Being an Engineer’s Wife: harmony in diversity


Tentang harga diri, yang Allah muliakan dengan penantian

Tentang masa, yang Allah tangguhkan untuk kesucian

Tentang waktu, yang Allah indahkan dalam ikatan

Tentang tawakkal, yang Allah sempurnakan dengan Istikharah..

——–

Sudah setahun lebih usia pernikahan kami. Banyak hal telah kami lewati bersama. Adakalanya atmosfer keimanan melemah di antara kami. Namun seringkali puncak keimanan bertemu dengan kesempatan amal. Beberapa kali keikhlasan enggan untuk singgah di ruang hati. Tetapi kerap kali semangat berfastabiqul khairat menemani hari. Sungguh beruntung mereka yang mampu memoles rumah tangga dengan sabar dan syukur. Di sana, ada sejuta keberkahan yang Allah limpahkan.. semoga rumah tangga yg kita bangun saat ini atau nanti, adalah rumah tangga yang Allah tambahkan kebaikan terus menerus di dalamnya..

Usia pernikahan kami mungkin belum cukup menjadi bukti keharmonisan jika dibandingkan dengan pasangan suami-istri lainnya yang telah menjalani pernikahan selama belasan atau puluhan tahun. Ujian yang kami lewati, mungkin belum bisa disejajarkan dengan cobaan bahkan tantangan yang mereka hadapi. Tetapi semoga setahun yang telah kami lewati bersama ini, menjadi permulaan yang baik untuk tahun-tahun setelahnya. Menjadi tahun2 yang penuh keberkahan dan keistimewaan dari Allah..

Kami menikah bukan dengan pacaran, bukan dengan tag-tag-an, bukan dengan PHP, bukan dengan perkenalan yg memakan waktu tahunan. Kami menikah dalam waktu yang relatif singkat. Hanya sekitar 3 bulan sejak ta’aruf pertama kali. Menjadi suatu tantangan tersendiri untuk memulai kehidupan bersama orang baru yang kami belum pernah berkomunikasi sebelumnya, apalagi berinteraksi di aktivitas tertentu. Selain karena jarak umur saya dan suami yang terlampau jauh (suami masuk kampus tahun 2005, saya masuk kampus tahun 2010, which means pas saya masuk kampus suami udah lulus😅), kami juga tidak pernah satu organisasi. Entah kenapa ya, seperti sudah menjadi skenario dari Allah. Alhamdulillah ‘ala kulli haal..

Sebulan pertama setelah akad terucap, masih banyak penyesuaian dalam keseharian. Tentang saya yang ribet, tapi suami yang sangat simple. Tentang pikiran saya yang kompleks dan berantakan, sementara suami yang terstruktur dengan baik. Tentang saya yang kreatif, tapi suami yang logis. Tentang saya yang suka tantangan dan ambisius, sementara suami yang realistis. Dan banyak hal lainnya yang saya merasa kami saling melengkapi. Walaupun kata Saka di Sabtu Bersama Bapak, “Saya tidak butuh yang melengkapi saya. Tugas melengkapi saya ya diri saya sendiri.” Fiuh, bener banget sih..

Tapi kerasa banget ya sebenar-benarnya keharmonisan dalam perbedaan di pernikahan ini.. pada akhirnya, perbedaan itulah yang menyelipkan tawa di antara kami. Ada saja bahan perbincangan yang menarik dari sana..

Pernah suatu ketika, suami sedang latihan soal TPA untuk persiapan tes dosen non PNS ITB (alhamdulillah berkat doa teman2 semua, suami sudah dinyatakan menjadi dosen non-PNS di FTTM ITB), saya ikut nimbrung berfikir. Waduh, baru selesai baca soalnya, dan sibuk berkutat dengan pemikiran sendiri, eh suami malah udah loncat ke soal selanjutnya. Haduh, kadang2 dungdung juga ya😅 otak sains dan otak engineer nggak saling ketemu. Hehe tapi akhirnya itulah yang jadi bahan perbincangan kami.

