Highlight #2: Siapkah kita bersabar?


“Kita masih memiliki pekerjaan untuk menyempurnakan separuh sisanya. Meski setengah darinya telah disempurnakan dengan ikatan, tapi ketahuilah, kita masih punya tugas besar. Maka disinilah ujiannya..”

____________________________________________________

Ada keindahan, ada keagungan, ada kenikmatan dan ada pahala insyaAllah dalam kesemuanya. Tetapi beginilah hidup, ada pergiliran, ada pergantian musim. Ada terang, ada gelap. Ada siang dan malam. Ada pagi dan petang. Ia datang melengkapi dan menyempurnakan. Dan semoga ia terus menguatkan ikatan. Ada pelangi setelah rintik-rintik hujan. Ada lukisan alam.

“Orang yang diberi rezeki oleh Allah berupa seorang istri yang shalihah, berarti ia telah dibantu oleh Allah pada separuh agamanya. Maka dia tinggal menyempurnakan separuh sisanya” (H.R Thabrani dan Hakim).

Maka hendaklah kita bertaqwa pada setengah yang lain. Setelah setengah darinya disempurnakan dengan ikatan. Semoga Allah meneguhkan kaki-kaki kita yang tersatukan oleh rangkaian mawar di jalan-jalan putih meski duri harus mendarah-darah di telapak.

Di sini, di penghujung perjalanan kita menyelusuri taman-taman, tersisalah satu istifham ingkari sebuah pertanyaan rektoris: Siapkah kita diuji?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs. al-‘Ankabut: 2-3)

Di ayat ini, seolah-olah Allah telah memproklamasikan ujian sebagai konsekuensi dari keimanan. Kita tidak akan pernah lepas dari ujian, seindah apapun pengawalannya. Maka biarlah Allah sendiri yang mengajukan pertanyaan itu kepada kita. Maka biarlah janji-janji ikatan itu menjadi pengingat untuk apa kita bersatu. Sehingga serumit apapun persoalan di hadapan kita kelak, kesabaran sebagai representasi keimananlah yang akan menjawabnya.

Lalu di sini, di penghujung perjalanan kita menyelusuri taman-taman, tersisa pertanyaan kepadamu, wahai kekasih..

”Bersediakah engkau mendekapiku lebih erat, ketika badai berderak-derak menghantam? Bersediakah engkau menjadikan tubuhmu selimut terhangat ketika angin bertiup tak tentu arah? Bersediakah engkau menjadi pelukan ketika pusaran topan menerbangkan segala hal yang bisa ku jadikan pegangan?”

Engkau telah mencintaiku dalam kesyukuran yang melipatkan nikmat. Kini bersediakah kita menguatkan ikatan cinta, ketika yang diminta oleh-Nya adalah kesabaran?

____________________________________________________

Kutipan hikmah dari buku Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah dengan banyak perubahan.

19 Januari 2014

Advertisements

2 thoughts on “Highlight #2: Siapkah kita bersabar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s