014_1312297961_n

Gambar 2. Foto bersama IUES 2012 (Bandung, Indonesia)

Nah, disebabkan karena acara IUES 2012 inilah saya mendapatkan impresi positif terhadap orang jepang yang ramah dan open mind. Mereka juga memiliki rasa toleransi yang tinggi dalam menyambut hal-hal baru. Lewat acara ini, saya memiliki kesempatan untuk extending network, cultural exchange, widening horizon, dan tentunya saya menjadi semakin semangat untuk menginjakkan kaki di tanah Sakura di kemudian hari. Benar-benar kesempatan yang sangat jarang didapatkan, apalagi mengingat saya adalah mahasiswi di jurusan yang academic-oriented dan full laboratory experiment. Poin ini cukup saya tekankan, karena bisa dikatakan bahwa saya termasuk yang super anti-mainstream di angkatan saya, 2010. Hahaha.

Dikarenakan saya sudah punya kenalan dan sahabat baru dari TUT, ketika saya diinfokan oleh Pak Sandro (kami menyebutnya bapak wali mapres), bahwa peserta jepang IUES 2012 menjadi panitia acara ISS 2013, saya langsung seneng banget! Kebayang nggak sih? Waktu itu saya pernah membuat janji dengan Kyoko, salah satu sahabat saya dari TUT, kalau tahun depan (tahun 2013), saya ingin berkunjung ke jepang, no matter what happens! *pede banget sih gue*  Dan ternyata luar biasa banget memang rencana Allah, mengizinkan saya menghirup udara summer-nya Jepang. Mungkin pada saat itu ada malaikat yang ikut mendoakan perkataan refleks saya. Hihi

Setelah mendapatkan kabar bahwa kami berenam sudah fixed berangkat, dan semua perlengkapan keberangkatan seperti flight itinerary, visa, dan lainnya telah selesai diurus, saya langsung menghubungi teman2 saya di Jepang, seperti Kyoko, Daiki, Seiya, Ito, dan Nezuchi. Rasanya udah nggak karuan banget pas tahu mereka menjadi panitia (sekaligus peserta -_-) acara. Acara ini sudah seperti ajang reuni IUES 2012 saja, hanya saja tempatnya yang berbeda. Datang ke Toyohashi, kemudian kita bisa meet up lagi, dan seru-seruan bareng. Super banget! :3 *saking kangennya sama Kyoko, kita sampai saling hug di hari H!

Aduh, ini kok jadi panjang lebar ceritanya (-_-) kebiasaan banget suka nggak fokus kalo cerita satu topik, pasti menjalar kemana-mana.

Oke, jadi ceritanya begini. Salah satu rangkaian kegiatan event ini adalah 3 days homestay. Jadi, kami, para delegates ini mendapatkan kesempatan untuk bisa merasakan hidup bersama masyarakat lokal jepang. Tujuannya agar kami bisa melihat lebih dekat budaya mereka seperti apa. Nah, kebetulan saya ditempatkan di Banno family, sebuah keluarga kecil yang beranggotakan empat orang, okaasan (ibu), otoosan (ayah), oneechan (kakak) dan Yuuri. Beruntungnya, usia Yuuri sepantaran dengan saya, jadi pada saat discuss tentang kehidupan jepang, obrolannya lebih nyambung dan menyenangkan. Waktu itu, saya merasa beruntung sekali karena bisa mendapatkan host family yang hangat dan menyenangkan >.< alhamdulillah. Yah, walaupun waktu itu bahasa jepang saya masih super kacau, jadi komunikasi agak sendat-sendat sedikit sih hehe

By the way, host family yang ingin saya ceritakan di awal sebetulnya bukan Banno family. Tapi host family dari Gichi dan Jefry, yaitu Tadano family. Kenapa Tadano family mengadopsi anak angkatnya 2 orang? Alasannya sederhana saja, karena rumah Tadano san besar. Tadano family inilah yang sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Kebaikan yang mereka berikan dari sejak pertama kali kami bertemu selalu saja berhasil membuat saya terharu. Bisa dibilang, keluarga inilah yang selalu take care of myself during my stay in Japan! Benar-benar seperti keluarga sendiri (>.<)