Pernah juga saat kami membuat list resolusi tahunan, tulisan saya bisa dibilang berhalaman-halaman, mendetail, dan benar2 dibuat timeline per activity-nya. Sementara suami? Huft, hanya satu halaman dengan kata2 singkat. Dan sedihnya lagi, yang bisa tahu detailnya ya cuma diri dia sendiri..😂 kalau kata suami, “Bikin resolusi tuh jangan muluk2, Dek.. nanti jadi wacana doang. Mending kayak aku, sedikit tapi terwujudkan.” Hahaha gue banget jadi wacana 😂

Dulu saya juga pernah membelikan suami buku agenda tahunan, tapi bukunya besar dan tebal. Berharap suami mengapresiasi karena saya bisa tahu kebutuhan suami gitu ya, eeeh malah ternyata dia butuh buku setipis2nya, sesimple2nya, dan sekecil2nya. Yang penting buat reminder aja, gitu katanya😅 alhasil bukunya jadi nggak terpakai..

Tetapi seringkali sifat saya yang mendetail dan perfeksionis ini ternyata mendatangkan manfaat buat suami. Kalau suami harus keluar kota, saya yang mengingatkan dan menyiapkan bawa ini itunya. Hal2 tertentu yang ada kemungkinan suami sekip cukup terbantukan dengan sifat detailnya saya ini.. terutama soal kerapihan rumah yang bertahan lama karena sifat perfeksionis saya. Hehe. Pokoknya kalau soal peletakan barang2 di rumah, barang2 penting dan berharga cuma saya yang tahu..😅 jadi pasti suami nanya dulu kalau butuh sesuatu ke saya.. “Barang A yang dulu aku beli di toko Z di mana ya Dek?” Diam2 saya suka pindahin barang suami..wkwk

Ada lagi tentang keunikan dalam mempersiapkan perjalanan mudik. Saya kan gitu, semua dibawa. Kalau kata suami, “Ini teh mau mudik atau mau minggat sih Dek?” Wkwk teman2 sekontrakan saya pasti tau saya banget soal ini. Pakaian saya dan Zafran aja bisa 2 koper sendiri..sementara suami cuma satu tas😅 which is finally dia kekurangan baju dan akhirnya harus beli deh huft. Kalau saya kan mikirnya mungkin nanti butuh ya di jalan, jadi dibawa semua.. 😅 haha ngerepotin pisan..

Tetap saja dong ada masa2 di mana saya merasa berharga. Ketika suami harus ngasih training di luar kota, dan presentasi yang dia siapkan…zong. Latarnya putih semua. Ah pokoknya cuma hitam putih slide presentasinya.. disinilah peran saya untuk memoles presentasinya agar eye-catching dan nggak boring. Berbekal modal kreatif yang pas2an, saya bisa membuat presentasi yang suami buat at least enak dilihat^^

Kalau suami sedang ada target sekaligus deadline banyak, saya juga yang mendetailkan apa yang harus dia lakukan pertama kali.. bagaimana step2nya.. contohnya persiapan untuk mengejar doctoral degree nya.. saya yang mengingatkan kapan harus mengurus SKCK, kapan harus medical check up, kapan harus bikin essay (termasuk juga ngoreksi essaynya), kapan ini itunya.. hehe

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.. justru dengan perbedaan itulah pada akhirnya terbentuk keharmonisan. Ada canda dan tawa yang terselip di sela aktivitas kami. Ada kebiasaan berbagi dan mendukung satu sama lain. Ada apresiasi yang melahirkan perasaan dibutuhkan. Ada pengingat untuk terus memperbaiki diri dalam rangka melengkapi satu sama lain.. selalu ada cara Allah dalam mendidik kami..

Itulah secuplik hikmah yang saya dapatkan selama setahun pernikahan ini.. masih banyak cerita2 seru yang insha Allah saya bagi di tulisan2 saya yang lain.

May Allah bless us always.. till there is nothing greater than His blessing..

Bandung, 8 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s