Being an Engineer’s Wife: harmony in diversity


Tentang harga diri, yang Allah muliakan dengan penantian

Tentang masa, yang Allah tangguhkan untuk kesucian

Tentang waktu, yang Allah indahkan dalam ikatan

Tentang tawakkal, yang Allah sempurnakan dengan Istikharah..

——–

Sudah setahun lebih usia pernikahan kami. Banyak hal telah kami lewati bersama. Adakalanya atmosfer keimanan melemah di antara kami. Namun seringkali puncak keimanan bertemu dengan kesempatan amal. Beberapa kali keikhlasan enggan untuk singgah di ruang hati. Tetapi kerap kali semangat berfastabiqul khairat menemani hari. Sungguh beruntung mereka yang mampu memoles rumah tangga dengan sabar dan syukur. Di sana, ada sejuta keberkahan yang Allah limpahkan.. semoga rumah tangga yg kita bangun saat ini atau nanti, adalah rumah tangga yang Allah tambahkan kebaikan terus menerus di dalamnya..

Usia pernikahan kami mungkin belum cukup menjadi bukti keharmonisan jika dibandingkan dengan pasangan suami-istri lainnya yang telah menjalani pernikahan selama belasan atau puluhan tahun. Ujian yang kami lewati, mungkin belum bisa disejajarkan dengan cobaan bahkan tantangan yang mereka hadapi. Tetapi semoga setahun yang telah kami lewati bersama ini, menjadi permulaan yang baik untuk tahun-tahun setelahnya. Menjadi tahun2 yang penuh keberkahan dan keistimewaan dari Allah..

Kami menikah bukan dengan pacaran, bukan dengan tag-tag-an, bukan dengan PHP, bukan dengan perkenalan yg memakan waktu tahunan. Kami menikah dalam waktu yang relatif singkat. Hanya sekitar 3 bulan sejak ta’aruf pertama kali. Menjadi suatu tantangan tersendiri untuk memulai kehidupan bersama orang baru yang kami belum pernah berkomunikasi sebelumnya, apalagi berinteraksi di aktivitas tertentu. Selain karena jarak umur saya dan suami yang terlampau jauh (suami masuk kampus tahun 2005, saya masuk kampus tahun 2010, which means pas saya masuk kampus suami udah lulus😅), kami juga tidak pernah satu organisasi. Entah kenapa ya, seperti sudah menjadi skenario dari Allah. Alhamdulillah ‘ala kulli haal..

Sebulan pertama setelah akad terucap, masih banyak penyesuaian dalam keseharian. Tentang saya yang ribet, tapi suami yang sangat simple. Tentang pikiran saya yang kompleks dan berantakan, sementara suami yang terstruktur dengan baik. Tentang saya yang kreatif, tapi suami yang logis. Tentang saya yang suka tantangan dan ambisius, sementara suami yang realistis. Dan banyak hal lainnya yang saya merasa kami saling melengkapi. Walaupun kata Saka di Sabtu Bersama Bapak, “Saya tidak butuh yang melengkapi saya. Tugas melengkapi saya ya diri saya sendiri.” Fiuh, bener banget sih..

Tapi kerasa banget ya sebenar-benarnya keharmonisan dalam perbedaan di pernikahan ini.. pada akhirnya, perbedaan itulah yang menyelipkan tawa di antara kami. Ada saja bahan perbincangan yang menarik dari sana..

Pernah suatu ketika, suami sedang latihan soal TPA untuk persiapan tes dosen non PNS ITB (alhamdulillah berkat doa teman2 semua, suami sudah dinyatakan menjadi dosen non-PNS di FTTM ITB), saya ikut nimbrung berfikir. Waduh, baru selesai baca soalnya, dan sibuk berkutat dengan pemikiran sendiri, eh suami malah udah loncat ke soal selanjutnya. Haduh, kadang2 dungdung juga ya😅 otak sains dan otak engineer nggak saling ketemu. Hehe tapi akhirnya itulah yang jadi bahan perbincangan kami.

Pernah juga saat kami membuat list resolusi tahunan, tulisan saya bisa dibilang berhalaman-halaman, mendetail, dan benar2 dibuat timeline per activity-nya. Sementara suami? Huft, hanya satu halaman dengan kata2 singkat. Dan sedihnya lagi, yang bisa tahu detailnya ya cuma diri dia sendiri..😂 kalau kata suami, “Bikin resolusi tuh jangan muluk2, Dek.. nanti jadi wacana doang. Mending kayak aku, sedikit tapi terwujudkan.” Hahaha gue banget jadi wacana 😂

Dulu saya juga pernah membelikan suami buku agenda tahunan, tapi bukunya besar dan tebal. Berharap suami mengapresiasi karena saya bisa tahu kebutuhan suami gitu ya, eeeh malah ternyata dia butuh buku setipis2nya, sesimple2nya, dan sekecil2nya. Yang penting buat reminder aja, gitu katanya😅 alhasil bukunya jadi nggak terpakai..

Tetapi seringkali sifat saya yang mendetail dan perfeksionis ini ternyata mendatangkan manfaat buat suami. Kalau suami harus keluar kota, saya yang mengingatkan dan menyiapkan bawa ini itunya. Hal2 tertentu yang ada kemungkinan suami sekip cukup terbantukan dengan sifat detailnya saya ini.. terutama soal kerapihan rumah yang bertahan lama karena sifat perfeksionis saya. Hehe. Pokoknya kalau soal peletakan barang2 di rumah, barang2 penting dan berharga cuma saya yang tahu..😅 jadi pasti suami nanya dulu kalau butuh sesuatu ke saya.. “Barang A yang dulu aku beli di toko Z di mana ya Dek?” Diam2 saya suka pindahin barang suami..wkwk

Ada lagi tentang keunikan dalam mempersiapkan perjalanan mudik. Saya kan gitu, semua dibawa. Kalau kata suami, “Ini teh mau mudik atau mau minggat sih Dek?” Wkwk teman2 sekontrakan saya pasti tau saya banget soal ini. Pakaian saya dan Zafran aja bisa 2 koper sendiri..sementara suami cuma satu tas😅 which is finally dia kekurangan baju dan akhirnya harus beli deh huft. Kalau saya kan mikirnya mungkin nanti butuh ya di jalan, jadi dibawa semua.. 😅 haha ngerepotin pisan..

Tetap saja dong ada masa2 di mana saya merasa berharga. Ketika suami harus ngasih training di luar kota, dan presentasi yang dia siapkan…zong. Latarnya putih semua. Ah pokoknya cuma hitam putih slide presentasinya.. disinilah peran saya untuk memoles presentasinya agar eye-catching dan nggak boring. Berbekal modal kreatif yang pas2an, saya bisa membuat presentasi yang suami buat at least enak dilihat^^

Kalau suami sedang ada target sekaligus deadline banyak, saya juga yang mendetailkan apa yang harus dia lakukan pertama kali.. bagaimana step2nya.. contohnya persiapan untuk mengejar doctoral degree nya.. saya yang mengingatkan kapan harus mengurus SKCK, kapan harus medical check up, kapan harus bikin essay (termasuk juga ngoreksi essaynya), kapan ini itunya.. hehe

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.. justru dengan perbedaan itulah pada akhirnya terbentuk keharmonisan. Ada canda dan tawa yang terselip di sela aktivitas kami. Ada kebiasaan berbagi dan mendukung satu sama lain. Ada apresiasi yang melahirkan perasaan dibutuhkan. Ada pengingat untuk terus memperbaiki diri dalam rangka melengkapi satu sama lain.. selalu ada cara Allah dalam mendidik kami..

