“Ada dua pilihan ketika bertemu cinta; jatuh cinta dan bangun cinta. Maka padamu aku memilih yang kedua, agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surga.”
[Salim A. Fillah]

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dengan penuh rasa syukur, telah dilakukan ikatan pernikahan “miitsaaqan ghaliidzaa” kami,
Shabrina Nida Al Husna, S.Si.
SMA N 14 Jakarta; Mikrobiologi SITH ITB 2010

&
Dimas Taha Maulana, S.T., M.T.
SMAN 2 Ngawi; Teknik Perminyakan ITB 2005/Teknik Panas Bumi ITB 2011
Akad nikah dan resepsi qadarullah telah dilaksanakan pada:
Minggu, 22 November 2015
Pukul 08.00 WIB di Gedung Cordoba (Akad)
Pukul 11.00-13.30 WIB di Gedung Granada (Resepsi)

Menara 165 [ESQ Convention Center]
Jalan TB Simatupang Kav. 1, Cilandak Timur
Jakarta, Indonesia

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/Saudari berkenan memberikan doa untuk keberkahan pernikahan kami.
Wassalamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Kami yang berbahagia,
Shabrina Nida Al Husna & Dimas Taha Maulana



Miitsaaqan Ghaliidzaa



In the name of Allah, The Most Merciful, and The Most Gracious.

Shabrina Nida Al Husna
&
Dimas Taha Maulana

Our akad and wedding ceremony has been successfully held by the permission of Allah, on:

| DATE
Sunday, November 22nd 2015
| TIME
08.00AM at Cordoba Ballroom (Akad Nikah)
11.00AM – 13.00 PM at Granada Ballroom (Wedding reception)
| PLACE
Menara 165 [ESQ Convention Center]
Jalan TB Simatupang Kav. 1, Cilandak Timur
Jakarta Selatan, Indonesia

Wassalaamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh
Best regards,

Shabrina Nida Al Husna & Dimas Taha Maulana



アッサラムアライクン ワラマチュッラー ワバラカーチュフ

拝啓
皆様にはますますご清祥のこととお慶び申し上げます
さて このたび次男 Dimas Taha Maulana (ディマス タハ マウラナ)
長女 Shabrina Nida Al Husna (サブリナ ニダ アル ハスナ)
の婚約が相整い
新しい第一歩を踏み出すことになりました

つきましては 日ごろお世話になっている皆様に
新たなる旅立ちの証人となっていただきたく
人前にて 結婚式を行いたく存じます

挙式後は ささやかではございますが感謝の気持ちを込めて披露宴を催したく存じます
ご多用中 誠に恐縮ではございますが
ぜひご出席をいただきたく ご案内申し上げます

敬具
2015年11月吉日
Soeparminto(新郎の父)   Sugianto(新婦の父)

日 時  2015年11月22日(日曜日)
挙 式  午前8時~
場 所  Cordobaホール
披露宴  午前11時~午後13時半
場 所  Granadaホール

Menara 165 [ESQ Convention Center]
Jalan TB Simatupang Kav. 1, Cilandak Timur
Jakarta, Indonesia

なお お手数ではございますが
ワッサラムアライクン ワラマチュッラー ワバラカーチュフ
サブリナとディマス

“And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquillity in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought.”
[QS. Ar-Rum: 21]


About Us


About Shabrina

About Shabrina

Shabrina Nida Al Husna. Shabrina adalah sabar. Nida berarti seruan. Al Husna merupakan sekumpulan dari kebaikan. Di dalam namanya, terselip doa Ayah dan Bundanya, agar ia mampu menjadi pribadi yang sabar dalam menyeru kebaikan, menjadi inspirasi bagi sekitar, dan menebar manfaat seluas-luasnya pada sesama.

Ia lahir di tengah hiruk pikuk Ibu Kota Jakarta, tepatnya pada 22 November 1992, setahun setelah Ayah dan Bundanya menggenapkan dien. Di tanggal yang sama juga di tahun 2015 ini, jika Allah berkehendak, ia akan menggenapkan setengah diennya dengan seseorang bernama Dimas Taha Maulana. Sebuah karunia sekaligus hadiah yang besar dari Allah, mengizinkannya untuk menggenapkan dien di hari lahirnya yang ke-23.

