Being an Engineer’s Wife: Self-other overlap!


“How much you see yourself in your partner can predict how long you’ll last. This is a secret to have a happy relationship.” -A study by Psychologists at the University of Toronto

Wah sudah lama sekali saya tidak menuangkan pikiran di blog. Latest post saya tertuliskan tanggal 14 Maret 2017, dan disana hanya lintasan pikiran yang (mungkin) tidak begitu berarti bagi sebagian orang, hehe. *emang selama ini ada yang berarti😅 semoga ya, berharap supaya dari ketikan tulisan saya ini, pembaca bisa mengambil satu dua hikmah yang bermanfaat.

Kali ini saya hendak share tentang kisah yang sejak lama ingin saya bagikan, tapi apa daya, saya sedang menikmati masa-masa istimewa bersama suami dan anak, jadi rasanya tidak ingin ketinggalan waktu sedetik saja 😁

Oiya sebagai info awal, tulisan saya kedepannya mungkin akan lebih banyak bercerita tentang kehidupan saya bersama suami dan anak-anak, dan akan sedikit sekali bercerita tentang kisah saya pribadi, sebab kini saya hidup bersama dua orang yang sungguh spesial bagi saya. Ada banyak hal unik yang telah tergali dan menjadi kesyukuran tersendiri bagi saya pribadi. Alhamdulillah..

Sedikit flashback ke tahun 2015, rencana saya menikah muda ternyata memang sesuai dengan rencana Allah, Maha Besar Allah dan rasa syukur yang tak terkira atas segala nikmat dariNya. Sebagian dari lika liku prosesnya sudah pernah saya share di post sebelumnya, silahkan di-review bagi yang belum sempat membaca. Sungguh proses yang instan tanpa ribet, tanpa persoalan2 yang begitu berarti. Baarakallahu lanaa..

Belum selesai masa ta’aruf di antara kami, tiba-tiba saja ada kejutan yang berada di luar rencana kami! Hasil pregnancy test menunjukkan saya positif hamil dan insyaAllah dikaruniai seorang anak. Pada saat itu, rasanya bercampur aduk antara senang dan khawatir. Kenapa? Karena pada awalnya rencana saya hanya sebatas mencari pendamping hidup yang siap berkolaborasi dalam amal dan perencanaan masa depan, belum memasukkan variable hadirnya buah hati disana.

Selepas menikah, saya berencana melanjutkan program magister di Jepang dan sambil menunggu waktu, saya merintis start up business di bidang food and agriculture. Status suami saya saat itu adalah asisten akademik di program magister geothermal ITB. Sebelumnya suami sudah hampir bekerja di Pertamina, tapi diminta oleh dosennya untuk membantu beliau membangun program magister geothermal ITB. Sedikit bercerita juga, suami saya termasuk orang yang tidak begitu concern pada akademiknya selama 5 tahun sekolah sarjana di ITB. Tuntutan amanah dakwah yang besar di kampus membuatnya tidak bisa optimal menjalankan amanah akademiknya. Suami juga bercerita bahwa pentingnya akademik baru terasa pada saat mengerjakan tugas akhir sarjana. Di titik itulah dia mulai concern pada akademiknya.

Sebagai informasi, IPK suami saat lulus sarjana di ITB hanya 2.78. Hanya 2.78. Tapi sangat banyak pengalaman yang dia dapatkan selama di ITB.

Selama masa-masa ta’aruf, tepatnya beberapa bulan pertama pasca menikah, dia pernah bercerita bahwa banyak sekali kemudahan yang Allah berikan padanya selama dia hidup. Padahal, sewaktu di SMP, dia adalah anak nakal yang gaulnya dengan orang yang dulu pernah di DO dari salah satu universitas negeri karena narkoba.

MasyaAllah.. karena kasih sayang Allahlah, sewaktu SMA, dia mulai mengenal Allah melalui ROHIS, dan mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk belajar islam (sampai ditunjuk menjadi ketua ROHIS). Dari sanalah dia bertransformasi menjadi insan yang lebih baik.

