Mendewasa dalam Cinta


Mendapati diri berada dalam proses pendewasaan terus menerus adalah suatu pencapaian tersendiri bagi saya pribadi. Pencapaian ini bahkan melebihi segala prestasi atau pencapaian lainnya yang pernah saya raih, yang menurut orang lain adalah sebuah kebanggaan.

Bagi saya, menjadi dewasa adalah pencapaian paling signifikan dalam sejarah kehidupan. Karena dengan hal tersebut, saya seperti memiliki trade off yang baik dalam memandang kehidupan. Hal itu juga merupakan bukti bahwa saya adalah makhluk hidup ciptaan-Nya.

Saya menyadari bahwa pendewasaan itu sendiri juga sebuah keniscayaan. Sebab mendewasa berarti berkembang dalam banyak hal. Dalam memandang kehidupan, cara berfikir, personality, iman, amal dakwah, bahkan dalam urusan cinta sekalipun.

Dan di tulisan ini, saya akan mencoba meng-highlight di bagian yang terakhir.

Urusan cinta. Bagaimana proses pendewasaan itu terjadi.

Mungkin bagi orang lain di luar sana, saya selalu terlihat menyenangkan dan baik2 saja. Beraktivitas dengan berbagai label prestasi yang menempel di diri saya. Bahkan suatu saat ada yang dengan sengaja mengatakan kepada saya, “Shab, ujian lo dimana sih? Hidup lo enak banget ya. Lo nggak punya masalah akademik. Keluarga lo gilaaa, keren banget. Lo prestatif banget. Kayaknya lo kalo apply LPDP langsung keterima deh. Pengen banget jadi lo, Shaaab, ” dan berbagai rentetan kata lainnya yang membuat saya muak. Haha

Kenapa muak? Oh ya! Bahkan Rasul pun melarang seseorang memberikan pujian berlebih kepada temannya, apalagi menyatakannya secara ekplisit di hadapannya. Memberikan pujian berlebih di hadapan seseorang itu diibaratkan seperti menggorok-gorok leher temannya sendiri. Na’udzubillah min dzaalik..

Saya pun berkali-kali mengatakan.

Hadzaa min fadhli Rabbii. Ini semua datang dari kemuliaan Allah. Tidak ada satupun kemuliaan yg orang lain lihat di diri saya yg datang dari diri saya sendiri. I definitely, confidently, absolutely, say this. Semua yg ada di diri saya ini, jika kelihatannya baik, maka sunguuuh, for real, for sure..this came from God, from Allah.

Kedua, mungkin apa yg orang lain lihat di diri saya, belum sepenuhnya merupakan diri saya. Banyak hal2 yang saya sembunyikan. Termasuk perkara ujian. Siapa sangka, orang sekuat saya punya ujian soal percintaan, berkali-kali mendapatkan ujian yang sama dengan kadar yang meningkat. Rasanya seperti secara tidak langsung Allah mengatakan bahwa saya tidak lulus ujian sebelumnya.

Ini perkara yang sederhana.

Perlukah saya mengumbar-ngumbar perasaan sedih saya, kecewanya saya, jatuhnya saya, ke hadapan publik ketika saya diberikan ujian yang bagi saya adalah ujian terberat dalam kehidupan?

Apa keuntungan yang bisa diperoleh oleh publik terkait ini? Adakah nilai positif yang bisa diambil?

Jika dibandingkan dengan mempublikasikan apa-apa yang telah saya lakukan dan saya capai, apa kira2 manfaat yg bisa dipetik jika itu adalah tentang ujian kehidupan yg sedang berjalan?

Saya rasa, jika itu adalah sebuah kebaikan, maka publik bisa menilai dan mengambil inspirasi untuk kehidupan mereka. Inspirasi kebaikan. Inspirasi yang mengarahkan pada perbaikan diri.

Saya bukan menutup-nutupi. Tapi yang pasti, semua itu ada waktunya. Saya akan bercerita tentang apa yang terjadi dalam kehidupan saya selama ini ketika semua persoalan itu sudah selesai.

Saya akan berbagi, itu sebuah keniscayaan.

