Yang Terserak


shabrina

“Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi ummat.”

Begitulah doa yang Rasulullah SAW panjatkan untuk pernikahan putri beliau yang mulia, Fatimah Azzahra dengan anak pamannya, Ali bin Abi Thalib. Doa yang menyimpan makna keindahan dan kunci kebahagiaan dalam membangun keluarga yang diberkahi oleh Allah. Tidak ada yang kita harapkan selain keberkahan dan ridha Allah yang terus mengalir di setiap check point menuju sebuah ikatan yang Allah muliakan (mitsaaqan ghalidzaa). Juga keberkahan yang tercipta setelahnya. Lahirnya keturunan2 yang shalih, yang mampu menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata) bagi kedua orang tua, bagi keluarga dan sahabat2nya, juga generasi yang akan mengemban amanah sebagai pemimpin bagi seluruh ummat di dunia, khususnya bagi orang2 yang beriman (lilmuttaqiina imaama). Kita tentu menginginkan pernikahan dapat membuka pintu rahmat, yang didefinisikan sebagai al-khayr wanni’mah (kebaikan dan nikmat). Terbukanya pintu rizki, ilmu, dan kebaikan lainnya. Pernikahan sebagai sumber ilmu dan hikmah, karena di dalamnya ada pertukaran cerita, ada ketersampaian hikmah, juga sebagai sumber pembelajaran baru yang baik. Dan yang terakhir dari doa Rasul, disinilah klimaks dari kemuliaan pernikahan. Terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Keluarga yang menjadi sumber keamanan dan kenyamanan, bukan hanya bagi personil yang menjadi bagiannya, melainkan juga bagi orang2 di sekitarnya. Sungguh tersimpan harapan yang mulia dari doa yang Rasul panjatkan untuk putri tercintanya.

Alhamdulillah, sudah jalan 130 hari pernikahan kami, terhitung sejak 22 November tahun lalu. Ada suka, duka, kesal, bahagia, kecewa, rasa puas, dan berbagai ekspresi perasaan lainnya yang menemani hari2 kami. Kami menyebutnya sebagai wujud dari kesyukuran dan kesabaran, sebab dua hal itulah yang menjadi kunci ridha dan berkahnya Allah.

Ada sepenggal kisah yang ingin saya ceritakan terkait proses menuju pernikahan. Saya sudah meniatkan untuk menuliskannya sejak lama, tetapi lagi-lagi dengan dalih dinamisnya kesibukan pasca nikah, saya baru menyempatkannya sekarang. 😅 sebetulnya saya sudah sempat menuliskannya sedikit di website pernikahan kami (dimashabrina.com), namun hanya sebatas gambaran besarnya saja, tidak mendetail. Insha Allah disini saya akan berbagi cerita lengkapnya.

Mungkin ada diantara teman2 yang berfikir bahwa saya sangat selektif memilih calon pasangan hidup, atau punya standar yang tinggi dengan kualitas yang sulit dijangkau. Mungkin ada yang berfikir bahwa saya tipe akhwat yang suka mempersulit proses pernikahan, banyak tuntutan, atau berbagai stigma negatif lainnya. Tetapi semoga di antaranya masih ada yang bersedia untuk husnudzan pada saya, bahwa saya telah memilih pasangan yang sejak mula Allah pilihkan. Karena pada kenyataannya, itulah yang terjadi.

“Shab, kayaknya susah ya mencarikan ikhwan yang sekufu dengan shabrina. Ikhwannya keburu jiper sebelum ketemu orang tua.”

“Shab, kamu pasti pengennya dapet suami yang pinter banget gitu ya, yang sering ke luar negeri, yang prestatif, banyak karya, dsb.”

Masyaa Allah.. Jika saya mengawali niat menikah hanya karena alasan2 di atas, rasanya saya belum pantas ke tahap selanjutnya dan masih harus terus memperbaiki niat.

