Being an Engineer’s Wife: Self-other overlap!


“How much you see yourself in your partner can predict how long you’ll last. This is a secret to have a happy relationship.” -A study by Psychologists at the University of Toronto

Wah sudah lama sekali saya tidak menuangkan pikiran di blog. Latest post saya tertuliskan tanggal 14 Maret 2017, dan disana hanya lintasan pikiran yang (mungkin) tidak begitu berarti bagi sebagian orang, hehe. *emang selama ini ada yang berarti😅 semoga ya, berharap supaya dari ketikan tulisan saya ini, pembaca bisa mengambil satu dua hikmah yang bermanfaat.

Kali ini saya hendak share tentang kisah yang sejak lama ingin saya bagikan, tapi apa daya, saya sedang menikmati masa-masa istimewa bersama suami dan anak, jadi rasanya tidak ingin ketinggalan waktu sedetik saja 😁

Oiya sebagai info awal, tulisan saya kedepannya mungkin akan lebih banyak bercerita tentang kehidupan saya bersama suami dan anak-anak, dan akan sedikit sekali bercerita tentang kisah saya pribadi, sebab kini saya hidup bersama dua orang yang sungguh spesial bagi saya. Ada banyak hal unik yang telah tergali dan menjadi kesyukuran tersendiri bagi saya pribadi. Alhamdulillah..

Sedikit flashback ke tahun 2015, rencana saya menikah muda ternyata memang sesuai dengan rencana Allah, Maha Besar Allah dan rasa syukur yang tak terkira atas segala nikmat dariNya. Sebagian dari lika liku prosesnya sudah pernah saya share di post sebelumnya, silahkan di-review bagi yang belum sempat membaca. Sungguh proses yang instan tanpa ribet, tanpa persoalan2 yang begitu berarti. Baarakallahu lanaa..

Belum selesai masa ta’aruf di antara kami, tiba-tiba saja ada kejutan yang berada di luar rencana kami! Hasil pregnancy test menunjukkan saya positif hamil dan insyaAllah dikaruniai seorang anak. Pada saat itu, rasanya bercampur aduk antara senang dan khawatir. Kenapa? Karena pada awalnya rencana saya hanya sebatas mencari pendamping hidup yang siap berkolaborasi dalam amal dan perencanaan masa depan, belum memasukkan variable hadirnya buah hati disana.

Selepas menikah, saya berencana melanjutkan program magister di Jepang dan sambil menunggu waktu, saya merintis start up business di bidang food and agriculture. Status suami saya saat itu adalah asisten akademik di program magister geothermal ITB. Sebelumnya suami sudah hampir bekerja di Pertamina, tapi diminta oleh dosennya untuk membantu beliau membangun program magister geothermal ITB. Sedikit bercerita juga, suami saya termasuk orang yang tidak begitu concern pada akademiknya selama 5 tahun sekolah sarjana di ITB. Tuntutan amanah dakwah yang besar di kampus membuatnya tidak bisa optimal menjalankan amanah akademiknya. Suami juga bercerita bahwa pentingnya akademik baru terasa pada saat mengerjakan tugas akhir sarjana. Di titik itulah dia mulai concern pada akademiknya.

Sebagai informasi, IPK suami saat lulus sarjana di ITB hanya 2.78. Hanya 2.78. Tapi sangat banyak pengalaman yang dia dapatkan selama di ITB.

Selama masa-masa ta’aruf, tepatnya beberapa bulan pertama pasca menikah, dia pernah bercerita bahwa banyak sekali kemudahan yang Allah berikan padanya selama dia hidup. Padahal, sewaktu di SMP, dia adalah anak nakal yang gaulnya dengan orang yang dulu pernah di DO dari salah satu universitas negeri karena narkoba.

MasyaAllah.. karena kasih sayang Allahlah, sewaktu SMA, dia mulai mengenal Allah melalui ROHIS, dan mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk belajar islam (sampai ditunjuk menjadi ketua ROHIS). Dari sanalah dia bertransformasi menjadi insan yang lebih baik.