Itulah secuplik hikmah yang saya dapatkan selama setahun pernikahan ini.. masih banyak cerita2 seru yang insha Allah saya bagi di tulisan2 saya yang lain.

May Allah bless us always.. till there is nothing greater than His blessing..

Bandung, 8 Januari 2017

Advertisements

Metamorphosa: Spread the wings!


This is a collection of our great moments,

This is a little proof of our odyssey,

This is a sort of constellation about our journey,

This is a piece of story in our life’s episode,

This is kinda..our life diary.

**************

We walk together,

We meet people around, transfer knowledge and ambitions, deliver visions and missions,

We share our dreams,

We let everyone make it real,

So we can achieve it more..

 

We run together,

We see how the world runs so fast,

We see how people grows,

We see everyone compete each other,

We realize that the civilization is really happening,

And we finally recognize that the dunya is nothing, while the akhirah is everything,

 

We spread our wings,

We let the air bring us high,

We reach the highest sky,

We see the tiny of us above all,

We see how we are nothing, but Allah is The Greatest One..

 

We spread the happiness into everyone’s life,

We let them feel how Allah really loves us,

With the brain in our head that has ability to think 30 times faster than a super computer,

With the two eyes, which is able to capture moments even better than the best camera ever,

To think about all creatures, we are the perfect one.

But why do we still stand arrogant and not to be grateful with everything we have?

That’s a sort of constellation..a sort of reminder..

 

From now, we should fly higher,

We should give more, instead of asking,

We should learn more, instead of making our own conclusion,

We should stay humble, instead of swaggering,

We should act more, instead of criticizing other’s work,

We should be more confident with our own, instead of grudging others..

 

As from now on, we will grow together..

We will reach The Highest One, The Most Everything,

Allah and His Jannah..

USG results: I see how you grow, you’re with me while I am growing 🙂

Inspiration Point Kabinet KM ITB, 13 October 2015

IMG_8470

Mentoring Gabungan Bidik Misi, 7 November 2015

Mentoring Gabungan SMA N 14 Jakarta, 13 November 2015

Semesta Comdev Beasiswa Karya Salemba Empat, bersama Bapak Iskandar Kuntoaji (Pendiri IBEKA, suami Ibu Tri Mumpuni), 23 Januari 2016

Annisaa Day Gamais ITB, 26 Februari 2016

Kuliah Tamu KKN Tematik ITB mengenai Social Entrepreneurship, 9 April 2016

Public Relation, How to Goal the proposal, STIS Asy-Syukriyah Tangerang, 24 April 2016

Being an Entrepreneur Mom: A month pregnancy


“Don’t limit yourself. Many people limit themselves to what they think they can do. You can go as far as your mind lets you. What you believe, remember, you can achieve.” Mary Kay Ash, founder Mary Kay Cosmetics

Sebagian orang seringkali melihat keterbatasan sebagai hambatan. Mereka terjebak dalam paradigma bahwa ketika tidak punya suatu hal, atau ketika terhalang oleh kejadian di luar prediksi, maka segala sesuatu menjadi tidak mungkin. Keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Terbatas berarti kita diberi kesempatan untuk menjadi orang yang berbeda. Keterbatasan bukanlah sebuah hambatan untuk meraih cita dan mewujudkan asa, tapi ia adalah sebuah loncatan besar, sebuah opportunity untuk menjadi manusia hebat.

Kita perlu melihat keterbatasan sebagai sebuah tantangan. Ketika itu, kita bisa dengan bebas menentukan cara untuk menaklukkannya. Seluas apa imajinasi kita, sedalam apa keyakinan kita, dan sepercaya apakah kita pada takdir dan kehendak-Nya, sebesar itu pula kita mampu meraihnya. Setidaknya, itulah yang saya yakini hingga saat ini.

Sudah satu bulan jalan pernikahan, ada banyak sekali hal2 di luar prediksi yang memerlukan adaptasi di dalamnya, mengais lebih banyak doa dan pengharapan, juga menyita lebih banyak energi dan waktu untuk belajar. Namun sungguh, di dalamnya, terselipkan jauuuh lebih banyak kesyukuran. Syukur yang membuat saya terkagum-kagum akan skenario takdir-Nya, atas keselarasan, keseimbangan, dan kelengkapan dalam menyempurnakan setengah din.

Rasa syukur memang sahabat terbaik untuk lebih menikmati hidup dan memandang kehidupan dengan lebih bijaksana. Karena syukur adalah kunci bertambahnya nikmat, serta penghias keberkahan di setiap karunia yang Ia berikan.

Tidak sulit menyatukan frame dan kebiasaan antara saya dan suami. To be honest, it’s easy enough to get along each other. Alhamdulillah. Sebab selama di kampus, kami berorganisasi pada ruang lingkup yg luas, pernah bersinggungan dengan lapisan masyarakat di berbagai level organisasi. Kami sudah cukup “berkompeten” dengan bagaimana menghadapi orang di berbagai level tersebut. Oleh karena itu, bukan hal yang sulit untuk menjadi akrab dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Hari-hari paska pernikahan, kami lebih banyak mengisinya dengan cerita2 inspiratif, tentang capaian2 masa depan, visi-misi dunia-akhirat, tentang keluarga yg ingin dibangun, tentang cerita2 masa kecil yang sampai sekarang masih menjadi obrolan menarik untuk diperbincangkan. Ada saja cerita masa kecil suami yang membuat saya merasa “wah kok ada ya orang yang jalan hidupnya seperti ini” atau setumpuk perasaan kagum saya pada perjuangannya, semangatnya memperbaiki diri dan menemukan kebenaran. Terutama mendengar cerita dari Mama (ibu mertua saya) tentang bagaimana proses pendewasaan suami saya dan kesederhanaannya dalam hidup. Subhanallah, saya sampai ngefans sama suami saya sendiri. *semoga dia nggak baca tulisan saya yang ini, hehe*

Keakraban kami memuncak ketika kabar hasil tes yang hanya dua garis merah itu muncul. Padahal hanya dua garis merah, bukan berita gembira menang undian berhadiah atau kemunculan bingkisan menarik yang tiba2 datang di depan rumah. Sebuah berita dua garis merah yang penuh makna. Belum genap sebulan menikah, tepatnya 17 Desember 2015 melakukan quick test kehamilan, ternyata hasilnya positif. Dua garis merah 🙂

 Hi babe, welcome to the darkness! But dont worry, i will be your sunshine 💗

Ceritanya bermula ketika saya menyadari haid saya terlambat di bulan pertama setelah menikah. Satu hari terlambat, saya pikir wajar saja, biasanya juga begitu. Dua hari terlambat, masih merasa wajar. Tiga hari terlambat, saya pikir ini efek paska menikah, jadi masih merasa wajar. Empat, lima, enam hari, saya sudah mulai merasa khawatir. Tidak biasanya saya telat selama ini, apalagi bagi saya yang setiap bulan rutin mengalami menstruasi. Akhirnya saya konsultasikan ke teman dekat saya yg secara oficial sudah bergelar dr. di bulan Agustus kemarin. Sampai akhirnya dia menyarankan saya untuk segera quick test dg menggunakan pregnancy test yg dijual di apotek.