Sewaktu farewell party acara ISS 2013, Tadano family mengajak saya berdiskusi tentang Indonesia dan tentang Islam, terutama tentang jilbab. Emang sih, waktu itu saya cukup sparkling dengan kebaya orange-yellow yang saya pakai. Selain itu juga karena delegasi dari Indonesia melakukan perform tarian khas Indonesia dan menggunakan jilbab sebagai aksesoris utama pada saat performance. Waktu itu saya berfikir, ternyata ada manfaatnya juga bawa kerudung banyak. Di saat-saat kepepet seperti itu, jadilah jilbab menjadi alternatif solusi 😀 Setelah diskusi banyak hal, saya minta izin untuk memakai kimono, dan mereka mengajarkan saya bagaimana menggunakan kimono dengan baik. Setelah itu kita berfoto bersama. Tapi punten pisan, saya udah ngutak-ngatik folder di laptop saya, tapi nggak menemukan dokumentasinya (._.)

tarian

Gambar 3. Performance from Indonesian delegates

1240351_10151691973133196_555533397_n

Gambar 4. Devy dan Adry with their norak’s face (nggak ada hubungannya sih, tapi nggak tau kenapa pengen posting foto inii haha)

Oiya, waktu itu saya juga cerita ke temen2 TUT dan ke host fam saya kalau saya akan kembali lagi ke Jepang untuk exchange selama satu tahun. Mereka seneng banget sampe bilang, “just tell me whenever you want to visit Toyohashi!

Saya kira, cerita ini akan berakhir begitu saja, tapi ternyata tidak! Saya bisa bilang bahwa acara ISS 2013 ini benar2 irreplaceable memories buat saya pribadi. Seperti titik awal semua bermula. Seperti point source kalo di bidang aeromicrobiology. haha what kind of correlation deh, shab -_- *efek ujian mikrobiologi lingkungan*

Then, what’s next?

Cerita itu berlanjut setelah saya kembali lagi ke Jepang untuk mengikuti exchange program. Kebaikan Banno family masih terasa meskipun saya bukanlah siapa2 lagi bagi mereka. Bagaimana tidak (lebay deh), saya dikirimin beberapa baju hangat yang saya tahu itu mahal, ditambah key holder, aksesoris khas jepang, sampai bahkan post card juga. Aduh saya teh kadang suka lebay merespon kebaikan orang, punten ya (._.) tapi mereka baik banget untuk ukuran orang jepang yang tertutup dan susah membangun hubungan dekat dengan orang baru. Huaa, waktu itu saya makin terharu pas okaasan ngehubungin saya untuk nanya kabar dan minta saya main ke Toyohashi (saya tinggal di Kanazawa) di winter break mendatang. Okaasan mau ngajak sightseeing dan jalan2 ke little world!

Kebetulan karena saya memang berniat mengunjungi senior super saya di Tokyo, Kak Ditong (read: kak Dita), untuk sekalian mengisi winter break, akhirnya saya reschedule itinerary saya. Akhirnya saya booking tiket bus Kanazawa-Nagoya-Hamamatsu-Tokyo-Kanazawa.

Nah, cerita tadi itu baru tentang host family saya yang pertama, Banno family. Kembali lagi, yang ingin saya ceritakan adalah Tadano family, sebuah keluarga kecil yang sudah benar2 saya anggap sebagai keluarga saya sendiri.