Suami saya ternyata juga adalah orang yang sangat menyayangi dan mencintai ibunya. Hal itu terlihat dari keputusannya dalam menentukan prioritas bidang studi yang dipilihnya selepas SMA. Awalnya dia diterima melalui jalur PMDK di Fisika ITS, namun saat itu guru2 di sekolahnya tidak menganjurkannya mengambil ilmu murni, akhirnya dia melepaskan pilihannya. Suami bilang, waktu itu dia hanya berusaha mengambil peluang yang ada di hadapannya. Tes masuk STAN pun dia ikuti dengan alasan sekolahnya gratis dan digaji. Setelah itu dia menyempatkan diri untuk diskusi dengan ibunya. Ternyata, ibunya menginginkannya melanjutkan sekolah sama seperti pamannya yang sekolah di Teknik Perminyakan ITB. Akhirnya, di SNMPTN dia mengambil pilihan Teknik Perminyakan ITB dan Teknik Sipil ITS. Qadarullah dia diterima di Teknik Perminyakan ITB dan STAN. Namun saat itu pengumuman penerimaan STAN bertepatan dengan pendaftaran ulang ITB, jadilah lanjut sekolah di ITB sesuai dengan keinginan ibunya.

Oiya, kenapa suami sangat menyayangi ibunya? Saya paham betul setelah mengenal keluarganya, mama adalah orang yang sangat baik, dekat dengan Allah dan selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Terlihat dari setiap malam, mama selalu menyempatkan waktunya untuk shalat tahajjud, mendoakan putra putrinya agar menjadi orang-orang yang sukses di masa yang akan datang. Karir mama adalah sebagai guru SD yang dicintai siswanya. Passionnya dalam mendidik membuat dia selalu all out dalam mendidik anak-anaknya dan menjadikan pendidikan anak-anak sebagai prioritas utamanya.

Dari cerita itulah saya mengetahui bahwa suami saya sebetulnya adalah orang yang cerdas. Dia cerdas dalam logika dan pintar mengelola emosi. Meskipun IPK sarjananya 2.78, tapi itu adalah pilihannya. Selama masa sarjana, dia manfaatkan waktunya untuk mengelola organisasi, networking dan begaul dengan seluruh elemen kampus, termasuk satpam, OB, K3L kampus. Disinilah letak pembelajaran emosional yang dia dapatkan.

Menurutnya, menjadi bagian dari kampus bukan hanya membutuhkan kecerdasan akal (IQ), tapi juga kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan akal bisa diasah dengan belajar dan banyak latihan, tapi kecerdasan emosional hanya bisa didapatkan dengan proses yang panjang. Bagaimana mengelola organisasi, mengenal banyak orang dengan berbagai karakter yang berbeda2. Juga kecerdasan spiritual adalah bagaimana kita selalu berada dalam lingkungan yang kondusif untuk belajar islam.

Bagaimana dakwah telah memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupannya itulah yang menjadi alasan utamanya mengapa selalu all out dalam menjalankan amanah dakwahnya selama di kampus. Kalau redaksinya dia bilang seperti ini, “Aku begini karena kontribusi dakwah, Dek. Aku bisa jadi orang baik karena aku dipertemukan dengan orang2 baik oleh Allah melalui dakwah. Jadi kalau ada yang bilang kecewa karena amanah dakwahnya terlalu banyak, lalu akademiknya jadi hancur lebur, itu bukan salah dakwah. Itu salah dia yang tidak memahami sebesar apa peran dakwah untuk dirinya.” MasyaAllah.. benar juga sih 😅

Melanjutkan cerita tentang karir akademiknya, selulus dari sarjana, suami ditawarkan oleh pamannya yang berada di jajaran direksi Pertamina untuk bekerja disana. Namun, suami memilih untuk menerima tawaran dosen pembimbing tugas akhirnya untuk terlibat dalam proyek-proyek geothermal. Qadarullah, dosen pembimbing tugas akhir suami pada saat sarjana adalah orang yang sangat friendly, sehingga disukai oleh mahasiswanya. Beliau adalah dosen senior di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Beliau pula yang dulu merintis program studi geothermal di tahun 2008. Saya biasa memanggilnya Mbak Nenny (kebiasaan mahasiswa minyak manggil dosennya Mbak dan Mas kalau kata suami, saya jadi keikutan hehe).

Ketertarikannya pada geothermal mendorongnya untuk melanjutkan S2 di geothermal ITB dan dari saat itulah dia menjadi sangat concern dengan profesinya. Akhirnya dia bisa lulus dengan predikat yang baik dan siap untuk mengaplikasikan keilmuannya.
Namun, karena sudah terlalu banyak terlibat dalam proyek-proyek geothermal, akhirnya suami diangkat sebagai asisten akademik di fakultasnya. Karir sebagai asisten akademik di ITB kedepannya adalah sebagai dosen. Akhirnya suami resmi diangkat sebagai dosen non-PNS ITB pada akhir tahun 2016.