Singkat cerita, keesokan harinya, setelah bangun tidur saya langsung melakukan test dan belum satu menit rasanya, sudah terlihat dua garis merah pertanda positif. Waktu itu saya langsung lemas dan terduduk *literally*. Kelemasan saya bertambah karena pertanyaan suami: “Dek, ini artinya apa?” -_- hahaha dasar laki2

Sejak menikah, entah mengapa, saya sering merasa kelelahan, mudah ngantukan, dan mudah merasa “tidak enak badan”. Ternyata benar, itu semua disebabkan adanya sebuah “zat asing” yang sedang “singgah” di ovum saya, yang kemudian memicu implantasi (penempelan) pada dinding rahim. Ia kemudian akan tumbuh dan berkembang membentuk embrio.

Mengetahui kehamilan pertama ini, saya juga sempat merasa khawatir. Karena tuntutan start up bisnis yang sedang saya bangun, beberapa kali si janin menemani bundanya bolak/ik Garut tiap pekan untuk survey potensi lokal sekaligus pendampingan pembuatan beras jagung untuk warga Desa Dangdeur.

Pertama kali ke Garut, tepatnya tgl 30 November-1 Desember, saya dan rekan saya melakukan instalasi alat pembuatan beras jagung yang merupakan hibah Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat. Acara ini juga dilengkapi dengan serangkaian agenda launching P2KP (Program Percepatan Keanekaragaman Pangan) oleh Ibu Dewi, selaku Kepala BKP Jabar. Di acara launching ini, berbagai stakeholder ikut hadir, terutama dari Dinas Pertanian, Balai Bibit Umum, Dinas UMKM, Dinas Koperasi, Dinas Peternakan, bahkan dari Militer pun ikut turut serta meresmikan program. Turut diundang juga para petani jagung, pengurus koperasi Tani Mukti, dan perangkat Desa. Sebuah semangat baru muncul untuk mewujudkan Desa Dangdeur sebagai desa percontohan nasional. Semangat itu pun memuncak ketika diakhir acara saya dipanggil langsung oleh ibu kepala badan untuk membuat grand desain proyek perwujudan Dangdeur Mandiri Sejahtera untuk tahun 2016. Fokus objeknya adalah pertanian dan bahan pendukung pertanian. Ibu Dewi meminta saya untuk membuat perencanaan pelatihan dan riset yang terintegrasi dengan universitas, dalam hal ini ITB. Waw, sebuah tantangan sekaligus kesempatan untuk belajar. *belajar lagiiii*

[sayang sekali dokumentasinya masih di kamera, nanti saya update lagi :)]

Waktu itu kondisi saya masih sangat baik2 saja. Masih bisa diajak kompromi untuk melakukan banyak hal. Bahkan saya menginap 2 hari semalam di Garut untuk acara tersebut 🙂

Pekan selanjutnya, tepatnya tanggal 10 Desember, saya kembali ke Garut untuk pendampingan tahap dua. Mulai kerja teknis mendampingi masyarakat untuk membuat beras jagung. Anehnya saya merasa lelaaaaaaah sekali, padahal pekerjaannya hanya sekedar mengobrol dan mengarahkan warga di tempat yang sama, tidak banyak jalan, tidak banyak aktivitas gerak. Hari itu ditutup dengan saya tidur sepanjang perjalanan dari Garut ke Bandung.

[foto2nya juga masih di kamera, hihi. Nanti diupdate lagi :)]

Pekan ketiga bulan Desember, akhirnya saya memutuskan untuk menunda ke Garut, selain karena memang beberapa tahapan proses masih menunggu, kami juga ada acara di Bandung, diundang oleh Dinas Pertanian untuk menghadiri sosialisasi program One Day No Rice untuk hotel dan restauran di Bandung. Bertempat di hotel Serela, kami berkesempatan untuk menyapa jajaran direksi hotel2 ternama di Bandung.

Sosialisasi program ODNR di Bandung

Kami kembali ke Garut tgl 17 Desember untuk kunjungan ke beberapa model social-entreprise sebagai referensi untuk pembangunan di Desa Dangdeur. Kami mengunjungi Desa Genteng yang disana terdapat Genteng Healthy Market. Pasar ini dibangun murni karena kepekaan sosial sebuah keluarga lokal terhadap kondisi masyarakat disana. Konsep yang dibangun berdasarkan kondisi kultural masyarakat setempat dengan pengelolaan operasional yang modern. Adanya CCTV, pengelolaan limbah yang baik, pemetaan lokasi toko kering dan basah, semuanya diatur secara modern. Mereka juga merintis yayasan yang kemudian menaungi sekolah dasar sampai menengah atas. Keluarga terdiri dari ayah, ibu dengan 5 orang anak ini mengeluarkan uang pribadinya untuk membangun masyarakat. Mereka sempat mengikutkan program ini pada beberapa lomba, yaitu sebagai juara pertama di Mandiri Wirausaha, mendapatkan predikat sebagai global change makers, dsb. Info lengkap bisa cek link berikut: https://m.youtube.com/watch?v=muqVCxFf7yk

[dokumentasinya pending lagi ya]

Hari-hari setelah itu, barulah saya merasakan kelelahan yang tidak bisa ditepis. Saya demam sekitar 2 hari, badan saya panas dan badan lemas sekali. Tidak ada tenaga untuk masak, padahal saya selalu masak setiap hari dan menyiapkan sarapan sejak pagi. Tapi kemudian kekhawatiran saya terjawab sudah ketika saya memutuskan untuk pregnancy test tanggal 18 Desember, dan mendapatkan hasil positif untuk tes tersebut. Untuk memastikan kondisi kehamilan, akhirnya kami juga memutuskan untuk konsultasi pertama kehamilan ke dr. obgyne di RS. Hermina Pasteur keesokan harinya. Alhamdulillah, atas rekomendasi teman saya yg lulusan kedokteran Unpad, saya mempercayakan konsultasi kehamilan pertama saya pada dr. Evi Arijani, dokter akhwat yang sholihah, lembut, baik hati dan luas pengetahuannya. Menurut hasil USG, kondisi kehamilan saya baik dan posisi janinnya bagus. “Berarti dedenya kuat karena diajak bundanya kemana2 ya. Bismillah insha Allah sehat :)” begitu penutup dari dr. Evi yang melegakan saya dan suami.