Postingan saya di FB tentang itinerary saya selama winter break dilihat oleh Tadano san (Okaasan=ibu). Tiba-tiba saja Tadano san excitedly mengirim message ke saya dan mengajak saya untuk mampir ke rumahnya di Toyokawa-shi sebelum ke rumah Banno family. Haha kaget sih! Jelas lah, saya nggak kenal2 amat sama mereka, dan sebetulnya, siapa saya? Waktu itu yang bikin saya terima tawaran adalah karena dia juga mengajak orang indonesia yang lagi S2 di TUT, kak Mei, untuk stay juga di rumahnya. Karena ini juga saya jadi kenal kak Mei, kakak yang jago banget masak nan sholihah :” Nah, akhirnya kita jalan2 barenglah ke Little World, Inuyama. Saya, kak Mei, Tadano family, Mei (anaknya Tadano san), dan Banno san (Okaasan). Aduh punten ya kebanyakan istilah.

Intinya, kami pergi bersama ke Little World, Inuyama. Di sana banyak miniatur bangunan dari negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Ada Bali juga loh, seperti biasa, icon-nya indonesia :)) Kami juga bisa mencoba berbagai busana negara-negara tertentu seperti Korea, Belanda, Turki, dan lain-lain.

DSCN2115

Gambar 5. Little World, Inuyama, with Tadano family and Banno Family

Kepulangan kami dari Little World, saya dan kak Mei diminta untuk stay di rumah Tadano san selama semalam. Wow banget rumahnya XD pekarangan yang luas, rumah yang besar namun hangat. Pengen banget punya rumah kayak gitu Xp

Di malam itu, kami sharing tentang banyak hal. Tentang Islam, tentang jilbab, bahkan tentang proses pernikahan dalam Islam -_- berasa nggak sih susahnya ngejelasin proses ta’aruf dalam bahasa jepang @.@ haha ya kali gampang. Saya cukup tertekan dan ngos-ngosan juga ceritanya (lebay sih).

Oiya, saya sangaaat terharu dengan bagaimana mereka sangat berhati-hati dalam memilihkan makanan untuk kami. “Only vegetables and seafood, doesnt contain meats and alcohol. This is okay for you.” Bahkan mereka sampai beli shoyu baru yang non-alcohol buat kami :))

Aaaah, saya cinta jepang dan semua hal tentangnya! Keterbukaan yang melahirkan toleransi, kebaikan tanpa pamrih, dan bagaimana mereka menjaga hubungan baik dengan orang lain. (>.<)

DSCN2215

Gambar 6. Dinner at Tadano san’s residence

DSCN2153

Gambar 7. Foto Keluarga 😀

Apalagi sewaktu Tadano san bilang, “Shabrina, Mei, actually we want to serve you the best, like letting you eat meats. But, it is difficult to find halal food in Toyokawa shi. There is no shop selling halal food.” Oh Rabb!

Sampai akhirnya kak Mei bilang kalau ada halal shop di Toyohashi, dan di sana jual halal meats. Betapa senengnya Tadano san pas tau itu, keliatan banget dari raut wajahnya sampai bilang, “A, hontouni? YOKATTAAA!” (really? its very goooood!!!) Dan akhirnya, setiap saya berkunjung ke rumah Tadano san, selaluuu aja dimasakin karage (fried chicken), masakan Tadano san yang paling saya suka. Dan saya nggak perlu khawatir lagi, semuanya terjamin kehalalannya karena mereka bahkan lebih hati2 dari saya! *gimana bisa, shab? haha*

Ya Allah saya teh sampe bingung mau ceritanya gimana, ini udah jadi kebahagiaan yang menumpuk, soalnya pas saya ngetik ini sambil mengingat kenangan2 setahun di jepang yang irreplaceable banget (>.<)

