Being an Engineer’s Wife: harmony in diversity


Tentang harga diri, yang Allah muliakan dengan penantian

Tentang masa, yang Allah tangguhkan untuk kesucian

Tentang waktu, yang Allah indahkan dalam ikatan

Tentang tawakkal, yang Allah sempurnakan dengan Istikharah..

——–

Sudah setahun lebih usia pernikahan kami. Banyak hal telah kami lewati bersama. Adakalanya atmosfer keimanan melemah di antara kami. Namun seringkali puncak keimanan bertemu dengan kesempatan amal. Beberapa kali keikhlasan enggan untuk singgah di ruang hati. Tetapi kerap kali semangat berfastabiqul khairat menemani hari. Sungguh beruntung mereka yang mampu memoles rumah tangga dengan sabar dan syukur. Di sana, ada sejuta keberkahan yang Allah limpahkan.. semoga rumah tangga yg kita bangun saat ini atau nanti, adalah rumah tangga yang Allah tambahkan kebaikan terus menerus di dalamnya..

Usia pernikahan kami mungkin belum cukup menjadi bukti keharmonisan jika dibandingkan dengan pasangan suami-istri lainnya yang telah menjalani pernikahan selama belasan atau puluhan tahun. Ujian yang kami lewati, mungkin belum bisa disejajarkan dengan cobaan bahkan tantangan yang mereka hadapi. Tetapi semoga setahun yang telah kami lewati bersama ini, menjadi permulaan yang baik untuk tahun-tahun setelahnya. Menjadi tahun2 yang penuh keberkahan dan keistimewaan dari Allah..

Kami menikah bukan dengan pacaran, bukan dengan tag-tag-an, bukan dengan PHP, bukan dengan perkenalan yg memakan waktu tahunan. Kami menikah dalam waktu yang relatif singkat. Hanya sekitar 3 bulan sejak ta’aruf pertama kali. Menjadi suatu tantangan tersendiri untuk memulai kehidupan bersama orang baru yang kami belum pernah berkomunikasi sebelumnya, apalagi berinteraksi di aktivitas tertentu. Selain karena jarak umur saya dan suami yang terlampau jauh (suami masuk kampus tahun 2005, saya masuk kampus tahun 2010, which means pas saya masuk kampus suami udah lulus😅), kami juga tidak pernah satu organisasi. Entah kenapa ya, seperti sudah menjadi skenario dari Allah. Alhamdulillah ‘ala kulli haal..

Sebulan pertama setelah akad terucap, masih banyak penyesuaian dalam keseharian. Tentang saya yang ribet, tapi suami yang sangat simple. Tentang pikiran saya yang kompleks dan berantakan, sementara suami yang terstruktur dengan baik. Tentang saya yang kreatif, tapi suami yang logis. Tentang saya yang suka tantangan dan ambisius, sementara suami yang realistis. Dan banyak hal lainnya yang saya merasa kami saling melengkapi. Walaupun kata Saka di Sabtu Bersama Bapak, “Saya tidak butuh yang melengkapi saya. Tugas melengkapi saya ya diri saya sendiri.” Fiuh, bener banget sih..

Tapi kerasa banget ya sebenar-benarnya keharmonisan dalam perbedaan di pernikahan ini.. pada akhirnya, perbedaan itulah yang menyelipkan tawa di antara kami. Ada saja bahan perbincangan yang menarik dari sana..

Pernah suatu ketika, suami sedang latihan soal TPA untuk persiapan tes dosen non PNS ITB (alhamdulillah berkat doa teman2 semua, suami sudah dinyatakan menjadi dosen non-PNS di FTTM ITB), saya ikut nimbrung berfikir. Waduh, baru selesai baca soalnya, dan sibuk berkutat dengan pemikiran sendiri, eh suami malah udah loncat ke soal selanjutnya. Haduh, kadang2 dungdung juga ya😅 otak sains dan otak engineer nggak saling ketemu. Hehe tapi akhirnya itulah yang jadi bahan perbincangan kami.