 4weeks6days, 0.78 cm 😉

Setelah itu, saya mulai serius belajar tentang kehamilan. Saya subscribe website2 kehamilan, join grup2 tentang informasi kehamilan di FB, baca2 buku tentang parenting, dan yang paling penting adalah memberitahu orang tua, terutama ibu saya. Diskusi dengan yang sudah sangat berpengalaman (oh iya dong, melahirkan 8 anak dengan normal gitu), adalah cara yang paling efektif buat saya. Saya banyak bertanya soal persiapan apa yg perlu difokuskan di awal-awal kehamilan pertama ini. Awalnya ibu saya kaget, “waduh, cepat sekali yaaa..dulu ummi selang 6 bulan menikah sama abi baru hamil kamu loh..hehe”

Duh, tapi yg namanya rizki yaa, bener2 Allah yg ngatur dan kalau Dia sudah berkehendak mah nggak ada yg bisa menghalang-halangi.

Setelah mengetahui kondisi kehamilan saya baik-baik saja, akhirnya saya tetap bersemangat untuk terus beraktivitas. Pekan keempat Desember, tepatnya tanggal 21, saya bersama rekan bisnis kembali mengunjungi Garut untuk pengambilan sample tanah dan pengambilan data untuk social mapping. Pengambilan sample tanah bertujuan untuk analisis kelayakan tanah Garut secara kuantitatif untuk ditanami jagung putih lokal. Singkat cerita, selain aktivitas saya di bisnis ini, saya juga menerapkan kerjasama dengan universitas untuk pengembangan produk. Saya mendampingi 6 kelompok PKM ITB yang membawa proyek terkait beras jagung secara komprehensif dari berbagai sisi, salah satunya adalah mengenai analisis kelayakan tanah tersebut.

Mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB sedang mengambil sampel tanah Garut 🙂

Untuk permulaan, ada sekitar 10 hektar tanah Garut yang ditanami jagung putih lokal untuk bahan baku pembuatan beras jagung

Pengambilan data untuk social mapping dilakukan dengan metode wawancara dan PRA (Participatory Rural Appraisal), sebuah tools untuk social mapping. Kami berkunjung ke kantor Desa Dangdeur dan ke badan ketahanan pangan Garut. Kami mewawancarai perangkat desa terkait potensi lokal masyarakat yang mungkin juga dikembangkan seiring berjalanannya pendampingan beras jagung.

  Foto dengan perangkat Desa Dangdeur 🙂

 Struktur kepengurusan BKP Garut

Begitulah kira2 cerita satu bulan kehamilan saya sekaligus cerita bagaimana saya tetap beraktivitas bisnis. Menjadi social entrepreneur sekaligus calon bunda adalah dua hal yang memerlukan proses belajar yang panjang, yang menyita banyak waktu, keringat, pengorbanan, dan tentunya doa. Harus lebih perhatian terhadap gizi yang masuk, lebih aware terhadap perubahan kondisi tubuh, serta lebih semangat untuk mengupgrade kompetensi diri. Sebab anak yang cerdas lahir dari ibu yang cerdas, that’s what i believe. 

Pada akhirnya, semuanya adalah tentang kesyukuran.. Karena ternyata Allah memberikan saya kesempatan untuk tetap mencurahkan passion saya dalam berbisnis, meskipun saya diberikan amanah kehamilan pertama ini. Semakin cepat Allah memberikan amanah ini, husnudzan saya, semakin cepat proses upgrading diri saya menuju insan yang lebih baik, yg semakin syumul (komprehensif) dalam segala hal.

“When one door of happiness closes, another opens; but often we look so long at the closed door that we do not see the one which has opened for us.” Helen Keller, author, political activist, and speaker.

Bismillah, keep being healthy my dearest 🙂 we are in the middle of fighting together. We are strong enough to face the world, yeah!

Catatan 1 bulan kehamilan seorang entrepreneur muda,

Ngawi, 4 Januari 2016

Another Checkpoints


Suatu kesyukuran ketika mendapati diri terus tumbuh dan berkembang, meniti satu persatu anak tangga menuju kesuksesan. Meski cahayanya masih redup dan hilang-muncul di ujung, setidaknya ia terlihat. Setidaknya, ada janji-Nya yang selalu menjadi pegangan. Tidak pernah ingkar. Pasti.

Kesuksesan memang tak pernah berbohong, bahwa dibaliknya ada jutaan keluh yang harus dirasakan. Ada berliter-liter keringat yang harus ditumpahkan. Ada waktu dan harta yang perlu dikorbankan. Juga doa-doa di setiap malam yang dipersembahkan.

Kalau bukan untuk memberi manfaat bagi banyak orang, mana mungkin kaki ini kuat melangkah. Kalau bukan karena ridha-Nya yang senantiasa dirindukan, mana mungkin jiwa dan raga ini terus bertahan.

Beberapa pekan terakhir, banyak hal telah terjadi. Siapa sangka, jalan-jalan itu semakin terbuka. Satu persatu checkpoint terlewati dengan sangat baik dan memuaskan. Sampai saat ini, saya selalu yakin. Rencana-Nya memang selalu menakjuban. Di luar prediksi, atau bahkan asumsi. Jauh lebih tinggi dari apa yang diekspektasikan sebelumnya.

Salah satu alasan saya memutuskan untuk berbisnis, instead of melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi adalah untuk mendefinisikan ulang untuk apa saya harus studi. Untuk apa saya harus belajar lagi (walaupun pada dasarnya belajar itu sepanjang hidup).

Saya tidak ingin impulsif, apalagi ikut-ikutan. Asal lanjut sekolah tapi tidak tahu setelah itu akan melakukan apa. Asal lanjut sekolah dan tidak mengerti mengapa mengambil field tersebut. Asal lanjut sekolah karena ada peluang beasiswa yang terbuka sangat lebar. Asal melanjutkan sekolah karena gengsi ataupun materi. Asal melanjutkan sekolah karena malu, atau serentetan alasan tidak logis lainnya yang menyalahi hati nurani saya pribadi.

Selain itu, saya juga ingin membuat perubahan. Meskipun sebuah keniscayaan bahwa setiap manusia menginginkan perubahan dan terus berupaya membuat perubahan, tapi saya ingin membuat perubahan yang tidak biasa. Yang benar-benar tidak biasa.

Konsep triple helix yang selalu terngiang di benak saya dan terpaksa saya pelajari selama saya kuliah di ITB (karena terlibat dalam organisasi eksternal kampus), telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam kehidupan saya. Aktivitas saya yang banyak melibatkan stakeholder dari kalangan pemerintah dan masyarakat, juga elemen universitas, telah membuka mata saya tentang pentingnya implementasi konsep triple helix untuk percepatan perekonomian bangsa dan inovasi di segala lini.

