Being an Engineer’s Wife: Self-other overlap!


“How much you see yourself in your partner can predict how long you’ll last. This is a secret to have a happy relationship.” -A study by Psychologists at the University of Toronto

Wah sudah lama sekali saya tidak menuangkan pikiran di blog. Latest post saya tertuliskan tanggal 14 Maret 2017, dan disana hanya lintasan pikiran yang (mungkin) tidak begitu berarti bagi sebagian orang, hehe. *emang selama ini ada yang berarti😅 semoga ya, berharap supaya dari ketikan tulisan saya ini, pembaca bisa mengambil satu dua hikmah yang bermanfaat.

Kali ini saya hendak share tentang kisah yang sejak lama ingin saya bagikan, tapi apa daya, saya sedang menikmati masa-masa istimewa bersama suami dan anak, jadi rasanya tidak ingin ketinggalan waktu sedetik saja 😁

Oiya sebagai info awal, tulisan saya kedepannya mungkin akan lebih banyak bercerita tentang kehidupan saya bersama suami dan anak-anak, dan akan sedikit sekali bercerita tentang kisah saya pribadi, sebab kini saya hidup bersama dua orang yang sungguh spesial bagi saya. Ada banyak hal unik yang telah tergali dan menjadi kesyukuran tersendiri bagi saya pribadi. Alhamdulillah..

Sedikit flashback ke tahun 2015, rencana saya menikah muda ternyata memang sesuai dengan rencana Allah, Maha Besar Allah dan rasa syukur yang tak terkira atas segala nikmat dariNya. Sebagian dari lika liku prosesnya sudah pernah saya share di post sebelumnya, silahkan di-review bagi yang belum sempat membaca. Sungguh proses yang instan tanpa ribet, tanpa persoalan2 yang begitu berarti. Baarakallahu lanaa..

Belum selesai masa ta’aruf di antara kami, tiba-tiba saja ada kejutan yang berada di luar rencana kami! Hasil pregnancy test menunjukkan saya positif hamil dan insyaAllah dikaruniai seorang anak. Pada saat itu, rasanya bercampur aduk antara senang dan khawatir. Kenapa? Karena pada awalnya rencana saya hanya sebatas mencari pendamping hidup yang siap berkolaborasi dalam amal dan perencanaan masa depan, belum memasukkan variable hadirnya buah hati disana.

Selepas menikah, saya berencana melanjutkan program magister di Jepang dan sambil menunggu waktu, saya merintis start up business di bidang food and agriculture. Status suami saya saat itu adalah asisten akademik di program magister geothermal ITB. Sebelumnya suami sudah hampir bekerja di Pertamina, tapi diminta oleh dosennya untuk membantu beliau membangun program magister geothermal ITB. Sedikit bercerita juga, suami saya termasuk orang yang tidak begitu concern pada akademiknya selama 5 tahun sekolah sarjana di ITB. Tuntutan amanah dakwah yang besar di kampus membuatnya tidak bisa optimal menjalankan amanah akademiknya. Suami juga bercerita bahwa pentingnya akademik baru terasa pada saat mengerjakan tugas akhir sarjana. Di titik itulah dia mulai concern pada akademiknya.

Sebagai informasi, IPK suami saat lulus sarjana di ITB hanya 2.78. Hanya 2.78. Tapi sangat banyak pengalaman yang dia dapatkan selama di ITB.

Selama masa-masa ta’aruf, tepatnya beberapa bulan pertama pasca menikah, dia pernah bercerita bahwa banyak sekali kemudahan yang Allah berikan padanya selama dia hidup. Padahal, sewaktu di SMP, dia adalah anak nakal yang gaulnya dengan orang yang dulu pernah di DO dari salah satu universitas negeri karena narkoba.

