Never stop learning!


Pekan lalu, tepatnya hari jumat, 5 Desember 2014, berakhir sudah semua aktivitas perkuliahan semester ini. *yang masih kuliah emang beda, sih* Saatnya menghadapi beberapa UAS mata kuliah tertentu yang kembali lagi, alhamdulillah, selalu memicu saya untuk belajar dan mengorek lebih dalam. Mata kuliah tingkat 4 (untuk saya, jadi tingkat 5 -_-), di prodi mikrobiologi benar2 seperti jadi perbekalan untuk menghadapi kehidupan pasca kampus. Apapun jalan yang kita pilih, mau jadi peneliti, pebisnis, bahkan ibu rumah tangga sekalipun, ilmunya kepake banget. Aplikatif. Kesimpulan mutlak. Haha

Gimana nggak? Ayo kita bahas satu-satu.

Pengembangan Produk Mikroba. Mata kuliah ini sukses membuat mata saya terbuka tentang potensi keilmuan saya untuk diaplikasikan di bidang industri. Coba sebutin produk-produk nutrasitikal atau produk fermentasi yang ada saat ini. Semua dibahas. Meskipun hanya di permukaan, tapi bagi mahasiswa sejenis saya yang kalau curiosity-nya udah muncul, udah berasa punya dunia sendiri di depan laptop. *ini lebay, serius deh.* Baca sampe tuntas, dikorek2, nganalisis sendiri, buat kesimpulan sendiri, dan berakhir dengan masuk catatan pribadi. haha. Even more, saya suka bikin catatan pribadi juga tentang bagaimana mengatur pemenuhan kebutuhan nutrisi yang baik untuk anak2 saya. *berasa udah emak2* Tentunya, tools (?) yang digunakan adalah memanfaatkan potensi produk mikrobiologis. Misalnya, kebutuhan protein. Sebetulnya bagaimana sih komparasi jamur sebagai pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein harian untuk sel tubuh dibandingkan telur? Atau misalnya, kenapa sih di luar negeri yoghurt lebih dipilih untuk dikonsumsi dibandingkan susu? Terus, gimana cara menumbuhkan ketertarikan anak2 terhadap yoghurt? Haha. Ini sih emak banget, Shab. (-_-)

Dan rasanya, di saat yang sama, pengen banget ngeshare tentang keilmuan aplikatif ini ke temen2 terdekat. Pengen bilang, “Hey kalian, mikrobiologi itu keren banget!” *mulai deh arogansi kelimuan*

Atau mata kuliah yang lainnya.

Patofisiologi dan Imunitas. Saya menyebutnya mata kuliah abstrak tapi nyata. Oh jelas. Kita belajar hal2 super detail sampe ke tingkat molekuler, tapi efek fisiologis nya keliatan *lo ngomong apa shab?* Belajar patoimun, bener2 ngebuat saya semakin kagum dengan penciptaan manusia. DIA emang keren banget mendesain tubuh kita sekompleks ini sehingga bisa membuat penyerangan terhadap zat2 asing. OH MY GOD, mata kuliah ini juga berhasil membuat saya memikirkan usaha perlindungan terbaik pada anak2 saya. Tentang pembiasaan cuci tangan, sikat gigi, basuh muka, ngelap perselaan kuku setelah gunting kuku, dan berbagai aktivitas keseharian lainnya. *fiks banget ini mah emak2 T_T* #yaudahsih

Terkait vaksin juga, issu pro-kontra vaksinasi yang saat ini lagi mewabah. Banyak doktrinasi2 yang lahir karena asumsi tak berdasar atau kurangnya data. Kalo kata orang, istilahnya asbun.  Atuhlah.. “Cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua..” Haha, maaf random, tiba2 pengen nulis ini.

Tentang vaksin, nanti kita bahas di postingan lain aja ya.

Manajemen Bioindustri dan Kewirausahaan. Yuk yang mau bisnis yang mau bisnis.. mangga digarap. Banyak banget loh potensi proses mikrobiologis (proses yang melibatkan mikroorganisme di dalamnya) yang aplikatif di bidang industri. Kamu mau produksi apa? Makanan? Minuman? Enzim? Pupuk Hayati? Fuel? Bisnis bioremediasi? Semua bisa. Tinggal mau belajar dan berfikir mendalam aja. Serius, mata kuliah ini dapet banget untuk mahasiswa yang mau lanjut bisnis setelah lulus. Kita belajar dari bagaimana menghandle produk2 mikrobiologi, analisis bisnisnya itu sendiri, branding, packaging, sampe marketing juga. Dari hulu, sampai ke hilir.

