Metamorphosa: Spread the wings!


This is a collection of our great moments,

This is a little proof of our odyssey,

This is a sort of constellation about our journey,

This is a piece of story in our life’s episode,

This is kinda..our life diary.

**************

We walk together,

We meet people around, transfer knowledge and ambitions, deliver visions and missions,

We share our dreams,

We let everyone make it real,

So we can achieve it more..

 

We run together,

We see how the world runs so fast,

We see how people grows,

We see everyone compete each other,

We realize that the civilization is really happening,

And we finally recognize that the dunya is nothing, while the akhirah is everything,

 

We spread our wings,

We let the air bring us high,

We reach the highest sky,

We see the tiny of us above all,

We see how we are nothing, but Allah is The Greatest One..

 

We spread the happiness into everyone’s life,

We let them feel how Allah really loves us,

With the brain in our head that has ability to think 30 times faster than a super computer,

With the two eyes, which is able to capture moments even better than the best camera ever,

To think about all creatures, we are the perfect one.

But why do we still stand arrogant and not to be grateful with everything we have?

That’s a sort of constellation..a sort of reminder..

 

From now, we should fly higher,

We should give more, instead of asking,

We should learn more, instead of making our own conclusion,

We should stay humble, instead of swaggering,

We should act more, instead of criticizing other’s work,

We should be more confident with our own, instead of grudging others..

 

As from now on, we will grow together..

We will reach The Highest One, The Most Everything,

Allah and His Jannah..

USG results: I see how you grow, you’re with me while I am growing🙂

Inspiration Point Kabinet KM ITB, 13 October 2015

IMG_8470

Mentoring Gabungan Bidik Misi, 7 November 2015

Mentoring Gabungan SMA N 14 Jakarta, 13 November 2015

Semesta Comdev Beasiswa Karya Salemba Empat, bersama Bapak Iskandar Kuntoaji (Pendiri IBEKA, suami Ibu Tri Mumpuni), 23 Januari 2016

Annisaa Day Gamais ITB, 26 Februari 2016

Kuliah Tamu KKN Tematik ITB mengenai Social Entrepreneurship, 9 April 2016

Public Relation, How to Goal the proposal, STIS Asy-Syukriyah Tangerang, 24 April 2016

Yang Terserak


shabrina

“Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi ummat.”

Begitulah doa yang Rasulullah SAW panjatkan untuk pernikahan putri beliau yang mulia, Fatimah Azzahra dengan anak pamannya, Ali bin Abi Thalib. Doa yang menyimpan makna keindahan dan kunci kebahagiaan dalam membangun keluarga yang diberkahi oleh Allah. Tidak ada yang kita harapkan selain keberkahan dan ridha Allah yang terus mengalir di setiap check point menuju sebuah ikatan yang Allah muliakan (mitsaaqan ghalidzaa). Juga keberkahan yang tercipta setelahnya. Lahirnya keturunan2 yang shalih, yang mampu menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata) bagi kedua orang tua, bagi keluarga dan sahabat2nya, juga generasi yang akan mengemban amanah sebagai pemimpin bagi seluruh ummat di dunia, khususnya bagi orang2 yang beriman (lilmuttaqiina imaama). Kita tentu menginginkan pernikahan dapat membuka pintu rahmat, yang didefinisikan sebagai al-khayr wanni’mah (kebaikan dan nikmat). Terbukanya pintu rizki, ilmu, dan kebaikan lainnya. Pernikahan sebagai sumber ilmu dan hikmah, karena di dalamnya ada pertukaran cerita, ada ketersampaian hikmah, juga sebagai sumber pembelajaran baru yang baik. Dan yang terakhir dari doa Rasul, disinilah klimaks dari kemuliaan pernikahan. Terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Keluarga yang menjadi sumber keamanan dan kenyamanan, bukan hanya bagi personil yang menjadi bagiannya, melainkan juga bagi orang2 di sekitarnya. Sungguh tersimpan harapan yang mulia dari doa yang Rasul panjatkan untuk putri tercintanya.

Alhamdulillah, sudah jalan 130 hari pernikahan kami, terhitung sejak 22 November tahun lalu. Ada suka, duka, kesal, bahagia, kecewa, rasa puas, dan berbagai ekspresi perasaan lainnya yang menemani hari2 kami. Kami menyebutnya sebagai wujud dari kesyukuran dan kesabaran, sebab dua hal itulah yang menjadi kunci ridha dan berkahnya Allah.

Ada sepenggal kisah yang ingin saya ceritakan terkait proses menuju pernikahan. Saya sudah meniatkan untuk menuliskannya sejak lama, tetapi lagi-lagi dengan dalih dinamisnya kesibukan pasca nikah, saya baru menyempatkannya sekarang. 😅 sebetulnya saya sudah sempat menuliskannya sedikit di website pernikahan kami (dimashabrina.com), namun hanya sebatas gambaran besarnya saja, tidak mendetail. Insha Allah disini saya akan berbagi cerita lengkapnya.

Mungkin ada diantara teman2 yang berfikir bahwa saya sangat selektif memilih calon pasangan hidup, atau punya standar yang tinggi dengan kualitas yang sulit dijangkau. Mungkin ada yang berfikir bahwa saya tipe akhwat yang suka mempersulit proses pernikahan, banyak tuntutan, atau berbagai stigma negatif lainnya. Tetapi semoga di antaranya masih ada yang bersedia untuk husnudzan pada saya, bahwa saya telah memilih pasangan yang sejak mula Allah pilihkan. Karena pada kenyataannya, itulah yang terjadi.

“Shab, kayaknya susah ya mencarikan ikhwan yang sekufu dengan shabrina. Ikhwannya keburu jiper sebelum ketemu orang tua.”

“Shab, kamu pasti pengennya dapet suami yang pinter banget gitu ya, yang sering ke luar negeri, yang prestatif, banyak karya, dsb.”

