Another Checkpoints


Suatu kesyukuran ketika mendapati diri terus tumbuh dan berkembang, meniti satu persatu anak tangga menuju kesuksesan. Meski cahayanya masih redup dan hilang-muncul di ujung, setidaknya ia terlihat. Setidaknya, ada janji-Nya yang selalu menjadi pegangan. Tidak pernah ingkar. Pasti.

Kesuksesan memang tak pernah berbohong, bahwa dibaliknya ada jutaan keluh yang harus dirasakan. Ada berliter-liter keringat yang harus ditumpahkan. Ada waktu dan harta yang perlu dikorbankan. Juga doa-doa di setiap malam yang dipersembahkan.

Kalau bukan untuk memberi manfaat bagi banyak orang, mana mungkin kaki ini kuat melangkah. Kalau bukan karena ridha-Nya yang senantiasa dirindukan, mana mungkin jiwa dan raga ini terus bertahan.

Beberapa pekan terakhir, banyak hal telah terjadi. Siapa sangka, jalan-jalan itu semakin terbuka. Satu persatu checkpoint terlewati dengan sangat baik dan memuaskan. Sampai saat ini, saya selalu yakin. Rencana-Nya memang selalu menakjuban. Di luar prediksi, atau bahkan asumsi. Jauh lebih tinggi dari apa yang diekspektasikan sebelumnya.

Salah satu alasan saya memutuskan untuk berbisnis, instead of melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi adalah untuk mendefinisikan ulang untuk apa saya harus studi. Untuk apa saya harus belajar lagi (walaupun pada dasarnya belajar itu sepanjang hidup).

Saya tidak ingin impulsif, apalagi ikut-ikutan. Asal lanjut sekolah tapi tidak tahu setelah itu akan melakukan apa. Asal lanjut sekolah dan tidak mengerti mengapa mengambil field tersebut. Asal lanjut sekolah karena ada peluang beasiswa yang terbuka sangat lebar. Asal melanjutkan sekolah karena gengsi ataupun materi. Asal melanjutkan sekolah karena malu, atau serentetan alasan tidak logis lainnya yang menyalahi hati nurani saya pribadi.

Selain itu, saya juga ingin membuat perubahan. Meskipun sebuah keniscayaan bahwa setiap manusia menginginkan perubahan dan terus berupaya membuat perubahan, tapi saya ingin membuat perubahan yang tidak biasa. Yang benar-benar tidak biasa.

Konsep triple helix yang selalu terngiang di benak saya dan terpaksa saya pelajari selama saya kuliah di ITB (karena terlibat dalam organisasi eksternal kampus), telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam kehidupan saya. Aktivitas saya yang banyak melibatkan stakeholder dari kalangan pemerintah dan masyarakat, juga elemen universitas, telah membuka mata saya tentang pentingnya implementasi konsep triple helix untuk percepatan perekonomian bangsa dan inovasi di segala lini.

Gagasan utama triple helix, menurut  Etzkowitz&Leydesdorff (2000), adalah sinergi kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Kalangan akademisi dengan sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologinya memfokuskan diri untuk menghasilkan berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif. Kalangan bisnis melakukan kapitalisasi yang memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sedang pemerintah menjamin dan menjaga stabilitas hubungan keduanya dengan regulasi yang kondusif [1].

triple helixGambar 1. Konsep Triple Helix (Rachmat Cahyono, 2015)

Saya mencoba menerapkan konsep ini di dalam aktivitas bisnis yang saya geluti saat ini. Melibatkan pemerintah untuk akselerasi aktivitas bisnis melalui kebijakan-kebijakan yang diterapkan, melibatkan elemen universitas seperti peneliti dan mahasiswa untuk memunculkan inovasi-inovasi terbaik, juga hubungan timbal balik komersialisasi produk berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh kaum intelektual.

Saya tidak akan fokus pada produk yang dikomerisalisasikan. Tapi yang ingin saya highlight adalah seperti apakah nilai perusahaan yang saya dan rekan-rekan bisnis saya bawa sampai saat ini. Bahwa kami tidak hanya ingin membuat perubahan, tapi kami ingin membuat perubahan yang tidak biasa. Awesome transformation.