Menurutnya, dengan berkarir menjadi dosen (instead of working at the company), itu berarti ia beramal sambil bekerja, sehingga disitulah nilai pahala yang tidak tergantikan. Selain itu juga, bekerja di universitas lebih dinamis dalam hal penelitian dan pengembangan keprofesian daripada di perusahaan. Oleh karena itulah, peluang belajarnya menjadi lebih banyak ketika berafiliasi dengan institusi pendidikan.

Cerita tadi adalah hasil penyatuan puzzle-puzzle kisah yang menjadi bahan obrolan di sela-sela kami menunggu kelahiran si kecil. Di saat itu, saya juga masih bergelut dengan aktivitas start up yang dinamis.

Jika banyak yang bilang bahwa menjadi dosen itu gaji pokoknya kecil, maka itu benar adanya. Gaji pokoknya kecil. Namun alhamdulillah.. selalu saja Allah cukupkan. Selalu saja ada cara Allah dalam mendatangkan rizki. Tiba-tiba saja suami diminta mengisi training, atau mengerjakan proyek-proyek geothermal yang nilainya besar, dan lain sebagainya yang terus menambah kesyukuran kami pada Allah.. Apalagi selepas kelahiran si kecil, masyaaAllah.. benarlah janji Allah, setiap insan yang baru lahir memang telah Allah tetapkan rizki untuknya.. baarakallahu lanaa..

Akhirnya sampai di penghujung tulisan.. rekan, senior atau juniornya di ITB mungkin mengenal suami adalah sesosok orang yang selera humornya tinggi, suka nge-jokes yang “zing”, sehingga terkesan kurang serius dalam hal2 seperti di atas. Tapi siapa sangka, ternyata dia adalah orang yang matang dalam berencana, bisa melihat peluang dan sangat bertawakkal pada Allah atas setiap perencanaanNya.

Sejatinya, menjadi pribadi seperti itulah yang saya harapkan terhadap diri saya sendiri di masa yang akan datang. Segala visi-misi dan prinsip saya, ternyata ada di dalam diri suami dan jauuh lebih matang. Apa yang ingin saya lakukan selepas dari kampus ternyata bukan sedang Allah tunda, tapi Allah hadirkan melalui apa-apa yang dilakukan suami. MasyaaAllah.. maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

InshaAllah di tulisan-tulisan selanjutnya saya akan bercerita lebih banyak mengenai visi misi saya yang tercermin dalam diri suami, rencana masa depan, dan yang spesial adalah tentang si kecil buah hati kami, Zafran Harris Elfath. Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat untuk semuanya..

 
Jakarta, 28 Ramadhan 1438H

Advertisements

Being an Engineer’s Wife: harmony in diversity


Tentang harga diri, yang Allah muliakan dengan penantian

Tentang masa, yang Allah tangguhkan untuk kesucian

Tentang waktu, yang Allah indahkan dalam ikatan

Tentang tawakkal, yang Allah sempurnakan dengan Istikharah..

——–

Sudah setahun lebih usia pernikahan kami. Banyak hal telah kami lewati bersama. Adakalanya atmosfer keimanan melemah di antara kami. Namun seringkali puncak keimanan bertemu dengan kesempatan amal. Beberapa kali keikhlasan enggan untuk singgah di ruang hati. Tetapi kerap kali semangat berfastabiqul khairat menemani hari. Sungguh beruntung mereka yang mampu memoles rumah tangga dengan sabar dan syukur. Di sana, ada sejuta keberkahan yang Allah limpahkan.. semoga rumah tangga yg kita bangun saat ini atau nanti, adalah rumah tangga yang Allah tambahkan kebaikan terus menerus di dalamnya..

Usia pernikahan kami mungkin belum cukup menjadi bukti keharmonisan jika dibandingkan dengan pasangan suami-istri lainnya yang telah menjalani pernikahan selama belasan atau puluhan tahun. Ujian yang kami lewati, mungkin belum bisa disejajarkan dengan cobaan bahkan tantangan yang mereka hadapi. Tetapi semoga setahun yang telah kami lewati bersama ini, menjadi permulaan yang baik untuk tahun-tahun setelahnya. Menjadi tahun2 yang penuh keberkahan dan keistimewaan dari Allah..

Kami menikah bukan dengan pacaran, bukan dengan tag-tag-an, bukan dengan PHP, bukan dengan perkenalan yg memakan waktu tahunan. Kami menikah dalam waktu yang relatif singkat. Hanya sekitar 3 bulan sejak ta’aruf pertama kali. Menjadi suatu tantangan tersendiri untuk memulai kehidupan bersama orang baru yang kami belum pernah berkomunikasi sebelumnya, apalagi berinteraksi di aktivitas tertentu. Selain karena jarak umur saya dan suami yang terlampau jauh (suami masuk kampus tahun 2005, saya masuk kampus tahun 2010, which means pas saya masuk kampus suami udah lulus😅), kami juga tidak pernah satu organisasi. Entah kenapa ya, seperti sudah menjadi skenario dari Allah. Alhamdulillah ‘ala kulli haal..