Masyaa Allah.. Jika saya mengawali niat menikah hanya karena alasan2 di atas, rasanya saya belum pantas ke tahap selanjutnya dan masih harus terus memperbaiki niat.

Kalau ditanya, sebetulnya apa yang menjadi syarat utama (qana’ah dzatiyah) yang saya tuliskan di proposal pernikahan saya? Maka saya akan menjawab bahwa saya hanya mencantumkan poin2 yang krusial dan bukan merupakan keinginan duniawi. Sebelum pada akhirnya direvisi oleh guru ngaji saya, saya hanya mencantumkan syarat “yang bersedia menemani perjuangan dan kontribusi saya untuk dakwah yang lebih besar.” Sudah itu saja. Tidak ada embel2 lainnya. Tidak ada syarat ingin yang satu kampus, yang sudah lulus S2, yang sudah mapan, dan sebagainya. Sama sekali bukan keinginan saya untuk mendapatkan segala sesuatunya secara instan. Saya ingin memulai dan tumbuh bersama, itu yang saya pikirkan. Sampai pada akhirnya, guru ngaji memberitahu saya untuk lebih menguraikan kriteria yang diharapkan. Saya menuliskan hal2 yang beralasan untuk kepentingan bersama, bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Sebagai contoh, saya mengharapkan kondisi keluarga yang bersangkutan adalah keluarga yang hanif (terutama yang mudah dipahamkan terkait kondisi keluarga saya). Hal ini cukup krusial bagi saya, karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga dua keluarga besar. Kriteria lainnya, ikhwan yang bersangkutan berencana untuk berdomisili di Bandung, mengingat orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk berdomisili di luar Jawa dan saya sedang merintis start up business di Bandung. Perhatian dan sayang kepada perempuan, keluarga besar, dan adik2. Mengingat adik saya 7, dan saya adalah anak pertama di keluarga saya. Tidak harus yang hafalan alquran-nya banyak, tapi paham aplikasinya. Tidak harus yang secara kuantitas unggul, yang terpenting adalah amal sebagai wujud kedekatannya dengan alquran. Mencintai ilmu dan berkeinginan untuk terus memperkaya wawasan keilmuannya dan mengamalkannya. Yang terakhir adalah kunci dari tujuan pernikahan itu sendiri, yaitu dapat saling membantu melejitkan potensi dan kompetensi bersama dalam rangka berkontribusi untuk da’wah yang lebih besar.

Saya rasa, hal2 yang saya syaratkan di atas tidak berlebihan dan juga tidak kurang. Tidak ada yang terkesan seperti menyombongkan diri, atau merendahkan diri. Apa adanya. Wallahu a’lam.

Begitulah saya mengawali pernikahan. Saya memulainya dengan doa, bukan atas dasar suka sama suka, atau karena request, karena kecenderungan, dan sebagainya. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya masih jauh dari kata shalihah, masih jauh dari level haqqul mu’miniin, masih penuh dengan kecacatan dan kekurangan dalam amal, tapi saya masih punya harapan untuk mendapatkan pasangan yang dekat dengan Allah dan mampu membawa saya ke surga.

Pernikahan adalah peristiwa peradaban, ia mulia karena di sanalah transformasi visi terjadi, dari visi pribadi menjadi visi bersama. Dari sanalah kebaikan berlipatganda, menjelma menjadi tujuan2 mulia yang berujung akhirat. Dari sanalah peradaban dibentuk, menentukan akan menjadi apa dan siapakah generasi2 akhir zaman.

Karenanya, menjaga niat dan prosesnya sejak awal adalah sebuah keharusan. Keberkahannya mungkin saja ditentukan oleh bagaimana kita mengawalinya. Bagaimana kita menjaga kesuciannya. Tidak melibatkan perasaan dan hawa nafsu.  Tidak sombong karena merasa berjodoh, padahal akad belum terucap. Tidak membangun ekspektasi dan asumsi, padahal penilaian Allah adalah penilaian terbaik. Setiap dihadapkan pada keputusan2 penting, langsung mengembalikannya pada Allah melalui doa dan istikharah. Bertawakkal sejak awal, bukan setelah berikhtiar. Bertawakkal, artinya kalau memang berjodoh, ya pasti Allah mudahkan. Tapi kalau tidak, pasti adaaa saja cara Allah untuk menggagalkan. Percaya pada keputusan Allah.

Upaya lainnya yang bisa dilakukan adalah mempercepat dan tidak membelitkan prosesnya. Kamis malam saya dikabari bahwa ada seorang ikhwan yang siap diproses dengan saya (padahal saya belum diberitahu siapa namanya), saya langsung mengiyakan saja. Dan saya langsung mengajukan untuk ta’aruf keesokan harinya. Malamnya saya beristikharah terus menerus, berkali2. Setelah sebelumnya saya rutin melakukannya. Esoknya, jumat pagi, saya dikabari oleh guru ngaji saya bahwa yang bersangkutan menyetujui. Jatuhlah waktunya setelah shalat jum’at. Kemudian guru ngaji saya menanyakan apakah saya ingin tahu siapa orangnya. Awalnya saya enggan untuk tahu, sampai akhirnya guru ngaji saya memberitahu. Jum’at pagi di hari yang sama dengan hari ta’aruf, saya baru mengetahui siapa orangnya. Kemudian kami berta’aruf dan rasa tenang itu muncul begitu saja. Setelah ta’aruf, saya meminta ikhwan tersebut untuk bertemu dengan keluarga saya di jakarta, memilih antara hari sabtu atau ahad di pekan itu. Qadarullah, ternyata ikhwan tersebut menyanggupi dan bersilaturahim ke rumah ditemani dengan guru ngaji saya bersama suaminya pada hari sabtu (keesokan harinya). Alhamdulillah, 3 hari yang mendebarkan itu ternyata membuahkan berkah. Ikhwan tersebut adalah ikhwan yang sekarang telah menjadi suami saya, menjadi teman seperjuangan, sahabat dalam setiap keadaan, juga imam yang semoga Allah mengizinkannya menuntun saya hingga ke surga.