Gagasan utama triple helix, menurut  Etzkowitz&Leydesdorff (2000), adalah sinergi kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Kalangan akademisi dengan sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologinya memfokuskan diri untuk menghasilkan berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif. Kalangan bisnis melakukan kapitalisasi yang memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sedang pemerintah menjamin dan menjaga stabilitas hubungan keduanya dengan regulasi yang kondusif [1].

triple helixGambar 1. Konsep Triple Helix (Rachmat Cahyono, 2015)

Saya mencoba menerapkan konsep ini di dalam aktivitas bisnis yang saya geluti saat ini. Melibatkan pemerintah untuk akselerasi aktivitas bisnis melalui kebijakan-kebijakan yang diterapkan, melibatkan elemen universitas seperti peneliti dan mahasiswa untuk memunculkan inovasi-inovasi terbaik, juga hubungan timbal balik komersialisasi produk berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh kaum intelektual.

Saya tidak akan fokus pada produk yang dikomerisalisasikan. Tapi yang ingin saya highlight adalah seperti apakah nilai perusahaan yang saya dan rekan-rekan bisnis saya bawa sampai saat ini. Bahwa kami tidak hanya ingin membuat perubahan, tapi kami ingin membuat perubahan yang tidak biasa. Awesome transformation.

Bisnis produksi adalah pilihannya. Sebab saat ini, sebagian besar bisnis yang dilakukan di Indonesia tergolong sebagai bisnis non-produksi, atau yang dikatakan masih mengolah bahan baku dari luar. Dengan kata lain, tidak mandiri dan masih mengandalkan pihak lain sebagai penyedia sokongan untuk proses produksi secara keseluruhan.

Konsep triple helix relevan bagi Indonesia saat ini ketika ekonomi Indonesia begitu menjanjikan dan menjadi salah satu pasar yang sedang bertumbuh, para investor asing berdatangan ingin menanamkan modal [1]. Konsep triple helix dapat menyentuh permasalahan bangsa lebih targeted, terarah dan komprehensif, sehingga dapat mendatangkan solusi yang lebih konkret untuk menjawab permasalahan eksisting. Keterlibatan beberapa stakeholder dalam implementasi bisnis juga menjadi alasan mengapa investor asing menjadi tergiur untuk menanamkan modal.

Bisnis beras jagung, atau produk komersialnya adalah Cornrice, yang sedang saya geluti saat ini, juga menerapkan konsep triple helix yang melibatkan tidak hanya satu pihak di pemerintahan, tetapi banyak pihak yang dirasa prospektif dalam mengakselerasi kemajuan industri.

12029164_1091830274163252_1207821512_nGambar 2. Cornrice: It’s a healthy life style!

Sebagai contoh, kami bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat untuk mereplikasi pabrik beras jagung di Kabupaten Garut yang dikenal sebagai pemasok jagung terbesar di Jawa Barat dan berkontribusi 5% untuk pasokan jagung nasional. Model yang menjadi referensi adalah pabrik beras jagung yang telah dipatenkan oleh pengusaha di Temanggung, dari hulu hingga hilir proses produksinya. Kami berencana untuk memberdayakan para petani di Garut untuk mengolah lahan seluas 120 ha yang nantinya akan ditanami jagung putih lokal Indonesia. Jagung putih inilah yang akan menjadi bahan baku utama untuk produksi beras jagung.

12021843_1091833620829584_1268802262_nGambar 3. Survey tahap 1 ke Desa Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

12047489_1091833614162918_332419342_n

Gambar 4. Gedung penyimpanan hasil pertanian kelompok tani Desa Banyuresmi.

12048593_1091833644162915_89315099_nGambar 5. Alat pendukung aktivitas pertanian, hibah dari BKP Jabar.

12000139_1091833630829583_2109899213_nGambar 6. Rotary drier, hibah dari BKP Jabar.

Pada dasarnya, program ini sejalan dengan program BKP Nasional, yakni Gerakan P2KP yang merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan dan merupakan salah satu kunci sukses pembangunan pertanian di Indonesia. Menurut BKP, gerakan P2KP dilaksanakan dalam tiga bentuk kegiatan utama yaitu: (a) Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari; (b) Pengembangan Pangan Lokal; serta (c) Promosi dan Sosialisasi P2KP [2]. Oleh karena itu, realisasi kerja sama diwujudkan dalam bentuk pemberian hibah dana dan support kebijakan oleh Badan Ketahanan Pangan untuk perusahaan kami sebagai eksekutor utama.

Gerakan P2KP ini dilakukan juga semata-mata untuk mendukung program One Day No Rice yang diresmikan oleh walikota Bandung pada 21 Agustus 2015 lalu [3]. Tujuan diimplementasikannya program ini adalah untuk membiasakan pola hidup sehat masyarakat dengan cara mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain pada satu hari dalam seminggu. Selain itu juga untuk menekan konsumsi beras masyarakat Indonesia yang hingga saat ini masih impor.

Di lain kesempatan, kami juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian Jawa Barat untuk marketisasi produk di kalangan masyarakat melalui event-event skala lokal, dalam rangka memperkenalkan beras jagung sebagai alternatif makanan pokok yang sehat.

12047471_1091830224163257_639570149_nGambar 7. Bandung Agri Market, 20 September 2015

12042015_1091830240829922_919953813_nGambar 8. Suasana Bandung Agri Market, 20 September 2015

Gambar 9. Audiensi dengan Dinas Pertanian.

Untuk pengembangan dan inovasi, kami juga merintis kerja sama riset dengan Departemen Ilmu Gizi RSHS yang beranggotakan dr. Dimas Erlangga, dr. Denny, dan dr. Dwi sebagai peneliti utama, mahasiswa dan dosen beberapa fakultas di ITB sebagai peneliti pendukung, dan dana riset LPDP sebagai sumber dana utama penelitian.

12025359_1091830264163253_2052529977_nGambar 10. Inisiasi kerja sama riset dengan dr. Dimas Erlangga dari Departemen Ilmu Gizi RSHS.

12021970_1091830247496588_1346126613_nGambar 11. Pengenalan produk dengan Kepala Lembaga Pengadaan Barang RSHS.

Hasil penelitian ini nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi, pertimbangan, juga feedback untuk keberjalanan bisnis kedepannya.

Dinas Kesehatan juga turut serta dalam implementasi riset yang dilakukan oleh departemen ilmu gizi dalam hal sokongan ilmu dan kebijakan2 yang diterapkan.

Selain itu, kami juga berupaya menggalakkan penelitian dan program kewirausahaan di kalangan mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa dengan tujuan untuk membentuk atmosfer One Day No Rice di kalangan mahasiswa.

[Video Mawapres Utama ITB-Ujang Purnama. Membawa ide mengenai Food Security and Sustainable Agriculture]

Kami pun melakukan deal kerja sama dengan instansi baik swasta maupun pemerintah, seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin, rumah sakit penyakit khusus, sekolah-sekolah, restoran, ataupun toko-toko, untuk memudahkan akses pembelian beras jagung.

Semua yang kami lakukan hingga saat ini alhamdulillah telah benar-benar mengakselerasi kami untuk tumbuh dan berkembang baik secara vertikal ke atas (menyentuh pemerintah melalui kebijakan) dan secara horizontal (memperluas market dan network) untuk trading itu sendiri.