Sebulan pertama setelah akad terucap, masih banyak penyesuaian dalam keseharian. Tentang saya yang ribet, tapi suami yang sangat simple. Tentang pikiran saya yang kompleks dan berantakan, sementara suami yang terstruktur dengan baik. Tentang saya yang kreatif, tapi suami yang logis. Tentang saya yang suka tantangan dan ambisius, sementara suami yang realistis. Dan banyak hal lainnya yang saya merasa kami saling melengkapi. Walaupun kata Saka di Sabtu Bersama Bapak, “Saya tidak butuh yang melengkapi saya. Tugas melengkapi saya ya diri saya sendiri.” Fiuh, bener banget sih..

Tapi kerasa banget ya sebenar-benarnya keharmonisan dalam perbedaan di pernikahan ini.. pada akhirnya, perbedaan itulah yang menyelipkan tawa di antara kami. Ada saja bahan perbincangan yang menarik dari sana..

Pernah suatu ketika, suami sedang latihan soal TPA untuk persiapan tes dosen non PNS ITB (alhamdulillah berkat doa teman2 semua, suami sudah dinyatakan menjadi dosen non-PNS di FTTM ITB), saya ikut nimbrung berfikir. Waduh, baru selesai baca soalnya, dan sibuk berkutat dengan pemikiran sendiri, eh suami malah udah loncat ke soal selanjutnya. Haduh, kadang2 dungdung juga ya😅 otak sains dan otak engineer nggak saling ketemu. Hehe tapi akhirnya itulah yang jadi bahan perbincangan kami.

Pernah juga saat kami membuat list resolusi tahunan, tulisan saya bisa dibilang berhalaman-halaman, mendetail, dan benar2 dibuat timeline per activity-nya. Sementara suami? Huft, hanya satu halaman dengan kata2 singkat. Dan sedihnya lagi, yang bisa tahu detailnya ya cuma diri dia sendiri..😂 kalau kata suami, “Bikin resolusi tuh jangan muluk2, Dek.. nanti jadi wacana doang. Mending kayak aku, sedikit tapi terwujudkan.” Hahaha gue banget jadi wacana 😂

Dulu saya juga pernah membelikan suami buku agenda tahunan, tapi bukunya besar dan tebal. Berharap suami mengapresiasi karena saya bisa tahu kebutuhan suami gitu ya, eeeh malah ternyata dia butuh buku setipis2nya, sesimple2nya, dan sekecil2nya. Yang penting buat reminder aja, gitu katanya😅 alhasil bukunya jadi nggak terpakai..

Tetapi seringkali sifat saya yang mendetail dan perfeksionis ini ternyata mendatangkan manfaat buat suami. Kalau suami harus keluar kota, saya yang mengingatkan dan menyiapkan bawa ini itunya. Hal2 tertentu yang ada kemungkinan suami sekip cukup terbantukan dengan sifat detailnya saya ini.. terutama soal kerapihan rumah yang bertahan lama karena sifat perfeksionis saya. Hehe. Pokoknya kalau soal peletakan barang2 di rumah, barang2 penting dan berharga cuma saya yang tahu..😅 jadi pasti suami nanya dulu kalau butuh sesuatu ke saya.. “Barang A yang dulu aku beli di toko Z di mana ya Dek?” Diam2 saya suka pindahin barang suami..wkwk

Ada lagi tentang keunikan dalam mempersiapkan perjalanan mudik. Saya kan gitu, semua dibawa. Kalau kata suami, “Ini teh mau mudik atau mau minggat sih Dek?” Wkwk teman2 sekontrakan saya pasti tau saya banget soal ini. Pakaian saya dan Zafran aja bisa 2 koper sendiri..sementara suami cuma satu tas😅 which is finally dia kekurangan baju dan akhirnya harus beli deh huft. Kalau saya kan mikirnya mungkin nanti butuh ya di jalan, jadi dibawa semua.. 😅 haha ngerepotin pisan..

