Jejak


Kau tak bisa menginjak pasir tanpa meninggalkan jejak..

Jikalau kau harap ombak akan menghapusnya, itu juga butuh waktu.

Bahkan tidak dengan sekali sapuan angin untuk mengabrasinya.

 

Jika kau sadar, sejatinya dirimu butuh aku..

Berbaliklah..

Kau pergi terlalu lama,

karena.. saat jejakmu telah terhapus sempurna,

Aku mungkin sudah tidak di tempat yang sama..

 

#ah, sepertinya aku rindu mereka.

..menangis..


adalah hal yang sangat nikmat saat bisa menangis. sebab dengan menangis, akan membuat perasaan kita menjadi sedikit lebih lega. dengan menangis, setidaknya, dapat membuat yang terasa berat menjadi lebih ringan.

menangis, ia adalah tanda bahwa hati kita masih peka. peka terhadap apa yang terjadi pada diri kita secara personal dan yang terjadi pada lingkungan sekitar. ia merupakan indikasi hati yang sensitif. saat kita melakukan keburukan, maka hati yang peka akan segera merespon dalam bentuk kegelisahan dan kekhawatiran. selanjutnya sel saraf akan segera mendistribusikan sinyal ke otak, melanjutkan sinyal dan memberi arahan pada kelenjar lakrimale untuk mensekresi air mata. ini sunnatullah. prosesnya akan berjalan secara alamiah. tetapi dengan catatan bahwa kita ‘masih’ memiliki hati yang peka.

tapi sungguh, ini berbeda. sensitivitas yang over, empati yang terlalu berlebihan, kekhawatiran tak terdefinisi yang sering menghujam perasaan. mungkin singkatnya bisa disebut dengan hypersensitive.

aku tahu, aku memang sangat cengeng. apalagi untuk hal-hal yang sangat sepele. aku memang sering menangis, bahkan menangisi masalah-masalah yang sebetulnya sederhana. tapi beginilah adanya. perasaan terlalu sering mendominasi diri ketimbang akal dan logika. mudah tersentuh, terlalu empati, hingga mudah menangis.

mengatakan tidak pada orang lain, membuat kecewa, membuat yang lain marah, khawatir jika ada luka yang berbekas. ah, semua itu selalu bisa menjadi penyebabnya. pada akhirnya, air mata mengalir membentuk parit-parit kecil di wajah. menyisakan jejak alirannya.

selalu begitu. selalu saja. dan aku hampir tidak mengerti dengan diriku yang seperti itu.

sekarang, aku lebih banyak diam. jika tak suka, ya diam saja. jika tak sesuai, ya diam saja. jika tak sanggup memikulnya, ya diam saja. lalu pada akhirnya? menangis dalam kesendirian dan ketidakberdayaan..

begitulah. selalu begitu. mengapa? –tak tahu

rasanya aku ingin menjadi manusia kecil saja. merasa ingin menjadi manusia yang sederhana saja. menjadi bagian dari yang biasa. jika pun Ia berikanku kesempatan untuk menjadi bagian yang luar biasa, rasanya ingin disembunyikan saja. tak ingin banyak orang yang tahu. hanya ingin Ia dan diriku saja yang tahu.

ah ya Rabb.. aku lelah.. hati ini sudah terlalu lelah menanggungnya. cukupkan saja, dan kembalikan aku pada diriku yang dulu.

Memaafkan: tanda cinta pada-Nya



Kesederhanaan memaafkan, kesediaan berbaik sangka, keikhlasan untuk memulai adalah muara kebaikan yang tidak pernah merugikan. Kecintaan pada-Nya akan membuat semua terasa lebih mudah. Meski terkadang ada luka di rasa, sedih di jiwa, dan seserpih kecewa, namun kejernihan maaf akan membasuh lara mengganti tulus senyum ceria. Maka belajar memaafkanlah, karena itu bagian dari cinta kita pada-Nya..

Pembelajaran Hidup


jika perbuatan itu mudah, maka orang lain pasti sudah melakukannya.

jika kau mengekor langkah orang lain, kau akan kehilangan masalah-masalah yang sesungguhnya berharga jika kau pecahkan sendiri.

keistimewaan itu lahir dari persiapan, dedikasi, konsentrasi, dan kegigihan; jika kau kompromikan salah satunya, kau akan jadi orang kebanyakan.