Alhamdulillah..hanya rasa syukur yang mampu mengekspresikan keindahan cara Allah menuntun kami sampai pada tahap khitbah, lalu akad, dan resepsi. Khitbah adalah salah satu bentuk komitmen untuk memperjuangkan, karenanya tidak semestinya kita melambat2kan prosesnya menuju akad dan pernikahan seutuhnya. Dalam melangsungkan akad dan resepsi, niatkan segala sesuatunya untuk beribadah. Tidak ada salahnya untuk mengadakan resepsi di gedung, menyediakan makanan yang mewah, jika semua itu diniatkan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi tamu2 kita dan orang tua kita. Jangan lupa untuk mengadakan pengajian dan santunan anak yatim dua atau tiga hari sebelum hari pernikahan, daripada sibuk berdandan atau memperindah fisik, lebih baik mengais ridha dan kemudahan dari Allah dengan memudahkan urusan orang lain. Perbanyak berinfaq dan berbuat baik, berhusnudzan dan mengalirkan kasih sayang pada banyak orang.

Saya jadi teringat bagaimana proses saya mendapatkan gedung untuk pernikahan. Sebuah tantangan tersendiri di Ibu Kota untuk menyewa gedung yang tepat jika tidak H-6 bulan. Jarak antara diputuskannya pilihan tanggal pernikahan dengan hari pernikahan saya tidak lebih dari 2 bulan. Suatu hal yang hampir mustahil meyiapkan pernikahan dengan tamu kurang lebih 1500 orang dengan gedung yang masih belum pasti. Akhirnya, gedung yang available pada tanggal yang kira-kira tepat saja yang dipilih. Segala pertimbangan yang membuat ribet menjadi tidak berguna lagi.

Mungkin saya terkesan sengaja memilih momen hari lahir sebagai hari pernikahan. Tapi sesungguhnya yang terjadi adalah seperti seolah2 tidak ada pilihan lain selain tanggal tersebut di gedung tersebut, tanggal 22 November di Gedung Menara 165 ESQ. Apalah arti dari hari lahir kalau bukan untuk bermuhasabah, mengingat bahwa waktu singgah di dunia semakin sempit. What really happened adalah menyewa gedung untuk pernikahan di Jakarta itu sulit sekali kalau dadak-dadakan. Biidznillah, semua berjalan lancar sampai hari H, banyak orang yang ikut membantu menyiapkan pernikahan kami. Alhamdulillah, baarakallaahu lanaa ya Allah..

Pada awalnya, gedung ini hanya available di tanggal 22 November 2015 dan 29 Februari 2016 dengan catatan saya masuk waiting list di keduanya sehingga saya perlu menunggu konfirmasi orang yang sebelumnya men-tag tanggal tersebut. Dan qadarullah, orang sebelumnya yang men-tag 22 November ternyata membatalkan, sehingga saya bisa mengambil tanggal tersebut untuk hari pernikahan saya. Begitulah ceritanya🙂

Rizki memang sudah ada yang mengatur. Mulai dari munculnya alternatif di Menara 165 dari pihak keluarga suami, sampai ternyata Allah mengizinkan saya menggenapkan din di hari lahir saya yang ke-23. Saya bersyukur menikah di gedung yang terkenal dengan icon Allah di atapnya dan sering digunakan sebagai training untuk mendekatkan diri pada Allah. Kalau kata ayah saya, “gedungnya islami, jadi semoga bisa mendukung pernikahan yang islami juga insha Allah..”

Mengingat hari pernikahan saya bertepatan dengan hari lahir saya, saya jadi ingin menunjukkan sebuah video yang sengaja dibuat oleh suami saya dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari guru-guru SMP-SMA saya, sahabat dekat saya, teman2 bisnis di dipanusa, adik coach mapres saya, teman lab suami, dan lain-lain, yang membuat saya feel so surprised di malam itu😀 terima kasih untuk semua pihak yang terlibat, I feel soooo touched. Bahkan nontonnya pun masih merasa terharu sampai sekarang :))

Ini dia videonya. Semoga tesampaikan ya pesan2nya🙂

[Video milad Shabrina, 22 November 2015]

Ada video istimewa juga yang sengaja dibuat oleh teman2 se-“geng” saya di kampus. Kami menamakannya Rungkicheese Gangster🙂

[Video Pernikahan dari Rungkicheese Gangster]

Dan terakhir adalah video spesial dari adik saya tentang liputan singkat pernikahan saya🙂

[Video pernikahan dimashabrina]

Alhamdulillah..

Pada akhirnya, semoga doa Rasulullah SAW juga mengalir dalam rumah tangga kami, menjadi keluarga dunia-akhirat, keluarga yang senantiasa dilingkupi kasih sayang Allah sampai ke surga..

Baarakallaahu lanaa wa baaraka ‘alaynaa wa jama’a baynanaa fii khayr.. Allahumma aamiin…

Bandung, 6 April 2016

Being an Entrepreneur Mom: A month pregnancy


“Don’t limit yourself. Many people limit themselves to what they think they can do. You can go as far as your mind lets you. What you believe, remember, you can achieve.” Mary Kay Ash, founder Mary Kay Cosmetics

Sebagian orang seringkali melihat keterbatasan sebagai hambatan. Mereka terjebak dalam paradigma bahwa ketika tidak punya suatu hal, atau ketika terhalang oleh kejadian di luar prediksi, maka segala sesuatu menjadi tidak mungkin. Keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Terbatas berarti kita diberi kesempatan untuk menjadi orang yang berbeda. Keterbatasan bukanlah sebuah hambatan untuk meraih cita dan mewujudkan asa, tapi ia adalah sebuah loncatan besar, sebuah opportunity untuk menjadi manusia hebat.