Keesokan paginya kami berpamitan dan saya dijemput Banno san, okaasan saya, di Toyohashi station, dan spending sekitar 5 hari di rumahnya. Nah, disinilah saya ngisi hari2 bersama Yuuri dan Okaasan. Sightseeing ke Tosan ri beach, makan soba bareng dan masak2 bareng Yuuri sampe dapur kacauuu. Oiya, waktu itu saya dan kak Mei sempet masakin opor (yang sebetulnya lebih mirip kare -_-) dan capcay loh buat okaasan dan otoosan. Terharu banget liat otoosan bilang umai (read: enak banget!) dan dengan lahapnya beliau makan capcay bikinan kita, haha! Saya juga sempet skype dengan keluarga di Indonesia, introducing my sweet and kind family in Japan, sampai ummi bingung juga mau ngomong apa ke okaasan 😀 lagi-lagi saya randomly talking (?) punten, kacau banget ini urutan kejadiannya.

IMG_1047

Gambar 8. Dinner Indonesian cuisine at Banno’s residence. Yang katanya opor padahal kare, dan capcay

Ah pokoknya seru pisaaaan! XD

Nah, setelah saya spending time di Banno’s residence, saya diantar Okaasan naik mobil ke Hamamatsu untuk meluncur ke Tokyo 😀

Untuk mempersingkat tulisan, kisah saya di Tokyo saya ceritain di postingan terpisah aja ya, ini nggak kelar2 soalnya kalo kebanyakan pembahasan T_T

Introducing my new host family in Kanazawa-spring episode

Perasaan senang saya tetiba memuncak karena mengetahui bahwa Tadano san akan berkunjung ke Kanazawa untuk menjenguk saya. Apa-apaan ini? @.@ saya bukan anak kecil lagi, okaasan, yang harus dijenguk dan ditanya kabarnya setiap waktu (>.<) Huaaa, lebih tepatnya saya ingin bilang hontouni arigatou!! Udah bingung banget saya harus ngomong apalagi karena banyaknya kebaikan mereka, sampai saya jadi ngerasa (nggak) enak banget T_T Selain itu juga, sebetulnya Tadano san mau menitipkan oleh2 untuk keluarga di Indonesia, karena sekitar 2 mingguan di bulan Maret saya pulang ke Indonesia. Sebetulnya saya ingin mengisi spring break dengan mengunjungi belahan bumi yang lain. Awalnya saya berencana ke India untuk memenuhi panggilan Global Youth Meets, yang lagi-lagi karena iseng2 submit, I was accepted as a delegate, tapi sayang sekali sensei nggak mengizinkan karena khawatir saya kenapa2 di India, sendirian tanpa teman. Padahal biaya konferensi ini full-funded by UNESCO dan GYM committee, selain itu kita juga bisa bangun network dengan delegates dari berbagai negara lainnya. Tapi apa daya, sensei sudah berkata tidak. (._.)

Tuh kan nggak fokus lagi @.@

Jadi singkatnya Tadano san main ke Kanazawa sama suaminya. Tadano san memperkenalkan saya dengan temannya di Kanazawa yang sekarang jadi host family saya di Kanazawa. Sebut saja Kawabata san. Lagi-lagi saya memanggilnya Okaasan. Hehe 🙂 Saya banyak belajar dari okaasan baru saya bagaimana mendidik anak2 jadi hebat. Dahsyat banget ini keluarganya okaasan, semuanya alumnus kanazawa university dan sukses! Untuk cerita tentang kanazawa’s host fam di cerita yang lain aja ya, udah terlalu banyak pembahasan @.@

IMG_0092

Gambar 9. Day with Tadano san and Kawabata san in Kanazawa

Intinya, kami lunch bareng, main ke 21st museum, terus sightseeing di kenrokuen. Nah, waktu lunch, lagi-lagi kami discuss tentang banyak hal, especially tentang islam. Yang saya kaget adalah, pertanyaan Tadano san tentang bagaimana Indonesia bisa menjadi negara islam. Kurang lebih pertanyaannya begini: “サブリナ、 どうやってインドネシアはイスラムの国になったの?何が初めてですか?” (translate sendiri ya, plis udah nggak ada tenaga) Waktu itu saya jawab karena trading activity. Saya bilang, untuk jelasnya, saya harus baca sejarah lagi. Intinya karena adanya perkawinan, penyebaran islam lewat budaya dan aktivitas lainnya dari pedagang arab.