(Novian Yudha Pratama)

Benar juga. Pikir saya saat membaca potongan kalimat tersebut di salah satu blog kakak tingkat saya.

Entah bagaimana mendefinisikannya, yang jelas, kalimat tadi berhasil membuat saya tersadar bahwa setiap apa yang kita perjuangkan, pasti akan ada rintangan yang menghadang. Karena sejatinya, indahnya perjuangan adalah saat kita berhasil melewati setiap sulitnya. Jika jalan yang kita pilih itu mudah, pasti sudah banyak orang yang menapakinya. Dan penghujungnya, tidak akan ada yang istimewa. Hanya goresan-goresan sejarah biasa.

Bukankah sesuatu yang besar itu dari usaha yang besar? Dan usaha yang besar berasal dari rintangan-rintangan yang besar? Aksi sama dengan reaksi. Begitulah yang Newton katakan dalam hukum ketiganya.

Dalam hal apapun. Sejatinya, ketika kita memiliki mimpi-mimpi yang hendak kita wujudkan, kita pasti akan menemukan sebuah stage bernama rintangan. Ibarat sebuah game, maka semakin tinggi levelnya, akan semakin besar rintangannya. Dan saat kita berhasil menggapai final, kita akan mendapatkan point yang lebih banyak di level yang lebih tinggi.

Begitulah. Semakin tinggi kualitas mimpi kita, maka akan semakin sulit menggapainya. Sebab rintangan yang akan kita temui pun agaknya akan semakin besar. Namun, point-point kebaikan yang kita dapatkan akan semakin banyak; pahala-pahala akhirat dan bertambahnya kebaikan. Sebuah hubungan linier positif, atau bahkan hubungan eksponensial.

Maka sungguh, saat belum satupun paper yang kita buat berhasil di-publish di jurnal internasional, atau saat ide dan gagasan kita tertolak di lomba-lomba yang kita ikuti, atau bahkan, saat aplikasi kita tak mampu menembus berbagai program internasional (read: summer school, international conference, etc), kita tak perlu khawatir.. kita hanya butuh berfikir positif. Bahwa Allah ingin kita lebih banyak belajar.. Ia ingin kita mengumpulkan point-point kebaikan yang lebih banyak hingga kita semakin mantap. Dan tentu saja, kita akan semakin siap dengan mimpi-mimpi yang lebih besar.

Terlalu sayang untuk kita menjiplak bagaimana cara orang lain menggapai mimpi. Karena saya sangat yakin, setiap kita pasti punya caranya masing-masing dalam menggapai mimpi. Dan menjadi suatu hal yang sangat mungkin bagi kita untuk mengukir sejarah baru di kehidupan kita, tentunya yang berbeda dengan orang lain. Maka itulah yang disebut istimewa.

Kesulitan-kesulitan yang kita temukan, insya Allah akan menjadi indah jika kita menjadi subjek yang mampu membuat resolusi pemecahan masalah praktis. Kita akan benar-benar mencoba, benar-benar meyakinkan diri kita; bahwa kita memang memiliki potensi untuk memecahkannya dengan cara yang berbeda, sesuai dengan kapasitas diri kita. Maka itulah yang disebut inovasi.

Masalah-masalah itulah yang akan membuat kita semakin dewasa. Merekalah yang akan membuat kita semakin siap dengan masalah-masalah yang lebih besar. Akan banyak pelajaran dan hikmah yang terlalu sayang kita lewatkan jika kita hanya terpaku pada pemecahan praktis yang pernah orang lain lakukan. Kita harus mencobanya terlebih dahulu; memahaminya, mendalaminya, maka kau akan segera menemukan banyak hal yang besar di dalamnya! Gagasan-gagasan perubahan!