Pernah juga saat kami membuat list resolusi tahunan, tulisan saya bisa dibilang berhalaman-halaman, mendetail, dan benar2 dibuat timeline per activity-nya. Sementara suami? Huft, hanya satu halaman dengan kata2 singkat. Dan sedihnya lagi, yang bisa tahu detailnya ya cuma diri dia sendiri..😂 kalau kata suami, “Bikin resolusi tuh jangan muluk2, Dek.. nanti jadi wacana doang. Mending kayak aku, sedikit tapi terwujudkan.” Hahaha gue banget jadi wacana 😂

Dulu saya juga pernah membelikan suami buku agenda tahunan, tapi bukunya besar dan tebal. Berharap suami mengapresiasi karena saya bisa tahu kebutuhan suami gitu ya, eeeh malah ternyata dia butuh buku setipis2nya, sesimple2nya, dan sekecil2nya. Yang penting buat reminder aja, gitu katanya😅 alhasil bukunya jadi nggak terpakai..

Tetapi seringkali sifat saya yang mendetail dan perfeksionis ini ternyata mendatangkan manfaat buat suami. Kalau suami harus keluar kota, saya yang mengingatkan dan menyiapkan bawa ini itunya. Hal2 tertentu yang ada kemungkinan suami sekip cukup terbantukan dengan sifat detailnya saya ini.. terutama soal kerapihan rumah yang bertahan lama karena sifat perfeksionis saya. Hehe. Pokoknya kalau soal peletakan barang2 di rumah, barang2 penting dan berharga cuma saya yang tahu..😅 jadi pasti suami nanya dulu kalau butuh sesuatu ke saya.. “Barang A yang dulu aku beli di toko Z di mana ya Dek?” Diam2 saya suka pindahin barang suami..wkwk

Ada lagi tentang keunikan dalam mempersiapkan perjalanan mudik. Saya kan gitu, semua dibawa. Kalau kata suami, “Ini teh mau mudik atau mau minggat sih Dek?” Wkwk teman2 sekontrakan saya pasti tau saya banget soal ini. Pakaian saya dan Zafran aja bisa 2 koper sendiri..sementara suami cuma satu tas😅 which is finally dia kekurangan baju dan akhirnya harus beli deh huft. Kalau saya kan mikirnya mungkin nanti butuh ya di jalan, jadi dibawa semua.. 😅 haha ngerepotin pisan..

Tetap saja dong ada masa2 di mana saya merasa berharga. Ketika suami harus ngasih training di luar kota, dan presentasi yang dia siapkan…zong. Latarnya putih semua. Ah pokoknya cuma hitam putih slide presentasinya.. disinilah peran saya untuk memoles presentasinya agar eye-catching dan nggak boring. Berbekal modal kreatif yang pas2an, saya bisa membuat presentasi yang suami buat at least enak dilihat^^

Kalau suami sedang ada target sekaligus deadline banyak, saya juga yang mendetailkan apa yang harus dia lakukan pertama kali.. bagaimana step2nya.. contohnya persiapan untuk mengejar doctoral degree nya.. saya yang mengingatkan kapan harus mengurus SKCK, kapan harus medical check up, kapan harus bikin essay (termasuk juga ngoreksi essaynya), kapan ini itunya.. hehe

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.. justru dengan perbedaan itulah pada akhirnya terbentuk keharmonisan. Ada canda dan tawa yang terselip di sela aktivitas kami. Ada kebiasaan berbagi dan mendukung satu sama lain. Ada apresiasi yang melahirkan perasaan dibutuhkan. Ada pengingat untuk terus memperbaiki diri dalam rangka melengkapi satu sama lain.. selalu ada cara Allah dalam mendidik kami..

Itulah secuplik hikmah yang saya dapatkan selama setahun pernikahan ini.. masih banyak cerita2 seru yang insha Allah saya bagi di tulisan2 saya yang lain.

May Allah bless us always.. till there is nothing greater than His blessing..

Bandung, 8 Januari 2017

Advertisements

2017: reshaping the future


“Begin doing what you want to do now. We are not living in eternity. We have only this moment, sparkling like a star in our hand – and melting like a snowflake.” Marie Beyon Ray, author of the book “How Never to Be Tired”

Sebuah keniscayaan, setiap makhluk-Nya pasti akan menemukan batas akhir kehidupannya di dunia. Ada pencatatan amal, ada perhitungan, ada pula pembalasan atasnya. Ada kebebasan memilih, ada juga konsekuensi yang harus dipenuhi atas pilihannya. Kehidupan ini benar-benar singkat, kataNya. Ia layaknya sebuah kebun yang kandas sebelum disabit (10:24). Seperti tanaman2 yang diterbangkan oleh angin, lenyap seketika, padahal sebelumnya ia tumbuh subur karena hujan yang deras (18:45). Kehidupan ini hanyalah kehidupan “antara”. Seperti yang seringkali disebutkan oleh-Nya dalam firman2-Nya. Tidak ada keabadian bagi makhluk, yang ada hanya kesempatan memilih;

Jalan yang akan mengantarkan kita pada istana2 yang terbuat dari emas, sungai2 yang mengalir indah di dalamnya, bidadari2 cantik jelita yang mengelilingi,

atau,

Jalan yang akan menjadikan kita bahan bakar kehidupan di dalamnya, yang penuh dengan kegelapan dan kesengsaraan, yang kematian dan kehidupan bahkan tidak ada bedanya. Sama-sama menyakitkan.

