Naskah Pidato Wisuda Ketiga ITB 2014/2015


Yang terhormat

Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat,

Pimpinan dan Anggota Senat Akademik,

Rektor ITB beserta jajaran Wakil Rektor ITB,

Pimpinan Fakultas/Sekolah, seluruh Dosen, para pimpinan Unit Kerja, dan staf ITB,

Orang tua/wali/keluarga, rekan-rekan wisudawan dan wisudawati,

Tamu undangan serta hadirin yang berbahagia,

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan YME karena atas rahmat-Nya lah kita dapat berkumpul bersama di dalam ruangan ini dalam suasana damai dan sangat berbahagia untuk mengikuti acara Wisuda Ketiga Institut Teknologi Bandung Tahun Akademik 2014-2015.

Untuk membuka kata perpisahan ini, izinkan saya mewakili para wisudawan dan wisudawati mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya dan memberikan penghargaaan setinggi-tingginya kepada Rektor ITB, para Wakil Rektor, Dekan, Ketua Program Studi, Dosen, dan seluruh sivitas akademik ITB, atas segala ilmu pengetahuan dan berbagai pembelajaran yang luar biasa yang telah kami dapatkan di Kampus Ganesha ini.

Terima kasih atas semangat berkarya dan berkontribusi untuk indonesia yang telah ditransfer kepada kami melalui kegiatan perkuliahan ataupun non perkuliahan, terima kasih telah memberikan kesempatan pada kami untuk berkembang dan menjadi dewasa dalam pemikiran, sikap dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup. Terima kasih kami ucapkan sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya atas segala bimbingan selama menempuh studi di Kampus Ganesha.

Tak lupa kami haturkan terima kasih kepada Ayah dan Bunda tercinta, atas kasih sayang dan pengorbanan yang tak pernah lekang oleh masa dan tak pernah luput oleh peristiwa. Terima kasih kepada Ayah dan Bunda yang telah membesarkan, menjaga, menemani, dan mendoakan kami hingga saat ini. Terima kasih telah menemani malam-malam kami dalam mempersiapkan sidang, terima kasih telah memahami kepanikan kami ketika kami harus bermalam2 di lab demi menyelesaikan skripsi. Terima kasih atas doa2 yang tak henti-hentinya dipanjatkan. Sungguh, semata2 hal itu kami lakukan tidak lain adalah untuk mengukir senyuman terbaik di wajah ayah dan bunda. Hari ini, toga ini, ijazah ini, empat/lima/enam tahun perjuangan kami di ITB, kami persembahkan untukmu. Mungkin pemberian ini tak sebanding dengan pengorbananmu untuk kami, tapi ini adalah bukti kecil dari rasa bakti dan terima kasih kami untukmu, Ayah dan Bunda.

Rekan-rekan wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,

Berdiri di sini, di hadapan teman-teman wisudawan, adalah sebuah kehormatan bagi saya. Karena pidato ini mungkin pidato terakhir yang akan teman-teman dengar di Kampus Ganesha ini, saya juga menganggap ini sebagai sebuah tanggung jawab, untuk tidak hanya mengucapkan terima kasih, tetapi juga meninggalkan pesan yang bermakna, yang dapat membantu kehidupan teman-teman dan menjadi penyemangat bagi saya dan teman2 untuk menyambut masa depan.

Sebuah keniscayaan bahwa kita akan melalui satu persatu checkpoint kehidupan kita di dunia ini. Dan jika setiap checkpoint itu berhasil dilewati dengan baik, maka sebuah rangkaian tantangan kehidupan yang lebih besar akan menunggu kita. Seperti halnya game, setelah berhasil melalui satu checkpoint, kita akan naik pada level yang lebih tinggi, pada tantangan yang lebih besar. Pada level sebelumnya, kita telah melalui berbagai treatment yang dapat meningkatkan kemampuan kita, sehingga kita akan siap jika dihadapkan pada tantangan yang lebih besar. Begitupun dengan checkpoint kelulusan sarjana ini. Berbagai pembelajaran yang telah kita dapatkan selama masa perkuliahan di kampus seharusnya telah mendewasakan kita dalam banyak hal. Sehingga dengannya, kita mampu menghadapi tantangan dan persoalan yang semakin kompleks dan rumit di luar sana. Oleh karena itu, saya ingin mengakhiri fase kehidupan kampus ini dengan pesan bermakna untuk menyadarkan saya pribadi dan teman2 semua tentang hal-hal penting untuk menghadapi tantangan pasca kampus.