Marilah kita belajar dari orang-orang bermata sipit di Negeri Sakura. Mereka sangat suka melihat bagaimana Amerika membuat berbagai permodelan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi tidak benar-benar menjiplaknya. Mereka mendalaminya sejak awal, benar-benar membuat mereka sendiri paham secara komprehensif tentang permodelan-permodelan itu. Alhasil, mereka berhasil membuat gagasan-gagasan baru yang bahkan lebih efisien, efektif, dan bernilai tinggi. Maka inilah yang disebut role modelling.

keistimewaan itu lahir dari persiapan, dedikasi, konsentrasi, dan kegigihan; jika kau kompromikan salah satunya, kau akan jadi orang kebanyakan. (NYP)

Tentu saja benar. Prepare adalah kuncinya. Mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Memastikan diri kita bahwa kita benar-benar akan siap dengan segala hal yang terjadi di kemudian hari; baik atau buruk.

Plan for the best, prepare for the worse.

Dedication. Istimewa lahir dari dedikasi yang tinggi. Maka pastikan, bahwa apapun yang kita lakukan di dunia, memiliki dampak terhadap lingkungan sekitar kita.

Concentration=Focus. Fokus pada mimpi-mimpi yang sudah direncanakan. Karena fokus melahirkan persistence. Kegigihan dan ketekunan menggapai mimpi. Tak mudah putus asa meski kegagalan di depan mata. Totalitas ikhtiar  menjadi temannya dalam berjuang.

Dan terakhir, ketika kita mampu mensinergikan keempat hal tersebut dengan baik, saya yakin kita tidak akan seperti orang kebanyakan. Outputnya akan luar biasa! Kita akan membuat mimpi kita menjadi mimpi banyak orang. Dan kita, akan membuat gagasan-gagasan luar biasa yang istimewa. Dan sebaliknya, jika kita sering membuat toleransi pada diri kita, bahkan dari mulai hal-hal yang kecil, saya yakin, outputnya pun akan ‘biasa saja’. Akan ada rasa tidak puas di dalamnya, sebab toleransi melahirkan kelambatan, kemalasan, dan pada akhirnya tidak akan maksimal.

Di atas itu semua, ada yang disebut niat. Niat yang melahirkan ridha. Sebuah amalan hati yang menentukan orientasi akhir dari amalan-amalan lainnya. Semoga, setiap amal yang kita lakukan adalah karena-Nya. Karena surga dan ridha-Nya semata. Sedang yang lainnya adalah bonus-bonus kebaikan yang menjadi nilai tambah, sehingga kita semakin semangat untuk menggapai Yang Tertinggi..

Bismillah, yuk dimulai dari sekarang :)

 

14 Mei 2012

Mengumpulkan hikmah yang terserak menjadi untaian kalimat pengingat diri

R-I-N-D-U


Entahlah..

tapi sepertinya…..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

aku rindu.

Berkumpulnya rindu


“Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.” (Salim A Fillah)

Ya, di sana ada yang disebut ukhuwwah. Namun tak heran jika mereka sering berpisah dan berjauhan karena tuntutan amanah. Lingkaran-lingkaran cahaya itu hanya semakin melebar. Tak ada yang rusak sedikitpun. Hanya saja, mereka ingin menyampaikan cahaya itu pada yang lainnya. Hingga cahaya-cahaya itu akan semakin bertebaran, memperindah jalan ini.

Rabithah-lah yang menguatkan setiap simpul ikatannya. Doa-doa di setiap shalat-lah yang memadukan cinta di bawah naungan mahabbah kepada-Nya. Meski masing-masing dari mereka seringkali terlupa untuk berinteraksi nyata dengan saudaranya. Namun.. hati-hati mereka selalu terpaut di setiap shalat lailnya.

Maka suatu saat, mereka akan saling merindu. Hingga kerinduan itu terakumulasi pada satu titik yang membuat mereka ingin bertemu. Bertatap wajah, berpegang tangan, berpeluk erat, hingga rasa rindu itu terobati.

Sungguh benar yang mengatakan bahwa “obat rindu adalah bertemu”.

Karena di saat mereka merindukan pertemuan, di saat mereka merindukan kebersamaan, dan di saat mereka merindukan semangat-semangat itu kembali, maka mereka bersama-sama membuat agenda “Berkumpulnya Rindu”.

