Akal dan hatimu, sudahkah mereka bersinergi?


Seringkali kita tak sadar, bahwa sebenarnya, jika hati bisa memandang suatu hal dengan lebih bijak, lebih lapang, bahkan lebih dalam, maka kita bisa mengambil hikmah kehidupan jauuuh lebih banyak dari yang ada. Kita menyebutnya: kadar keberterimaan hikmah yang ditentukan oleh kepekaan hati.

Mungkin itulah yang dilakukan Rasul dan para sahabatnya di masa lampau. Ketika mereka bisa mengambil hikmah kehidupan sebanyak-banyaknya karena proses perenungan yang cukup lama. Kecerdasan akal yang terbentuk dari paksaan kepada otak untuk terus berfikir, menerka-nerka, dan mendalami kehidupan sekitar. Mengambil hikmah dari daun-daun yang berguguran, gunung yang tinggi menjulang, lautan yang tak terbatas, sampai pada penciptaan langit yang kokoh. Perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah-Nya.

Tentu saja, hal itu tidak terlepas dari peranan kepekaan hati. Bagaimana akal dan hati dapat bersinergi, sehingga dapat menghasilkan pemikiran yang jernih. Sebab hati adalah tempat mencari fatwa. Ia takkan bisa didustai. Kebaikan itu, ditemukan pada saat hati tenteram karenanya. Dan keburukan itu, saat hati gelisah karenanya.

Indikator dari kepekaan hati adalah sejauh mana, sedalam apa, dan seberapa banyak kamu bisa mengambil hikmah dari kehidupan, baik kehidupanmu sendiri, maupun kehidupan orang lain. Dari lingkungan sekitarmu, bahkan dari hal-hal kecil sekalipun.

Maka tanyakanlah.

Akal dan hatimu, sudahkah mereka bersinergi?

10841675_923964524283162_322089737_n

Ladang Jagung, Desa Cikahuripan, Lembang

#self-reminder

5 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s