Tawakkal sempurna


Terkadang kita terlalu sibuk memberikan yang terbaik pada makhluk, padahal kepuasan makhluk itu mutlak ditentukan oleh Sang Khaliq.

Kita lupa untuk selalu memberikan yang terbaik pada Sang Khaliq, padahal kunci kesuksesan, kebahagiaan dan keberkahan aktivitas dinilai dari bagaimana cara kita menarik perhatian Allah.

Kita juga sering terlupa pada sebuah kenyataan bahwa tugas manusia sebagai makhluk adalah berikhtiar maksimal dan berdoa, selebihnya adalah urusan Sang Khaliq.

Ikhtiar itu, menghasilkan dua kemungkinan.

Tawakkal yang lahir dari perasaan bahwa kita telah melakukan ikhtiar secara maksimal, doa yang terus menerus dipanjatkan, amalan sunnah yang juga ditingkatkan,

Atau tawakal yang lahir karena percaya, percaya pada setiap keputusan-Nya.

Kita perlu berhati-hati pada tawakkal yang pertama.

Sebab terkadang ia memunculkan kesombongan. Terkesan seperti menantang Allah. Seolah-olah apa yang telah kita perbuat sebelumnya menentukan secara mutlak hasil yang akan kita peroleh.

“Ya Allah, saya kan sudah menjaga shaum sunnah senin-kamis.”

“Saya sudah bershadaqah ketika saya menemukan seorang pengemis di perempatan lampu merah..”

“Saya sudah menjaga qiyamul lail selama beberapa hari terakhir..”

(juga sejuta alasan lainnya)

Terkesan sombong. Terkesan memaksa. Terkesan bahwa hasil akhir itu benar-benar ditentukan oleh bagaimana amalan kita sebelumnya.

Memangnya, siapa kita?

Kita perlu disadarkan, bahwa kemuliaan Allah tidak ditentukan seberapa banyak amalan kebaikan kita. Nama baik Allah tidak sama sekali ditentukan oleh seberapa banyak kita mengagungkan-Nya.

Allah tidak membutuhkan persembahan makhluk, tidak sama sekali membutuhkan tangisan kita di malam-malam syahdu. Semua yang kita perbuat tidak akan berpengaruh pada kemuliaan-Nya.

Sebab Allah Maha Mulia, jauh sebelum kita tercipta.

Sebab penghambaan itu adalah sebuah kebutuhan.

Karena menangis di sepertiga malam adalah sesuatu yang (seharusnya) menagihkan.

Maka tawakkal yang melahirkan rasa percaya 100% pada setiap keputusan-Nya, itulah tawakkal yang sempurna.

Tawakkal yang tidak melahirkan penagihan terhadap implikasi amalan.

Tawakkal yang tidak memaksa Allah untuk memenuhi kehendak pribadi.

Percaya bahwa hasil akhir itu bahkan sudah ditentukan jauh lebih dulu sebelum kita melakukan amalan-amalan itu.

Bahkan dorongan di dalam diri untuk melakukan amalan-amalan terbaik itu datang dari kehendak Allah.

Terlebih lagi, rasa nikmat dalam beribadah itu lahir dari kebaikan Allah pada kita.

Tawakkal yang lahir karena percaya. Percaya bahwa hati makhluk itu milik Sang Khaliq. Yang mengatur gejolak dan fluktuasinya, tentu saja Allah.

Juga percaya, bahwa kemudahan lisan dalam bertutur juga Allah yang menentukan.

Kemudahan transmisi gelombang-gelombang suaranya pada hati manusia, juga Allah yang menentukan.

Keberterimaan sinyal-sinyal nya oleh akal, juga Allah yang menentukan.

Aah, manusia terkadang lupa. Lupa bahwa mereka hanya makhluk. Tak punya wewenang. Tak punya hak dalam mengatur. Bahkan untuk aspek-aspek yang (selama ini dirasa) menjadi miliknya.

 

Bandung, 7 Maret 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s