Manusia seringkali lupa. Lupa tentang hari akhir yang lebih baik. Padahal, Ia seringkali mengingatkan..Wa lal aakhiratu khayrul laka minal uulaa (93:4). Lupa tentang hari akhir yang abadi. Padahal, Ia seringkali menyebutnya..Wal aakhiratu khayruw wa abqaa (87:17).

Lebih banyak lagi diantaranya yang sombong dan bodoh. Benar kata Rasul, dua hal yang dekat dengan kekafiran; kesombongan dan kebodohan. Sombong membuat manusia lupa dengan hakikat penciptaan. Bodoh membuat manusia tidak tahu arah hidup sehingga cenderung berada dalam kesesatan.

Na’udzubillahi min dzaalik ya Allah. Kami sungguh2 berlindung dari kesombongan dan kebodohan..

Alhamdulillah.. Kita juga masih harus terus mengucap syukur. Atas setiap karunia yang Allah jadikannya sebagai tools untuk menakar, menentukan, kemudian memilih dan memutuskan. Rabbanaa, Ihdinash shiraatal mustaqiim..Asykuru laka Rabbi..Juga atas kesempatan untuk bertaubat menjadi pribadi yang lebih baik.

Tak terasa sudah memasuki 2017.. if i look back to what happened in 2016, I would be very grateful since Allah has accelerated me through His beautiful ways, alhamdulillah ‘ala kulli haal.. 

Dan ya, tulisan ini lagi2 dibuat dalam rangka 2 hal; sebagai reminder untuk selalu bersyukur, dan sebagai sarana untuk menyambut seruanNya untuk orang2 yang beriman. Kata Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18). Ayat ini sungguh membekas di hati dan pikiran saya. Abi saya seringkali menjadikan ayat ini sebagai ayat yang mengiri surat alfatihah dalam shalat wajib ketika mengimami keluarga. Secara tidak langsung seperti nasihat yang sungguh ditekankan untuk anak2nya.

2016, tahun penuh kejutan dari Allah. Menyadari bahwa ada visi2 diri saya pada suami, prospek bisnis yang semakin cerah, merasakan indahnya melahirkan, menikmati masa2 menyusui, juga banyaknya keberkahan yang lahir karena keikhlasan dalam menjalankan segala skenarioNya. Allah is The Best Planner.. yes, its not only a theory, its real.

Insha Allah saya akan sharing kembali satu persatu hikmah dari setiap pembelajaran dariNya di sini. Dan insha Allah ini juga akan menjadi salah satu resolusi saya di tahun 2017. Kalau kata suami, “Dek, nulis lagi deh. Cara kamu menulis khas banget. Kalau menulis kan inspirasinya tanpa batas. Jadi amal jariyah juga.” Aamiin ya Allah, semoga Allah izinkan saya untuk terus berbagi hikmah. Bukan untuk menyombongkan diri atau melebih2kan apa yang telah diperbuat, melainkan untuk mengedepankan hikmah dan ayat2 kauniyahNya. Semoga Allah jaga selalu niat, tuntun kita terus menjadi manusia yang bermanfaat, mengizinkan kita meraih gelar manusia terbaik di dunia dan di akhirat.

2017, seharusnya menjadi tahun yang lebih baik. Tahun akselerasi bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat. Terlalu cetek jika resolusi2 yang kita buat hanya untuk kepentingan pribadi, sebab belum tentu itu membawa manfaat bagi orang lain. Kita tidak tinggal dalam keabadian, maka semoga amal2 kita untuk orang lain lah yang akan mengabadi, yang semoga karenanya, Allah izinkan kita menginjakkan kaki di surga..

Bandung, 7 Januari 2017

*I have no idea with the pict, i just have a feeling to post it.😅

Highlight #4: Keta’atan yang Terjaga


Disiplin dalam cinta adalah ketaatan yang terjaga.

