Over-caring vs Over-commanding


Terkadang saya merasa kalau saya salah dalam bersikap.

Entah karena karakter yang sudah mendarah daging akibat faktor golongan darah, efek psikologis, atau doktrinasi pikiran, tapi saya merasa ada yang salah dengan diri saya.

Sebagai contoh, salah satu aktivitas yang sedang saya jalani saat ini adalah memberikan pelatihan untuk para calon mahasiswa berprestasi di ITB.

I feel like, i forced them too much. I made them to think so hard about it. Sehingga mungkin mereka merasa nggak enjoy dalam mempersiapkan semuanya. Padahal siapa saya juga, tiba-tiba datang dan maksa mereka untuk mikir jauh tentang ini.

Saya kadang juga nggak ngerti dengan diri saya yang seperti ini. Tapi akibat sikap saya yang begini, tak jarang muncul pertanyaan atau pernyataan dari temen-temen sejawat saya.

“Shab, kamu teh ambisius akut ya?”

“Shab, kamu terlalu koleris ya, sungguh menakutkan (o.o)”

Gimana ya bilangnya.

Ada sih kolerisnya, tapi saya teh lebih dominan melankolisnya.

Sebenernya mungkin lebih tepat kalau saya itu dibilang over-caring dengan orang-orang di sekitar saya. Instead of over-commanding.

Saya terlalu fokus memberi perhatian bagi orang-orang di sekitar saya.

Saya kelebihan energi, dan saya memanfaatkannya dengan mentransfer semangat saya ke sekitar agar mereka bisa punya semangat yang sama dengan saya.

I am not commanding them, but I do care them so much.

Tapi ya itu sih, saya masih bingung ketika saya harus mendefinisikan caring yang paling tepat seperti apa ke mereka dan bagaimana mewujudkannya dalam sikap. Pada akhirnya saya lebih terlihat memberi arahan dan memaksa mereka untuk berbuat sesuai dengan apa yang saya harapkan. *terkesan menyeramkan, apalagi kalo aplikasinya dalam mendidik anak*

Karena salah pendefinisian itulah, cerewet nya saya terkesan memaksa. Terkesan menuntut banyak hal. Terkesan bahwa mereka harus mewujudkan keinginan2 saya. Padahal saya sama sekali nggak bermaksud itu. m(._.)m

Aduh gimana ya, hmm.

Saya pikir, sikap saya yang seperti ini lahir dari darah melankolik saya. Saya sering merasa bahwa orang-orang di sekitar saya butuh perhatian lebih dan advise mengenai hal-hal tertentu misalnya, sehingga itulah yang selalu mendorong saya untuk berbuat sesuatu untuk mereka.

On the other hand, mereka mungkin nggak butuh perhatian berlebih seperti itu. Atau bahkan mereka justru merasa terganggu dengan perhatian yang terus menerus. Menganggap kita seperti pengacau, berisik, dan..pada akhirnya tujuan awal “ingin bermanfaat bagi mereka” bisa jadi tidak tercapai.

Hal yang sama terjadi saat pendampingan LPDP.

Saya jadi merasa bersalah dengan mengatakan,

“Kalian teh serius nggak sih ikut seleksi LPDP?”

Atau,

“Kalau kayak gini ceritanya, kalian udah saya black-list dari penerima LPDP sih.”

Gimana yaaaa. Sejatinya saya bingung saya harus gimana.

Again, I do love them so much till I care about them too much.

Saya nggak ambisius. Tapi saya over-care dengan orang-orang di lingkungan saya. Saya selalu merasa mereka butuh dukungan. Ditambah lagi dengan karakter orang melankolis yang senang dan merasa puas ketika mereka diapresiasi. Atau ketika mereka merasa berdedikasi untuk lingkungan sekitar.

Ah kok jadi rumit ya. Dan kenapa saya jadi curhat?

Sejatinya saya butuh diajarkan.

Gimana cara mendefinisikan “caring” dan mewujudkannya dalam sikap?

Pun bagaimana cara meyakinkan mereka bahwa saya sebetulnya not trying to force them, but care about them.

Saya butuh didikte mungkin ya, bukan diajarkan lagi. Huft 😦

 

19 Maret 2015

Menjadi sesuatu yang saya pikirkan sepanjang malam. Sampai akhirnya jadi tulisan deh, lebih tepatnya jadi curhat.

Tulisan ini dibuat bukan untuk pembelaan, tapi justru biar saya dapat masukan lebih banyak dari orang-orang di sekitar saya.