Shabrina terlahir sebagai anak pertama dari delapan bersaudara.
Sejak dulu, ia selalu berusaha menjadi teladan bagi ke tujuh adik-adiknya. Baginya, menjadi seorang kakak adalah amanah yang besar. Meski berat, ia juga melihatnya sebagai karunia, karena dengannya, ia punya ladang amal untuk menyalurkan semangat dan energinya karena Allah. Disebabkan itulah, mendidik dan menjadi teladan adalah passion yang telah mendarah daging di dalam dirinya.

Shabrina menamatkan pendidikan TK dan SD nya di Jakarta, di sekolah islam tempat pertama kalinya belajar A-BA-TA-TSA (read: mengaji). Sejak dulu, dia ambisius terhadap mimpi-mimpi yang dibuatnya sendiri, tekun dan teratur dalam segala hal, pekerja keras, dan suka menabung (?). Setelah tamat SD, ia kemudian melanjutkan sekolah ke sebuah boarding school di Sukabumi, SMPIT Al Kahfi. Di sanalah titik awal ia mengenal Allah dan Islam, sebuah proses yang indah dan menjadi titik perubahan terbesar di dalam hidupnya. Semangat perjuangan, cita-cita masa depan, kecintaan pada Al-Quran dan merasa ‘addicted’ terhadap keagungannya, semua terbentuk pada saat ia mengisi hari-hari di boarding school. Karena kecintaannya pada ilmu Islam, ia berambisi untuk melanjutkan studi di Mesir, mengambil konsentrasi Ushuluddin. Oleh karena itu, setelah lulus dari boarding school, ia mengikuti tes masuk MA Husnul Khatimah, sebuah pesantren yang dipikirnya bisa menjadi batu loncatan untuk melanjutkan studi ke Al-Azhar, Kairo. Namun, setelah melalui rangkaian tes dan diterima, tiba-tiba saja ia diminta ayahnya untuk melanjutkan sekolah di salah satu SMA negeri terbaik di jakarta, di SMA N 14 Jakarta Timur. Alasan kuatnya adalah karena ayahnya melihat potensi dakwah dan inspirasi yang besar di dalam dirinya, sehingga sekolah negeri dirasa menjadi tempat yang cocok untuknya berkembang. Dan benarlah, 3 tahun menempuh studi di SMA, membuat Shabrina berkembang dalam banyak hal. Di sana, ia belajar tentang arti mengajak kepada kebaikan, tentang inspirasi, tentang karya dan prestasi di jalan Allah. Qadarullah, ia menamatkan SMA dengan prestasi yang baik dan mendapatkan predikat yang sangat memuaskan. Setelah melalui perjalanan yang berliku-liku, ia kemudian melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi di Institut Teknologi Bandung sebagai mahasiswa program studi Mikrobiologi pada tahun 2010.

Selama di kampus, Shabrina mengisi waktunya untuk aktivitas akademik dan non-akademik yang seimbang. Berbagai kegiatan riset, pemberdayaan komunitas, organisasi internal maupun eksternal kampus, diikutinya dalam rangka pengembangan diri. Sebagai contoh, ia pernah melibatkan diri di kegiatan research and community development center (RCDC) MITI-Mahasiswa bersama beberapa alumni ITB, UPI, dan Unpad, yang kemudian menjadi sebuah LSM yaitu Innovation for Community Development Center (ICDC) Indonesia. Ia juga cukup aktif di divisi riset dan keprofesian Himpunan Mahasiswa Mikrobiologi ARCHAEA ITB. Shabrina senang sekali melibatkan dirinya pada aktivitas riset dan pemberdayaan komunitas, karena dengan itu, ia bisa berbagi dengan masyarakat, mencoba memberikan solusi terbaik menggunakan penerapan riset dan teknologi. Aktivitasnya di pemberdayaan komunitas itu kemudian membuatnya terlibat dalam konferensi dan seminar internasional di beberapa negara. Pada akhir tingkat 3 masa studinya, Shabrina memutuskan untuk mengikuti pertukaran pelajar di Jepang selama 1 tahun. Alhamdulillah, dengan izin Allah, Shabrina berhasil mendapatkan gelar sarjana pada 1 Agustus 2015 lalu dengan predikat yang sangat memuaskan serta menjadi kebanggaan bagi ayah dan bundanya karena ditunjuk menjadi perwakilan mahasiswa yang menyampaikan pidato perpisahan di hari wisuda.