Menyingkirkan semua ego ketika Allah dan Rasul-Nya menurunkan titahnya.

Seperti luluhnya sifat keras Umar tatkala perjanjian hudaibiyah,

atau patuhnya Hudzaifah menyelusup ke kawanan Quraisy di tengah malam yang dingin.

(Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah)

________________________________________________

Begitulah cinta bekerja. Ia seharusnya melahirkan keta’atan yang terus menerus. Tentang disiplin akan perintah Allah dan RasulNya, di saat hati lapang maupun sempit, saat-saat tersulit sekalipun. Disiplin sendiri mungkin adalah sebuah pemaksaan pada mulanya. Sebuah pemaksaan yang tak jarang terlahir darinya sikap kepahlawanan, seperti kisah Rasulullah yang ‘dipaksa’ oleh malaikat Jibril saat menyampaikan wahyu. Beliau dipaksa membaca; saat berselimut, beliau dipaksa bangun dan memberi peringatan.

“Ruh-ruh itu ibarat sebuah pasukan, bila saling mengenal akan bersatu, jika saling mengingkari akan bersengketa.” (H.R. Bukhari)

Semoga ruh kita terus menyatu, yang lahir karena keta’atan yang terjaga.

________________________________________________

Jakarta, 4 Februari 2015

Highlight #3: Barakah


Di saat apapun, barakah itu selalu melahirkan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apapun masalah yang membadai rumah tangga. Barakah itu membawa senyum meski air mata menitik. Barakah itu menyergap rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.

(Salim A. Fillah, Bahagianya Merayakan Cinta)

_________________________________________________

Saat mereka mendoakan, ”Baarakallahu laka…

Maka semoga Allah memberkahi setiap diri kita dalam status sebagai seorang hamba Allah.

Ketika mereka meminta lagi pada Allah, ”Wa baarakallahu ‘alaika…

Bersama barakah, masalah-masalah yang bermunculan di hadapan kita, insha Allah akan menguatkan jalinan.

Lalu mereka menutup, ”Wa jama’a baynakumaa fii khaiir…”

Maka semoga Allah benar2 mempertemukan kita dalam kebaikan.

Semoga Allah mengumpulkan kita dalam keadaan sebaik-baiknya keimanan.

Semoga Allah meridhai setiap niat kita, setiap khusyu’ doa kita, dan setiap visi-misi besar yang siap kita bangun.

Kemudian, tangan kita saling berpaut dan jemarinya menyatu,

“Baarakallaahu lanaaa yaa Allah..”

Maka sempurnalah tiga perayaan cinta..

________________________________________________

Kanazawa, 21 Januari 2014

Highlight #2: Siapkah kita bersabar?


“Kita masih memiliki pekerjaan untuk menyempurnakan separuh sisanya. Meski setengah darinya telah disempurnakan dengan ikatan, tapi ketahuilah, kita masih punya tugas besar. Maka disinilah ujiannya..”

____________________________________________________

Ada keindahan, ada keagungan, ada kenikmatan dan ada pahala insyaAllah dalam kesemuanya. Tetapi beginilah hidup, ada pergiliran, ada pergantian musim. Ada terang, ada gelap. Ada siang dan malam. Ada pagi dan petang. Ia datang melengkapi dan menyempurnakan. Dan semoga ia terus menguatkan ikatan. Ada pelangi setelah rintik-rintik hujan. Ada lukisan alam.

“Orang yang diberi rezeki oleh Allah berupa seorang istri yang shalihah, berarti ia telah dibantu oleh Allah pada separuh agamanya. Maka dia tinggal menyempurnakan separuh sisanya” (H.R Thabrani dan Hakim).

Maka hendaklah kita bertaqwa pada setengah yang lain. Setelah setengah darinya disempurnakan dengan ikatan. Semoga Allah meneguhkan kaki-kaki kita yang tersatukan oleh rangkaian mawar di jalan-jalan putih meski duri harus mendarah-darah di telapak.

Di sini, di penghujung perjalanan kita menyelusuri taman-taman, tersisalah satu istifham ingkari sebuah pertanyaan rektoris: Siapkah kita diuji?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs. al-‘Ankabut: 2-3)

Di ayat ini, seolah-olah Allah telah memproklamasikan ujian sebagai konsekuensi dari keimanan. Kita tidak akan pernah lepas dari ujian, seindah apapun pengawalannya. Maka biarlah Allah sendiri yang mengajukan pertanyaan itu kepada kita. Maka biarlah janji-janji ikatan itu menjadi pengingat untuk apa kita bersatu. Sehingga serumit apapun persoalan di hadapan kita kelak, kesabaran sebagai representasi keimananlah yang akan menjawabnya.