Segala upaya ini semata-mata kami lakukan untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini, terutama menjadi pemantik munculnya gerakan-gerakan yang sama di kalangan masyarakat. Karena yang kita kejar tentu saja inspirasi dan kebermanfaatan tidak hanya dalam hal kuantitas, tetapi juga kualitas kebermanfaatannya.

Jika ini jalan yang baik di ujungnya, saya percaya akan ada banyak kemudahan dan pintu-pintu keberkahan yang terbuka untuk kami. Namun jika tidak, saya juga percaya bahwa tugas kita hanyalah berikhtiar semaksimal mungkin dengan mengusahakan semua peluang dan kesempatan untuk menjemput kesuksesan dan kebermanfaatan.

Harapan itu masih ada. Harapan untuk menjadikan Indonesia bangsa yang lebih baik.

___________

Bandung, 20-21 September 2015

Ditulis dengan semangat 45

 

Referensi

[1] Anindya N. Bakrie. 2012. Triple helix dan percepatan inovasi. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI. http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11805. Diakses pada 20 September 2015 pukul 21.33.

[2] Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian RI. 2013. Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) http://bkp.pertanian.go.id/proksi-9-p2kp.html. Diakses pada 20 September 2015 pukul 22.20.

[3] Gerakan One Day No Rice SetiapHari Senin di Kota Bandung. 2015. https://sebandung.com/2015/04/gerakan-one-day-no-rice-setiap-hari-senin-di-kota-bandung/. Diakses pada 20 September 2015 pukul 22.40.

Akal dan hatimu, sudahkah mereka bersinergi?


Seringkali kita tak sadar, bahwa sebenarnya, jika hati bisa memandang suatu hal dengan lebih bijak, lebih lapang, bahkan lebih dalam, maka kita bisa mengambil hikmah kehidupan jauuuh lebih banyak dari yang ada. Kita menyebutnya: kadar keberterimaan hikmah yang ditentukan oleh kepekaan hati.

Mungkin itulah yang dilakukan Rasul dan para sahabatnya di masa lampau. Ketika mereka bisa mengambil hikmah kehidupan sebanyak-banyaknya karena proses perenungan yang cukup lama. Kecerdasan akal yang terbentuk dari paksaan kepada otak untuk terus berfikir, menerka-nerka, dan mendalami kehidupan sekitar. Mengambil hikmah dari daun-daun yang berguguran, gunung yang tinggi menjulang, lautan yang tak terbatas, sampai pada penciptaan langit yang kokoh. Perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah-Nya.

Tentu saja, hal itu tidak terlepas dari peranan kepekaan hati. Bagaimana akal dan hati dapat bersinergi, sehingga dapat menghasilkan pemikiran yang jernih. Sebab hati adalah tempat mencari fatwa. Ia takkan bisa didustai. Kebaikan itu, ditemukan pada saat hati tenteram karenanya. Dan keburukan itu, saat hati gelisah karenanya.

Indikator dari kepekaan hati adalah sejauh mana, sedalam apa, dan seberapa banyak kamu bisa mengambil hikmah dari kehidupan, baik kehidupanmu sendiri, maupun kehidupan orang lain. Dari lingkungan sekitarmu, bahkan dari hal-hal kecil sekalipun.

Maka tanyakanlah.

Akal dan hatimu, sudahkah mereka bersinergi?

10841675_923964524283162_322089737_n

Ladang Jagung, Desa Cikahuripan, Lembang

#self-reminder

5 Desember 2014

Never stop learning!


Pekan lalu, tepatnya hari jumat, 5 Desember 2014, berakhir sudah semua aktivitas perkuliahan semester ini. *yang masih kuliah emang beda, sih* Saatnya menghadapi beberapa UAS mata kuliah tertentu yang kembali lagi, alhamdulillah, selalu memicu saya untuk belajar dan mengorek lebih dalam. Mata kuliah tingkat 4 (untuk saya, jadi tingkat 5 -_-), di prodi mikrobiologi benar2 seperti jadi perbekalan untuk menghadapi kehidupan pasca kampus. Apapun jalan yang kita pilih, mau jadi peneliti, pebisnis, bahkan ibu rumah tangga sekalipun, ilmunya kepake banget. Aplikatif. Kesimpulan mutlak. Haha

Gimana nggak? Ayo kita bahas satu-satu.

Pengembangan Produk Mikroba. Mata kuliah ini sukses membuat mata saya terbuka tentang potensi keilmuan saya untuk diaplikasikan di bidang industri. Coba sebutin produk-produk nutrasitikal atau produk fermentasi yang ada saat ini. Semua dibahas. Meskipun hanya di permukaan, tapi bagi mahasiswa sejenis saya yang kalau curiosity-nya udah muncul, udah berasa punya dunia sendiri di depan laptop. *ini lebay, serius deh.* Baca sampe tuntas, dikorek2, nganalisis sendiri, buat kesimpulan sendiri, dan berakhir dengan masuk catatan pribadi. haha. Even more, saya suka bikin catatan pribadi juga tentang bagaimana mengatur pemenuhan kebutuhan nutrisi yang baik untuk anak2 saya. *berasa udah emak2* Tentunya, tools (?) yang digunakan adalah memanfaatkan potensi produk mikrobiologis. Misalnya, kebutuhan protein. Sebetulnya bagaimana sih komparasi jamur sebagai pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein harian untuk sel tubuh dibandingkan telur? Atau misalnya, kenapa sih di luar negeri yoghurt lebih dipilih untuk dikonsumsi dibandingkan susu? Terus, gimana cara menumbuhkan ketertarikan anak2 terhadap yoghurt? Haha. Ini sih emak banget, Shab. (-_-)

Dan rasanya, di saat yang sama, pengen banget ngeshare tentang keilmuan aplikatif ini ke temen2 terdekat. Pengen bilang, “Hey kalian, mikrobiologi itu keren banget!” *mulai deh arogansi kelimuan*

Atau mata kuliah yang lainnya.

Patofisiologi dan Imunitas. Saya menyebutnya mata kuliah abstrak tapi nyata. Oh jelas. Kita belajar hal2 super detail sampe ke tingkat molekuler, tapi efek fisiologis nya keliatan *lo ngomong apa shab?* Belajar patoimun, bener2 ngebuat saya semakin kagum dengan penciptaan manusia. DIA emang keren banget mendesain tubuh kita sekompleks ini sehingga bisa membuat penyerangan terhadap zat2 asing. OH MY GOD, mata kuliah ini juga berhasil membuat saya memikirkan usaha perlindungan terbaik pada anak2 saya. Tentang pembiasaan cuci tangan, sikat gigi, basuh muka, ngelap perselaan kuku setelah gunting kuku, dan berbagai aktivitas keseharian lainnya. *fiks banget ini mah emak2 T_T* #yaudahsih

Terkait vaksin juga, issu pro-kontra vaksinasi yang saat ini lagi mewabah. Banyak doktrinasi2 yang lahir karena asumsi tak berdasar atau kurangnya data. Kalo kata orang, istilahnya asbun.  Atuhlah.. “Cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua..” Haha, maaf random, tiba2 pengen nulis ini.

Tentang vaksin, nanti kita bahas di postingan lain aja ya.