Karena matkul ini juga, saya bisa mengembangkan produk susu jagung dan yoghurt susu jagung. Semoga berkah kedepannya.

Mikrobiologi Prediktif. Mata kuliah ini sebetulnya pilihan. Saya ngambil matkul ini karena saya mau belajar banyak tentang bagaimana memformulasikan proses mikrobiologis yang lebih terprediksi. Artinya, kita meninjau proses mikrobiologis secara kuantitatif, menentukan parameter yang tetap dan berubah dari suatu proses yang kemudian outputnya adalah sebuah persamaan matematis. Aplikasinya? Kamu tau gimana cara nentuin expire date dari suatu produk makanan dan minuman? Kalo ternyata nggak tepat prediksinya gimana? Makanan yang harusnya expired hari ini, tapi ditulis bulan depan, menurut kamu gimana? Mending kalo mikroorganisme yang tumbuh itu baik hati dan tidak sombong, kalo mikroorganisme patogen (yang menyebabkan penyakit), gimana? Pun sama halnya untuk makanan yang terlalu cepet expire date-nya, padahal masih 3 bulan atau 6 bulan kemudian misalnya, artinya apa dong? Mubazir kan ya? Sayang. Yang harusnya industri masih bisa distribusi dan jual, tapi udah masuk gudang pembuangan. Oh oh, ini nih fungsinya belajar.. Kamu pasti lebih semangat klo belajarmu di-drive oleh keingintahuan yang meluap-luap.. *apasihshab*

Bakteriologi. Lewat matkul ini, kamu belajar tentang keberagaman bakteri dan bagaimana peranan bakteri patogen dalam menyebabkan penyakit. Salah satu rangkaian kuliah ini adalah pemeriksaan makanan dan minuman di sekitaran kampus ITB secara mikrobiologis, untuk melihat apakah di dalamnya terkandung mikroorganisme patogen. Nah, penelitian yang kita lakukan ini nggak hanya uji makanannya aja, tapi mencoba mengaitkan antara makanan yang banyak dikonsumsi oleh mahasiswa ITB, waktu konsumsi dan kecenderungan penyakit yang diderita mahasiswa ITB selama tiga bulan terakhir. Semua kita lakukan dengan penyebaran kuesioner dan pengumpulan data dari Balai Kesehatan ITB.

Sedihnya, sebagian besar dari makanan dan minuman yang paling sering dikonsumsi mahasiswa ITB berpotensi menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan sistem pencernaan. Bahkan, sebagian kecil bisa menyebabkan typhus. Kenapa? Karena jumlah mikroorganisme patogen yang ada di bahan makanan/minuman tadi melebihi batas ambang toleransi. Tapi tentunya, banyak faktor lain yang mempengaruhi ketika makanan/minuman tersebut dapat menyebabkan penyakit. Di antaranya, kondisi imun si konsumen, waktu konsumsi, banyaknya makanan yang dikonsumsi, dsb. Intinya adalah harus berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman pasar.

Mengetahui ini, saya semakin khawatir dengan kondisi kesehatan generasi masa depan indonesia. Untuk para ibu2 yang peduli terhadap kesehatan anak2nya, mulailah selektif terhadap makanan yang akan dikonsumsi. Mulailah ajari anak2 untuk tidak jajan sembarangan (walaupun untuk sendiri aja masih berat T_T). Kalau saya pribadi, terpikir untuk mengaplikasikan bagaimana ibu2 jepang menyiapkan bento (read: bekal makanan) untuk anak2nya. Tujuannya untuk mengurangi jajan yang tidak sehat, mengatur kebutuhan nutrisi anak2, juga mengontrol kesehatan mereka. Kalau kayak gini, yang penting istiqomah sih haha.