Bisnis produksi adalah pilihannya. Sebab saat ini, sebagian besar bisnis yang dilakukan di Indonesia tergolong sebagai bisnis non-produksi, atau yang dikatakan masih mengolah bahan baku dari luar. Dengan kata lain, tidak mandiri dan masih mengandalkan pihak lain sebagai penyedia sokongan untuk proses produksi secara keseluruhan.

Konsep triple helix relevan bagi Indonesia saat ini ketika ekonomi Indonesia begitu menjanjikan dan menjadi salah satu pasar yang sedang bertumbuh, para investor asing berdatangan ingin menanamkan modal [1]. Konsep triple helix dapat menyentuh permasalahan bangsa lebih targeted, terarah dan komprehensif, sehingga dapat mendatangkan solusi yang lebih konkret untuk menjawab permasalahan eksisting. Keterlibatan beberapa stakeholder dalam implementasi bisnis juga menjadi alasan mengapa investor asing menjadi tergiur untuk menanamkan modal.

Bisnis beras jagung, atau produk komersialnya adalah Cornrice, yang sedang saya geluti saat ini, juga menerapkan konsep triple helix yang melibatkan tidak hanya satu pihak di pemerintahan, tetapi banyak pihak yang dirasa prospektif dalam mengakselerasi kemajuan industri.

12029164_1091830274163252_1207821512_nGambar 2. Cornrice: It’s a healthy life style!

Sebagai contoh, kami bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat untuk mereplikasi pabrik beras jagung di Kabupaten Garut yang dikenal sebagai pemasok jagung terbesar di Jawa Barat dan berkontribusi 5% untuk pasokan jagung nasional. Model yang menjadi referensi adalah pabrik beras jagung yang telah dipatenkan oleh pengusaha di Temanggung, dari hulu hingga hilir proses produksinya. Kami berencana untuk memberdayakan para petani di Garut untuk mengolah lahan seluas 120 ha yang nantinya akan ditanami jagung putih lokal Indonesia. Jagung putih inilah yang akan menjadi bahan baku utama untuk produksi beras jagung.

12021843_1091833620829584_1268802262_nGambar 3. Survey tahap 1 ke Desa Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

12047489_1091833614162918_332419342_n

Gambar 4. Gedung penyimpanan hasil pertanian kelompok tani Desa Banyuresmi.

12048593_1091833644162915_89315099_nGambar 5. Alat pendukung aktivitas pertanian, hibah dari BKP Jabar.

12000139_1091833630829583_2109899213_nGambar 6. Rotary drier, hibah dari BKP Jabar.

Pada dasarnya, program ini sejalan dengan program BKP Nasional, yakni Gerakan P2KP yang merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan dan merupakan salah satu kunci sukses pembangunan pertanian di Indonesia. Menurut BKP, gerakan P2KP dilaksanakan dalam tiga bentuk kegiatan utama yaitu: (a) Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari; (b) Pengembangan Pangan Lokal; serta (c) Promosi dan Sosialisasi P2KP [2]. Oleh karena itu, realisasi kerja sama diwujudkan dalam bentuk pemberian hibah dana dan support kebijakan oleh Badan Ketahanan Pangan untuk perusahaan kami sebagai eksekutor utama.

Gerakan P2KP ini dilakukan juga semata-mata untuk mendukung program One Day No Rice yang diresmikan oleh walikota Bandung pada 21 Agustus 2015 lalu [3]. Tujuan diimplementasikannya program ini adalah untuk membiasakan pola hidup sehat masyarakat dengan cara mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain pada satu hari dalam seminggu. Selain itu juga untuk menekan konsumsi beras masyarakat Indonesia yang hingga saat ini masih impor.

Di lain kesempatan, kami juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian Jawa Barat untuk marketisasi produk di kalangan masyarakat melalui event-event skala lokal, dalam rangka memperkenalkan beras jagung sebagai alternatif makanan pokok yang sehat.