Kalau ditanya, sebetulnya apa yang menjadi syarat utama (qana’ah dzatiyah) yang saya tuliskan di proposal pernikahan saya? Maka saya akan menjawab bahwa saya hanya mencantumkan poin2 yang krusial dan bukan merupakan keinginan duniawi. Sebelum pada akhirnya direvisi oleh guru ngaji saya, saya hanya mencantumkan syarat “yang bersedia menemani perjuangan dan kontribusi saya untuk dakwah yang lebih besar.” Sudah itu saja. Tidak ada embel2 lainnya. Tidak ada syarat ingin yang satu kampus, yang sudah lulus S2, yang sudah mapan, dan sebagainya. Sama sekali bukan keinginan saya untuk mendapatkan segala sesuatunya secara instan. Saya ingin memulai dan tumbuh bersama, itu yang saya pikirkan. Sampai pada akhirnya, guru ngaji memberitahu saya untuk lebih menguraikan kriteria yang diharapkan. Saya menuliskan hal2 yang beralasan untuk kepentingan bersama, bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Sebagai contoh, saya mengharapkan kondisi keluarga yang bersangkutan adalah keluarga yang hanif (terutama yang mudah dipahamkan terkait kondisi keluarga saya). Hal ini cukup krusial bagi saya, karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga dua keluarga besar. Kriteria lainnya, ikhwan yang bersangkutan berencana untuk berdomisili di Bandung, mengingat orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk berdomisili di luar Jawa dan saya sedang merintis start up business di Bandung. Perhatian dan sayang kepada perempuan, keluarga besar, dan adik2. Mengingat adik saya 7, dan saya adalah anak pertama di keluarga saya. Tidak harus yang hafalan alquran-nya banyak, tapi paham aplikasinya. Tidak harus yang secara kuantitas unggul, yang terpenting adalah amal sebagai wujud kedekatannya dengan alquran. Mencintai ilmu dan berkeinginan untuk terus memperkaya wawasan keilmuannya dan mengamalkannya. Yang terakhir adalah kunci dari tujuan pernikahan itu sendiri, yaitu dapat saling membantu melejitkan potensi dan kompetensi bersama dalam rangka berkontribusi untuk da’wah yang lebih besar.

Saya rasa, hal2 yang saya syaratkan di atas tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Tidak ada yang terkesan seperti menyombongkan diri, atau merendahkan diri. Apa adanya. Wallahu a’lam.

Begitulah saya mengawali pernikahan. Saya memulainya dengan doa, bukan atas dasar suka sama suka, atau karena request, karena kecenderungan, dan sebagainya. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya masih jauh dari kata shalihah, masih jauh dari level haqqul mu’miniin, masih penuh dengan kecacatan dan kekurangan dalam amal, tapi saya masih punya harapan untuk mendapatkan pasangan yang dekat dengan Allah dan mampu membawa saya ke surga.

Pernikahan adalah peristiwa peradaban, ia mulia karena di sanalah transformasi visi terjadi, dari visi pribadi menjadi visi bersama. Dari sanalah kebaikan berlipatganda, menjelma menjadi tujuan2 mulia yang berujung akhirat. Dari sanalah peradaban dibentuk, menentukan akan menjadi apa dan siapakah generasi2 akhir zaman.

Karenanya, menjaga niat dan prosesnya sejak awal adalah sebuah keharusan. Keberkahannya mungkin saja ditentukan oleh bagaimana kita mengawalinya. Bagaimana kita menjaga kesuciannya. Tidak melibatkan perasaan dan hawa nafsu.  Tidak sombong karena merasa berjodoh, padahal akad belum terucap. Tidak membangun ekspektasi dan asumsi, padahal penilaian Allah adalah penilaian terbaik. Setiap dihadapkan pada keputusan2 penting, langsung mengembalikannya pada Allah melalui doa dan istikharah. Bertawakkal sejak awal, bukan setelah berikhtiar. Bertawakkal, artinya kalau memang berjodoh, ya pasti Allah mudahkan. Tapi kalau tidak, pasti adaaa saja cara Allah untuk menggagalkan. Percaya pada keputusan Allah.

Upaya lainnya yang bisa dilakukan adalah mempercepat dan tidak membelitkan prosesnya. Kamis malam saya dikabari bahwa ada seorang ikhwan yang siap diproses dengan saya (padahal saya belum diberitahu siapa namanya), saya langsung mengiyakan saja. Dan saya langsung mengajukan untuk ta’aruf keesokan harinya. Malamnya saya beristikharah terus menerus, berkali2. Setelah sebelumnya saya rutin melakukannya. Esoknya, jumat pagi, saya dikabari oleh guru ngaji saya bahwa yang bersangkutan menyetujui. Jatuhlah waktunya setelah shalat jum’at. Kemudian guru ngaji saya menanyakan apakah saya ingin tahu siapa orangnya. Awalnya saya enggan untuk tahu, sampai akhirnya guru ngaji saya memberitahu. Jum’at pagi di hari yang sama dengan hari ta’aruf, saya baru mengetahui siapa orangnya. Kemudian kami berta’aruf dan rasa tenang itu muncul begitu saja. Setelah ta’aruf, saya meminta ikhwan tersebut untuk bertemu dengan keluarga saya di jakarta, memilih antara hari sabtu atau ahad di pekan itu. Qadarullah, ternyata ikhwan tersebut menyanggupi dan bersilaturahim ke rumah ditemani dengan guru ngaji saya bersama suaminya pada hari sabtu (keesokan harinya). Alhamdulillah, 3 hari yang mendebarkan itu ternyata membuahkan berkah. Ikhwan tersebut adalah ikhwan yang sekarang telah menjadi suami saya, menjadi teman seperjuangan, sahabat dalam setiap keadaan, juga imam yang semoga Allah mengizinkannya menuntun saya hingga ke surga.