Rekan-rekan wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,

Berbicara tentang tantangan pasca kampus, saya tidak akan membahas mengenai lulusan ITB yang katanya sombong ketika bersaing dengan lulusan dari universitas lain, atau yang katanya kelewat ”pede” terhadap kemampuan sendiri, atau yang katanya sulit bekerja sama dalam tim karena terbiasa dengan tugas perkuliahan yang menuntut diri menjadi individualis selama di kampus. Saya rasa itu menjadi persoalan klasik mahasiswa ITB yang seharusnya sudah berhasil di-overcome dengan segala fasilitas organisasi yang tersedia di kampus, baik di kabinet keluarga mahasiswa, di himpunan, di unit kampus, atau bahkan eksternal kampus, juga dari berbagai metode pengajaran diskusi-presentasi kelompok, serta dari kuliah-kuliah pengetahuan umum. Seharusnya persoalan itu sudah selesai dan hilang dari kamus kehidupan para sarjana ITB. Karena kita sama-sama menyadari bahwa kerendahhatian atau humbleness yang disertai dengan kepercayaan diri pada kadar yang tepat adalah salah satu modal penting dalam menggapai kesuksesan di luar sana.

Begitu juga persoalan arogansi keilmuan. Kita sama-sama menyadari bahwa tidak ada bidang studi yang lebih unggul dari yang lainnya. Tidak ada pekerjaan yang lebih baik dari yang lainnya. Yang perlu kita sadari adalah, bahwa kita sebagai lulusan sarjana ITB, kita membawa satu keping solusi untuk bangsa, yang jika setiap kepingan-kepingan itu disinergikan, maka itu semua bisa menjadi solusi untuk permasalahan bangsa secara keseluruhan, di kemudian hari. Kita semua bekerja untuk itu, dan tugas kita adalah memastikan diri kita untuk terus berada pada track tersebut.

Rekan-rekan wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,

Saya berdiri disini untuk mengingatkan diri saya dan teman2 semua tentang hal-hal yang saya rasa penting dalam menghadapi pasca kampus. Pepatah mengatakan, “The more you respect to the others, the more you get in return.” Semakin kita bersikap hormat pada hal-hal di sekitar kita, kita akan mendapatkan banyak hal.

Sebagai contoh, pada saat masih menjadi mahasiswa, jika kita respect terhadap dosen, tentu kita akan menghargai mereka dengan memilih untuk mendengarkan materi perkuliahan di kelas dibandingkan mengobrol atau tidur, bukan? Artinya, kita akan mendapatkan banyak hal dari mereka. Mungkin tidak hanya materi yang disampaikan, tapi lebih dari itu. Contoh lainnya, jika kita respect terhadap waktu yang kita miliki, maka tentu kita akan lebih berhati-hati dalam mempergunakan waktu, bukan? Oleh karena itu, respect menjadi penting dalam mencapai kesuksesan pasca kampus. Hidup akan terasa lebih hidup ketika kita respect terhadap semua hal yang berinteraksi dengan kita.

Selain itu, saya juga percaya bahwa setiap kita berpotensi menjadi inspirasi bagi sekitar. Setiap kita punya aspek-aspek tertentu yang bisa menjadi teladan. Dari sikap respect tersebut, seharusnya kita bisa menjadi role model bagi lingkungan kita. Model bagi komunitas kita, model bagi kampus kita, model bagi ayah-ibu kita, model bagi agama kita, atau bahkan model bagi bangsa ini. Karena pada dasarnya kita adalah model, namun apakah kita menyadari betul tentang hakikat kita sebagai model atau tidak, itulah yang menjadi berbeda bagi setiap orang.

Dengan modal respect dan menyadari bahwa kita sebagai role model bagi sekitar, keduanya bisa menjadi bahan bakar kita untuk mengakselerasi kita mencapai kesuksesan masa depan.

Rekan-rekan wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,

Selama kita di ITB, seringkali kita diajarkan bahwa dunia membutuhkan kita. Bahwa kita adalah “masyarakat sipil terpelajar”, “iron stock”, “guardian of values”, dan serentetan kata-kata canggih lainnya untuk menggambarkan bahwa mahasiswa adalah sosok idealis yang harus memperjuangkan segalanya demi kemaslahatan bangsa. Kita diingatkan tentang Soekarno, tentang Habibie, dan para pemimpin negeri yang lahir dari kampus ini, dan bagaimana kita harus bisa seperti mereka. Dan memang benar, Indonesia ini membutuhkan sosok-sosok yang bisa membawakan perubahan, wirausaha-wirausaha yang bisa menciptakan lapangan kerja, teknokrat yang bisa membawakan inovasi untuk bangsa. Dunia ini membutuhkan pemimpin-pemimpin yang bisa memajukan peradaban.