Masa studi selama lima tahun di ITB ternyata sangat berpengaruh pada kehidupan pasca kampus Shabrina. Saat ini ia sedang membangun start up bisnis sosial (Social-entreprise) bersama beberapa alumni ITB lainnya di sektor pangan. Shabrina menerapkan konsep triple helix yang melibatkan 3 elemen, yaitu pemerintah, universitas (lembaga penelitian), dan swasta untuk mengakselerasi aktivitas bisnisnya. Menurutnya, pangan adalah kebutuhan paling fundamental bagi manusia, selain sandang dan papan. Oleh karena itu, ia meniti karir masa depannya di sektor pangan dan berencana mewujudkan ketahanan pangan Indonesia.

Melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi adalah sebuah keharusan bagi Shabrina. Baginya menuntut ilmu adalah keniscayaan, tidak akan pernah berakhir hingga akhir hayah. Peradaban juga dibangun oleh perempuan-perempuan yang cerdas. Oleh karena itu, ia merencanakan untuk melanjutkan studi di bidang food security and sustainable agriculture untuk mendukung karir masa depannya dan aktivitas dakwahnya di sektor pangan.

Sebagai penutup, menjadi mudarrisatul ummah (masyarakat) dan ‘aailah (keluarga) adalah dua poin utama yang menjadi titik berat rencana jangka panjang Shabrina sejak SMA. Hal yang men-drive adalah karena dia senang berbagi ilmu, berdiskusi dan memotivasi lingkungan sekitar. Baginya, menjadi pendidik adalah fitrah perempuan yang sangat dimuliakan dalam islam. Sebagaimana ‘Aisyah RA yang dengan kekayaan intelektualnya, ia dapat menjadi guru bagi perempuan di zamannya. Oleh karena itu, menjadi pendidik bagi keluarga dan masyarakat adalah rencana jangka panjang Shabrina dan tidak akan putus sampai akhir hayah. Semoga Allah mudahkan untuk mewujudkannya dan menjadikannya sebagai amalan unggulan kelak di hadapan Allah.



About Dimas

About Dimas

Kisah tentang saya bermula sejak hari Jumat dini hari di tanggal 15 Juli 1988 saat saya dalam wujud bayi kecil (eh ga tau sih kecil apa besar waktu itu) dilahirkan di dunia. Dimas berarti Adik laki-laki, Karena saya punya kakak kandung. Taha menunjukkan waktu Tahajud dmn saya lahir, bisa juga berarti surat Thaha, surat dalam Al-Quran yang “mampu” menjadi jalan hidayah bagi Umar bin Khattab ra. Sedangkan Maulana berarti pelindung, sebuah doa agar saya mampu menjadi pelindung manusia khususnya tentu saja untuk Istri tercinta nantinya, hehe.

Saya dibesarkan di lingkungan desa yang sangat “sosialis”. Bermain bersama dengan anak-anak seumuran sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Mandi di sungai, mencari belut di sawah, main bola plastik, mencari sarang burung untuk diambil dan dipelihara anaknya, menjaga ladang melon atau semangka di sawah sambil nyemil melon dan main kartu, menjadi kegiatan rutin saya dengan teman-teman masa kecil yang tidak pernah bosan karena selalu ada hal yang baru dan menyenangkan.

Ada kisah menarik ketika saya sekolah di SLTP 2 Ngawi, ada sebuah kelas dimana semua anak bandel dikumpulkan dan diisolasi di kelas tersebut dan dilabeli sebagai “kelas binaan”, sedihnya saya adalah anggota tetap di kelas itu (jangan tanya kenapa, hehe). Jika mengenang masa itu, rasanya kenakalan remaja jaman sekarang ini bukan apa-apa jika dibanding kami dulu, Hehe. Namun saya percaya bahwa setiap episode kehidupan kita adalah bentuk tarbiyah dari Allah untuk membuat kita terus lebih baik hingga pada akhirnya kita dalam kondisi terbaik pada saat ketemu dengan-Nya kelak. Pengalaman bergabung dengan “geng” tersebut membuat saya belajar untuk bisa bergaul dengan segala bentuk tipe manusia.