Jadi percayalah..Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keseimbangan. Ada yang di atas, ada yang di bawah. Ada yang baik, ada yang buruk. Ada yang unggul, ada yang kurang. Semua itu tentang pilihan. Apakah kita melihatnya sebagai sesuatu yang akan menguatkan kita, atau menjatuhkan kita. Semua itu hanya persoalan bagaimana kita menilai setiap karunia yang Allah kasih. Dan saya memilih semuanya sebagai hal-hal yang menguatkan saya, dan mendewasakan saya dalam banyak hal.

Lalu, bagaimana proses pendewasaan itu terjadi?

Dulu, sewaktu saya SMA, bahkan sampai kuliah (tapi tidak sampai sekarang), saya memiliki penilaian yang kekanak-kanakan soal cinta.

Bagi saya, cinta itu selalu menggebu-gebu.

Cinta itu harus selalu punya alasan mengapa kita mencintainya.

Cinta itu tidak ada kecacatan di dalamnya, sehingga dengan itu, kamu pun menjadi diri yang berbeda, bukan dirimu yang sesungguhnya.

Cinta itu adil dalam arti yang sama, mempertemukan orang-orang pada level yang sama.

Tapi semakin dewasa, saya menyadari bahwa saya mengalami pergeseran makna cinta.

Semua definisi saya tentang cinta di masa itu bisa dibilang bullshit. Nothing.

Bagi saya yang sekarang, Cinta itu bukan yang menggebu-gebu. Mencintai dalam arti yang sesungguhnya adalah mencintai dalam kadar yang pas. Tidak kurang dan tidak lebih. Tidak menggebu-gebu. Tidak juga tidak mencintai. Sebab yang menggebu-gebu itu lahir dari hawa nafsu. Mencintai berarti mendistribusikan rasa cinta secara adil. Sebab pada prinsipnya, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya mencintai ciptaan-Nya melebihi kecintaan kepada-Nya. Ia Pencemburu, itu yang kita tahu.

Cinta itu melahirkan perasaan tenang, karena parameter penilaiannya itu kamu serahkan sepenuhnya pada Allah. Bukan lahir dari asumsi-asumsi pribadi, baik itu yang menjatuhkan, atau yang membangun harapan. Saya pikir, berdasarkan pengalaman saya pribadi ya, sikap menggebu-gebu, deg-degan, lalala, semua itu lahir dari pembangunan asumsi-asumsi pribadi yang padahal belum ada buktinya m(_ _)m

Seringkali kita terjebak pada asumsi, yang penyebabnya bahkan sesuatu yang kita buat-buat sendiri.

Karenanya, jangan pernah berasumsi. Baik asumsi yang menjatuhkan, maupun yang membangun harapan.

Cinta itu, kamu tidak perlu menemukan sejuta alasan untuk mencintainya. Yang perlu kamu miliki adalah perasaan tenang yang datangnya dari kepasrahan total mengenai siapa yang akan menjadi partner kita mengarungi badai. Bukan melihat pelangi ya, tapi mengarungi badai. Oh ya, sebab pada kasus tertentu, menekan rasa bahagia yang berlebihan itu jauh lebih sulit dari menghadapi ujian dengan kadar kesedihan yang pas. Euforia kebahagiaan lebih sulit ditekan daripada memunculkan prasangka baik saat mendapat ujian kesedihan, kan?

Ternyata, mencintai bukan berarti menjadi diri yang berbeda dengan terpaksa. Mencintai bukan berarti tidak ada kecacatan di dalamnya. Mencintai berarti menjadi diri sendiri yang lebih baik. Mencintai berarti berubah menjadi lebih baik dengan keikhlasan, tanpa keterpaksaan. Kamu tidak perlu menghilangkan ego. Kamu juga tidak perlu mengalah. Pun kamu tidak perlu mengharapkan kesempurnaan. Kamu tidak membutuhkan sosok seperti Rasul, seperti Abu Bakar, Muhammad AlFatih, Shalahuddin Al Ayyubi, As-Sudays, Habibie, Ir.Soekarno, Jendral Sudirman, Newton, Einstein, dan banyak tokoh-tokoh lainnya, untuk menjadi hebat. Yang kamu perlukan adalah membangun..menumbuhkan sosok-sosok itu di dalam diri orang yang nantinya menjadi partner dalam kehidupan kamu.