Dan hari ini, kita telah menjadi sarjana. Begitu banyak jalan yang akan terbuka. Sebagian dari kita mungkin sudah menentukan jalan mana yang akan kita tempuh, sebagian dari kita mungkin masih memikirkan jalan mana yang sebaiknya dipilih. Apapun jalan yang akhirnya kita pilih, mari kita pastikan bahwa jalan tersebut bukanlah suatu hal yang merupakan sikap impulsif kita dalam mengambil peluang. Bukan juga karena gengsi ataupun materi. Bukan juga karena paksaan atau ikut-ikutan, tetapi itu merupakan jalan yang telah melalui banyak pertimbangan dan merupakan output dari pendefinisian visi-misi hidup kita yang jelas.

Apalah artinya IPK yang tinggi, predikat cumlaude, predikat mahasiswa berprestasi, dengan setumpuk prestasi, kompetensi, serta kapasitas soft skill maupun hard skill yang kita miliki, kalau ternyata kita masih belum selesai dalam mendefinisikan visi-misi hidup kita sendiri. Kita perlu mendefinisikan karena apa dan untuk apa kita beraktivitas ini itu setelah lulus dari ITB. Karena dan untuk apa kita bekerja, karena dan untuk apa kita melanjutkan studi. Bukan hanya untuk mewujudkan capaian-capaian pribadi, bukan untuk keuntungan personal saja, tapi juga untuk menuai kebermanfaatan yang lebih besar lagi. Pepatah mengatakan, sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi orang lain. Sewaktu saya di ITB, saya merasakan secara langsung realisasi dari pepatah tersebut. Saya lebih banyak berkecimpung di aktivitas kemasyarakatan, yang melihat realita masyarakat Indonesia secara langsung. Apa kebutuhan mereka, apa kesulitan mereka. Mungkin bagi sebagian besar orang, aktivitas sosial itu terkesan tidak menguntungkan dan tidak menjanjikan, tapi siapa sangka, justru dengan tujuan menuai kebermanfaatan pada masyarakat itulah, semakin terbuka peluang-peluang lainnya yang dapat mengakselerasi saya mewujudkan visi kehidupan saya. Saya berkesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke beberapa negara di dunia dan dengan izin Tuhan saya dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi SITH ITB pada tahun 2013. Yang saya rasakan selama saya menjadi mahasiswa adalah bahwa ketika kita mengejar kebermanfaatan, lebih jauh dari sekedar keuntungan personal, maka Tuhan akan memberikan bonus yang lebih banyak yang bahkan tidak pernah kita harapkan sebelumnya.

Di sisi lain, kita juga harus menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi logis yang harus dihadapi. Butuh investasi energi, waktu, dan harta yang banyak. Butuh modal keikhlasan, kesabaran, doa, serta ikhtiar yang berlebih. Tidak ada kesuksesan yang instan.

Teman-teman wisudawan yang berbahagia,

Besok, dengan titel sarjana yang akan menempel di belakang nama kita, kita akan memilih, apa yang ingin kita lakukan dengan hidup kita. Kita akan memikirkan cita-cita kita, hal-hal yang kita inginkan. Apapun jalan yang akhirnya kita pilih, semoga jalan itu adalah jalan terbaik, yang akan membentuk kita menjadi manusia-manusia yang lebih dewasa, yang lebih bijaksana, yang lebih baik.

Selamat menempuh fase kehidupan baru, teman2. Selamat menempuh masa depan. Selamat berkarya dan berkontribusi untuk negeri.

Akhir kata, saya mengajak teman2 di sini untuk berdiri dan memberikan salam terbaik kita, untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.

Salam ganeshaaaaa mulai!

Salam ganesha, bakti kami, untukmu, Tuhan, bangsa, dan almamater. Merdeka! 

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Salam sejahtera untuk kita semua,

Bandung, 1 Agustus 2015

Wakil Wisudawan

Shabrina Nida Al Husna

NIM 10410012

Program Studi Mikrobiologi

Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati

  

Gambar 1. Foto saat mewakili wisudawan untuk memberikan sambutan di acara wisuda ketiga ITB.

  

Gambar 2. Foto bersama Ayah dan Bunda tercinta di Sasana Budaya Ganesha, 1 Agustus 2015.

Advertisements

3 thoughts on “Naskah Pidato Wisuda Ketiga ITB 2014/2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s