Suami saya ternyata juga adalah orang yang sangat menyayangi dan mencintai ibunya. Hal itu terlihat dari keputusannya dalam menentukan prioritas bidang studi yang dipilihnya selepas SMA. Awalnya dia diterima melalui jalur PMDK di Fisika ITS, namun saat itu guru2 di sekolahnya tidak menganjurkannya mengambil ilmu murni, akhirnya dia melepaskan pilihannya. Suami bilang, waktu itu dia hanya berusaha mengambil peluang yang ada di hadapannya. Tes masuk STAN pun dia ikuti dengan alasan sekolahnya gratis dan digaji. Setelah itu dia menyempatkan diri untuk diskusi dengan ibunya. Ternyata, ibunya menginginkannya melanjutkan sekolah sama seperti pamannya yang sekolah di Teknik Perminyakan ITB. Akhirnya, di SNMPTN dia mengambil pilihan Teknik Perminyakan ITB dan Teknik Sipil ITS. Qadarullah dia diterima di Teknik Perminyakan ITB dan STAN. Namun saat itu pengumuman penerimaan STAN bertepatan dengan pendaftaran ulang ITB, jadilah lanjut sekolah di ITB sesuai dengan keinginan ibunya.

Oiya, kenapa suami sangat menyayangi ibunya? Saya paham betul setelah mengenal keluarganya, mama adalah orang yang sangat baik, dekat dengan Allah dan selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Terlihat dari setiap malam, mama selalu menyempatkan waktunya untuk shalat tahajjud, mendoakan putra putrinya agar menjadi orang-orang yang sukses di masa yang akan datang. Karir mama adalah sebagai guru SD yang dicintai siswanya. Passionnya dalam mendidik membuat dia selalu all out dalam mendidik anak-anaknya dan menjadikan pendidikan anak-anak sebagai prioritas utamanya.

Dari cerita itulah saya mengetahui bahwa suami saya sebetulnya adalah orang yang cerdas. Dia cerdas dalam logika dan pintar mengelola emosi. Meskipun IPK sarjananya 2.78, tapi itu adalah pilihannya. Selama masa sarjana, dia manfaatkan waktunya untuk mengelola organisasi, networking dan begaul dengan seluruh elemen kampus, termasuk satpam, OB, K3L kampus. Disinilah letak pembelajaran emosional yang dia dapatkan.

Menurutnya, menjadi bagian dari kampus bukan hanya membutuhkan kecerdasan akal (IQ), tapi juga kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan akal bisa diasah dengan belajar dan banyak latihan, tapi kecerdasan emosional hanya bisa didapatkan dengan proses yang panjang. Bagaimana mengelola organisasi, mengenal banyak orang dengan berbagai karakter yang berbeda2. Juga kecerdasan spiritual adalah bagaimana kita selalu berada dalam lingkungan yang kondusif untuk belajar islam.

Bagaimana dakwah telah memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupannya itulah yang menjadi alasan utamanya mengapa selalu all out dalam menjalankan amanah dakwahnya selama di kampus. Kalau redaksinya dia bilang seperti ini, “Aku begini karena kontribusi dakwah, Dek. Aku bisa jadi orang baik karena aku dipertemukan dengan orang2 baik oleh Allah melalui dakwah. Jadi kalau ada yang bilang kecewa karena amanah dakwahnya terlalu banyak, lalu akademiknya jadi hancur lebur, itu bukan salah dakwah. Itu salah dia yang tidak memahami sebesar apa peran dakwah untuk dirinya.” MasyaAllah.. benar juga sih 😅

Melanjutkan cerita tentang karir akademiknya, selulus dari sarjana, suami ditawarkan oleh pamannya yang berada di jajaran direksi Pertamina untuk bekerja disana. Namun, suami memilih untuk menerima tawaran dosen pembimbing tugas akhirnya untuk terlibat dalam proyek-proyek geothermal. Qadarullah, dosen pembimbing tugas akhir suami pada saat sarjana adalah orang yang sangat friendly, sehingga disukai oleh mahasiswanya. Beliau adalah dosen senior di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Beliau pula yang dulu merintis program studi geothermal di tahun 2008. Saya biasa memanggilnya Mbak Nenny (kebiasaan mahasiswa minyak manggil dosennya Mbak dan Mas kalau kata suami, saya jadi keikutan hehe).