MasyaAllah.. karena kasih sayang Allahlah, sewaktu SMA, dia mulai mengenal Allah melalui ROHIS, dan mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk belajar islam (sampai ditunjuk menjadi ketua ROHIS). Dari sanalah dia bertransformasi menjadi insan yang lebih baik.

Suami saya ternyata juga adalah orang yang sangat menyayangi dan mencintai ibunya. Hal itu terlihat dari keputusannya dalam menentukan prioritas bidang studi yang dipilihnya selepas SMA. Awalnya dia diterima melalui jalur PMDK di Fisika ITS, namun saat itu guru2 di sekolahnya tidak menganjurkannya mengambil ilmu murni, akhirnya dia melepaskan pilihannya. Suami bilang, waktu itu dia hanya berusaha mengambil peluang yang ada di hadapannya. Tes masuk STAN pun dia ikuti dengan alasan sekolahnya gratis dan digaji. Setelah itu dia menyempatkan diri untuk diskusi dengan ibunya. Ternyata, ibunya menginginkannya melanjutkan sekolah sama seperti pamannya yang sekolah di Teknik Perminyakan ITB. Akhirnya, di SNMPTN dia mengambil pilihan Teknik Perminyakan ITB dan Teknik Sipil ITS. Qadarullah dia diterima di Teknik Perminyakan ITB dan STAN. Namun saat itu pengumuman penerimaan STAN bertepatan dengan pendaftaran ulang ITB, jadilah lanjut sekolah di ITB sesuai dengan keinginan ibunya.

Oiya, kenapa suami sangat menyayangi ibunya? Saya paham betul setelah mengenal keluarganya, mama adalah orang yang sangat baik, dekat dengan Allah dan selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Terlihat dari setiap malam, mama selalu menyempatkan waktunya untuk shalat tahajjud, mendoakan putra putrinya agar menjadi orang-orang yang sukses di masa yang akan datang. Karir mama adalah sebagai guru SD yang dicintai siswanya. Passionnya dalam mendidik membuat dia selalu all out dalam mendidik anak-anaknya dan menjadikan pendidikan anak-anak sebagai prioritas utamanya.

Dari cerita itulah saya mengetahui bahwa suami saya sebetulnya adalah orang yang cerdas. Dia cerdas dalam logika dan pintar mengelola emosi. Meskipun IPK sarjananya 2.78, tapi itu adalah pilihannya. Selama masa sarjana, dia manfaatkan waktunya untuk mengelola organisasi, networking dan begaul dengan seluruh elemen kampus, termasuk satpam, OB, K3L kampus. Disinilah letak pembelajaran emosional yang dia dapatkan.

Menurutnya, menjadi bagian dari kampus bukan hanya membutuhkan kecerdasan akal (IQ), tapi juga kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan akal bisa diasah dengan belajar dan banyak latihan, tapi kecerdasan emosional hanya bisa didapatkan dengan proses yang panjang. Bagaimana mengelola organisasi, mengenal banyak orang dengan berbagai karakter yang berbeda2. Juga kecerdasan spiritual adalah bagaimana kita selalu berada dalam lingkungan yang kondusif untuk belajar islam.

Bagaimana dakwah telah memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupannya itulah yang menjadi alasan utamanya mengapa selalu all out dalam menjalankan amanah dakwahnya selama di kampus. Kalau redaksinya dia bilang seperti ini, “Aku begini karena kontribusi dakwah, Dek. Aku bisa jadi orang baik karena aku dipertemukan dengan orang2 baik oleh Allah melalui dakwah. Jadi kalau ada yang bilang kecewa karena amanah dakwahnya terlalu banyak, lalu akademiknya jadi hancur lebur, itu bukan salah dakwah. Itu salah dia yang tidak memahami sebesar apa peran dakwah untuk dirinya.” MasyaAllah.. benar juga sih 😅