Manajemen Bioindustri dan Kewirausahaan. Yuk yang mau bisnis yang mau bisnis.. mangga digarap. Banyak banget loh potensi proses mikrobiologis (proses yang melibatkan mikroorganisme di dalamnya) yang aplikatif di bidang industri. Kamu mau produksi apa? Makanan? Minuman? Enzim? Pupuk Hayati? Fuel? Bisnis bioremediasi? Semua bisa. Tinggal mau belajar dan berfikir mendalam aja. Serius, mata kuliah ini dapet banget untuk mahasiswa yang mau lanjut bisnis setelah lulus. Kita belajar dari bagaimana menghandle produk2 mikrobiologi, analisis bisnisnya itu sendiri, branding, packaging, sampe marketing juga. Dari hulu, sampai ke hilir.

Karena matkul ini juga, saya bisa mengembangkan produk susu jagung dan yoghurt susu jagung. Semoga berkah kedepannya.

Mikrobiologi Prediktif. Mata kuliah ini sebetulnya pilihan. Saya ngambil matkul ini karena saya mau belajar banyak tentang bagaimana memformulasikan proses mikrobiologis yang lebih terprediksi. Artinya, kita meninjau proses mikrobiologis secara kuantitatif, menentukan parameter yang tetap dan berubah dari suatu proses yang kemudian outputnya adalah sebuah persamaan matematis. Aplikasinya? Kamu tau gimana cara nentuin expire date dari suatu produk makanan dan minuman? Kalo ternyata nggak tepat prediksinya gimana? Makanan yang harusnya expired hari ini, tapi ditulis bulan depan, menurut kamu gimana? Mending kalo mikroorganisme yang tumbuh itu baik hati dan tidak sombong, kalo mikroorganisme patogen (yang menyebabkan penyakit), gimana? Pun sama halnya untuk makanan yang terlalu cepet expire date-nya, padahal masih 3 bulan atau 6 bulan kemudian misalnya, artinya apa dong? Mubazir kan ya? Sayang. Yang harusnya industri masih bisa distribusi dan jual, tapi udah masuk gudang pembuangan. Oh oh, ini nih fungsinya belajar.. Kamu pasti lebih semangat klo belajarmu di-drive oleh keingintahuan yang meluap-luap.. *apasihshab*

Bakteriologi. Lewat matkul ini, kamu belajar tentang keberagaman bakteri dan bagaimana peranan bakteri patogen dalam menyebabkan penyakit. Salah satu rangkaian kuliah ini adalah pemeriksaan makanan dan minuman di sekitaran kampus ITB secara mikrobiologis, untuk melihat apakah di dalamnya terkandung mikroorganisme patogen. Nah, penelitian yang kita lakukan ini nggak hanya uji makanannya aja, tapi mencoba mengaitkan antara makanan yang banyak dikonsumsi oleh mahasiswa ITB, waktu konsumsi dan kecenderungan penyakit yang diderita mahasiswa ITB selama tiga bulan terakhir. Semua kita lakukan dengan penyebaran kuesioner dan pengumpulan data dari Balai Kesehatan ITB.

Sedihnya, sebagian besar dari makanan dan minuman yang paling sering dikonsumsi mahasiswa ITB berpotensi menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan sistem pencernaan. Bahkan, sebagian kecil bisa menyebabkan typhus. Kenapa? Karena jumlah mikroorganisme patogen yang ada di bahan makanan/minuman tadi melebihi batas ambang toleransi. Tapi tentunya, banyak faktor lain yang mempengaruhi ketika makanan/minuman tersebut dapat menyebabkan penyakit. Di antaranya, kondisi imun si konsumen, waktu konsumsi, banyaknya makanan yang dikonsumsi, dsb. Intinya adalah harus berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman pasar.

Mengetahui ini, saya semakin khawatir dengan kondisi kesehatan generasi masa depan indonesia. Untuk para ibu2 yang peduli terhadap kesehatan anak2nya, mulailah selektif terhadap makanan yang akan dikonsumsi. Mulailah ajari anak2 untuk tidak jajan sembarangan (walaupun untuk sendiri aja masih berat T_T). Kalau saya pribadi, terpikir untuk mengaplikasikan bagaimana ibu2 jepang menyiapkan bento (read: bekal makanan) untuk anak2nya. Tujuannya untuk mengurangi jajan yang tidak sehat, mengatur kebutuhan nutrisi anak2, juga mengontrol kesehatan mereka. Kalau kayak gini, yang penting istiqomah sih haha.

Mikrobiologi Lingkungan. Yang membuat mata kuliah ini super nggak hanya konten materi yang disampaikan ibu dosen, tapi juga cara ibu dosen menyampaikan materi dan membuka wawasan pengetahuan global para mahasiswanya. Serius nih. Catatan matkul saya lebih banyak tentang bagaimana melatih cara berfikir mahasiswa dan bagaimana menuangkan ide ke dalam tulisan. Suatu saat, ibu pernah bilang, “Yang mendrive kita untuk menjawab berbagai persoalan di lingkungan sekitar adalah bagian sub unconscious kita. Jawaban itu akan lahir dari bagaimana cara kita meng-gain informasi secara rutin dan sejak lama, sehingga itulah yang pada akhirnya membentuk pola pikir kita. Itulah super komputer di kepala kita.”

Di pertemuan yang lain, ibu juga pernah bilang, “Hal yang terpenting bagi seorang microbiologist adalah bagaimana saat dia membangun chemistry dengan mikroorganisme yang digunakan dalam penelitiannya. Mengapa? Sebab mikroorganisme adalah living things, invisible tanpa alat bantuan, kita cuma bisa ngeliat dari bagaimana tanda-tanda kehidupannya. Oleh karena itu, kita perlu membangun hubungan yang baik dengan mereka :D.”

Intinya, belajar tentang mikrobiologi lingkungan, saya belajar tentang bagaimana memandang persoalan mikrobiologi dari banyak sisi, nggak hanya dari sisi internal mikroorganismenya saja, tapi juga dari faktor eksternal yang mempengaruhi kehidupan si mikroorganisme. OKE BANGET, SOALNYA MATKUL INI TA SAYA BANGET. Hehe.

Tugas Akhir.  Ya kali ini disebut juga, shab -_-

Insha Allah, saya akan maju seminar dan sidang dengan topik berikut:

tugas akhir

 

 

 

 

 

Mohon doanya, semoga dimudahkan dan terus memberikan manfaat 🙂

__________________________________

Itulah kilas balik matkul semester ini. Semoga terus dan terus memicu saya untuk belajar banyak hal, untuk memperkaya wawasan, nggak hanya keilmuan saya sendiri, tapi juga lintas disiplin ilmu.

By the way, ada sebuah doa yang selalu menjadi andalan saya selama masa hidup saya ketika saya akan, di pertengahan, atau selesai menuntut ilmu. Dan entah kenapa, doa ini sangat manjur. Sangat jitu untuk membuat saya terus mencintai ilmu. Mari disimak doanya.