Ketertarikannya pada geothermal mendorongnya untuk melanjutkan S2 di geothermal ITB dan dari saat itulah dia menjadi sangat concern dengan profesinya. Akhirnya dia bisa lulus dengan predikat yang baik dan siap untuk mengaplikasikan keilmuannya.
Namun, karena sudah terlalu banyak terlibat dalam proyek-proyek geothermal, akhirnya suami diangkat sebagai asisten akademik di fakultasnya. Karir sebagai asisten akademik di ITB kedepannya adalah sebagai dosen. Akhirnya suami resmi diangkat sebagai dosen non-PNS ITB pada akhir tahun 2016.

Menurutnya, dengan berkarir menjadi dosen (instead of working at the company), itu berarti ia beramal sambil bekerja, sehingga disitulah nilai pahala yang tidak tergantikan. Selain itu juga, bekerja di universitas lebih dinamis dalam hal penelitian dan pengembangan keprofesian daripada di perusahaan. Oleh karena itulah, peluang belajarnya menjadi lebih banyak ketika berafiliasi dengan institusi pendidikan.

Cerita tadi adalah hasil penyatuan puzzle-puzzle kisah yang menjadi bahan obrolan di sela-sela kami menunggu kelahiran si kecil. Di saat itu, saya juga masih bergelut dengan aktivitas start up yang dinamis.

Jika banyak yang bilang bahwa menjadi dosen itu gaji pokoknya kecil, maka itu benar adanya. Gaji pokoknya kecil. Namun alhamdulillah.. selalu saja Allah cukupkan. Selalu saja ada cara Allah dalam mendatangkan rizki. Tiba-tiba saja suami diminta mengisi training, atau mengerjakan proyek-proyek geothermal yang nilainya besar, dan lain sebagainya yang terus menambah kesyukuran kami pada Allah.. Apalagi selepas kelahiran si kecil, masyaaAllah.. benarlah janji Allah, setiap insan yang baru lahir memang telah Allah tetapkan rizki untuknya.. baarakallahu lanaa..

Akhirnya sampai di penghujung tulisan.. rekan, senior atau juniornya di ITB mungkin mengenal suami adalah sesosok orang yang selera humornya tinggi, suka nge-jokes yang “zing”, sehingga terkesan kurang serius dalam hal2 seperti di atas. Tapi siapa sangka, ternyata dia adalah orang yang matang dalam berencana, bisa melihat peluang dan sangat bertawakkal pada Allah atas setiap perencanaanNya.

Sejatinya, menjadi pribadi seperti itulah yang saya harapkan terhadap diri saya sendiri di masa yang akan datang. Segala visi-misi dan prinsip saya, ternyata ada di dalam diri suami dan jauuh lebih matang. Apa yang ingin saya lakukan selepas dari kampus ternyata bukan sedang Allah tunda, tapi Allah hadirkan melalui apa-apa yang dilakukan suami. MasyaaAllah.. maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

InshaAllah di tulisan-tulisan selanjutnya saya akan bercerita lebih banyak mengenai visi misi saya yang tercermin dalam diri suami, rencana masa depan, dan yang spesial adalah tentang si kecil buah hati kami, Zafran Harris Elfath. Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat untuk semuanya..

 
Jakarta, 28 Ramadhan 1438H

Dikenal Penduduk Langit


Aku hanya ingin dikenal penduduk langit.

Mereka tak mengenal terang dan gelap.