Kita perlu melihat keterbatasan sebagai sebuah tantangan. Ketika itu, kita bisa dengan bebas menentukan cara untuk menaklukkannya. Seluas apa imajinasi kita, sedalam apa keyakinan kita, dan sepercaya apakah kita pada takdir dan kehendak-Nya, sebesar itu pula kita mampu meraihnya. Setidaknya, itulah yang saya yakini hingga saat ini.

Sudah satu bulan jalan pernikahan, ada banyak sekali hal2 di luar prediksi yang memerlukan adaptasi di dalamnya, mengais lebih banyak doa dan pengharapan, juga menyita lebih banyak energi dan waktu untuk belajar. Namun sungguh, di dalamnya, terselipkan jauuuh lebih banyak kesyukuran. Syukur yang membuat saya terkagum-kagum akan skenario takdir-Nya, atas keselarasan, keseimbangan, dan kelengkapan dalam menyempurnakan setengah din.

Rasa syukur memang sahabat terbaik untuk lebih menikmati hidup dan memandang kehidupan dengan lebih bijaksana. Karena syukur adalah kunci bertambahnya nikmat, serta penghias keberkahan di setiap karunia yang Ia berikan.

Tidak sulit menyatukan frame dan kebiasaan antara saya dan suami. To be honest, it’s easy enough to get along each other. Alhamdulillah. Sebab selama di kampus, kami berorganisasi pada ruang lingkup yg luas, pernah bersinggungan dengan lapisan masyarakat di berbagai level organisasi. Kami sudah cukup “berkompeten” dengan bagaimana menghadapi orang di berbagai level tersebut. Oleh karena itu, bukan hal yang sulit untuk menjadi akrab dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Hari-hari paska pernikahan, kami lebih banyak mengisinya dengan cerita2 inspiratif, tentang capaian2 masa depan, visi-misi dunia-akhirat, tentang keluarga yg ingin dibangun, tentang cerita2 masa kecil yang sampai sekarang masih menjadi obrolan menarik untuk diperbincangkan. Ada saja cerita masa kecil suami yang membuat saya merasa “wah kok ada ya orang yang jalan hidupnya seperti ini” atau setumpuk perasaan kagum saya pada perjuangannya, semangatnya memperbaiki diri dan menemukan kebenaran. Terutama mendengar cerita dari Mama (ibu mertua saya) tentang bagaimana proses pendewasaan suami saya dan kesederhanaannya dalam hidup. Subhanallah, saya sampai ngefans sama suami saya sendiri. *semoga dia nggak baca tulisan saya yang ini, hehe*

Keakraban kami memuncak ketika kabar hasil tes yang hanya dua garis merah itu muncul. Padahal hanya dua garis merah, bukan berita gembira menang undian berhadiah atau kemunculan bingkisan menarik yang tiba2 datang di depan rumah. Sebuah berita dua garis merah yang penuh makna. Belum genap sebulan menikah, tepatnya 17 Desember 2015 melakukan quick test kehamilan, ternyata hasilnya positif. Dua garis merah🙂

 Hi babe, welcome to the darkness! But dont worry, i will be your sunshine 💗

Ceritanya bermula ketika saya menyadari haid saya terlambat di bulan pertama setelah menikah. Satu hari terlambat, saya pikir wajar saja, biasanya juga begitu. Dua hari terlambat, masih merasa wajar. Tiga hari terlambat, saya pikir ini efek paska menikah, jadi masih merasa wajar. Empat, lima, enam hari, saya sudah mulai merasa khawatir. Tidak biasanya saya telat selama ini, apalagi bagi saya yang setiap bulan rutin mengalami menstruasi. Akhirnya saya konsultasikan ke teman dekat saya yg secara oficial sudah bergelar dr. di bulan Agustus kemarin. Sampai akhirnya dia menyarankan saya untuk segera quick test dg menggunakan pregnancy test yg dijual di apotek.

Singkat cerita, keesokan harinya, setelah bangun tidur saya langsung melakukan test dan belum satu menit rasanya, sudah terlihat dua garis merah pertanda positif. Waktu itu saya langsung lemas dan terduduk *literally*. Kelemasan saya bertambah karena pertanyaan suami: “Dek, ini artinya apa?” -_- hahaha dasar laki2

Sejak menikah, entah mengapa, saya sering merasa kelelahan, mudah ngantukan, dan mudah merasa “tidak enak badan”. Ternyata benar, itu semua disebabkan adanya sebuah “zat asing” yang sedang “singgah” di ovum saya, yang kemudian memicu implantasi (penempelan) pada dinding rahim. Ia kemudian akan tumbuh dan berkembang membentuk embrio.

Mengetahui kehamilan pertama ini, saya juga sempat merasa khawatir. Karena tuntutan start up bisnis yang sedang saya bangun, beberapa kali si janin menemani bundanya bolak/ik Garut tiap pekan untuk survey potensi lokal sekaligus pendampingan pembuatan beras jagung untuk warga Desa Dangdeur.