Tetap saja dong ada masa2 di mana saya merasa berharga. Ketika suami harus ngasih training di luar kota, dan presentasi yang dia siapkan…zong. Latarnya putih semua. Ah pokoknya cuma hitam putih slide presentasinya.. disinilah peran saya untuk memoles presentasinya agar eye-catching dan nggak boring. Berbekal modal kreatif yang pas2an, saya bisa membuat presentasi yang suami buat at least enak dilihat^^

Kalau suami sedang ada target sekaligus deadline banyak, saya juga yang mendetailkan apa yang harus dia lakukan pertama kali.. bagaimana step2nya.. contohnya persiapan untuk mengejar doctoral degree nya.. saya yang mengingatkan kapan harus mengurus SKCK, kapan harus medical check up, kapan harus bikin essay (termasuk juga ngoreksi essaynya), kapan ini itunya.. hehe

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.. justru dengan perbedaan itulah pada akhirnya terbentuk keharmonisan. Ada canda dan tawa yang terselip di sela aktivitas kami. Ada kebiasaan berbagi dan mendukung satu sama lain. Ada apresiasi yang melahirkan perasaan dibutuhkan. Ada pengingat untuk terus memperbaiki diri dalam rangka melengkapi satu sama lain.. selalu ada cara Allah dalam mendidik kami..

Itulah secuplik hikmah yang saya dapatkan selama setahun pernikahan ini.. masih banyak cerita2 seru yang insha Allah saya bagi di tulisan2 saya yang lain.

May Allah bless us always.. till there is nothing greater than His blessing..

Bandung, 8 Januari 2017

Metamorphosa: Spread the wings!


This is a collection of our great moments,

This is a little proof of our odyssey,

This is a sort of constellation about our journey,

This is a piece of story in our life’s episode,

This is kinda..our life diary.

**************

We walk together,

We meet people around, transfer knowledge and ambitions, deliver visions and missions,

We share our dreams,

We let everyone make it real,

So we can achieve it more..

 

We run together,

We see how the world runs so fast,

We see how people grows,

We see everyone compete each other,

We realize that the civilization is really happening,

And we finally recognize that the dunya is nothing, while the akhirah is everything,

 

We spread our wings,

We let the air bring us high,

We reach the highest sky,

We see the tiny of us above all,

We see how we are nothing, but Allah is The Greatest One..

 

We spread the happiness into everyone’s life,

We let them feel how Allah really loves us,

With the brain in our head that has ability to think 30 times faster than a super computer,

With the two eyes, which is able to capture moments even better than the best camera ever,

To think about all creatures, we are the perfect one.

But why do we still stand arrogant and not to be grateful with everything we have?

That’s a sort of constellation..a sort of reminder..

 

From now, we should fly higher,

We should give more, instead of asking,

We should learn more, instead of making our own conclusion,

We should stay humble, instead of swaggering,

We should act more, instead of criticizing other’s work,

We should be more confident with our own, instead of grudging others..

 

As from now on, we will grow together..

We will reach The Highest One, The Most Everything,

Allah and His Jannah..

USG results: I see how you grow, you’re with me while I am growing 🙂

Inspiration Point Kabinet KM ITB, 13 October 2015

IMG_8470

Mentoring Gabungan Bidik Misi, 7 November 2015

Mentoring Gabungan SMA N 14 Jakarta, 13 November 2015

Semesta Comdev Beasiswa Karya Salemba Empat, bersama Bapak Iskandar Kuntoaji (Pendiri IBEKA, suami Ibu Tri Mumpuni), 23 Januari 2016

Annisaa Day Gamais ITB, 26 Februari 2016

Kuliah Tamu KKN Tematik ITB mengenai Social Entrepreneurship, 9 April 2016

Public Relation, How to Goal the proposal, STIS Asy-Syukriyah Tangerang, 24 April 2016

Yang Terserak


shabrina

“Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi ummat.”

Begitulah doa yang Rasulullah SAW panjatkan untuk pernikahan putri beliau yang mulia, Fatimah Azzahra dengan anak pamannya, Ali bin Abi Thalib. Doa yang menyimpan makna keindahan dan kunci kebahagiaan dalam membangun keluarga yang diberkahi oleh Allah. Tidak ada yang kita harapkan selain keberkahan dan ridha Allah yang terus mengalir di setiap check point menuju sebuah ikatan yang Allah muliakan (mitsaaqan ghalidzaa). Juga keberkahan yang tercipta setelahnya. Lahirnya keturunan2 yang shalih, yang mampu menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata) bagi kedua orang tua, bagi keluarga dan sahabat2nya, juga generasi yang akan mengemban amanah sebagai pemimpin bagi seluruh ummat di dunia, khususnya bagi orang2 yang beriman (lilmuttaqiina imaama). Kita tentu menginginkan pernikahan dapat membuka pintu rahmat, yang didefinisikan sebagai al-khayr wanni’mah (kebaikan dan nikmat). Terbukanya pintu rizki, ilmu, dan kebaikan lainnya. Pernikahan sebagai sumber ilmu dan hikmah, karena di dalamnya ada pertukaran cerita, ada ketersampaian hikmah, juga sebagai sumber pembelajaran baru yang baik. Dan yang terakhir dari doa Rasul, disinilah klimaks dari kemuliaan pernikahan. Terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Keluarga yang menjadi sumber keamanan dan kenyamanan, bukan hanya bagi personil yang menjadi bagiannya, melainkan juga bagi orang2 di sekitarnya. Sungguh tersimpan harapan yang mulia dari doa yang Rasul panjatkan untuk putri tercintanya.