Mereka adalah CCTV paling canggih sejagad raya.

.

Aku hanya ingin dikenal penduduk langit.

Aku rasa, penilaian mereka paling objektif.

Tak mengenal suap atau ancaman.

Melaporkan tepat sesuai penglihatan.

.

Aku hanya ingin dikenal penduduk langit.

Sebab hanya di hadapan merekalah keikhlasan diuji.

Tak ada rekayasa atau melebih-lebihkan.

Tak ada polesan kata yang dipercantik.

Tak ada sikap atau perbuatan yang diada-adakan.

.

Aku hanya ingin dikenal penduduk langit.

Menulis bukan untuk meminta apresiasi.

Bertutur bukan untuk mendapatkan penghargaan.

Menasihati bukan untuk membuat kenangan.

Karena pada dasarnya segala tindak tanduk akan dipertanggungjawabkan.

.

Aku hanya ingin dikenal penduduk langit.

Bukan karena aku merasa paling baik amalnya atau jauh dari dosa,

Tetapi karena aku tak ingin dikenal penduduk bumi.

.

~SNA, 2017

Photo taken at Dunhuang city, 2014

2017: reshaping the future


“Begin doing what you want to do now. We are not living in eternity. We have only this moment, sparkling like a star in our hand – and melting like a snowflake.” Marie Beyon Ray, author of the book “How Never to Be Tired”

Sebuah keniscayaan, setiap makhluk-Nya pasti akan menemukan batas akhir kehidupannya di dunia. Ada pencatatan amal, ada perhitungan, ada pula pembalasan atasnya. Ada kebebasan memilih, ada juga konsekuensi yang harus dipenuhi atas pilihannya. Kehidupan ini benar-benar singkat, kataNya. Ia layaknya sebuah kebun yang kandas sebelum disabit (10:24). Seperti tanaman2 yang diterbangkan oleh angin, lenyap seketika, padahal sebelumnya ia tumbuh subur karena hujan yang deras (18:45). Kehidupan ini hanyalah kehidupan “antara”. Seperti yang seringkali disebutkan oleh-Nya dalam firman2-Nya. Tidak ada keabadian bagi makhluk, yang ada hanya kesempatan memilih;

Jalan yang akan mengantarkan kita pada istana2 yang terbuat dari emas, sungai2 yang mengalir indah di dalamnya, bidadari2 cantik jelita yang mengelilingi,

atau,

Jalan yang akan menjadikan kita bahan bakar kehidupan di dalamnya, yang penuh dengan kegelapan dan kesengsaraan, yang kematian dan kehidupan bahkan tidak ada bedanya. Sama-sama menyakitkan.

Manusia seringkali lupa. Lupa tentang hari akhir yang lebih baik. Padahal, Ia seringkali mengingatkan..Wa lal aakhiratu khayrul laka minal uulaa (93:4). Lupa tentang hari akhir yang abadi. Padahal, Ia seringkali menyebutnya..Wal aakhiratu khayruw wa abqaa (87:17).

Lebih banyak lagi diantaranya yang sombong dan bodoh. Benar kata Rasul, dua hal yang dekat dengan kekafiran; kesombongan dan kebodohan. Sombong membuat manusia lupa dengan hakikat penciptaan. Bodoh membuat manusia tidak tahu arah hidup sehingga cenderung berada dalam kesesatan.

Na’udzubillahi min dzaalik ya Allah. Kami sungguh2 berlindung dari kesombongan dan kebodohan..

Alhamdulillah.. Kita juga masih harus terus mengucap syukur. Atas setiap karunia yang Allah jadikannya sebagai tools untuk menakar, menentukan, kemudian memilih dan memutuskan. Rabbanaa, Ihdinash shiraatal mustaqiim..Asykuru laka Rabbi..Juga atas kesempatan untuk bertaubat menjadi pribadi yang lebih baik.

Tak terasa sudah memasuki 2017.. if i look back to what happened in 2016, I would be very grateful since Allah has accelerated me through His beautiful ways, alhamdulillah ‘ala kulli haal.. 