Lalu di sini, di penghujung perjalanan kita menyelusuri taman-taman, tersisa pertanyaan kepadamu, wahai kekasih..

”Bersediakah engkau mendekapiku lebih erat, ketika badai berderak-derak menghantam? Bersediakah engkau menjadikan tubuhmu selimut terhangat ketika angin bertiup tak tentu arah? Bersediakah engkau menjadi pelukan ketika pusaran topan menerbangkan segala hal yang bisa ku jadikan pegangan?”

Engkau telah mencintaiku dalam kesyukuran yang melipatkan nikmat. Kini bersediakah kita menguatkan ikatan cinta, ketika yang diminta oleh-Nya adalah kesabaran?

____________________________________________________

Kutipan hikmah dari buku Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah dengan banyak perubahan.

19 Januari 2014

Highlight #1: Penumbuhan


Salah satu petikan favorit saya di buku Serial Cinta karya Anis Matta,

Pekerjaan kedua seorang pencinta sejati, setelah memperhatikan, adalah penumbuhan. Inilah cintanya cinta. Inilah rahasia besar yang menjelaskan bagaimana cinta bekerja mengubah kehidupan kita dan membuatnya menjadi lebih baik, lebih bermakna.

Cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana membuat kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika perhatian memberikan pemahaman mendalam tentang sang kekasih, maka penumbuhan berarti melakukan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sang kekasih tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.

Kita tidak boleh berhenti diujung perhatian sembari mengatakan kepada sang kekasih: “Aku mencintaimu sebagaimana kamu adanya.” Atau: “Aku menerima dirimu apa adanya.” Memahami dan mengerti sang kekasih tidaklah cukup. Seorang pencinta sejati harus mampu mengimajinasikan sebuah plot akhir dari kehidupan yang dijalani sang kekasih. Itu tidak berarti bahwa kita mengintervensi kehidupannya secara rigid atas nama cinta. Tidak! yang dilakukan seorang pencinta sejati adalah menginspirasi sang kekasih untuk meraih kehidupan paling bermutu yang mungkin ia raih berdasarkan keseluruhan potensi yang ia miliki.

Kalau bukan karena kerja-kerja penumbuhan, seorang pencinta sejati tidak akan sanggup bertahan hidup di samping seorang kekasih yang ilmu, pengalaman, keterampilan, dan kepribadiannya, tidak bertumbuh dalam 10 tahun perkawinannya, misalnya. Kamu pasti bosan mengobrol dengan seorang yang hidupnya stagnan, dingin dan tidak dinamis. Para pencinta sejati menemukan gairah kehidupan dari perubahan-perubahan dinamis dalam kehidupan kekasih mereka. Seperti gairah kehidupan yang dirasakan seorang ibu ketika ia menyaksikan bayinya tumbuh dan berkembang menjadi anak remaja lalu dewasa. Atau gairah yang dirasakan seorang guru saat menyaksikan muridnya tumbuh menjadi ilmuwan dan intelektual.

Penumbuhanlah yang membedakan cinta yang matang dengan cinta seorang melankolik. Penumbuhan memberikan sentuhan edukasi pada hubungan cinta. Sebab di sini cinta bukan sekedar gumpalan emosi di langit jiwa: yang mungkin meledak bagai halilintar, atau membanjiri bumi dengan hujan air mata, pikiran dan fisik sekaligus. Itu yang membuatnya nyata. Dan efektif.

__________________________________________

Ya. Di tangan Rasulullah, ‘Aisyah tak hanya menjadi seorang istri. Rasulullah saw telah berhasil menumbuhkannya menjadi bintang di langit sejarah. Menjadi guru bagi muslimah di dunia. Menjadi referensi fiqh dan keilmuan.

Begitu juga dengan bagaimana Habibie memperlakukan ‘Ainun secara istimewa. Menumbuhkannya menjadi wanita Indonesia yang hebat. Menjadi tokoh perempuan yang dikenal dengan kontribusinya yang besar bagi perempuan Indonesia, melalui organisasi  yang dirintisnya, Dharma Wanita.

Ya, begitulah cinta bekerja. Ia adalah tentang proses penumbuhan. Proses menjadi hebat bersama. Mengukir sejarah kehidupan terbaik bersama.