 

Semoga Allah izinkan kita bergandengan tangan menuju jannah-Nya :’)

A-T-F-M-H-O-F, Uhibbukunna fillah :)

Daurah Mar’atus Shalihah part 1


Lewat tulisan ini, ingin mencoba berbagi pengalaman mengikuti sebuah daurah yang sangat luar biasa. Walapun di waktu yang bersamaan banyak agenda yang berbenturan, tapi akhirnya memilih untuk ikut acara ini.. :)

Ahad kemarin, tepatnya tanggal 29 April 2012, aku diberi kesempatan oleh Allah untuk mengikuti Daurah Mar’atus Shalihah. Sebuah pelatihan kemuslimahan yang diadakan oleh jaringan muslimah Bandung Raya di STT Telkom. Kisah ini bermula dari SMS seorang kepala Annisaa GAMAIS ITB 2011 yang mengatakan bahwa aku ditunjuk untuk menjadi perwakilan Annisaa GAMAIS ITB di acara ini. Sebenernya agak bingung juga, kenapa harus shabrina? Tapi ternyata, ada hal-hal yang mungkin tidak perlu kita pertanyakan di awal. Cukup dijalani saja terlebih dahulu, dan kemudian kita akan menemukan banyak hikmah dalam keberjalanannya.. and finally, aku merasa sangat beruntung berada di sana. Sungguh sebuah takdir yang indah.. ^^

Awalnya, cukup kaget juga. Aku baru dikonfirmasi ulang H-2 acaranya, sekitar hari jum’at malam. Yang berat adalah: tugasnya banyak banget dan harus dikebut dalam waktu 1 hari.. huks

Salah satu tugas yang diberikan adalah baca buku keakhwatan 1 dan 2 karya Cahyadi Takariawan. Karena nggak punya bukunya, dan keterbatasan waktu juga, akhirnya untuk backupnya aku memutuskan untuk baca buku yang lain.. Seluruh peserta juga diarahkan untuk membuat CV. Alhamdulillah udah sering buat CV, jadi punya default formatnya deh :D

Hari H, seperti biasa, dateng telat karena nyasar -.-” dibawa muter-muter sama abang angkotnya, huks. Tapi akhirnya tetep bisa sampai tempat dengan selamat.. :p

Sungguh kesempatan yang sangat jarang untuk bisa berkumpul dengan muslimah-muslimah terbaik se-Bandung Raya. Saling mengenal satu sama lain, memperluas jaringan, berbagi pengalaman, dan yang terpenting adalah banyak belajar dari kisah-kisah mereka.. hmm, unik2 juga ternyata :)

Yang paling membuat menarik dari acara ini adalah materi dari Teh Devi, sesosok akhwat yang menyelesaikan studi S1nya UPI, studi S2nya di ITB dan berhasil menyandang gelar Doktornya di STT Telkom. Menurutku, Teh Devi adalah sesosok akhwat yang sangat menginspirasi karena kecerdasan akalnya. Tsaqafahnya sangat luas,, dan menurutku, beliau memiliki skill komunikasi yang baik, terlihat dari cara beliau memaparkan materi dengan jelas dan lugas :)

Beliau diberi kesempatan untuk menyampaikan sebuah materi tentang “Peran Muslimah dalam Membangun Peradaban”. Tapi menurutku yang beliau sampaikan lebih ke arah urgensi da’wah kemuslimahan. Mungkin karena telat juga, jadi banyak materi yang terlewat..

Pada intinya, beliau menyampaikan betapa peran, posisi dan potensi muslimah dapat menjadi investasi yang sangat besar dalam da’wah ini. Bayangkan saja jika muslimah tidak turut serta dalam gerakan-gerakan da’wah, mungkin da’wah ini akan sangat kaku dan monoton. Contohnya ketika dalam suatu wajihah da’wah peran muslimah ditiadakan, lalu siapakah yang akan berfikir secara mendetail tentang keberjalanan organisasinya selama periode tertentu? Karena fitrahnya, perempuan itu lebih bisa berfikir secara mendetail, mempertimbangkan banyak hal, dan berfikir lebih jauh daripada laki-laki.