Saya selalu percaya bahwa setiap pengalaman hidup kita akan mempengaruhi bagaimana karakter kita di masa yang akan datang. Termasuk pengalaman saya ketika menjalani masa pelatihan bela diri di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Salahsatu prinsip yg diajarkan, bukan sekedar diajarkan tapi juga ditanamkan adalah “musuh jangan dicari, kalau ketemu jangan lari”. Prinsip tersebut mengajarkan tentang kekuatan dan kerendahan hati. PSHT adalah perkumpulan beladiri terbesar di Jawa Timur, jika anda sudah menjadi bagian dari persaudaraan ini, setengah masalah hidup anda sudah selesai. Hehe

Perkenalan saya dengan aktivitas tarbiyah dan dakwah bermula ketika sekolah di SMA 2 Ngawi yaitu pada saat aktif di rohis. Sebenarnya ga aktif sih, begitu mendengar bahwa anak rohis ga boleh pacaran, ga boleh nyontek, ga boleh malak, dan berbagai peraturan yang lainnya, saya anti masuk rohis. Namun setelah melihat aktivitas anak rohis yang sering main bola voli, sepakbola, tenis meja, dll, saya jadi berubah pikiran. Singkat cerita saya kemudian terpilih jadi ketua rohis. #sedih. Dari aktivitas rohis Inilah saya banyak belajar tentang nikmatnya dakwah, tarbiyah, dan ukhuwah.

Setiap ada Guru SMA yang tanya, “setelah lulus lanjut kemana Dim?”, dengan mantap saya selalu jawab, “STAN inshaAllah”. Tapi orang tua berharap saya ikut SPMB dan mendaftar Teknik Perminyakan ITB. Alhamdulillah qodarullah, saya diterima STAN beacukai sekaligus Teknik Perminyakan ITB. Tidak sulit untuk mengambil pilihan, karena saya sudah “terlanjur” daftar ulang di ITB ketika pengumuman kelulusan STAN diumumkan.

Tahun 2005 saya resmi menjadi mahasiswa Teknik Perminyakan ITB. Sejak pertama menjadi mahasiswa, anda harus memutuskan apakah mau jadi aktivis atau jadi mahasiswa rajin belajar. Saya ingin menjadi keduanya sekaligus, dan pada akhirnya gagal mendapatkan keduanya sekaligus. #sedih. Dalam hal ini, berbeda dengan Shabrina yang berhasil mendapatkan keduanya.

Setelah setahun aktif di GAMAIS (LDK-nya ITB) dengan karir terakhir sebagai ketua OASIS (Ospek-nya GAMAIS), saya mulai menyadari bahwa saya ga bakat bergaul dengan orang-orang sholeh, hehe. Maka, di tingkat 2 kuliah saya memutuskan aktif di Kabinet KM ITB. Memulai “karir” sebagai manajer SDM di Kabinet-nya kak Dwi Arianto, kemudian Kadiv Materi OSKM dan ketua Panitia Pemilu KM di Kabinet-nya kak Zulkaida Akbar, Lalu Menteri PSDM di Kabinet-nya Shana Fatina, dan terakhir sebagai Menteri PSDMK di kabinet-nya Ridwansyah Yusuf. Saya tidak menceritakan aktifitas perkuliahan saya, karena tidak banyak kisah menyenangkan di dalamnya, hehe.

Selepas lulus S1, atas saran pembimbing saya, Mbak Nenny (Kalo di Teknik Perminyakan, Mahasiswa memanggil dosennya dengan “Mbak atau Mas”, sekalipun itu Bapaknya sendiri, hehe), saya melanjutkan studi di Teknik Panas Bumi ITB untuk memfokuskan keahlian saya di bidang energi panas bumi. Maka pada tahun 2011 saya resmi terdaftar sebagai mahasiswa magister Teknik Panas Bumi serta bergabung dengan KGB (keluarga Geothermal Bersatoe). Nuansa belajar di lingkungan Teknik Panas Bumi amat sangat nyaman. Fasilitas tersedia, dan nuansa kekeluargaan antar mahasiswa dan antara mahasiswa dengan dosen amat sangat kental. Tak jarang dosen dan mahasiswa kongkow bareng di cafe untuk berdiskusi atau sekedar bercengkrama bersama. Saya meraih gelar Master setelah melalui perjuangan selama 6 semester, dan wisuda di bulan Juli 2014.