Alhamdulillah, sudah jalan 130 hari pernikahan kami, terhitung sejak 22 November tahun lalu. Ada suka, duka, kesal, bahagia, kecewa, rasa puas, dan berbagai ekspresi perasaan lainnya yang menemani hari2 kami. Kami menyebutnya sebagai wujud dari kesyukuran dan kesabaran, sebab dua hal itulah yang menjadi kunci ridha dan berkahnya Allah.

Ada sepenggal kisah yang ingin saya ceritakan terkait proses menuju pernikahan. Saya sudah meniatkan untuk menuliskannya sejak lama, tetapi lagi-lagi dengan dalih dinamisnya kesibukan pasca nikah, saya baru menyempatkannya sekarang. 😅 sebetulnya saya sudah sempat menuliskannya sedikit di website pernikahan kami (dimashabrina.com), namun hanya sebatas gambaran besarnya saja, tidak mendetail. Insha Allah disini saya akan berbagi cerita lengkapnya.

Mungkin ada diantara teman2 yang berfikir bahwa saya sangat selektif memilih calon pasangan hidup, atau punya standar yang tinggi dengan kualitas yang sulit dijangkau. Mungkin ada yang berfikir bahwa saya tipe akhwat yang suka mempersulit proses pernikahan, banyak tuntutan, atau berbagai stigma negatif lainnya. Tetapi semoga di antaranya masih ada yang bersedia untuk husnudzan pada saya, bahwa saya telah memilih pasangan yang sejak mula Allah pilihkan. Karena pada kenyataannya, itulah yang terjadi.

“Shab, kayaknya susah ya mencarikan ikhwan yang sekufu dengan shabrina. Ikhwannya keburu jiper sebelum ketemu orang tua.”

“Shab, kamu pasti pengennya dapet suami yang pinter banget gitu ya, yang sering ke luar negeri, yang prestatif, banyak karya, dsb.”

Masyaa Allah.. Jika saya mengawali niat menikah hanya karena alasan2 di atas, rasanya saya belum pantas ke tahap selanjutnya dan masih harus terus memperbaiki niat.

Kalau ditanya, sebetulnya apa yang menjadi syarat utama (qana’ah dzatiyah) yang saya tuliskan di proposal pernikahan saya? Maka saya akan menjawab bahwa saya hanya mencantumkan poin2 yang krusial dan bukan merupakan keinginan duniawi. Sebelum pada akhirnya direvisi oleh guru ngaji saya, saya hanya mencantumkan syarat “yang bersedia menemani perjuangan dan kontribusi saya untuk dakwah yang lebih besar.” Sudah itu saja. Tidak ada embel2 lainnya. Tidak ada syarat ingin yang satu kampus, yang sudah lulus S2, yang sudah mapan, dan sebagainya. Sama sekali bukan keinginan saya untuk mendapatkan segala sesuatunya secara instan. Saya ingin memulai dan tumbuh bersama, itu yang saya pikirkan. Sampai pada akhirnya, guru ngaji memberitahu saya untuk lebih menguraikan kriteria yang diharapkan. Saya menuliskan hal2 yang beralasan untuk kepentingan bersama, bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Sebagai contoh, saya mengharapkan kondisi keluarga yang bersangkutan adalah keluarga yang hanif (terutama yang mudah dipahamkan terkait kondisi keluarga saya). Hal ini cukup krusial bagi saya, karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga dua keluarga besar. Kriteria lainnya, ikhwan yang bersangkutan berencana untuk berdomisili di Bandung, mengingat orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk berdomisili di luar Jawa dan saya sedang merintis start up business di Bandung. Perhatian dan sayang kepada perempuan, keluarga besar, dan adik2. Mengingat adik saya 7, dan saya adalah anak pertama di keluarga saya. Tidak harus yang hafalan alquran-nya banyak, tapi paham aplikasinya. Tidak harus yang secara kuantitas unggul, yang terpenting adalah amal sebagai wujud kedekatannya dengan alquran. Mencintai ilmu dan berkeinginan untuk terus memperkaya wawasan keilmuannya dan mengamalkannya. Yang terakhir adalah kunci dari tujuan pernikahan itu sendiri, yaitu dapat saling membantu melejitkan potensi dan kompetensi bersama dalam rangka berkontribusi untuk da’wah yang lebih besar.