Dan ya, tulisan ini lagi2 dibuat dalam rangka 2 hal; sebagai reminder untuk selalu bersyukur, dan sebagai sarana untuk menyambut seruanNya untuk orang2 yang beriman. Kata Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18). Ayat ini sungguh membekas di hati dan pikiran saya. Abi saya seringkali menjadikan ayat ini sebagai ayat yang mengiri surat alfatihah dalam shalat wajib ketika mengimami keluarga. Secara tidak langsung seperti nasihat yang sungguh ditekankan untuk anak2nya.

2016, tahun penuh kejutan dari Allah. Menyadari bahwa ada visi2 diri saya pada suami, prospek bisnis yang semakin cerah, merasakan indahnya melahirkan, menikmati masa2 menyusui, juga banyaknya keberkahan yang lahir karena keikhlasan dalam menjalankan segala skenarioNya. Allah is The Best Planner.. yes, its not only a theory, its real.

Insha Allah saya akan sharing kembali satu persatu hikmah dari setiap pembelajaran dariNya di sini. Dan insha Allah ini juga akan menjadi salah satu resolusi saya di tahun 2017. Kalau kata suami, “Dek, nulis lagi deh. Cara kamu menulis khas banget. Kalau menulis kan inspirasinya tanpa batas. Jadi amal jariyah juga.” Aamiin ya Allah, semoga Allah izinkan saya untuk terus berbagi hikmah. Bukan untuk menyombongkan diri atau melebih2kan apa yang telah diperbuat, melainkan untuk mengedepankan hikmah dan ayat2 kauniyahNya. Semoga Allah jaga selalu niat, tuntun kita terus menjadi manusia yang bermanfaat, mengizinkan kita meraih gelar manusia terbaik di dunia dan di akhirat.

2017, seharusnya menjadi tahun yang lebih baik. Tahun akselerasi bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat. Terlalu cetek jika resolusi2 yang kita buat hanya untuk kepentingan pribadi, sebab belum tentu itu membawa manfaat bagi orang lain. Kita tidak tinggal dalam keabadian, maka semoga amal2 kita untuk orang lain lah yang akan mengabadi, yang semoga karenanya, Allah izinkan kita menginjakkan kaki di surga..

Bandung, 7 Januari 2017

*I have no idea with the pict, i just have a feeling to post it.😅

Metamorphosa: Spread the wings!


This is a collection of our great moments,

This is a little proof of our odyssey,

This is a sort of constellation about our journey,

This is a piece of story in our life’s episode,

This is kinda..our life diary.

**************

We walk together,

We meet people around, transfer knowledge and ambitions, deliver visions and missions,

We share our dreams,

We let everyone make it real,

So we can achieve it more..

 

We run together,

We see how the world runs so fast,

We see how people grows,

We see everyone compete each other,

We realize that the civilization is really happening,

And we finally recognize that the dunya is nothing, while the akhirah is everything,

 

We spread our wings,

We let the air bring us high,

We reach the highest sky,

We see the tiny of us above all,

We see how we are nothing, but Allah is The Greatest One..

 

We spread the happiness into everyone’s life,

We let them feel how Allah really loves us,

With the brain in our head that has ability to think 30 times faster than a super computer,

With the two eyes, which is able to capture moments even better than the best camera ever,

To think about all creatures, we are the perfect one.

But why do we still stand arrogant and not to be grateful with everything we have?

That’s a sort of constellation..a sort of reminder..

 

From now, we should fly higher,

We should give more, instead of asking,

We should learn more, instead of making our own conclusion,

We should stay humble, instead of swaggering,

We should act more, instead of criticizing other’s work,

We should be more confident with our own, instead of grudging others..

 

As from now on, we will grow together..

We will reach The Highest One, The Most Everything,

Allah and His Jannah..