Mikrobiologi Lingkungan. Yang membuat mata kuliah ini super nggak hanya konten materi yang disampaikan ibu dosen, tapi juga cara ibu dosen menyampaikan materi dan membuka wawasan pengetahuan global para mahasiswanya. Serius nih. Catatan matkul saya lebih banyak tentang bagaimana melatih cara berfikir mahasiswa dan bagaimana menuangkan ide ke dalam tulisan. Suatu saat, ibu pernah bilang, “Yang mendrive kita untuk menjawab berbagai persoalan di lingkungan sekitar adalah bagian sub unconscious kita. Jawaban itu akan lahir dari bagaimana cara kita meng-gain informasi secara rutin dan sejak lama, sehingga itulah yang pada akhirnya membentuk pola pikir kita. Itulah super komputer di kepala kita.”

Di pertemuan yang lain, ibu juga pernah bilang, “Hal yang terpenting bagi seorang microbiologist adalah bagaimana saat dia membangun chemistry dengan mikroorganisme yang digunakan dalam penelitiannya. Mengapa? Sebab mikroorganisme adalah living things, invisible tanpa alat bantuan, kita cuma bisa ngeliat dari bagaimana tanda-tanda kehidupannya. Oleh karena itu, kita perlu membangun hubungan yang baik dengan mereka :D.”

Intinya, belajar tentang mikrobiologi lingkungan, saya belajar tentang bagaimana memandang persoalan mikrobiologi dari banyak sisi, nggak hanya dari sisi internal mikroorganismenya saja, tapi juga dari faktor eksternal yang mempengaruhi kehidupan si mikroorganisme. OKE BANGET, SOALNYA MATKUL INI TA SAYA BANGET. Hehe.

Tugas Akhir.  Ya kali ini disebut juga, shab -_-

Insha Allah, saya akan maju seminar dan sidang dengan topik berikut:

tugas akhir

 

 

 

 

 

Mohon doanya, semoga dimudahkan dan terus memberikan manfaat 🙂

__________________________________

Itulah kilas balik matkul semester ini. Semoga terus dan terus memicu saya untuk belajar banyak hal, untuk memperkaya wawasan, nggak hanya keilmuan saya sendiri, tapi juga lintas disiplin ilmu.

By the way, ada sebuah doa yang selalu menjadi andalan saya selama masa hidup saya ketika saya akan, di pertengahan, atau selesai menuntut ilmu. Dan entah kenapa, doa ini sangat manjur. Sangat jitu untuk membuat saya terus mencintai ilmu. Mari disimak doanya.

“Allahumma laa sahlah illaa maa ja’altahu sahlah, wa Anta taj’alul huzna wa sha’ba in syi’ta sahlah. Allahumma innii istauda’tuka maa qara’tu wa maa sami’tu wa maa ‘allamtanii fardudhu ilayya ‘indahaa jatii. Allaahumma yassirlii wa laa tu’assirlii..”

yang artinya,

“Ya Allah, tiada kemudahan selain Engkau yang menjadikan sesuatu itu menjadi mudah, dan Engkaulah yang menjadikan perkara yang duka dan yang sulit menjadi mudah atas kehendak-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku menitipkan apa-apa yang telah aku baca, aku dengar, dan aku pelajari, kepada-Mu, maka keluarkanlah itu semua pada saat aku membutuhkannya.”

Karena yang kita kejar, adalah keberkahan ilmu. Bagaimana ilmu bisa memberi pencerahan pada kehidupan kita dan semakin membuat kita menjadi pribadi yang bersyukur. Dan kembali lagi, indikasi dari keberkahan, adalah bertambahnya kebaikan. Menuntut ilmu, harus membuat kita terus dan terus belajar. Sebab ilmu Allah itu luas, dan semakin mempelajarinya, semakin merasa: How nothing I am in this universe. Pada akhirnya, inilah yang seharusnya memicu kita untuk terus belajar.

Never stop learning!

 

Catatan pengingat diri,

11 Desember 2014

Advertisements

One thought on “Never stop learning!

  1. Eniwei shab, ada temen sy yg dr kecil (kalo ga salah) protektif bgt ttg makanan. Dan ketika dia udh gede, nyoba sekali aja makanan yang aneh (yang ada di pasaran), langsung sakit gitu.
    Dia bahkan sampe bilang, “kalo gue punya anak, anak gue mau dibebasin makan apa aja biar ga gampang sakit kayak gue.”

    Gimana tuh. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s