Alhamdulillah..hanya rasa syukur yang mampu mengekspresikan keindahan cara Allah menuntun kami sampai pada tahap khitbah, lalu akad, dan resepsi. Khitbah adalah salah satu bentuk komitmen untuk memperjuangkan, karenanya tidak semestinya kita melambat2kan prosesnya menuju akad dan pernikahan seutuhnya. Dalam melangsungkan akad dan resepsi, niatkan segala sesuatunya untuk beribadah. Tidak ada salahnya untuk mengadakan resepsi di gedung, menyediakan makanan yang mewah, jika semua itu diniatkan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi tamu2 kita dan orang tua kita. Jangan lupa untuk mengadakan pengajian dan santunan anak yatim dua atau tiga hari sebelum hari pernikahan, daripada sibuk berdandan atau memperindah fisik, lebih baik mengais ridha dan kemudahan dari Allah dengan memudahkan urusan orang lain. Perbanyak berinfaq dan berbuat baik, berhusnudzan dan mengalirkan kasih sayang pada banyak orang.

Saya jadi teringat bagaimana proses saya mendapatkan gedung untuk pernikahan. Sebuah tantangan tersendiri di Ibu Kota untuk menyewa gedung yang tepat jika tidak H-6 bulan. Jarak antara diputuskannya pilihan tanggal pernikahan dengan hari pernikahan saya tidak lebih dari 2 bulan. Suatu hal yang hampir mustahil meyiapkan pernikahan dengan tamu kurang lebih 1500 orang dengan gedung yang masih belum pasti. Akhirnya, gedung yang available pada tanggal yang kira-kira tepat saja yang dipilih. Segala pertimbangan yang membuat ribet menjadi tidak berguna lagi.

Mungkin saya terkesan sengaja memilih momen hari lahir sebagai hari pernikahan. Tapi sesungguhnya yang terjadi adalah seperti seolah2 tidak ada pilihan lain selain tanggal tersebut di gedung tersebut, tanggal 22 November di Gedung Menara 165 ESQ. Apalah arti dari hari lahir kalau bukan untuk bermuhasabah, mengingat bahwa waktu singgah di dunia semakin sempit. What really happened adalah menyewa gedung untuk pernikahan di Jakarta itu sulit sekali kalau dadak-dadakan. Biidznillah, semua berjalan lancar sampai hari H, banyak orang yang ikut membantu menyiapkan pernikahan kami. Alhamdulillah, baarakallaahu lanaa ya Allah..

Pada awalnya, gedung ini hanya available di tanggal 22 November 2015 dan 29 Februari 2016 dengan catatan saya masuk waiting list di keduanya sehingga saya perlu menunggu konfirmasi orang yang sebelumnya men-tag tanggal tersebut. Dan qadarullah, orang sebelumnya yang men-tag 22 November ternyata membatalkan, sehingga saya bisa mengambil tanggal tersebut untuk hari pernikahan saya. Begitulah ceritanya 🙂

Rizki memang sudah ada yang mengatur. Mulai dari munculnya alternatif di Menara 165 dari pihak keluarga suami, sampai ternyata Allah mengizinkan saya menggenapkan din di hari lahir saya yang ke-23. Saya bersyukur menikah di gedung yang terkenal dengan icon Allah di atapnya dan sering digunakan sebagai training untuk mendekatkan diri pada Allah. Kalau kata ayah saya, “gedungnya islami, jadi semoga bisa mendukung pernikahan yang islami juga insha Allah..”

Mengingat hari pernikahan saya bertepatan dengan hari lahir saya, saya jadi ingin menunjukkan sebuah video yang sengaja dibuat oleh suami saya dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari guru-guru SMP-SMA saya, sahabat dekat saya, teman2 bisnis di dipanusa, adik coach mapres saya, teman lab suami, dan lain-lain, yang membuat saya feel so surprised di malam itu 😀 terima kasih untuk semua pihak yang terlibat, I feel soooo touched. Bahkan nontonnya pun masih merasa terharu sampai sekarang :))

Ini dia videonya. Semoga tesampaikan ya pesan2nya 🙂

[Video milad Shabrina, 22 November 2015]

Ada video istimewa juga yang sengaja dibuat oleh teman2 se-“geng” saya di kampus. Kami menamakannya Rungkicheese Gangster 🙂

[Video Pernikahan dari Rungkicheese Gangster]

Dan terakhir adalah video spesial dari adik saya tentang liputan singkat pernikahan saya 🙂

[Video pernikahan dimashabrina]

Alhamdulillah..

Pada akhirnya, semoga doa Rasulullah SAW juga mengalir dalam rumah tangga kami, menjadi keluarga dunia-akhirat, keluarga yang senantiasa dilingkupi kasih sayang Allah sampai ke surga..

Baarakallaahu lanaa wa baaraka ‘alaynaa wa jama’a baynanaa fii khayr.. Allahumma aamiin…

Bandung, 6 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s