USG results: I see how you grow, you’re with me while I am growing 🙂

Inspiration Point Kabinet KM ITB, 13 October 2015

IMG_8470

Mentoring Gabungan Bidik Misi, 7 November 2015

Mentoring Gabungan SMA N 14 Jakarta, 13 November 2015

Semesta Comdev Beasiswa Karya Salemba Empat, bersama Bapak Iskandar Kuntoaji (Pendiri IBEKA, suami Ibu Tri Mumpuni), 23 Januari 2016

Annisaa Day Gamais ITB, 26 Februari 2016

Kuliah Tamu KKN Tematik ITB mengenai Social Entrepreneurship, 9 April 2016

Public Relation, How to Goal the proposal, STIS Asy-Syukriyah Tangerang, 24 April 2016

My first post in 2016


Hi everyone! 

2016 just begin, and yeaah we have passed 365 days of 2015 entirely.

Most of people made their first post in 2016 as their contemplation note of 2015, or something like the to-do list for a year ahead. But sadly to say, my first post in 2016 actually wont tell you about what i’ve done in a past one year, neither about my plan nor my target to accomplish in 2016. I will make sure that i write it separately in one post. 

In short, i just want to say one word to express my feeling to start 2016. Someone said, “happiness is simple. It’s all about how we make ourselves happy.”

Therefore, I would like to say:

Alhamdulillah…

One word, thousand meanings..

“I feel sooooo grateful..”

“I feel sooooo amazed with what my Lord has given to me..”

“I feel sooooo thankful to God who has patiently showed me the way to reach Him as high as The Firdaus..”

“I feel sooooo blessed with everything in my life. A perfect and happy family, a very smart and capable husband, my first pregnancy, a success both in work and study. And i want all of those things would make my iimaan rise, my feeling of shukr increase..”

And yes,

Its all about: “All prises to Allah, The Entirely Gracious, The Entirely Merciful..”

“Alhamdulillah…”

  
Ngawi, 3rd of Jan 2016

feedback relationship


“Looks like something inside yourself has changed already. I don’t know which part, but it’s kinda crucial thing.”

“Dont you feel something different? Sometimes we just dont realize that we, in fact, have significantly changed. Inspite of realizing that the surrounding and environment did change, we still notice that we, ourselves, are much much more fluctuated and dynamic. But, can you guess, which is the first? Which influences what?”

“You are different. I cant see a past version of yourself. It’s worrying me, you know.”

*******

Yes, people changed.

So did the environment.

It is an inevitable natural phenomenon.

Everything has a rule.

People changed, and make a change.

Environment evolved, and make an evolution.

We cant escape from the reality that everything has a feedback relationship.

Which influences what, sometimes we dont have to know the answer.

What we should know is, “we get what we give.”

That’s all.

Persaudaraan terbaik


Cerita ini bukan cerita dongeng harian yang diwariskan turun temurun. Bukan juga tentang Sleeping Beauty yang tertidur ratusan tahun untuk kemudian terbangun kembali karena kedatangan seorang pangeran dari negeri seberang. Bukan pula tentang Cinderella, seorang gadis miskin (yang sebenarnya kaya) yang mendapat perlakuan jahat dari sang ibu tiri, namun karena kebaikan dan kelembutan hatinya, ia menikah dengan seorang pangeran gagah dan berwibawa. Cerita ini juga bukan peristiwa fiksi pada novel-novel percintaan. Apalagi cerita fiksi yang diada-adakan.

Kisah ini, adalah kisah nyata yang abadi. Kisah persaudaraan paling indah sepanjang sejarah peradaban manusia.

Ialah para Muhajirin, yang rela meninggalkan harta, jiwa, istri, bahkan anak-anak mereka untuk memperluas keberterimaan islam di kalangan masyarakat dunia. Berjalan jauh dari Makkah ke Madinah tanpa membawa aset berharga bersama mereka. Berpanas-panas di bawah terik matahari Saudi Arabia, berada dalam ketegangan dikejar musuh-musuh Allah.