Selain itu, kita sebagai perempuan seharusnya menyadari betul bahwa kita memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Pepatah mengatakan bahwa seorang ibu membutuhkan waktu 20 tahun untuk mendidik anaknya, sedangkan seorang wanita hanya butuh waktu 20 menit untuk menghancurkan dirinya dan ummat. Dari pepatah tersebut, kita dapat melihat betapa da’wah kemuslimahan adalah sebuah keniscayaan. Dengan da’wah kemuslimahan, setidaknya kita bisa mengurangi presentase yang kedua. Lebih baik lagi, kita bisa mencitrakan betapa mulianya perempuan dalam pandangan Islam.

Jika ditinjau lebih dalam, sebetulnya pepatah tadi bisa kita kaitkan dengan kecenderungan setiap manusia, yaitu apakah ia lebih suka pada kebaikan atau pada keburukan. Dan ternyata, yang lebih sedap dipandang mata, dan yang lebih menggiurkan, biasanya adalah hal-hal yang buruk. Oleh karenanya, kita hanya butuh waktu sebentar untuk menghancurkan diri kita sendiri ketimbang memperbaiki diri kita. Tapi mungkin tidak berlaku secara umum..

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini juga, dan jika kita berfikir lebih mendalam, mungkin kita akan merasa sangat miris saat mengetahui bahwa sepertinya entropi dunia semakin tinggi. (Aduh shaaab, kenapa harus ada termodinamika sih? –” Oke lanjut.) Ya, kekacauan mungkin lebih tepatnya. Aduh, sebenernya agak berat juga bilangnya. Tapi kalian pasti paham apa maksudnya.

Dan.. tahukah kalian? Seorang ibu mewariskan 75% sifat keshalihannya pada anaknya. Hmm, ternyata.. kita (wanita) memiliki potensi 3 kali lipat lebih besar dari pada laki-laki untuk mewariskan gen keshalihan kepada keturunan kita. Mengapa? Mungkin ini bukan penelitian yang sudah dilakukan bertahun-tahun, tapi jika kita berfikir secara logika, kita akan mendapati bahwa seorang ibu adalah mudarrisah (guru) pertama bagi anaknya. Dari hasil didikannya-lah akan terlahir generasi-generasi terbaik. Namun, dari hasil didikannya jugalah akan lahir generasi-generasi yang buruk.

Seorang ibu, dibanding ayah, akan lebih banyak berinteraksi dengan anaknya. Sebab tugas ibu secara fitrahnya memang melahirkan generasi-generasi terbaik yang akan berada di garda terdepan dalam membangun peradaban dunia! Melalui apa? Melalui pendidikan yang komprehensif dan terarah. Tentu dengan cara-cara yang sesuai dengan syari’at Islam.. :)

Seperti Musa, yang terlahir sebagai pemuda yang sesuai dengan fitrahnya. Sebab ia dididik oleh seorang Asiah yang menjaga kefitrahan dirinya sebagai wanita. Ia menyadari betul peran dan posisinya untuk mencetak generasi-generasi terbaik.

Betapa muslimah sangat berharga. Ia adalah perhiasan terindah, baik di dunia dan di akhirat kelak.. kemuliaannya mengalahkan emas seberapa karatpun. Kedudukannya di mata Allah sangat tinggi, yang membuat para bidadari surga cemburu padanya..

Oke, kini kita akan berbicara lebih berat dan terstruktur. Bagaimana Islam menggambarkan secara jelas peran muslimah dalam da’wah ini.

Yang pertama adalah daurut ta’sis, yaitu bagaimana seorang muslimah harus mampu menjaga hal-hal yang bersifat fundamental dan mendasar. Ya. Di sini kita dituntut untuk menjaga fitrah kita. Mengingat kembali tugas kita dalam da’wah ini. Setiap kita adalah penting, maka jangan pernah berfikir bahwa ketidakhadiran kita di jalan ini tidak akan berefek apapun. Boleh saja berfikir bahwa masih ada orang lain yang terlibat dan ikut serta, tetapi prasangka yang baik namun tidak pada tempat yang tepat bisa menghancurkan diri kita sendiri.