Saya rasa, hal2 yang saya syaratkan di atas tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Tidak ada yang terkesan seperti menyombongkan diri, atau merendahkan diri. Apa adanya. Wallahu a’lam.

Begitulah saya mengawali pernikahan. Saya memulainya dengan doa, bukan atas dasar suka sama suka, atau karena request, karena kecenderungan, dan sebagainya. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya masih jauh dari kata shalihah, masih jauh dari level haqqul mu’miniin, masih penuh dengan kecacatan dan kekurangan dalam amal, tapi saya masih punya harapan untuk mendapatkan pasangan yang dekat dengan Allah dan mampu membawa saya ke surga.

Pernikahan adalah peristiwa peradaban, ia mulia karena di sanalah transformasi visi terjadi, dari visi pribadi menjadi visi bersama. Dari sanalah kebaikan berlipatganda, menjelma menjadi tujuan2 mulia yang berujung akhirat. Dari sanalah peradaban dibentuk, menentukan akan menjadi apa dan siapakah generasi2 akhir zaman.

Karenanya, menjaga niat dan prosesnya sejak awal adalah sebuah keharusan. Keberkahannya mungkin saja ditentukan oleh bagaimana kita mengawalinya. Bagaimana kita menjaga kesuciannya. Tidak melibatkan perasaan dan hawa nafsu.  Tidak sombong karena merasa berjodoh, padahal akad belum terucap. Tidak membangun ekspektasi dan asumsi, padahal penilaian Allah adalah penilaian terbaik. Setiap dihadapkan pada keputusan2 penting, langsung mengembalikannya pada Allah melalui doa dan istikharah. Bertawakkal sejak awal, bukan setelah berikhtiar. Bertawakkal, artinya kalau memang berjodoh, ya pasti Allah mudahkan. Tapi kalau tidak, pasti adaaa saja cara Allah untuk menggagalkan. Percaya pada keputusan Allah.

Upaya lainnya yang bisa dilakukan adalah mempercepat dan tidak membelitkan prosesnya. Kamis malam saya dikabari bahwa ada seorang ikhwan yang siap diproses dengan saya (padahal saya belum diberitahu siapa namanya), saya langsung mengiyakan saja. Dan saya langsung mengajukan untuk ta’aruf keesokan harinya. Malamnya saya beristikharah terus menerus, berkali2. Setelah sebelumnya saya rutin melakukannya. Esoknya, jumat pagi, saya dikabari oleh guru ngaji saya bahwa yang bersangkutan menyetujui. Jatuhlah waktunya setelah shalat jum’at. Kemudian guru ngaji saya menanyakan apakah saya ingin tahu siapa orangnya. Awalnya saya enggan untuk tahu, sampai akhirnya guru ngaji saya memberitahu. Jum’at pagi di hari yang sama dengan hari ta’aruf, saya baru mengetahui siapa orangnya. Kemudian kami berta’aruf dan rasa tenang itu muncul begitu saja. Setelah ta’aruf, saya meminta ikhwan tersebut untuk bertemu dengan keluarga saya di jakarta, memilih antara hari sabtu atau ahad di pekan itu. Qadarullah, ternyata ikhwan tersebut menyanggupi dan bersilaturahim ke rumah ditemani dengan guru ngaji saya bersama suaminya pada hari sabtu (keesokan harinya). Alhamdulillah, 3 hari yang mendebarkan itu ternyata membuahkan berkah. Ikhwan tersebut adalah ikhwan yang sekarang telah menjadi suami saya, menjadi teman seperjuangan, sahabat dalam setiap keadaan, juga imam yang semoga Allah mengizinkannya menuntun saya hingga ke surga.