Cinta itu, bukan mempertemukan orang-orang pada level yang sama menurut pandangan manusia.

Cinta itu mempertemukan dua insan pada level yang sama menurut pandangan Allah.

Cinta itu bukan yang saling melengkapi menurut pandangan manusia.

Cinta itu yang bisa saling mendukung dan bersikap respect menurut pandangan Allah.

Pada saat kita mencintai, jika belum semestinya terjadi, sebetulnya kita sedang mencoba untuk menjadi orang yang kita cintai. Bagi kita saat itu, sosok ideal seorang manusia mungkin adalah orang yang kita cintai. Bedanya, kita melihatnya pada lawan jenis kita. Mengapa? Sebab itu fitrah. Fitrah mencintai dan dicintai. Kita sedang belajar menjadi sosok orang yang kita cintai, mengejar diri kita sampai pada level tersebut.

Pada saat itu, definisi cinta bukan pada artian yang sesungguhnya. Tapi mencintai yang berarti belajar.

Kita merasa bahwa kita lemah dalam hal-hal tertentu, sehingga kita perlu belajar dari orang yang kita cintai. Tapi percayalah, proses belajar di saat itu (pada saat kita belum semestinya mencintai), adalah proses belajar yang singkat. Yang berbatas, yang bahkan berbayar. Berbayar harta, waktu, pikiran, yang sia-sia.

Tapi ketika waktunya tiba, mungkin saja itu adalah proses belajar yang tidak akan ada henti-hentinya. Proses belajar sepanjang hayah. Proses belajar yang membuahkan pahala, yang bahkan mulia di mata-Nya. Proses belajar untuk mencintai terus-menerus, untuk memahami, membangun, dan sebagainya.

Adil bagi Allah adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah. Indikator kita siap untuk mencintai adalah saat kita menekan parameter-parameter pribadi untuk memberi ruang bagi parameter Allah. Parameter yang bersumber dari Allah adalah parameter yang hakiki dan menyimpan banyak makna.

Di sisi lain, saya tidak akan memaksakan orang-orang di sekitar saya untuk mengubah cara pandang, atau bahkan untuk memiliki pendapat yang sama seperti saya. Menurut saya, nikmati saja prosesnya. Nikmati saja alurnya. Lihatlah bagaimana Allah mengajarkan kita, membuat kita terus mendewasa. Tapi yang perlu kita sadari adalah kita harus siap dengan semua konsekuensi dari setiap pilihan. Apapun yang terjadi pada akhirnya, kita harus siap menerima. Sebab kita juga yang memilih untuk seperti itu sejak awal kita diberi pilihan..

Saya rasa, kita juga tidak perlu memaksakan diri untuk menemukan makna di balik setiap kisah kehidupan yang kita alami kalau memang belum diizinkan untuk menemukannya. Kita tidak perlu bertanya mengapa untuk menemukan alasan logisnya. Karena pada dasarnya, banyak hal di dunia ini yang kita tidak tahu dan tidak perlu tahu alasan terciptanya, termasuk masa lalu.

Bagi kita yang telah melalui masa-masa sulit dengan sempurna, dan menyadari secara penuh setiap checkpoint2 kehidupan itu dengan baik, pasti akan menemukan definisi yang berbeda dalam mencintai. Mencintai dalam istilah yang ditemukan semasa itu sangat mungkin berbeda dengan di masa setelahnya.

Past is past. We live at present, and we are heading our future. Thats all we should know.

Bandung, 22 Agustus 2015

Advertisements

2 thoughts on “Mendewasa dalam Cinta

    1. Wa’alaikumussalaam wrwb. Halo Nova, salam kenal 🙂 Shabrina masih belajar nulis juga, kok, Nova.
      Silahkan kalau mau dishare, semoga bermanfaat yaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s