Selepas lulus dari S2 hingga saat ini, saya mendedikasikan diri untuk menjadi asisten dosen dan peneliti di almamater Teknik Panas Bumi. Keahlian yang ingin saya tekuni adalah di bidang Teknik Pemboran dan Teknik Produksi Panas bumi. Kesibukan saat ini adalah membantu kuliah dosen pemboran di Teknik Perminyakan dan Panas Bumi, Mas Bonar, mengerjakan riset bersama beliau, Mengadakan training untuk karyawan Industri ataupun akademisi, dan sesekali mengerjakan projek dari Mbak Nenny atau Bu Suryantini. Cita-cita kedepan adalah diterima sebagai Dosen di Teknik Panas Bumi dan melanjutkan studi ke jenjang Phd.

Hidup itu ibarat kopi, akan terasa pahit jika kita tidak tau cara menikmatinya, Hehe. Tentu selain sibuk dengan urusan profesi, saya juga memiliki beberapa hobby yang menyenangkan. Main futsal hampir tiap weekend, Nonton bioskop bareng teman-teman lab atau mahasiswa hampir tiap hari senin, nonton pertandingan Juventus hampir tidak pernah absen, dan travelling bareng geng traveller Panas Bumi hampir setiap setelah rekening tabungan terisi, hehe.


Our Story


Shabrina Nida Al Husna,

Hmmm…. sebelum ini saya tidak kenal dengan nama itu, hanya sekedar tau. Mahasiswi peraih penghargaan mahasiswa berprestasi tingkat fakultas dan mendapat kesempatan exchange kuliah di Jepang. Tak terbesit sedikitpun untuk berangan-angan dia jadi istri saya, bukan karena dia bukan tipe saya, tapi karena “levelnya” terlalu tinggi.

Atas takdir Allah, selama 5 tahun kami kuliah bersama di ITB (Shabrina S1 di mikrobiologi sedangkan saya S2 di Teknik Panas Bumi), dengan aktivitas yang berbeda (Shabrina di aktivitas mahasiswa keprofesian sedangkan saya di bidang sosial politik), membuat kami tidak pernah berinteraksi, tidak pernah komunikasi, bahkan mungkin tidak pernah ketemu kecuali sekilas saja. Mungkin itu adalah cara Allah untuk menjaga cinta kami agar murni dari segala pencitraan.

Proses ta’aruf yang penuh berkah (inshaAllah) pada akhirnya mempertemukan kami. Boleh dibilang proses berjalan begitu singkat. Visi kami yang sama yaitu “menikah di jalan Dakwah karena Allah” telah membuat proses pernikahan kami mantap dan tidak berbelit-belit. Jika boleh mengingat-ingat, hari kamis malam (13 Agustus 2015) saya menerima biodata Shabrina, Jumat esoknya kami ketemu untuk ta’aruf, dan sabtunya saya “ditantang” untuk langsung ke orang tua Shabrina. Tiga hari yang sangat singkat sekaligus mendebarkan.

Shabrina Nida Al Husna adalah jawaban atas doa saya selama ini. Sebenarnya keinginan saya menikah sudah ada sejak bulan Oktober tahun lalu. Selama itu juga proses ikhtiar saya lakukan. Namun Akhowat calon istri tak kunjung ada tanda-tanda. Saya terus berdoa kepada Allah agar segera dipertemukan dengan sang jodoh. Doa dan kriteria yang saya harapkan sederhana saja: sholehah dan aktivis dakwah, selebihnya misalnya cantik dan pintar adalah bonus saja. Allah tidak pernah tanggung-tanggung dalam mengabulkan doa. Akhowat sesuai kriteria saya plus bonus-bonus yang amat banyak, Allah pertemukan dengan saya, dia lah yang bernama Shabrina Nida Al Husna. Semoga ini lah jodoh saya dunia-akhirat.