Alhamdulillah..hanya rasa syukur yang mampu mengekspresikan keindahan cara Allah menuntun kami sampai pada tahap khitbah, lalu akad, dan resepsi. Khitbah adalah salah satu bentuk komitmen untuk memperjuangkan, karenanya tidak semestinya kita melambat2kan prosesnya menuju akad dan pernikahan seutuhnya. Dalam melangsungkan akad dan resepsi, niatkan segala sesuatunya untuk beribadah. Tidak ada salahnya untuk mengadakan resepsi di gedung, menyediakan makanan yang mewah, jika semua itu diniatkan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi tamu2 kita dan orang tua kita. Jangan lupa untuk mengadakan pengajian dan santunan anak yatim dua atau tiga hari sebelum hari pernikahan, daripada sibuk berdandan atau memperindah fisik, lebih baik mengais ridha dan kemudahan dari Allah dengan memudahkan urusan orang lain. Perbanyak berinfaq dan berbuat baik, berhusnudzan dan mengalirkan kasih sayang pada banyak orang.

Saya jadi teringat bagaimana proses saya mendapatkan gedung untuk pernikahan. Sebuah tantangan tersendiri di Ibu Kota untuk menyewa gedung yang tepat jika tidak H-6 bulan. Jarak antara diputuskannya pilihan tanggal pernikahan dengan hari pernikahan saya tidak lebih dari 2 bulan. Suatu hal yang hampir mustahil meyiapkan pernikahan dengan tamu kurang lebih 1500 orang dengan gedung yang masih belum pasti. Akhirnya, gedung yang available pada tanggal yang kira-kira tepat saja yang dipilih. Segala pertimbangan yang membuat ribet menjadi tidak berguna lagi.

Mungkin saya terkesan sengaja memilih momen hari lahir sebagai hari pernikahan. Tapi sesungguhnya yang terjadi adalah seperti seolah2 tidak ada pilihan lain selain tanggal tersebut di gedung tersebut, tanggal 22 November di Gedung Menara 165 ESQ. Apalah arti dari hari lahir kalau bukan untuk bermuhasabah, mengingat bahwa waktu singgah di dunia semakin sempit. What really happened adalah menyewa gedung untuk pernikahan di Jakarta itu sulit sekali kalau dadak-dadakan. Biidznillah, semua berjalan lancar sampai hari H, banyak orang yang ikut membantu menyiapkan pernikahan kami. Alhamdulillah, baarakallaahu lanaa ya Allah..

Pada awalnya, gedung ini hanya available di tanggal 22 November 2015 dan 29 Februari 2016 dengan catatan saya masuk waiting list di keduanya sehingga saya perlu menunggu konfirmasi orang yang sebelumnya men-tag tanggal tersebut. Dan qadarullah, orang sebelumnya yang men-tag 22 November ternyata membatalkan, sehingga saya bisa mengambil tanggal tersebut untuk hari pernikahan saya. Begitulah ceritanya 🙂

Rizki memang sudah ada yang mengatur. Mulai dari munculnya alternatif di Menara 165 dari pihak keluarga suami, sampai ternyata Allah mengizinkan saya menggenapkan din di hari lahir saya yang ke-23. Saya bersyukur menikah di gedung yang terkenal dengan icon Allah di atapnya dan sering digunakan sebagai training untuk mendekatkan diri pada Allah. Kalau kata ayah saya, “gedungnya islami, jadi semoga bisa mendukung pernikahan yang islami juga insha Allah..”

Mengingat hari pernikahan saya bertepatan dengan hari lahir saya, saya jadi ingin menunjukkan sebuah video yang sengaja dibuat oleh suami saya dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari guru-guru SMP-SMA saya, sahabat dekat saya, teman2 bisnis di dipanusa, adik coach mapres saya, teman lab suami, dan lain-lain, yang membuat saya feel so surprised di malam itu 😀 terima kasih untuk semua pihak yang terlibat, I feel soooo touched. Bahkan nontonnya pun masih merasa terharu sampai sekarang :))

Ini dia videonya. Semoga tesampaikan ya pesan2nya 🙂

[Video milad Shabrina, 22 November 2015]

Ada video istimewa juga yang sengaja dibuat oleh teman2 se-“geng” saya di kampus. Kami menamakannya Rungkicheese Gangster 🙂

[Video Pernikahan dari Rungkicheese Gangster]

Dan terakhir adalah video spesial dari adik saya tentang liputan singkat pernikahan saya 🙂

[Video pernikahan dimashabrina]

Alhamdulillah..

Pada akhirnya, semoga doa Rasulullah SAW juga mengalir dalam rumah tangga kami, menjadi keluarga dunia-akhirat, keluarga yang senantiasa dilingkupi kasih sayang Allah sampai ke surga..

Baarakallaahu lanaa wa baaraka ‘alaynaa wa jama’a baynanaa fii khayr.. Allahumma aamiin…

Bandung, 6 April 2016