12047471_1091830224163257_639570149_nGambar 7. Bandung Agri Market, 20 September 2015

12042015_1091830240829922_919953813_nGambar 8. Suasana Bandung Agri Market, 20 September 2015

Gambar 9. Audiensi dengan Dinas Pertanian.

Untuk pengembangan dan inovasi, kami juga merintis kerja sama riset dengan Departemen Ilmu Gizi RSHS yang beranggotakan dr. Dimas Erlangga, dr. Denny, dan dr. Dwi sebagai peneliti utama, mahasiswa dan dosen beberapa fakultas di ITB sebagai peneliti pendukung, dan dana riset LPDP sebagai sumber dana utama penelitian.

12025359_1091830264163253_2052529977_nGambar 10. Inisiasi kerja sama riset dengan dr. Dimas Erlangga dari Departemen Ilmu Gizi RSHS.

12021970_1091830247496588_1346126613_nGambar 11. Pengenalan produk dengan Kepala Lembaga Pengadaan Barang RSHS.

Hasil penelitian ini nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi, pertimbangan, juga feedback untuk keberjalanan bisnis kedepannya.

Dinas Kesehatan juga turut serta dalam implementasi riset yang dilakukan oleh departemen ilmu gizi dalam hal sokongan ilmu dan kebijakan2 yang diterapkan.

Selain itu, kami juga berupaya menggalakkan penelitian dan program kewirausahaan di kalangan mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa dengan tujuan untuk membentuk atmosfer One Day No Rice di kalangan mahasiswa.

[Video Mawapres Utama ITB-Ujang Purnama. Membawa ide mengenai Food Security and Sustainable Agriculture]

Kami pun melakukan deal kerja sama dengan instansi baik swasta maupun pemerintah, seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin, rumah sakit penyakit khusus, sekolah-sekolah, restoran, ataupun toko-toko, untuk memudahkan akses pembelian beras jagung.

Semua yang kami lakukan hingga saat ini alhamdulillah telah benar-benar mengakselerasi kami untuk tumbuh dan berkembang baik secara vertikal ke atas (menyentuh pemerintah melalui kebijakan) dan secara horizontal (memperluas market dan network) untuk trading itu sendiri.

Segala upaya ini semata-mata kami lakukan untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini, terutama menjadi pemantik munculnya gerakan-gerakan yang sama di kalangan masyarakat. Karena yang kita kejar tentu saja inspirasi dan kebermanfaatan tidak hanya dalam hal kuantitas, tetapi juga kualitas kebermanfaatannya.

Jika ini jalan yang baik di ujungnya, saya percaya akan ada banyak kemudahan dan pintu-pintu keberkahan yang terbuka untuk kami. Namun jika tidak, saya juga percaya bahwa tugas kita hanyalah berikhtiar semaksimal mungkin dengan mengusahakan semua peluang dan kesempatan untuk menjemput kesuksesan dan kebermanfaatan.

Harapan itu masih ada. Harapan untuk menjadikan Indonesia bangsa yang lebih baik.

___________

Bandung, 20-21 September 2015

Ditulis dengan semangat 45

 

Referensi

[1] Anindya N. Bakrie. 2012. Triple helix dan percepatan inovasi. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI. http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11805. Diakses pada 20 September 2015 pukul 21.33.

[2] Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian RI. 2013. Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) http://bkp.pertanian.go.id/proksi-9-p2kp.html. Diakses pada 20 September 2015 pukul 22.20.

[3] Gerakan One Day No Rice SetiapHari Senin di Kota Bandung. 2015. https://sebandung.com/2015/04/gerakan-one-day-no-rice-setiap-hari-senin-di-kota-bandung/. Diakses pada 20 September 2015 pukul 22.40.

Advertisements

5 thoughts on “Another Checkpoints

  1. Super cool deh. I can almost see yourself speaking the words you wrote here (berapi-api and passionate with what she does). Semangaaat! Btw, kangen ngobrol-ngobrol :’D

      1. Aaaaak salah tafsir… –”
        Huaaa I did nothing Git. Just keep myself on learning and growing up 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s