Pertama kali ke Garut, tepatnya tgl 30 November-1 Desember, saya dan rekan saya melakukan instalasi alat pembuatan beras jagung yang merupakan hibah Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat. Acara ini juga dilengkapi dengan serangkaian agenda launching P2KP (Program Percepatan Keanekaragaman Pangan) oleh Ibu Dewi, selaku Kepala BKP Jabar. Di acara launching ini, berbagai stakeholder ikut hadir, terutama dari Dinas Pertanian, Balai Bibit Umum, Dinas UMKM, Dinas Koperasi, Dinas Peternakan, bahkan dari Militer pun ikut turut serta meresmikan program. Turut diundang juga para petani jagung, pengurus koperasi Tani Mukti, dan perangkat Desa. Sebuah semangat baru muncul untuk mewujudkan Desa Dangdeur sebagai desa percontohan nasional. Semangat itu pun memuncak ketika diakhir acara saya dipanggil langsung oleh ibu kepala badan untuk membuat grand desain proyek perwujudan Dangdeur Mandiri Sejahtera untuk tahun 2016. Fokus objeknya adalah pertanian dan bahan pendukung pertanian. Ibu Dewi meminta saya untuk membuat perencanaan pelatihan dan riset yang terintegrasi dengan universitas, dalam hal ini ITB. Waw, sebuah tantangan sekaligus kesempatan untuk belajar. *belajar lagiiii*

[sayang sekali dokumentasinya masih di kamera, nanti saya update lagi :)]

Waktu itu kondisi saya masih sangat baik2 saja. Masih bisa diajak kompromi untuk melakukan banyak hal. Bahkan saya menginap 2 hari semalam di Garut untuk acara tersebut🙂

Pekan selanjutnya, tepatnya tanggal 10 Desember, saya kembali ke Garut untuk pendampingan tahap dua. Mulai kerja teknis mendampingi masyarakat untuk membuat beras jagung. Anehnya saya merasa lelaaaaaaah sekali, padahal pekerjaannya hanya sekedar mengobrol dan mengarahkan warga di tempat yang sama, tidak banyak jalan, tidak banyak aktivitas gerak. Hari itu ditutup dengan saya tidur sepanjang perjalanan dari Garut ke Bandung.

[foto2nya juga masih di kamera, hihi. Nanti diupdate lagi :)]

Pekan ketiga bulan Desember, akhirnya saya memutuskan untuk menunda ke Garut, selain karena memang beberapa tahapan proses masih menunggu, kami juga ada acara di Bandung, diundang oleh Dinas Pertanian untuk menghadiri sosialisasi program One Day No Rice untuk hotel dan restauran di Bandung. Bertempat di hotel Serela, kami berkesempatan untuk menyapa jajaran direksi hotel2 ternama di Bandung.

Sosialisasi program ODNR di Bandung

Kami kembali ke Garut tgl 17 Desember untuk kunjungan ke beberapa model social-entreprise sebagai referensi untuk pembangunan di Desa Dangdeur. Kami mengunjungi Desa Genteng yang disana terdapat Genteng Healthy Market. Pasar ini dibangun murni karena kepekaan sosial sebuah keluarga lokal terhadap kondisi masyarakat disana. Konsep yang dibangun berdasarkan kondisi kultural masyarakat setempat dengan pengelolaan operasional yang modern. Adanya CCTV, pengelolaan limbah yang baik, pemetaan lokasi toko kering dan basah, semuanya diatur secara modern. Mereka juga merintis yayasan yang kemudian menaungi sekolah dasar sampai menengah atas. Keluarga terdiri dari ayah, ibu dengan 5 orang anak ini mengeluarkan uang pribadinya untuk membangun masyarakat. Mereka sempat mengikutkan program ini pada beberapa lomba, yaitu sebagai juara pertama di Mandiri Wirausaha, mendapatkan predikat sebagai global change makers, dsb. Info lengkap bisa cek link berikut: https://m.youtube.com/watch?v=muqVCxFf7yk

[dokumentasinya pending lagi ya]

Hari-hari setelah itu, barulah saya merasakan kelelahan yang tidak bisa ditepis. Saya demam sekitar 2 hari, badan saya panas dan badan lemas sekali. Tidak ada tenaga untuk masak, padahal saya selalu masak setiap hari dan menyiapkan sarapan sejak pagi. Tapi kemudian kekhawatiran saya terjawab sudah ketika saya memutuskan untuk pregnancy test tanggal 18 Desember, dan mendapatkan hasil positif untuk tes tersebut. Untuk memastikan kondisi kehamilan, akhirnya kami juga memutuskan untuk konsultasi pertama kehamilan ke dr. obgyne di RS. Hermina Pasteur keesokan harinya. Alhamdulillah, atas rekomendasi teman saya yg lulusan kedokteran Unpad, saya mempercayakan konsultasi kehamilan pertama saya pada dr. Evi Arijani, dokter akhwat yang sholihah, lembut, baik hati dan luas pengetahuannya. Menurut hasil USG, kondisi kehamilan saya baik dan posisi janinnya bagus. “Berarti dedenya kuat karena diajak bundanya kemana2 ya. Bismillah insha Allah sehat :)” begitu penutup dari dr. Evi yang melegakan saya dan suami.

 4weeks6days, 0.78 cm😉

Setelah itu, saya mulai serius belajar tentang kehamilan. Saya subscribe website2 kehamilan, join grup2 tentang informasi kehamilan di FB, baca2 buku tentang parenting, dan yang paling penting adalah memberitahu orang tua, terutama ibu saya. Diskusi dengan yang sudah sangat berpengalaman (oh iya dong, melahirkan 8 anak dengan normal gitu), adalah cara yang paling efektif buat saya. Saya banyak bertanya soal persiapan apa yg perlu difokuskan di awal-awal kehamilan pertama ini. Awalnya ibu saya kaget, “waduh, cepat sekali yaaa..dulu ummi selang 6 bulan menikah sama abi baru hamil kamu loh..hehe”

Duh, tapi yg namanya rizki yaa, bener2 Allah yg ngatur dan kalau Dia sudah berkehendak mah nggak ada yg bisa menghalang-halangi.