Advertisements

4 thoughts on “Over-caring vs Over-commanding

  1. Assalamu’alaykum shabrina, saya mba dian, (yang ketemu dan sempat foto di acara dies natalis ITB, mudah mudahan masih ingat :-)). sehat kan? baca note ini jadi senyam senyum sendiri.. ternyata kita punya sifat yang sama, meskipun bedanya saya ga bertabur prestasi seperti shabrina, tapi kebiasaan seperti itu sudah banyak berkurang sekarang..

  2. Solusi yang kakak temukan terhadap masalah kakak apa? karena saya juga merasa seperti kakak, hanya saja saya tidak memegang jabatan apapun (ruang lingkup kelas) tapi saya berkeinginan untuk merubah kelas menjadi bukan hanya sekumpulan orang saling mengenal data pribadi saja (nama, dll) tapi sebagai sekumpulan orang yang saling mengenal dan memahami (re: keluarga). Tapi saya jadi dipandang hal-hal negatif oleh beberapa teman saya, apalagi anggota di kelas ada yang sudah menikah dan sudah punya anak.. saya sebenarnya hanya ingin semua saling peduli, tapi mungkin cara saya yang masih perlu diperbaiki, karena saya belum menganalisa karakter2 teman2 saya, jadi saya bertindak sesuai dengan pemikiran saya sendiri dan dengan cara saya sendiri.. padahal belum tentu cara saya cocok dengan mereka.

    Kalau boleh saya -yang umurnya dan pengalamannya jauh dibawah kakak- berpendapat, mungkin kakak ada baiknya perlu memahami orang-orang itu dahulu sebelum mulai beraksi atau menanyakan mau menjadi seperti apa mereka? bukankah tugas guru/pembimbing/dll adalah menuntun? membimbing? jadi bukan guru yang menentukan akan menjadi seperti apa murid tersebut, tapi murid itu sendiri.

    Saya tidak tau ka, kasus kakak sama atau tidak dengan saya.. yang saya tau adalah, saya juga merasa kelebihan energi dan ingin memberikan energi saya kepada orang-orang sekitar, yang terkadang orang melihatnya ambisius dll. Saya pun masih mencari cara untuk membuat kelas saya menjadi keluarga, saya hampir menyerah, tapi teman-teman yang sependapat dengan saya memegang pundak saya dan menggenggam tangan saya. Saya juga ingin memegang pundak kakak dan menggenggam tangan kakak, kita sama-sama bergerak di jalan Allah yuuk kaa. 🙂

  3. Assalamu’alaikum teteh
    Wah :”)
    lihat tulisan teteh jadi merasa aneh, padahal menurut aku baik-baik aja sih teteh selama ini. Menginspirasi selalu kok.

    Iya sih, teteh aku juga pernah ngerasa yang sama
    *curcol. Terus alhamdulillahnya sama juga jadi merasa pengen memperbaiki diri. *Terus perasaan ini disyukuri deh.

    Ga tau sih teteh, perasaan teteh aja atau kata orang-orang. Kan setiap orang punya cara sendiri ya memberikan kasih sayang, aku selama jadi murid mentoring teteh nyaman-nyaman aja sih *kangen dimentoring teteh lagi…

    Teriring doa sajo deh, semoga teteh senantiasa mendapatkan rahmat dan barokahNya di setiap perjalanan teteh, aamiin.
    Semangaattt!!! 🙂

    1. Wa’alaykumussalam wrwb. Elfaaa… Apa kabar dik? Selama ini kita kalo ketemu cuma sapa2 singkat aja ya. Entah elfa nya yg lagi buru2 atau tth yg lagi dikejar deadline 😅
      Oh gitu ya..sebetulnya tulisan ini sekedar lintasan pikiran, tapi malah kepikiran sepanjang malam. 😅
      Setelah nulis ini jd agak plong, dan berharap ada banyak orang yg mengingatkan jk tth over dalam melakukan sesuatu, terutama yg melibatkan org2 di sekitar tth.. 🙂

      Btw skrg elfa mentoringnya sama siapa? Masih jalan kan ya? Maaf ya dik, krn setahun meninggalkan indo, jadi banyak yg keskip deh..afwan :((

      Aamiin ya Rabb..doa yang sama utk Elfa. Semoga berkah aktivitasnya ya dik, semoga bermanfaat selalu utk org2 di sekitar. Sayang elfa krn Allah ❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s