Nasihat Bunda #2


“Sebab, tidak semua amalan kita bisa menjadi amalan shalih di hadapan-Nya.”

Begitu kata Bunda pagi itu, saat kami berdua sibuk mengurus dapur.

Ada saja hal-hal tersirat yang selalu Bunda sampaikan di saat kami hanya berdua.

Dan yang paling mengesankan adalah ketika Bunda mengawalinya dengan kisah.

“Mungkin saat ini Allah belum mempertemukan Ummi dengan seorang khadimat yang bisa membantu Ummi mengurus rumah, sehingga sampai saat ini Ummi masih terus berusaha melakukan yang terbaik untuk mengurus semuanya sendirian. Semoga Allah menjadikan ini sebagai amal shalih Ummi di hadapan-Nya.”

Bunda selalu terlihat kuat, meskipun saya tahu betapa Bunda lelah dengan semua aktivitasnya.

Delapan orang anak, dengan rumah yang mungkin menyapu dan mengepel lantainya saja butuh waktu seharian (-_-),

Belum lagi aktivitas da’wah yang seabreg, aktivitas bisnis, dan sebagainya,

Tanpa khadimat, mengerjakan semuanya sendirian.

“Pagi ini, Ummi ada acara jaulah, kak. Insya Allah sampai dzuhur. Setelah itu Ummi pulang, sorenya ummi ngisi acara di Condet. Jadi tolong disiapkan makan siang untuk adik-adiknya ya. Bahan-bahannya ada di kulkas. Kamu bisa goreng ayam dan masak tumis kangkung.”

Begitu pesan Bunda mengakhiri pembicaraan kita pagi itu.

Sungguh, saya banyak belajar dari Bunda tentang bagaimana Bunda mengatur aktivitasnya yang banyak. Lebih tepatnya, saya merasa “wah”.

Saya pernah mendapati Bunda sedang berada di ruang masak pukul 2 pagi.

“Mi?”

Bunda belum menengok, mungkin suara saya terlalu kecil.

Saya panggil beberapa kali, sampai akhirnya Bunda menengok.

“Ya Allah, kaget, kak.”

“Mi, lagi ngapain jam segini?”

“Ini Ummi lagi bersih-bersih bahan masakan.”

“Ya Allah mi, kenapa jam segini?”

“Iya tadi pulang acara dari rumah bu xxx, ummi kecapekan, terus ketiduran. Baru pulang sekitar jam 11 tadi.”

“…….”, “Ya udah mi, sini aku aja yang ngerjain. Ummi istirahat aja.”

“Nggak usah kak, kakak juga baru pulang dari Bandung. Istirahat aja.”

“Nggak mi, sini aku aja yang ngerjain.”

Akhirnya waktu itu saya paksa ummi untuk ke kamar.

****

Beberapa lama kemudian, saya mendengar suara berisik di ruang cuci.

Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke ruang cuci.

Dan kalian tahu apa yang saya temukan di sana?

Ummi lagi sibuk menjemur pakaian.. (>.<)

________________________________________

Sebetulnya ini yang membuat saya selalu merasa berat untuk pulang ke Bandung setiap kali saya pulang ke Jakarta.

Atau ketika saya harus melanglang buana meninggalkan Indonesia untuk kurun waktu yang cukup lama.

BERAT. BERAT KAKI. BERAT LANGKAH. (berat badan iya nggak ya? iya juga sih kayaknya mah)

_______________________________________

“Betapa sombongnya kita. Merasa yakin bahwa semua aktivitas yang kita lakukan, bernilai kebaikan di mata Allah. Padahal, belum tentu niatnya benar. Belum tentu caranya sesuai tuntunan Rasul. Padahal, belum tentu baik di mata Allah.”

Ah Bunda. Tentang amalan shalih ya.

Sederhana sih, tapi kok dalem banget ya?

m(._.)m

Semoga tulisan ini pun bisa menjadi amalan shalih ya. Semoga. Inshaa Allah.

________________________________________

Nasihat Bunda #2

1 Februari 2015

Advertisements

2 thoughts on “Nasihat Bunda #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s