Persaudaraan terbaik


Cerita ini bukan cerita dongeng harian yang diwariskan turun temurun. Bukan juga tentang Sleeping Beauty yang tertidur ratusan tahun untuk kemudian terbangun kembali karena kedatangan seorang pangeran dari negeri seberang. Bukan pula tentang Cinderella, seorang gadis miskin (yang sebenarnya kaya) yang mendapat perlakuan jahat dari sang ibu tiri, namun karena kebaikan dan kelembutan hatinya, ia menikah dengan seorang pangeran gagah dan berwibawa. Cerita ini juga bukan peristiwa fiksi pada novel-novel percintaan. Apalagi cerita fiksi yang diada-adakan.

Kisah ini, adalah kisah nyata yang abadi. Kisah persaudaraan paling indah sepanjang sejarah peradaban manusia.

Ialah para Muhajirin, yang rela meninggalkan harta, jiwa, istri, bahkan anak-anak mereka untuk memperluas keberterimaan islam di kalangan masyarakat dunia. Berjalan jauh dari Makkah ke Madinah tanpa membawa aset berharga bersama mereka. Berpanas-panas di bawah terik matahari Saudi Arabia, berada dalam ketegangan dikejar musuh-musuh Allah.

Sungguh pengorbanan yang sangat mulia di mata Allah.

Ialah para Anshar, yang menyambut sang sahabat dengan sambutan terbaik. Karena kepekaan hati yang dilandasi dengan ikatan persaudaraan, membuat mereka tak membiarkan saudaranya dalam kesusahan. Tidak tanggung-tanggung, sepenuh hati dan pengorbanan secara total membantu mengentaskan kesusahan yang dihadapi Muhajirin.

Persaudaraan indah yang mengagumkan ini diabadikan oleh Allah di dalam Al-Quran, di surah Al-Hasyr(59) ayat 9.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshâr) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”

Sungguh, sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak pernah ditemukan sambutan yang begitu hangat kecuali sambutan Anshar terhadap Muhajirin. Mereka sangat mencintai Muhajirin, berani berkorban, berperan aktif, dan sanggup menanggung bebannya. Keakraban dan cinta Anshar yang sangat mendalam terhadap Muhajirin, membuat mereka rela mewariskan harta benda mereka. Mereka sangat mengasihi saudaranya, mengorbankan hartanya, bahkan lebih mementingkan saudaranya walaupun mereka sendiri kesusahan (itsar). Sementara kaum Muhajirin menerima dengan sewajarnya, tidak menjadikannya sebagai kesempatan yang berlebih-lebihan.

Sampai-sampai orang-orang Muhajirin sendiri, sebagai pendatang yang mendapatkan segala kebaikan orang Anshar, mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, kami belum pernah mendapati seperti kaum yang kami datangi ini (yakni kaum Anshar). Mereka pandai menghibur saat kesulitan dan paling baik berkorban saat bercukupan. Mereka telah mencukupi kebutuhan hidup kami dan berbagi kepada kami dalam hal tempat tinggal. Sampai-sampai kami khawatir mereka memborong pahala semuanya.” Rasulullah Saw menjawab, “Tidak (kalian tidak akan kehilangan pahala), selama kalian memuji mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka.”

Maka wahai diri, adakah yang tidak menginginkan keikhlasan paling indah seperti yang Muhajirin lakukan? Ketika harta, istri, anak-anak, bahkan semua itu tidak berharga lagi di mata mereka..

Adakah manusia di dunia ini yang tidak bergembira disambut dengan sambutan terbaik seperti yang dilakukan Anshar? Saat kelelahan mendera dan ketakutan menjelma hari-hari dalam perjalanan, kemudian orang-orang yang bahkan belum pernah kita temui sebelumnya, bersedia mengulurkan tangan terbaik dan memberikan senyum terindah di wajah-wajah mereka..

Siapa pula yang tidak merindukan persahabatan dan persaudaraan terbaik seperti yang dilakukan Anshar dan Muhajirin? Memberikan doa terbaik, harta terbaik, rumah terbaik, senyuman terbaik, bahkan istri terbaik untuk mereka? Semua itu semata-mata karena Allah, karena kecintaan pada Rabb mereka..

Begitu pula Muhajirin yang tidak berlebihan dalam menanggapi kebaikan saudaranya..

Persaudaraan yang terjadi di antara mereka, bukanlah persaudaraan yang sudah bertahun-tahun dibangun. Bukan pula persaudaraan yang dilandasi aspek keduniaan. Bukan karena rekan bisnis, teman curhat, teman seorganisasi, atau apapun itu. Tapi persaudaraan yang terjadi di antara mereka adalah persaudaraan atas dasar tsiqoh. Percaya pada saudaranya, bahwa mereka akan terus berjuang bersama menyambut seruan-Nya. Bahwa mereka tidak akan pernah saling mengkhianati dalam berjuang di jalan-Nya. Bahwa mereka akan terus bersama meniti jalan menuju surga-Nya.

Maka wahai diri, tidakkah kamu merindukan persahabatan terbaik yang diagung-agungkan oleh-Nya itu?

 

9 Agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s