Subhanallah, skenario Allah lagi2 membuat saya luluh (._.) Rencana saya untuk pulang ke Indonesia selama dua pekan saat spring break itu pun sedikit mengalami perubahan. Tadinya saya berencana booking flight Oosaka-Jakarta-Oosaka, tapi kemudian saya melihat ada promo KL-nagoya yang cuma 800 ribu sudah dengan bagasi 25 kg, akhirnya saya langsung ubah rencana. Rencana yang tadinya hanya ingin mengisi spring break di Indonesia, akhirnya bisa extend liburan ke Singapore dan Malaysia. Alhamdulillah lagi-lagi karena network, saya bisa bersilaturahim ke residen teman saya Yusra (bertemu di ISS 2013) dan Huwaida (bertemu di NIDA summer camp, Thailand), di Malaysia. Perjalanan muhasabah ke Singapore dan Malaysia ini benar2 membuat saya banyak belajar. Saya memang pernah membuat janji dengan mereka bahwa someday saya akan berkunjung ke Malaysia, dan ternyata Allah memberikan saya kesempatan untuk memenuhi janji saya. Benar2 perjalanan muhasabah yang patut disyukuri. Bagaimana tidak? Kesempatan yang jarang sekali didapatkan untuk bisa berkunjung ke Malaka dan belajar tentang bagaimana Islam bisa masuk ke Dataran Melayu dan Indonesia. Sejatinya waktu itu saya belum tahu mengenai rencana Huwaida untuk mengajak saya ke Malaka dan sightseeing disana. Saya merasa beruntung, sambutan Kak Feiruz dan suaminya (kakak kandung Huwaida) yang sangat hangat terhadap musafir jauh ini benar2 berkesan. Saya stay di Malaka free, tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun untuk akomodasi. How wonderful ukhuwwah is 🙂

Nah, selama di Malaka, saya belajar banyak hal tentang bagaimana Islam masuk ke dataran melayu, khususnya ke Indonesia. Rasanya seperti mendapatkan training mendadak dari Allah, disuruh belajar tentang sejarah XD Biar kalau ditanya lagi sama Okaasan, saya bisa jawab dengan mantap.

Spring in Toyokawa-shi

Saya depart dari KL menuju Nagoya. Tiba pukul 8 pagi di Chubu airport, dan langsung dijemput oleh Mei chan (anaknya Tadano san) dan kak Mei. Kita memang berencana untuk visit Nagoya Aquarium dan beberapa tempat lain. Karena sudah masuk awal spring, cuaca sangat mendukung untuk traveling 🙂

Sepulang dari sana, kami kelelahan dan langsung tidur setelah dinner XD Oiya, saya dan Kak Mei stay di rumah Tadano san. Bahkan Tadano san sampe provide kamar khusus buat saya kalau sewaktu-waktu stay di rumahnya @.@

Saya spend time selama beberapa hari di Tadano san’s residence. During this stay, saya laporan kalau selama di Malaysia saya belajar bagaimana Islam bisa masuk ke Indonesia. Tapi kemudian, ternyata oh ternyata… Bahkan Tadano san udah sewa buku khusus dari perpustakaan Nagoya university tentang islamisasi di Indonesia (._.) haha canggih memang. Saya pun langsung antusias liat bukunya. Tapi Tadano san bilang, “Too much katakana” (means, terlalu banyak difficult terms). Saya cuma bisa bilang, “Ganbatte, okaa san!” *nyengir

Saya pernah bertanya pada Okaasan apa yang membuat dia interest dengan Islam. Katanya, nilai-nilai yang Islam ajarkan itu sangat dekat dengan kehidupan. Kalaupun ada yang bertentangan dengan budaya jepang, justru itu yang membuat adanya uniqueness dari Islam itu sendiri. Islam itu istimewa, katanya. Saya terharu sampe meluk Okaasan T_T

Spring break has ended, and new semester just began!