Melanjutkan cerita tentang karir akademiknya, selulus dari sarjana, suami ditawarkan oleh pamannya yang berada di jajaran direksi Pertamina untuk bekerja disana. Namun, suami memilih untuk menerima tawaran dosen pembimbing tugas akhirnya untuk terlibat dalam proyek-proyek geothermal. Qadarullah, dosen pembimbing tugas akhir suami pada saat sarjana adalah orang yang sangat friendly, sehingga disukai oleh mahasiswanya. Beliau adalah dosen senior di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Beliau pula yang dulu merintis program studi geothermal di tahun 2008. Saya biasa memanggilnya Mbak Nenny (kebiasaan mahasiswa minyak manggil dosennya Mbak dan Mas kalau kata suami, saya jadi keikutan hehe).

Ketertarikannya pada geothermal mendorongnya untuk melanjutkan S2 di geothermal ITB dan dari saat itulah dia menjadi sangat concern dengan profesinya. Akhirnya dia bisa lulus dengan predikat yang baik dan siap untuk mengaplikasikan keilmuannya.
Namun, karena sudah terlalu banyak terlibat dalam proyek-proyek geothermal, akhirnya suami diangkat sebagai asisten akademik di fakultasnya. Karir sebagai asisten akademik di ITB kedepannya adalah sebagai dosen. Akhirnya suami resmi diangkat sebagai dosen non-PNS ITB pada akhir tahun 2016.

Menurutnya, dengan berkarir menjadi dosen (instead of working at the company), itu berarti ia beramal sambil bekerja, sehingga disitulah nilai pahala yang tidak tergantikan. Selain itu juga, bekerja di universitas lebih dinamis dalam hal penelitian dan pengembangan keprofesian daripada di perusahaan. Oleh karena itulah, peluang belajarnya menjadi lebih banyak ketika berafiliasi dengan institusi pendidikan.

Cerita tadi adalah hasil penyatuan puzzle-puzzle kisah yang menjadi bahan obrolan di sela-sela kami menunggu kelahiran si kecil. Di saat itu, saya juga masih bergelut dengan aktivitas start up yang dinamis.

Jika banyak yang bilang bahwa menjadi dosen itu gaji pokoknya kecil, maka itu benar adanya. Gaji pokoknya kecil. Namun alhamdulillah.. selalu saja Allah cukupkan. Selalu saja ada cara Allah dalam mendatangkan rizki. Tiba-tiba saja suami diminta mengisi training, atau mengerjakan proyek-proyek geothermal yang nilainya besar, dan lain sebagainya yang terus menambah kesyukuran kami pada Allah.. Apalagi selepas kelahiran si kecil, masyaaAllah.. benarlah janji Allah, setiap insan yang baru lahir memang telah Allah tetapkan rizki untuknya.. baarakallahu lanaa..

Akhirnya sampai di penghujung tulisan.. rekan, senior atau juniornya di ITB mungkin mengenal suami adalah sesosok orang yang selera humornya tinggi, suka nge-jokes yang “zing”, sehingga terkesan kurang serius dalam hal2 seperti di atas. Tapi siapa sangka, ternyata dia adalah orang yang matang dalam berencana, bisa melihat peluang dan sangat bertawakkal pada Allah atas setiap perencanaanNya.

Sejatinya, menjadi pribadi seperti itulah yang saya harapkan terhadap diri saya sendiri di masa yang akan datang. Segala visi-misi dan prinsip saya, ternyata ada di dalam diri suami dan jauuh lebih matang. Apa yang ingin saya lakukan selepas dari kampus ternyata bukan sedang Allah tunda, tapi Allah hadirkan melalui apa-apa yang dilakukan suami. MasyaaAllah.. maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

InshaAllah di tulisan-tulisan selanjutnya saya akan bercerita lebih banyak mengenai visi misi saya yang tercermin dalam diri suami, rencana masa depan, dan yang spesial adalah tentang si kecil buah hati kami, Zafran Harris Elfath. Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat untuk semuanya..

 
Jakarta, 28 Ramadhan 1438H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s