Ta’aruf. Banyak yang bertanya-tanya kenapa kami begitu yakin dengan pilihan calon pasangan hidup padahal baru kenal. Bagi kami, memilih pasangan bukan tentang memilih kesempurnaan. Menikah berarti menerima. Menerima kelebihan dan kekurangan. Justru dengan proses seperti ini lah kami sedari awal sadar untuk tidak menaruh “over expectation” kepada calon pasangan kami. Bagi kami itu lebih baik daripada kenal melalui “pacaran” yang penuh dengan espektasi akan kesempurnaan.

Menikahi Shabrina adalah amanah besar. Menikahi berarti menjadi pemimpin (imam). Menjadi pemimpin berarti menjaga dan mengembangkan potensi. Berproses menikah dengan wanita seperti Shabrina yang memiliki potensi besar menghadirkan perasaan senang sekaligus khawatir. Khawatir tidak sanggup mengemban amanah untuk menjadi pemimpin, menjaga dan mengembangkan potensinya.

Lalu bagaimana dengan cinta?

Bagi kami, pernikahan bukan hanya tentang peristiwa hati. Lebih dari itu, ia adalah peristiwa peradaban. Pernikahan memiliki tujuan yang mulia, melahirkan generasi-generasi terbaik yang akan membangun peradaban Islam. Disebabkan tujuan pernikahan yang mulia itulah, kami menjaga prosesnya sejak awal. Tidak pacaran, tidak pencitraan, bahkan tidak bertemu kalau bukan karena kepentingan membahas hal-hal teknis persiapan pernikahan.

Pernikahan adalah cinta yang diwujudkan dalam proses penumbuhan bersama. Karena cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana membuat kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika perhatian memberikan pemahaman mendalam tentang sang kekasih, maka penumbuhan berarti melakukan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sang kekasih tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Di tangan Rasulullah, ‘Aisyah tak hanya menjadi seorang istri. Rasulullah SAW telah berhasil menumbuhkannya menjadi bintang di langit sejarah. Menjadi guru bagi muslimah di dunia. Menjadi referensi fiqh dan keilmuan. Jika meminjam kata-kata Anis Mata, “Penumbuhanlah yang membedakan cinta yang matang dengan cinta seorang melankolik. Penumbuhan memberikan sentuhan edukasi pada hubungan cinta. Sebab di sini cinta bukan sekedar gumpalan emosi di langit jiwa: yang mungkin meledak bagai halilintar, atau membanjiri bumi dengan hujan air mata, pikiran dan fisik sekaligus. Itu yang membuatnya nyata. Dan efektif.”

Pernikahan bagi kami adalah syi’ar Islam. Menjadi bukti keagungan Allah atas kemahakuasaan-Nya. Menjadi referensi pernikahan yang sesuai dengan syari’at. Sebab, tujuan pernikahan adalah mulia sejak mula ia dianjurkan. Untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Kami percaya, dengan proses yang benar, pernikahan seharusnya mendatangkan barakah, kebaikan yang terus menerus mengalir untuk rumah tangga kami.

Saat mereka mendoakan, “Baarakallahu laka”
Maka semoga Allah memberkahi setiap diri kita dalam status sebagai seorang hamba Allah.
Ketika mereka meminta lagi pada Allah, “Wa baarakallahu ‘alaika”
Bersama barakah, masalah-masalah yang bermunculan di hadapan kita, insha Allah akan menguatkan jalinan.
Lalu mereka menutup, “Wa jama’a baynakumaa fii khaiir”
Maka semoga Allah benar2 mempertemukan kita dalam kebaikan.
Semoga Allah mengumpulkan kita dalam keadaan sebaik-baiknya keimanan.
Semoga Allah meridhai setiap niat kita, setiap khusyu’ doa kita, dan setiap visi-misi besar yang siap kita bangun.
Kemudian, tangan kita saling berpaut dan jemarinya menyatu,
“Baarakallaahu lanaaa yaa Allah..”
Maka sempurnalah tiga perayaan cinta..

Shabrina dan Dimas
18 Oktober 2015


DimaShabrina’s Story


CeremonyTa’aruf
14 Agustus, 2015
Ceremony
Kunjungan Keluarga Dimas
15 Agustus, 2015
Ceremony
Khitbah (lamaran)
5 September, 2015
Ceremony
Kunjungan Keluarga Shabrina
25 September, 2015
Ceremony
Akad Nikah
22 November, 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s