Cerita ini masih terus berlanjut. Meskipun spring semester sudah dimulai, kami sering melakukan diskusi seru lewat message FB. Sampai pada akhirnya saya mengirimkan file pdf tentang kehidupan seorang muslim in Japanese yang direlease oleh asosiasi muslim jepang. Saya ingin sekali bisa menjadi wasilah datangnya hidayah Allah, walaupun masih jauh, tapi setidaknya saya ingin menjadi Archaean (as a pioneer).

Selama spring semester, saya bener2 hectic sama collecting data riset saya, literally trapped di lab dan nggak bisa kemana2 haha.

Trip to Nagano-summer episode

Sampai pada akhirnya masuk pada awal bulan Juli 2014. Disini saya pun tersadar bahwa: my return day to Indonesia is getting closer. Tiba-tiba saja saya merasa perlu create memories lagi sebagai farewell dengan my lovely host fam ❤ Akhirnya kami memutuskan untuk trip ke Nagano, sebuah perfektur yang terletak di bagian utara Toyama. Karena daerah ini dikelilingi oleh pegunungan, udaranya sejuk meskipun summer. Tapi kalau lagi winter, saljunya super banget sampai susah untuk beraktivitas.

By the way, alhamdulillah prediksi saya benar. Trip saya ke Nagano ini beririsan dengan jadwal rutinitas bulanan saya, jadi tidak mengganggu shaum Ramadhan saya 🙂

Saya berangkat ke Nagano dari Kanazawa. Meluncur jam 5 pagi dengan menggunakan sepeda ke Kanazawa station, karena nggak ada bus pagi. Lalu saya langsung take train menuju Toyama station. Dari sana saya menyambung menggunakan bus sampai ke Nagano station. Tibalah saya di Nagano pukul 11.58 tepat sesuai jadwal. Great 🙂

Di sana saya langsung dijemput Okaasan dan keluarga yang memang sudah tiba di Nagano lebih awal. Mereka datang by car dengan Otoosan yang full-driving. 4 jam non-stop. Setelah itu kami langsung lunch bareng, makan Soba khas Nagano.

sbb

Gambar 10. Soba time with Tadano family (1)

soba

Gambar 11. Soba time with Tadano family (2)

sobb

Gambar 12. Soba! :9 美味しい!

Oiya, mengapa kami memilih trip ke Nagano? Karena Nagano adalah hometown Otoosan, juga sekaligus tempat kenangan saat otoosan dan okaasan bertemu di masa kuliah mereka *oh so sweet Xp Selain itu, adik laki-laki otoosan tinggal di Nagano, jadi kami bisa menginap di sana.

Setelah selesai lunch, kami langsung meluncur ke Matsumoto castle, sebuah castle yang terkenal di Nagano ken!

matsumoto

Gambar 13. Matsumoto castle!

Setelah itu, kami sightseeing di dekat danau sambil menikmati soft cream :9

IMG_4264

Gambar 14. Sightseeing near the lake, Nagano ken

Kemudian kami mengunjungi museum keramik. Yang bikin takjub dari museum keramik ini adalah, semua produknya hand-made dan berkualitas tinggi. Harganya pun nggak perlu lah dipertanyakan lagi @.@

Saya juga sempat  berpose di paddy field dekat museum keramik. Selain itu saya sempat meng-capture view bagus banget 🙂

IMG_4276

Gambar 15. Paddy field. Blue-green mixed, looks like algae~

IMG_4273

Gambar 16. Beautiful view near the museum

Setelah kelelahan seharian keliling Nagano, akhirnya kami memutuskan untuk pulang menuju rumah adiknya Otoosan 🙂

Di rumah adiknya Otoosan, saya bertemu dengan anak2 nya yang masih kecil. Namanya Jun-kun dan Suzuka-chan. Mereka lucu banget :’) kakak-adik yang sangat akur :))

Setelah itu, saya memenuhi janji saya untuk memasakkan Tadano family masakan indonesia, dan pilihan itu jatuh pada: Nasi goreng!