Setelah mengetahui kondisi kehamilan saya baik-baik saja, akhirnya saya tetap bersemangat untuk terus beraktivitas. Pekan keempat Desember, tepatnya tanggal 21, saya bersama rekan bisnis kembali mengunjungi Garut untuk pengambilan sample tanah dan pengambilan data untuk social mapping. Pengambilan sample tanah bertujuan untuk analisis kelayakan tanah Garut secara kuantitatif untuk ditanami jagung putih lokal. Singkat cerita, selain aktivitas saya di bisnis ini, saya juga menerapkan kerjasama dengan universitas untuk pengembangan produk. Saya mendampingi 6 kelompok PKM ITB yang membawa proyek terkait beras jagung secara komprehensif dari berbagai sisi, salah satunya adalah mengenai analisis kelayakan tanah tersebut.

Mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB sedang mengambil sampel tanah Garut🙂

Untuk permulaan, ada sekitar 10 hektar tanah Garut yang ditanami jagung putih lokal untuk bahan baku pembuatan beras jagung

Pengambilan data untuk social mapping dilakukan dengan metode wawancara dan PRA (Participatory Rural Appraisal), sebuah tools untuk social mapping. Kami berkunjung ke kantor Desa Dangdeur dan ke badan ketahanan pangan Garut. Kami mewawancarai perangkat desa terkait potensi lokal masyarakat yang mungkin juga dikembangkan seiring berjalanannya pendampingan beras jagung.

  Foto dengan perangkat Desa Dangdeur🙂

 Struktur kepengurusan BKP Garut

Begitulah kira2 cerita satu bulan kehamilan saya sekaligus cerita bagaimana saya tetap beraktivitas bisnis. Menjadi social entrepreneur sekaligus calon bunda adalah dua hal yang memerlukan proses belajar yang panjang, yang menyita banyak waktu, keringat, pengorbanan, dan tentunya doa. Harus lebih perhatian terhadap gizi yang masuk, lebih aware terhadap perubahan kondisi tubuh, serta lebih semangat untuk mengupgrade kompetensi diri. Sebab anak yang cerdas lahir dari ibu yang cerdas, that’s what i believe. 

Pada akhirnya, semuanya adalah tentang kesyukuran.. Karena ternyata Allah memberikan saya kesempatan untuk tetap mencurahkan passion saya dalam berbisnis, meskipun saya diberikan amanah kehamilan pertama ini. Semakin cepat Allah memberikan amanah ini, husnudzan saya, semakin cepat proses upgrading diri saya menuju insan yang lebih baik, yg semakin syumul (komprehensif) dalam segala hal.

“When one door of happiness closes, another opens; but often we look so long at the closed door that we do not see the one which has opened for us.” Helen Keller, author, political activist, and speaker.

Bismillah, keep being healthy my dearest🙂 we are in the middle of fighting together. We are strong enough to face the world, yeah!

Catatan 1 bulan kehamilan seorang entrepreneur muda,

Ngawi, 4 Januari 2016

My first post in 2016


Hi everyone! 

2016 just begin, and yeaah we have passed 365 days of 2015 entirely.

Most of people made their first post in 2016 as their contemplation note of 2015, or something like the to-do list for a year ahead. But sadly to say, my first post in 2016 actually wont tell you about what i’ve done in a past one year, neither about my plan nor my target to accomplish in 2016. I will make sure that i write it separately in one post. 

In short, i just want to say one word to express my feeling to start 2016. Someone said, “happiness is simple. It’s all about how we make ourselves happy.”

Therefore, I would like to say:

Alhamdulillah…

One word, thousand meanings..

“I feel sooooo grateful..”

“I feel sooooo amazed with what my Lord has given to me..”

“I feel sooooo thankful to God who has patiently showed me the way to reach Him as high as The Firdaus..”

“I feel sooooo blessed with everything in my life. A perfect and happy family, a very smart and capable husband, my first pregnancy, a success both in work and study. And i want all of those things would make my iimaan rise, my feeling of shukr increase..”

And yes,

Its all about: “All prises to Allah, The Entirely Gracious, The Entirely Merciful..”

“Alhamdulillah…”

  
Ngawi, 3rd of Jan 2016

feedback relationship


“Looks like something inside yourself has changed already. I don’t know which part, but it’s kinda crucial thing.”

“Dont you feel something different? Sometimes we just dont realize that we, in fact, have significantly changed. Inspite of realizing that the surrounding and environment did change, we still notice that we, ourselves, are much much more fluctuated and dynamic. But, can you guess, which is the first? Which influences what?”

“You are different. I cant see a past version of yourself. It’s worrying me, you know.”

*******

Yes, people changed.

So did the environment.

It is an inevitable natural phenomenon.

Everything has a rule.

People changed, and make a change.

Environment evolved, and make an evolution.

We cant escape from the reality that everything has a feedback relationship.

Which influences what, sometimes we dont have to know the answer.

What we should know is, “we get what we give.”

That’s all.

to love and being loved


to love someone, is really my passion.

to love everyone in my life is also my commitment.

i like to spend my energy to love somebody.

it doesnt matter to put my entire life to love someone.

i can say it surely.

 

but,

for being loved, i am just too scared.

i feel like, i am not confident enough to be loved by someone else.

i keep thinking the reason why.

‘am i worth enough to be loved?’

‘which part of myself that makes them loving me?’

my personality is not that good.

my brain is not that smart.

my achievement? oh it really irritates me a lot.

my appearance? hmm, i would be very honored to be claimed as the most beautiful lady in the world. but sadly to say, it was just a mirror talk😦

……………………

it keeps lingering in my head.

……………………

it keeps lingering in my head.

……………………

it keeps lingering in my head.

……………………

 

and finally i got the answer.

i have a high-standard of love commitment when somebody decided to love me.

i have my own expectation.

they have to prove their love as i expected.

and if they couldnt make it, i would be very disappointed.

i would be very sad.

that’s why i am afraid of being loved.

…………

and i am just wondering..am i wrong?

is it too much?