__________________________________________

“Biar cinta kita, tumbuh harum mewangi, dan dunia menjadi saksinya..” (Teuku Wisnu ft. Shireen-Cinta kita)

 

9 Januari 2014

Di bawah langit Kanazawa

Rehat sejenak setelah ngelab siang-malam

Siapkah kamu?


Dialog pekan lalu sebelum perkuliahan Mikrobiologi Prediktif, yang terngiang di benak saya sampai sekarang..

Dosen kuliah (yang juga dosen pembimbing TA saya sekaligus wakil dekan akademik SITH): hari ini kita kuliahnya yang cepet aja ya. Kepala saya pusing banget.. *sambil ngurut2 jidat

Saya (yang duduk di paling depan): kenapa bu? Banyak pikiran ya bu?

Dosen kuliah: bukan. ini saya teh kurang tidur, mikirin kalian.

Saya: *kemudian merenung cukup lama*

—————–

Ah Shab, sudah siapkah kamu dengan segala konsekuensi? Menjadi dosen, sekaligus peneliti juga comdever bukan hanya teori yang bisa kamu gampangkan.

Menjadi dosen, berarti kamu harus siap dengan konsekuensi bahwa waktumu harus lebih banyak tersisa untuk mendengar, membimbing dan melejitkan potensi mahasiswa. Menjadi dosen berarti kamu harus siap mendidik dan memotivasi, membuka wawasan global, juga membangun kapasitas dan keterampilan mereka.

Menjadi peneliti, berarti kamu harus siap mengisi hari-harimu untuk membuat ide2 penelitian yang komprehensif dan terarah, menjadikannya lebih tepat sasaran untuk menyelesaikan persoalan2 negeri. Menjadi peneliti berarti kamu harus siap membangun network dengan banyak researchers, membuat kolaborasi dengan researchers dari belahan bumi yang lain. Menjadi peneliti berarti kamu harus siap dengan kenyataan bahwa kamupun harus terus belajar, merenung tentang penciptaan langit dan bumi, menjadikannya sarana dalam mengenal Tuhanmu.

Menjadi comdever, berarti kamu harus lebih dekat dengan masyarakat, mengenal kebutuhan mereka, dan menjadi solusi atas permasalahan yang ada di tengah2 mereka. Menjadi comdever, berarti kamu harus siap mencetuskan riset2 yang implementatif dan sesuai target. Menjadi comdever, berarti bukan hanya tentang bagaimana memberdayakan masyarakat, namun juga tentang bagaimana membangun diri, agama, dan bangsa.

Kamu sadar sepenuhnya kan shab?

Bukankah itu Tridharma perguruan tinggi?

Siapkah kamu menjadi teladan dengan berbagai aktivitasmu di masa depan?

Siapkah kamu dengan konsekuensi bahwa waktu, harta, bahkan mungkin jiwamu tersita untuk itu?

“Insha Allah siaaaaaapppp! Bukankah membiasakannya dari sekarang?”

—————–

Kemudian,

Dosen kuliah: shabrina, hari ini kamu presentasi ya. Tadi saya udah baca tulisan kamu tentang Predictive microbiology: promising future research. Bagus, menarik. Berarti kamu udah paham. Jadi kamu yang presentasi slide hari ini ya.

Saya: (dalam hati: huwaaaattt?) *telen ludah* slide hari ini teh maksudnya slide kuliah, bu? *memastikan* haha ibu, jangan deh bu, da saya mah apa atuh bu..

Temen2 dan adik2 sekelas: *tertawa bahagia, entah apa maksudnya*

Dosen kuliah: iya dong, cuma sedikit kok slidenya. Ayo, langsung ya. *ambil ancang2 beranjak dari kursi dosen*

Saya: ibu, ini teh serius? Haha ya udah deh bu.. *muka pasrah*

Dosen kuliah: oke, hari ini saya jadi mahasiswa dulu ya sementara *sambil duduk di kursi saya

Saya: siap bu! Haha *ketawa pasrah liat slidenya in english dan banyak terms baru yang bikin dahi nekuk*

—————–

Dengan kekuatan bulan, eh salah, dengan kekuatan rahmat Allah dan segala kemahabesarannya, insha Allah saya ‘siap’!

are_you_ready

 

 

 

No, I’m not ready, I’m Shabrina anyway 🙂

 

Catatan pengingat

20 oktober 2014