IMG_4277

Gambar 17. Dinner: Nasi Goreng! Alhamdulillah, oishikatta!

Setelah kami bincang-bincang malam, dan bersih2, kami beranjak tidur dalam rangka mempersiapkan tenaga untuk hari esok.

Keesokan paginya, setelah selesai sarapan kami bergegas ke British garden. Kebun unik yang didesain ala inggris. Banyak sekali bunga yang tumbuh dengan berbagai macam warna.

IMG_4304

Gambar 18. Me and Atsuka chan 😀

IMG_4350

Gambar 19. Alice in the wonderland! -British Garden

Karena hari sudah siang dan kami pun sudah mulai lelah, akhirnya kami lunch di garden cafe.

IMG_4392

Gambar 20. Choco, matcha, cheese cake 🙂

Setelah itu, kami pun kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak sebelum pada akhirnya kami berpamitan untuk pulang.

tadan

Gambar 21. Omiyage from Otoosan’s brother’s family

tadano

Gambar 22. Omiyage from Tadano san’s family

Setelah itu kami berpisah di Nagano station. Okaasan memberikan saya banyak nasihat, terutama untuk tidak begadang di lab terlalu sering Xp hehe. Dua hari yang sangat menyenangkan! Sayonara trip yang sangat berkesan bagi saya 🙂

Last days before leaving Japan..

Agustus lalu, saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di China selama 6 hari dalam rangka research sampling (yang in reality, mostly jalan2). Sebelumnya sensei bertanya apakah setelah saya kembali ke jepang sepulang dari China atau akan pulang ke Kanazawa lagi atau tidak. Plan saya waktu itu, saya langsung ke tempat Tadano san di Toyokawa sebelum saya pulang ke Indonesia. Setelah itu saya berencana pergi ke Universal Studio Japan di Oosaka. Akhirnya semua arrival dari China diarahkan ke Chubu airport dan beliau juga memesankan hotel di sana.

Karena landing di Chubu airport sudah cukup larut, kami stay di hotel sampai keesokan harinya. Malam itu adalah malam terakhir saya ngobrol face to face bareng tutor terbaik saya (>.<)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gambar 23. Me and the best tutor I’ve ever had, Kana san! (Dunhuang city, China)

Kami berpisah di pagi hari. Saya dijemput teman saya untuk kemudian berkunjung ke rumah Okaasan. Ini sudah kali ketiganya saya stay di rumah Okaa san. Winter, Spring, Summer, semua season sudah pernah merasakan Xp

Kunjungan saya ke rumah Okaasan kali ini berhasil membuat repot seisi rumah. Haha. Jadi ceritanya luggage yang akan saya bawa pulang ke Indonesia mengalami over-weight. Nggak akan mungkin saya bawa pulang semuanya. Okaasan dan Mei chan juga khawatir saya over-baggage dan kena charge. Makanya mereka bantu saya memanage barang dan mereduksinya sampai 47 kg. Waktu itu kejadiannya sampai koper dibongkar habis-habisan dan diatur ulang. Bener2 capek banget dan nguras tenaga @.@

Satu pesan Okaasan yang akan selalu saya ingat. “Shabrina, 日本にまた来たら、荷物をきれいにしてね。要らないものを持ってこないでね.”

Haha, ハーイ、お母さん!

Kemudian, saya bisa pulang dengan tenang, dengan membawa omiyage dari Okaasan untuk anak2 mapres 🙂

gift

Gambar 24. Omiyage dari Okaasan untuk anak2 mapres

present

Gambar 25. Kipas unik untuk Andhika, Jefry dan Shabrina 🙂

In Indonesia..