Yang kedua adalah daurut tahsin, yaitu bagaiman kehadiran muslimah dapat memperindah opini da’wah. Ya, tahsin=memperbaiki. Tugas kita adalah memperbaiki setiap apa-apa yang rusak sesuai dengan batasan-batasan yang seharusnya, juga dengan cara-cara yang syar’i. Yang perlu diingat adalah, kita memperindah, tapi bukan hiasan. Sebab jika seorang muslimah tidak menggunakan bros (hiasan) pada jilbabnya, itu menjadi hal yang tidak apa-apa bukan? Tetapi, akan menjadi apa-apa jika dalam keberjalanan da’wah ini kita tidak memainkan peran kita sebagai muslimah..

Yang ketiga adalah daurut tarbawi, yaitu bagaimana muslimah berperan dalam setiap bentuk pembinaan. Membina adik-adik, teman, hingga masyarakat. Dan kelak, membina suami dan anak-anaknya. Seorang ulama pernah berkata, “Faaqidussyay’i laa yu’thii.” Bahwa orang yang tidak memiliki apa-apa tidak dapat memberikan apa-apa. Inilah pentingnya mengapa seorang wanita harus cerdas dan berkapasitas. Sebab ia dituntut untuk memberikan banyak hal pada lingkungan sekitarnya..

Yang keempat adalah daurut ta’nis, yaitu bagaimana peran legislasi dari seorang muslimah. Mungkin kita pernah tahu, bahwa Asma’ binti Abu Bakar adalah legislator para muslimah pada masanya. Bayangkan saja, ia yang dengan berani menyampaikan uneg-uneg para muslimah saat mereka menyadari bahwa laki-laki lebih bisa berinteraksi lebih banyak dengan Rasulullah jika dibandingkan dengan perempuan. Sampai akhirnya, Rasulullah menyediakan waktu khusus untuk para muslimah mengkaji hal-hal seputar kemuslimahan. Kemampuan nilah yang harus dimiliki oleh setiap muslimah. Bahwa kita adalah legislator, yaitu orang yang akan paling bisa mendengarkan, menyampaikan dan memfasilitasi aspirasi mad’u-mad’u terdekatnya.

Yang kelima adalah reposisi, yaitu bagaimana seorang perempuan dapat merubah peran, posisi, dan kedudukan. Sejujurnya shabrina nggak terlalu paham dengan peran yang ini, tetapi yang saya tangkap adalah bagaimana seorang muslimah memiliki hak untuk dimintai pendapatnya untuk mengubah suatu hal yang sudah ada sejak awal.

Menurutku, peran kelima tadi bukanlah peran yang terakhir. Karena masih banyak peran muslimah yang perlu kita temui dan sadari untuk membangun da’wah ini. Kita diciptakan sangat kompleks, maka tentu saja peran kita akan sangat kompleks dan besar.

Maka yang perlu kita lakukan mulai saat ini adalah menyadari betul tentang peran, posisi, dan potensi kita sebagai muslimah. Kemudian kita mengembangkannya, agar setiap kita memiliki kapasitas yang tinggi untuk mengemban amanah-amanah besar kita. Dan tentu saja, yang tidak kalah pentingnya adalah semua itu dilakukan dengan tetap menjaga ‘izzah (kehormatan) kita. Karena sejatinya, kemuliaan tertinggi seorang wanita adalah saat ia menyeru dengan ‘izzahnya..

Ah,, betapa muslimah sangat berharga. Itulah mengapa sejak dulu aku senang sekali berkutik dengan segala hal tentang muslimah.. Sejujurnya, aku sangat suka dengan da’wah kemuslimahan. Aku punya banyak mimpi yang besar tentang syi’ar muslimah. Aku ingin terus mencitrakan muslimah dengan hal-hal yang bisa melejitkan potensinya. Dengan karya-karya nyata dan kontribusi terbaiknya, hingga ia mampu memainkan perannya dalam membangun peradaban dunia.. ^^

 

 

Senin, 010512

Catatan pengikat ilmu :)

NB: dauroh ini akan ada sesi-sesi selanjutnya, makanya aku buat judulnya ada part 1. Insya Allah nanti akan di-share hikmah-hikmah yang aku dapat di setiap tahapannya.

Oiya, doakan juga yaa. Salah satu rangkaian acara dari dauroh ini ada Annisaa Contest. Semacam Miss Indonesia tapi untuk muslimah. Doakan saja semoga bisa sampai nasional, tingkat FSLDKN ^^