“Allahumma laa sahlah illaa maa ja’altahu sahlah, wa Anta taj’alul huzna wa sha’ba in syi’ta sahlah. Allahumma innii istauda’tuka maa qara’tu wa maa sami’tu wa maa ‘allamtanii fardudhu ilayya ‘indahaa jatii. Allaahumma yassirlii wa laa tu’assirlii..”

yang artinya,

“Ya Allah, tiada kemudahan selain Engkau yang menjadikan sesuatu itu menjadi mudah, dan Engkaulah yang menjadikan perkara yang duka dan yang sulit menjadi mudah atas kehendak-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku menitipkan apa-apa yang telah aku baca, aku dengar, dan aku pelajari, kepada-Mu, maka keluarkanlah itu semua pada saat aku membutuhkannya.”

Karena yang kita kejar, adalah keberkahan ilmu. Bagaimana ilmu bisa memberi pencerahan pada kehidupan kita dan semakin membuat kita menjadi pribadi yang bersyukur. Dan kembali lagi, indikasi dari keberkahan, adalah bertambahnya kebaikan. Menuntut ilmu, harus membuat kita terus dan terus belajar. Sebab ilmu Allah itu luas, dan semakin mempelajarinya, semakin merasa: How nothing I am in this universe. Pada akhirnya, inilah yang seharusnya memicu kita untuk terus belajar.

Never stop learning!

 

Catatan pengingat diri,

11 Desember 2014

Happy 23rd wedding anniversary!


Beberapa hari terakhir, entah kenapa, saya merasa hati saya lebih peka. Sebentar-sebentar nangis. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba kepikiran suatu hal yang nggak jelas, langsung nangis. Walaupun cuma sesaat, tapi kok diskrit ya. Dan entah kenapa juga, di saat itu pula, muncul rasa lega. Kadang saya pun susah menebak sebenernya saya lagi kenapa (._.)

Hari ini, tepatnya pagi ini, tiba-tiba saja ummi mengirim pesan lewat whatsapp, dan cukup membuat saya terharu sampai keluar air mata. Terlalu sensitif? Mungkin. Ah, tapi lebih tepatnya, terlalu peka.

Berikut ini isi pesannya.

_________________________

1 Desember 1991
Dua puluh tiga tahun yang lalu,
kita sama2 mengikrarkan diri kita dalam sebuah ikatan suci dan mulia,
dalam suasana haru dan penuh sukacita.

Ayahku menerima engkau sebagai pemimpin dan pembimbing anak perempuan pertamanya..

Diiringi tadhiyah yang luar biasa,
debat dan argumentasi untuk pertahankan prinsip dan keyakinan pada keluarga.

Subhanallah..
Tak terasa sekarang sudah dua puluh tiga tahun.
Perjalanan panjang sebuah pernikahan yang bermula hanya dibingkai dengan tsiqoh, dan keyakinan kepada Allah untuk menyempurnakan dien..
Untuk membangun keluarga muslim yang dibingkai dengan nilai2 dakwah,
membangun keluarga yg sakinah, mawaddah wa rahmah berlandaskan iman kepada Allah..

Ya Allah..

dua puluh tiga tahun bukan waktu yg sebentar,
disana ada marah,
ada canda dan tawa,
ada tangis bahagia dan luka di dada,
disana juga ada rasa cemburu,
sedih, kesal, dan kecewa..

Astaghfirullah Ya Rabbi,
seiring dengan berjalannya usia pernikahan kami,
bimbinglah kami..
satukan kami atas dasar cinta dan ketaatan kepada-Mu
lindungilah keimanan kami, dimanapun kami berada..
tunjukkanlah kami selalu pada jalan yang Engkau ridhoi
Limpahkanlah Rahmat dan karunia-Mu kepada kami..
kuatkan ikatan tali kasih kami..
abadikan kasih sayang yang Engkau tiupkan di dalam ruh-ruh kami..
penuhilah hati kami dgn cahaya-Mu yg tak akan pernah pudar..
lapangkan dada kami dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu
Bantulah kami dalam mengemban amanah-Mu sebagai anak bagi orang tua kami dan sebagai orang tua bagi anak2 kami..
Tidak ada kekuatan, harapan dan tempat sandaran kami kecuali hanya pada Engkau..

Dan tak lupa,
Karuniakanlah kepada kami nikmat sehat hingga kami dapat menunaikan tanggung jawab kami dan kewajiban2 kami..
Serta, berilah selalu kesempatan dan kekuatan kepada kami untuk menjaga amanah yang Engkau titipkan kepada kami hingga akhir kehidupan kami..

Aamiiin ya Rabbal ‘aalamiiin..

1 Desember 2014

Sugianto-Yurida. M

_________________________

Pesan tersebut sukses membuat saya melting dan merasa khawatir dengan masa depan. Kenapa? Oh jelas. Jelasnya kenapa, saya nggak perlu jabarkan lah ya.

Ummi juga mengirimkan beberapa foto-foto pernikahannya.

10841295_920597427953205_470740566_n

Gambar 1. Abi, saat akad di rumah super sederhana.

10841194_920597377953210_1393326911_n

Gambar 2. Saat resepsi, pengantin perempuan dan laki-laki benar2 dipisah (pernikahannya syar’i banget *just realized*)

10818749_920597461286535_1728837577_n

Gambar 3. Ummi, almarhum mbah warni, bude, dan mbah uti :”

Ummi juga mengirim foto2 jadul kita XD

10822334_920597414619873_148755292_n

Gambar 4. Rasyid dan Faqih di umurnya yang ke.. (atuhlah ke berapa ya @.@)

10816035_920597504619864_1489762364_n

Gambar 5. Ihsan (kiri atas), Rasyid (kanan atas), Fauzan (kanan bawah), dan siapa ya, yang kebanyakan gaya *haha. Foto ini diambil sewaktu kumpul iedul fithri di rumah mbah uti.

10743583_920597444619870_839749395_n

Gambar 6. Fauzan, waktu ikut ummi dan abi aksi di bundaran HI

10841378_920654874614127_1562492210_n

Gambar 7. Bahkan saya lupa mana yang saya dan mana yang adik saya di antara dua perempuan itu haha. dan si bayi kecil yang lucu, Fauzan.

_________________________

Tak terasa, 23 tahun sudah ummi dan abi bersama. Saya tahu betul bagaimana sejarah fluktuasi kehidupan mereka, hingga semua itu mengantarkan mereka pada kehidupan yang sekarang.

Saya adalah bukti sejarah kehidupan mereka. Bukti pengabdian dan pengorbanan mereka. Saya adalah fusi keduanya, baik secara personaliti, semangat, maupun poin-poin lainnya.

Dan kemudian, saya pun mulai menerka-nerka.

Akan seperti apakah saya, dan.. dia (?) di 23 tahun mendatang?

“We were both young when I first saw you.
I close my eyes, and the flashback starts:
I’m standing there..on a balcony in summer air..” (Taylor Swift-Love Story)

Catatan 1 Desember

Happy 23rd wedding anniversary, Ummi dan Abi! Semoga semakin cemerlang, dan terus bersama hingga ke surga! ❤