Another Checkpoints


Suatu kesyukuran ketika mendapati diri terus tumbuh dan berkembang, meniti satu persatu anak tangga menuju kesuksesan. Meski cahayanya masih redup dan hilang-muncul di ujung, setidaknya ia terlihat. Setidaknya, ada janji-Nya yang selalu menjadi pegangan. Tidak pernah ingkar. Pasti.

Kesuksesan memang tak pernah berbohong, bahwa dibaliknya ada jutaan keluh yang harus dirasakan. Ada berliter-liter keringat yang harus ditumpahkan. Ada waktu dan harta yang perlu dikorbankan. Juga doa-doa di setiap malam yang dipersembahkan.

Kalau bukan untuk memberi manfaat bagi banyak orang, mana mungkin kaki ini kuat melangkah. Kalau bukan karena ridha-Nya yang senantiasa dirindukan, mana mungkin jiwa dan raga ini terus bertahan.

Beberapa pekan terakhir, banyak hal telah terjadi. Siapa sangka, jalan-jalan itu semakin terbuka. Satu persatu checkpoint terlewati dengan sangat baik dan memuaskan. Sampai saat ini, saya selalu yakin. Rencana-Nya memang selalu menakjuban. Di luar prediksi, atau bahkan asumsi. Jauh lebih tinggi dari apa yang diekspektasikan sebelumnya.

Salah satu alasan saya memutuskan untuk berbisnis, instead of melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi adalah untuk mendefinisikan ulang untuk apa saya harus studi. Untuk apa saya harus belajar lagi (walaupun pada dasarnya belajar itu sepanjang hidup).

Saya tidak ingin impulsif, apalagi ikut-ikutan. Asal lanjut sekolah tapi tidak tahu setelah itu akan melakukan apa. Asal lanjut sekolah dan tidak mengerti mengapa mengambil field tersebut. Asal lanjut sekolah karena ada peluang beasiswa yang terbuka sangat lebar. Asal melanjutkan sekolah karena gengsi ataupun materi. Asal melanjutkan sekolah karena malu, atau serentetan alasan tidak logis lainnya yang menyalahi hati nurani saya pribadi.

Selain itu, saya juga ingin membuat perubahan. Meskipun sebuah keniscayaan bahwa setiap manusia menginginkan perubahan dan terus berupaya membuat perubahan, tapi saya ingin membuat perubahan yang tidak biasa. Yang benar-benar tidak biasa.

Konsep triple helix yang selalu terngiang di benak saya dan terpaksa saya pelajari selama saya kuliah di ITB (karena terlibat dalam organisasi eksternal kampus), telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam kehidupan saya. Aktivitas saya yang banyak melibatkan stakeholder dari kalangan pemerintah dan masyarakat, juga elemen universitas, telah membuka mata saya tentang pentingnya implementasi konsep triple helix untuk percepatan perekonomian bangsa dan inovasi di segala lini.

Gagasan utama triple helix, menurut  Etzkowitz&Leydesdorff (2000), adalah sinergi kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Kalangan akademisi dengan sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologinya memfokuskan diri untuk menghasilkan berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif. Kalangan bisnis melakukan kapitalisasi yang memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sedang pemerintah menjamin dan menjaga stabilitas hubungan keduanya dengan regulasi yang kondusif [1].

triple helixGambar 1. Konsep Triple Helix (Rachmat Cahyono, 2015)

Saya mencoba menerapkan konsep ini di dalam aktivitas bisnis yang saya geluti saat ini. Melibatkan pemerintah untuk akselerasi aktivitas bisnis melalui kebijakan-kebijakan yang diterapkan, melibatkan elemen universitas seperti peneliti dan mahasiswa untuk memunculkan inovasi-inovasi terbaik, juga hubungan timbal balik komersialisasi produk berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh kaum intelektual.

Saya tidak akan fokus pada produk yang dikomerisalisasikan. Tapi yang ingin saya highlight adalah seperti apakah nilai perusahaan yang saya dan rekan-rekan bisnis saya bawa sampai saat ini. Bahwa kami tidak hanya ingin membuat perubahan, tapi kami ingin membuat perubahan yang tidak biasa. Awesome transformation.

Bisnis produksi adalah pilihannya. Sebab saat ini, sebagian besar bisnis yang dilakukan di Indonesia tergolong sebagai bisnis non-produksi, atau yang dikatakan masih mengolah bahan baku dari luar. Dengan kata lain, tidak mandiri dan masih mengandalkan pihak lain sebagai penyedia sokongan untuk proses produksi secara keseluruhan.

Konsep triple helix relevan bagi Indonesia saat ini ketika ekonomi Indonesia begitu menjanjikan dan menjadi salah satu pasar yang sedang bertumbuh, para investor asing berdatangan ingin menanamkan modal [1]. Konsep triple helix dapat menyentuh permasalahan bangsa lebih targeted, terarah dan komprehensif, sehingga dapat mendatangkan solusi yang lebih konkret untuk menjawab permasalahan eksisting. Keterlibatan beberapa stakeholder dalam implementasi bisnis juga menjadi alasan mengapa investor asing menjadi tergiur untuk menanamkan modal.

Bisnis beras jagung, atau produk komersialnya adalah Cornrice, yang sedang saya geluti saat ini, juga menerapkan konsep triple helix yang melibatkan tidak hanya satu pihak di pemerintahan, tetapi banyak pihak yang dirasa prospektif dalam mengakselerasi kemajuan industri.

12029164_1091830274163252_1207821512_nGambar 2. Cornrice: It’s a healthy life style!

Sebagai contoh, kami bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan Jawa Barat untuk mereplikasi pabrik beras jagung di Kabupaten Garut yang dikenal sebagai pemasok jagung terbesar di Jawa Barat dan berkontribusi 5% untuk pasokan jagung nasional. Model yang menjadi referensi adalah pabrik beras jagung yang telah dipatenkan oleh pengusaha di Temanggung, dari hulu hingga hilir proses produksinya. Kami berencana untuk memberdayakan para petani di Garut untuk mengolah lahan seluas 120 ha yang nantinya akan ditanami jagung putih lokal Indonesia. Jagung putih inilah yang akan menjadi bahan baku utama untuk produksi beras jagung.

