Jawaban dan Ujian


Pernahkah kamu sampai pada kondisi ini?

Tiba2 saja lahir keinginan kuat dari dalam dirimu untuk menghentikan doa yang hampir selalu kamu panjatkan dalam doamu, dalam setiap shalat malammu, dan dalam ikhtiar panjangmu.

Kamu sampai pada satu fase dimana kamu perlu menurunkan obsesi yang kamu buat. Sebab kamu tersadar bahwa obsesi itu terbangun dari asumsi2 tak berdasar yang lahir dari lingkungan.

———————

Selama ini, saya selalu punya capaian dalam hidup. Hampir tidak pernah sama sekali saya bergerak tanpa output yang ingin saya capai. Capaian akhirat, semuanya mengarah kesana. Dan tentunya, di-break down dalam capaian2 kongkret.

Bagaimanapun ceritanya, sebesar apapun capaian tersebut, ikhtiar dua arah itu penting. Ikhtiar dalam bentuk doa, dan ikhtiar dalam prosesnya mencapai itu. Menguatkan doa, dan memperluas kemungkinan. Keduanya penting.

Tentu saja, setiap capaian2 itu, didorong oleh suatu hal yang besar. Kebaikan dunia dan akhirat.

Seperti halnya berikhtiar menyukseskan start up bisnis yang saat ini sedang saya bangun. Membuka peluang2 investasi, kerjasama, kolaborasi, sinergi dengan berbagai pihak dan stakeholder penting, infiltrasi kebijakan, dsb yang merupakan ikhtiar horizontal. Tentunya, saya juga terus berikhtiar secara vertikal, untuk terus meminta keberkahan dari karir yang sedang saya rintis pasca kelulusan S1 saya. Berharap agar Allah mempertemukan setiap rencana2 saya dengan rencana2Nya yang menakjubkan di masa depan.

“Wa kaana wa’dullahi haqqa”

Begitu kata Allah.

Bahwa janjiNya itu benar, mutlak, pasti. Dan tidak akan teringkari. Pilihannya hanya dua, saat ini, atau nanti.

Saya juga percaya, bahwa perdagangan terbaik, jual-beli yang paling menguntungkan, adalah jual-beli yang dibangun oleh seorang hamba dengan Rabb-nya. Yang tak hanya berbuah ampunan dan surga untuk kepentingan akhirat, tetapi juga pertolongan Allah dan kemenangan yang nyata, yang lebih dekat dengan kepentingan dunia (QS. Ash-Shaff:12-14).

———————

Lalu bagaimana membedakan antara jawaban dan ujian dari ikhtiar kita?

Di saat doa-doa yang kamu panjatkan memberikan kode2 tertentu yang mengindikasikan dua hal: apakah ini jawaban? Ataukah ujian kesabaran?

Jawaban, jika tidak sejalan dengan harapan, biasanya membuat tendensi tersendiri untuk bersikap negatif. Entah itu su’udzan pada Allah, menghentikan doa, pundung dalam berbuat kebaikan, melonggarkan amalan, dsb.

Ujian, jika seorang hamba memandang suatu perkara sebagai ujian, sebagai tanda bahwa Rabb-nya tidak memberikan suatu hal secara instan, maka ia identik dengan aktivitas positif.

Memperkuat doa, memperkencang sabuk pengaman terhadap perbuatan dosa, mengambil peluang pahala sebanyak2nya, dan tentunya, lahir rasa tawakkal yang mendalam karena percaya pada setiap keputusan-Nya.

Sederhana saja. Mungkin kita terlalu sombong, sehingga setiap doa2 kita, dituturkan secara spesifik. Akibatnya, kita menjadi sulit memandang suatu perkara secara sederhana. Bahwa tugas kita adalah berusaha, selebihnya adalah urusan Allah. Kemudian, lahirlah rasa percaya pada setiap keputusan-Nya.

———————

Jodoh itu, cara Allah menguji hamba-Nya, Shab. Kode2 itu, juga ujian dari Allah untuk melihat seberapa sabar kita menjemput takdir.

———————

Semoga Allah mudahkan dalam berikhtiar. Semoga Allah senantiasa mengalirkan berkah. Doa saya, baarakallahu lak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s