It was a long story indeed. Meskipun saya sudah tidak lagi di Jepang, tetapi sepertinya..a part of my soul is still left there 😦

Insha Allah di bulan desember nanti saya akan kembali ke Jepang untuk melanjutkan proyek riset dari sensei. Saya akan kembali ke Kanazawa lagi. Dan di saat saya telah berjuang sekuat tenaga untuk move on, Okaasan mengirim message via FB semalam. Isinya seperti ini:

_____________________________

こんばんは。

日本に来たら、金沢へ行くのですか?

名古屋だけですか?

来る予定を教えてください。

できれば11/10までに教えてください。

bossにお休みをもらう、
そうだんをします。

それから、
私たちの予定です。

フィリピンの
大学生が12/5,6,7
ホームスティに来ます。

この日は
家にとめてあげることができません。

あと、
おもちつきと、お正月のかざりをつくる日があります。

これは、まだ日にちがわかりません。
サブリナもいっしょに行くことができます。

サブリナと私たちの都合が合うといいですね。

元気なサブリナに会えることねがってます*\(^o^)/*

(English version: (powered by google.translate, I have no power to edit it (._.))

Good evening.

If you come to Japan, do you go to Kanazawa?

Or just Nagoya?

Please tell us about the coming schedule.

Please tell me before 11/10 if possible.

I will consult to get a day off to the boss,

From it, It is scheduled for us.

Filipino College students will be stay at my home on 12/5, 6, 7. They will do homestay.

This day, it is not possible to stay at my home.

And also, there is a day to make Mochi and preparation of the New Year.

We havent decided the date yet,
But I hope that we can do it together with Shabrina.

It is good if our schedule meets.

We hope that it we can meet again with the cheerful Shabrina *\(^o^)/*)

_____________________________

Aaah Okaasan, saya jadi kangen lagi. Really looking forward to meet you all (>.<)

My dream: international wedding!

Sampai sekarang, saya masih bercita-cita untuk membuat sebuah event international wedding  di hari pernikahan saya. Entah kenapa, saya ingiiin sekali semua tokoh yang saya sebutkan di dalam cerita ini bisa ikut berbahagia di hari pernikahan saya nanti. Saya ingin mengundang mereka di hari bersejarah saya. Saya ingin sekali mereka bisa melihat bagaimana saya bisa sampai pada titik dimana saya berada saat itu karena pembelajaran yang saya dapatkan dari mereka. Saya tipe pembelajar, dan saya belajar banyak hal dari mereka.

Saya bahkan sudah jauh-jauh hari mengundang mereka. “お母さん、あたし結婚したら、インドネシアに来てね。待ってるよ.” (If I am getting married, please come to Indonesia.) Meskipun belum jelas siapa orangnya, pun juga belum jelas kapannya, tapi entah kenapa, saya senang sekali ketika mendengar jawaban mereka,

“ぜひ来ますよ!” (Kawabata san)

”ぜったいくるよ!” (Tadano san)

”サブリナは結婚したら、連絡ください.” (Banno san)

”絶対来るよ。それともインドネシアで遊びに行きたいなー!” (Kana san)

“Insha Allah hadir, jangan lupa kirimkan undangannya untuk Abah dan Ummi di Malaysia.” (Abah dan Ummi Yusra)

“I would be coming, Shabrina! Looking forward to it :)” (Yusra)

“Insha Allah kalau ada kesempatan dan waktu, Shabrina. Pasti hadir datang ke Indonesia.” (Huwaida)

___________________________

Terima kasih atas setahun yang luar biasa!

Sampai jumpa di D-day yang masih belum tahu kapannya :”)

 

Bandung, October 15th, 2014

A year in Japan: It was a long story, indeed!

Advertisements

2 thoughts on “A year in Japan: It’s a long story, indeed.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s