12021843_1091833620829584_1268802262_nGambar 3. Survey tahap 1 ke Desa Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

12047489_1091833614162918_332419342_n

Gambar 4. Gedung penyimpanan hasil pertanian kelompok tani Desa Banyuresmi.

12048593_1091833644162915_89315099_nGambar 5. Alat pendukung aktivitas pertanian, hibah dari BKP Jabar.

12000139_1091833630829583_2109899213_nGambar 6. Rotary drier, hibah dari BKP Jabar.

Pada dasarnya, program ini sejalan dengan program BKP Nasional, yakni Gerakan P2KP yang merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan dan merupakan salah satu kunci sukses pembangunan pertanian di Indonesia. Menurut BKP, gerakan P2KP dilaksanakan dalam tiga bentuk kegiatan utama yaitu: (a) Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari; (b) Pengembangan Pangan Lokal; serta (c) Promosi dan Sosialisasi P2KP [2]. Oleh karena itu, realisasi kerja sama diwujudkan dalam bentuk pemberian hibah dana dan support kebijakan oleh Badan Ketahanan Pangan untuk perusahaan kami sebagai eksekutor utama.

Gerakan P2KP ini dilakukan juga semata-mata untuk mendukung program One Day No Rice yang diresmikan oleh walikota Bandung pada 21 Agustus 2015 lalu [3]. Tujuan diimplementasikannya program ini adalah untuk membiasakan pola hidup sehat masyarakat dengan cara mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain pada satu hari dalam seminggu. Selain itu juga untuk menekan konsumsi beras masyarakat Indonesia yang hingga saat ini masih impor.

Di lain kesempatan, kami juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian Jawa Barat untuk marketisasi produk di kalangan masyarakat melalui event-event skala lokal, dalam rangka memperkenalkan beras jagung sebagai alternatif makanan pokok yang sehat.

12047471_1091830224163257_639570149_nGambar 7. Bandung Agri Market, 20 September 2015

12042015_1091830240829922_919953813_nGambar 8. Suasana Bandung Agri Market, 20 September 2015

Gambar 9. Audiensi dengan Dinas Pertanian.

Untuk pengembangan dan inovasi, kami juga merintis kerja sama riset dengan Departemen Ilmu Gizi RSHS yang beranggotakan dr. Dimas Erlangga, dr. Denny, dan dr. Dwi sebagai peneliti utama, mahasiswa dan dosen beberapa fakultas di ITB sebagai peneliti pendukung, dan dana riset LPDP sebagai sumber dana utama penelitian.

12025359_1091830264163253_2052529977_nGambar 10. Inisiasi kerja sama riset dengan dr. Dimas Erlangga dari Departemen Ilmu Gizi RSHS.

12021970_1091830247496588_1346126613_nGambar 11. Pengenalan produk dengan Kepala Lembaga Pengadaan Barang RSHS.

Hasil penelitian ini nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi, pertimbangan, juga feedback untuk keberjalanan bisnis kedepannya.

Dinas Kesehatan juga turut serta dalam implementasi riset yang dilakukan oleh departemen ilmu gizi dalam hal sokongan ilmu dan kebijakan2 yang diterapkan.

Selain itu, kami juga berupaya menggalakkan penelitian dan program kewirausahaan di kalangan mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa dengan tujuan untuk membentuk atmosfer One Day No Rice di kalangan mahasiswa.

[Video Mawapres Utama ITB-Ujang Purnama. Membawa ide mengenai Food Security and Sustainable Agriculture]

Kami pun melakukan deal kerja sama dengan instansi baik swasta maupun pemerintah, seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin, rumah sakit penyakit khusus, sekolah-sekolah, restoran, ataupun toko-toko, untuk memudahkan akses pembelian beras jagung.

Semua yang kami lakukan hingga saat ini alhamdulillah telah benar-benar mengakselerasi kami untuk tumbuh dan berkembang baik secara vertikal ke atas (menyentuh pemerintah melalui kebijakan) dan secara horizontal (memperluas market dan network) untuk trading itu sendiri.

Segala upaya ini semata-mata kami lakukan untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini, terutama menjadi pemantik munculnya gerakan-gerakan yang sama di kalangan masyarakat. Karena yang kita kejar tentu saja inspirasi dan kebermanfaatan tidak hanya dalam hal kuantitas, tetapi juga kualitas kebermanfaatannya.

Jika ini jalan yang baik di ujungnya, saya percaya akan ada banyak kemudahan dan pintu-pintu keberkahan yang terbuka untuk kami. Namun jika tidak, saya juga percaya bahwa tugas kita hanyalah berikhtiar semaksimal mungkin dengan mengusahakan semua peluang dan kesempatan untuk menjemput kesuksesan dan kebermanfaatan.

Harapan itu masih ada. Harapan untuk menjadikan Indonesia bangsa yang lebih baik.

___________

Bandung, 20-21 September 2015

Ditulis dengan semangat 45

 

Referensi

[1] Anindya N. Bakrie. 2012. Triple helix dan percepatan inovasi. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI. http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11805. Diakses pada 20 September 2015 pukul 21.33.

[2] Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian RI. 2013. Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) http://bkp.pertanian.go.id/proksi-9-p2kp.html. Diakses pada 20 September 2015 pukul 22.20.

[3] Gerakan One Day No Rice SetiapHari Senin di Kota Bandung. 2015. https://sebandung.com/2015/04/gerakan-one-day-no-rice-setiap-hari-senin-di-kota-bandung/. Diakses pada 20 September 2015 pukul 22.40.