Sungguh pengorbanan yang sangat mulia di mata Allah.

Ialah para Anshar, yang menyambut sang sahabat dengan sambutan terbaik. Karena kepekaan hati yang dilandasi dengan ikatan persaudaraan, membuat mereka tak membiarkan saudaranya dalam kesusahan. Tidak tanggung-tanggung, sepenuh hati dan pengorbanan secara total membantu mengentaskan kesusahan yang dihadapi Muhajirin.

Persaudaraan indah yang mengagumkan ini diabadikan oleh Allah di dalam Al-Quran, di surah Al-Hasyr(59) ayat 9.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshâr) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”

Sungguh, sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak pernah ditemukan sambutan yang begitu hangat kecuali sambutan Anshar terhadap Muhajirin. Mereka sangat mencintai Muhajirin, berani berkorban, berperan aktif, dan sanggup menanggung bebannya. Keakraban dan cinta Anshar yang sangat mendalam terhadap Muhajirin, membuat mereka rela mewariskan harta benda mereka. Mereka sangat mengasihi saudaranya, mengorbankan hartanya, bahkan lebih mementingkan saudaranya walaupun mereka sendiri kesusahan (itsar). Sementara kaum Muhajirin menerima dengan sewajarnya, tidak menjadikannya sebagai kesempatan yang berlebih-lebihan.

Sampai-sampai orang-orang Muhajirin sendiri, sebagai pendatang yang mendapatkan segala kebaikan orang Anshar, mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, kami belum pernah mendapati seperti kaum yang kami datangi ini (yakni kaum Anshar). Mereka pandai menghibur saat kesulitan dan paling baik berkorban saat bercukupan. Mereka telah mencukupi kebutuhan hidup kami dan berbagi kepada kami dalam hal tempat tinggal. Sampai-sampai kami khawatir mereka memborong pahala semuanya.” Rasulullah Saw menjawab, “Tidak (kalian tidak akan kehilangan pahala), selama kalian memuji mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka.”

Maka wahai diri, adakah yang tidak menginginkan keikhlasan paling indah seperti yang Muhajirin lakukan? Ketika harta, istri, anak-anak, bahkan semua itu tidak berharga lagi di mata mereka..

Adakah manusia di dunia ini yang tidak bergembira disambut dengan sambutan terbaik seperti yang dilakukan Anshar? Saat kelelahan mendera dan ketakutan menjelma hari-hari dalam perjalanan, kemudian orang-orang yang bahkan belum pernah kita temui sebelumnya, bersedia mengulurkan tangan terbaik dan memberikan senyum terindah di wajah-wajah mereka..

Siapa pula yang tidak merindukan persahabatan dan persaudaraan terbaik seperti yang dilakukan Anshar dan Muhajirin? Memberikan doa terbaik, harta terbaik, rumah terbaik, senyuman terbaik, bahkan istri terbaik untuk mereka? Semua itu semata-mata karena Allah, karena kecintaan pada Rabb mereka..

Begitu pula Muhajirin yang tidak berlebihan dalam menanggapi kebaikan saudaranya..

Persaudaraan yang terjadi di antara mereka, bukanlah persaudaraan yang sudah bertahun-tahun dibangun. Bukan pula persaudaraan yang dilandasi aspek keduniaan. Bukan karena rekan bisnis, teman curhat, teman seorganisasi, atau apapun itu. Tapi persaudaraan yang terjadi di antara mereka adalah persaudaraan atas dasar tsiqoh. Percaya pada saudaranya, bahwa mereka akan terus berjuang bersama menyambut seruan-Nya. Bahwa mereka tidak akan pernah saling mengkhianati dalam berjuang di jalan-Nya. Bahwa mereka akan terus bersama meniti jalan menuju surga-Nya.

Maka wahai diri, tidakkah kamu merindukan persahabatan terbaik yang diagung-agungkan oleh-Nya itu?

 

9 Agustus 2015